Jumat, 15 Mei 2009

Writing in Scilence

Setiap orang mempunyai impian yang mereka simpan di dalam lubuk hati mereka masing-masing, namun terkadang, impian itu hanyalah sebatas harapan, yang mereka simpan di dalam hati yang tertutup dan akan terus menjadi rahasia hati yang tak diketahui siapapun. Jika saja kita berani, jika saja kita tak pantang menyerah atas segala kegagalan terhadap jawaban dan usaha kita yang kita tumbuhkan dalam sebuah makna yang disebut impian. Seorang gadis berusia 16 bernama Raihana membayar impian untuk menjadi penulis terkenal dengan usahanya. Dari berbagai macam cita-citanya yang sangat banyak dan sangat cepat berubah-ubah, ada cita-cita yang tak pernah padam dalam dirinya, yaitu menjadi penulis best seller. Bagi gadis polos sepertinya, mungkin sulit mencapai itu semua, namun ia tetap gigih. Setiap harinya ia selalu menulis dan menyempurnakannya dengan belajar lebih banyak lagi.Di sekolah, ia termasuk orang yang cenderung kelompok minoritas, yang mungkin pendapatnya hanya dipandang sebelah mata, walaupun pandangan orang yang melihat Raihana pertama kali pasti menyebutnya ‘makhluk phlegmatic sejati’ karena tidak pernah terpengaruh oleh hal apapun, termasuk keramaian kelas, namun di balik semua itu, ia adalah orang yang sangat peka terhadap keadaan sekitarnya. Sehingga dalam menulis, ia bagai sedang mengalami hal-hal yang ia tulis tersebut meski itu fiksi. Karena baginya menulis fiksi adalah salah satu cara untuk merasakan pengalaman orang lain karena mungkin usia kita tidak akan mencukupi untuk mencoba semua pengalaman tersebut. Itulah sebabnya mengapa ia sangat senang membaca buku-buku sejarah dan perjalanan tokoh-tokoh terkenal yang membuatnya merasa ada saat masa itu.Dan mungkin, itulah mengapa sebabnya ia sering terlihat menyendiri. Hanya ada 2 teman yang dekat dengannya. Evira dan Maya. Namun Raihana selalu merasa bersyukur dengan keberadaan para sahabat setianya, karena merekalah yang selalu mendukung dan selalu ada dalam suka maupun duka. Di balik sifatnya yang pendiam tersebut, Raihana adalah gadis yang sangat pintar. Di kelasnya ia peringkat ke-2. Obsesinya ingin mengalahkan sang juara kelas yang menurutnya tidak pantas menjadi juara kelas sangat besar. Ia ingin mencoba mengalahkan Briliant Diaz. Manusia yang sepertinya tidak pernah belajar tapi selalu juara kelas. Dia selalu berkata ‘tidak pernah belajar’. Entahlah bagaimana Raihana memahami perkataan manusia tersebut yang tampaknya memang tidak bohong. Mungkin benar. Anak yang ‘kata teman-teman sekelasnya’ mirip artis bintang film Korea ini memiliki tingkat kejeniusan yang patut diwaspadai sebagai kelebihan hormon otak saat dilahirkan ke dunia alias anak indigo.Raihana ialah gadis yang selalu berusaha maksimal, tidak pantang menyerah, dan itulah seharusnya yang dimiliki anak bangsa di saat seperti ini. Di saat semua orang terduduk malas dan menyerah, ia bangkit. Di saat orang masih tertidur lelap, ia bangun pagi dan menjalankan tugas-tugas dan kebutuhannya sebagai insan dunia yang akan menjadi insan akhirat. Kegigihan itu terlihat saat ia terus mengirimkan naskah cerpen ke berbagai media massa dan majalah-majalah yang tak pernah diterima satu kali pun. Namun ia TIDAK PERNAH putus asa. Dan saat itu ia mencoba untuk menulis sebuah novel yang tak ingin ia publikasikan pada teman-temannya. Novel tersebut ia persembahkan untuk kehidupannya sendiri. Tak berniat untuk mengharap imbalan. Dengan penuh kesabaran dan konsentrasi ia buat novel perdananya dalam waktu 2 bulan. Ia hanya menulis dalam diam. Dalam sepi, tak ada yang tahu ia bisa membuat khayalan yang dituangkan menjadi sebuah novel. Namun, Evira, teman baiknya diam-diam membaca novel tersebut. Evira pun diam-diam menyebarkan naskah tersebut pada teman-teman di kelasnya, termasuk pada Grita. Miss Jutek dan sotoy yang sering menang debat di kelasnya. Popularitas Gritta sebagai public Speaking yang menyebalkan sudah terkenal di angkatannya. Sering ia mengangkat tangan dan berbicara panjang lebar tanpa inti, namun sering juga karena ia lihai dalam berbicara, ia mendapatkan nilai plus dari guru sejarah dan PKN. Dan Raihana lagi-lagi hanya menyembunyikan pendapatnya dalam hati. Hanya dalam hati yang tak terdengar makhluk apapun, bahkan makhluk yang mempunyai pendengaran diatas rata-rata tidak bisa mendengarnya. Karena suara hati hanyalah kita yang tahu. Dan Tuhan tentunya. Tidak berbicara bukanlah penghalang besar baginya. Karena ia mempercayai prinsip ‘sedikitlah berbicara perbanyak bertindak’ bukan NATO ‘Not Action Talk Only’.Setelah membaca naskah Raihana, Gritta menjadi berubah. Ia masih ia yang dahulu. Yang sering berbicara. Namun ia menjadi lebih menghargai orng lain. Dan tentunya Raihana. Baru sekali ini ia memuji. Dan pujian pertama yang ia persembahkan ialah pujian untuk naskah novel Raihana.Tidak semudah itu dalam membuat sebuah novel, banyak yang harus diatur ulang, proses pengeditan yang panjang, 6 bulan, dan juga ia harus mengetik naskahnya di rental komputer sebelah rumahnya yang sangat amat berisik karena Raihana tidak mempunyai Komputer. Tapi untunglah Mbak Maryam, penjaga rental sangat mendukungnya dan memberikan diskon harga pada Raihana. Sehingga meringankan beban Raihana. Tidak sampai di situ perjuangan Raihana. Dalam memunculkan print outnya pun butuh waktu yang lama, karena banyak halaman yang tertukar-tukar, harus diedit ulang dan lain sebagainya yang terkadang membuat Raihana ingin berhenti di tengah jalan.Raihana hidup dengan ayah dan kedua adiknya. Ibunya telah meninggal saat ia kelas 2 SMP. Ayahnya di-PHK karena krisis ekonomi global membuat keadaan ekonomi keluarga Raihana tidak secerah dulu. Tapi dengan keadaannya yang seperti itu. Raihana tidak pantang menyerah. Harapan Raihana pudar ketika ia tahu ia tidak di peringkat 10 besar lagi 1 semester kemudian, mungkin karena terlalu fokus dengan novelnya dan terlalu sibuk bekerja part time sebagai pencuci piring di sebuah rumah makan di dekat rumahnya. Ia takut ayahnya akan kecewa karena hal itu. Namun ternyata, saat Raihana memperlihatkan rapotnya pada ayah. Ayah masih tetap mengacungkan jempolnya di atas. Dan baginya menjadi anak dari Ayah semulia beliau ialah anugerah terindah, keesokan harinya Ayah membelikannya komputer second dari teman lamanya. Raihana tahu sebenarnya ayah tidak mempunyai uang untuk membeli komputer, tapi demi anaknya… beliau rela…Air mata Raihana terjatuh saat ayahnya memberinya komputer tersebut sambil berkata ‘Kejar Impainmu, Nak!’Dan Tiga kata itulah yang membuat perjuangan Raihana semakin kuat. Lalu bagaimana cara Raihana berjuang mencapai impiannya? Ia tetap akan berjuang walaupun sesuatu yang amat sangat buruk menghadang di tengah perjalanannya menggapai cita-citanya. Baginya sebuah penolakan bukanlah hal yang paling terburuk. Tapi hal yang paling terburuk ialah sebuah pengkhianatan dari sebuah persahabatan….Siapa yang mengkhianatinya? Peristiwa apa yang terjadi setelah itu?Hanya Ikhlas dan sabar yang akan menjawab semua impiannya….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada tanggapan???