Tampilkan postingan dengan label Gender dan Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gender dan Keluarga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2012

LIFE DEADLINE

I envy you so much,

You have extinguish light window,

Today I hesitated,

My body hesitated,

I felt uncomfortable and without a word turned and come back…

-Shin Ji Hyun-


Terlepas dari keberadaan Surga dan Neraka. Terlepas dari pengetahuan manusia tentang batas takdir antara hidup dan mati. Jika kita mengetahui kapan kita akan mati, dan menemukan sebuah pesan hidup yang perlu dilakukan sebelum kita mati. Apa yang akan kita lakukan? Akankah kita masih sanggup bersikap munafik terhadap diri sendiri dan orang lain? Apa justru kita akan berusaha jujur meskipun menyakitkan dan melakukan berbagaimacam kebaikan dengan penuh ketulusan yang bisa kita persembahkan untuk yang terakhir kalinya, karena kita tahu, kapan kita akan mati.

Ada sebuah kisah yang membuat hati dan pikiran saya terpukul-pukul berkali-kali. Seperti jika sedang membangunkan orang dari tidur panjang dan ketidaksadaran. Jika kita melihat seseorang masih saja tidur di pagi hari, meski langit telah terang benderang. Akankah kita membiarkan seseorang melewatkan rezekinya? Bagi orang yang bijaksana, mungkin ia akan menyadarkan yang tertidur, dengan pukulan-pukulan kecil yang membuat orang itu sadar dan terbangun. Agar tak melewatkan ibadah yang berharga di subuh hari. Agar tidak menelantarkan rezeki di pagi hari.

Itu yang saya rasakan saat menyaksikan suatu kisah yang saya saksikan beberapa hari yang lalu. Dan saya merasa jadi orang tidur yang dipukul-pukul supaya sadar dan bangun. Banyak hikmah yang bisa didapatkan dari kisah tersebut. Terlepas dari masalah kepercayaan yang tak masuk akal, terlepas dari hal-hal gaib yang mustahil terjadi. Seperti halnya dongeng-dongeng fabel yang mengajak anak berkhayal bahwa gajah dan jerapah bisa berbicara, meski mustahil, namun sarat akan makna.

Selama menyaksikan kisah itu, seolah saya diajak mengkhayal bersama, dan masuk ke dalam sebuah kisah fantasi. Saya merasa menjadi seorang pengamat dan pengkhayat yang bisa mengetahui isi hati siapapun dalam kisah itu.

Bayangkan, ketika ada seseorang yang dengan mudahnya ingin mengakhiri hidup. Ketika seseorang begitu ingin meninggalkan dunia tempat ia berpijak karena sudah sangat putus asa. Di sisi lain, ada seseorang yang berjuang demi hidupnya. Demi memperoleh menit-menit berharga yang bisa ia bayar dengan air mata ketulusan, untuk kembali menghirup gas oksigen bebas di udara yang bisa didapatkan secara gratis.

Ketika kita dilanda depresi dan tak semangat menjalani hidup. Ketika kita kehilangan sesuatu yang berharga dan tak mendapati gairah hidup yang nyata, lantas kita menganiaya diri sendiri, mengasihani diri sendiri. Hingga hidup dalam kegelapan. Ketidakberartian. Sungguh meskipun secara fisik kita masih Hidup. Namun Jiwa kita telah lama Mati.

Dan di sisi lain, ada sesosok jiwa yang berkelana, dulu ia bahagia menjalani hidupnya, kini di tengah ketidakberdayaan ia mencari celah-celah kehidupan dari doa-doa dan air mata yang seratus persen tulus dari orang-orang tercinta. Ada sesosok jiwa yang raganya telah dinyatakan mati. Namun, ruhnya masih terus bergentayangan, mengembara, menunggu keajaiban, mukjizat yang diberikan Tuhan melalui doa-doa para hamba yang tak hanya Meratap Iba. Tetapi hamba-hamba yang berdoa dengan ketulusan jiwa, Sepenuh Hati dan tak ada sedikitpun niat yang bertolakbelakang dari jalan kebaikan.

Ketika kita dilanda perasaan sedih yang berkelanjutan, hingga air mata pun tak dapat menetes lagi, hingga hanya pandangan mata kekosongan yang kita lihat saat menonton acara komedi sekalipun. Saat yang kita ingin makan saat itu adalah racun pembunuh serangga. Ingatlah, bahwa, di luar sana, banyak orang-orang telah mati secara fisik, namun jiwanya masih ingin menjalani hidupnya dengan semangat.

Apa yang akan dikatakan ruh yang berkelana itu jika berhadapan dengan kita? Mungkin ia akan memaki-maki kita, “Kamu harusnya bersyukur! Aku iri padamu… Suaramu masih bisa terdengar oleh orang-orang, kamu masih bisa terlihat! Kamu masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Lalu kenapa kamu seolah tak bersyukur? Kenapa kamu menjalani hidup seperti ini? Hidup dalam kegelapan dan kekosongan?! Tidakkah kamu ingin hidupmu berharga? Selagi masih ada kesempatan! Janganlah menjadi orang yang merugi!”

Jujur, saya sangat tersindir dengan makna-makna yang terjabar dalam kisah itu. Meskipun bersifat fantasi, namun banyak hal yang menyadarkan saya.

Juga ketika ruh tersebut menjalani 49 days travel menjelajahi hidupnya dalam tubuh orang lain.

Bayangkan, seandainya ragamu terbaring kaku di ranjang rumah sakit dan dokter telah menyatakanmu mati secara medis. Sedangkan ruhmu berada di samping jasadmu. Kau temukan orang-orang tersayang menangis di samping ranjangmu.

Ayah, ibu, saudara, sahabat, dan semua orang yang mengenalmu dengan baik…

Namun, apakah tangisan mereka adalah benar-benar Tangisan Ketulusan?

Ketika ruh kita diberi kesempatan hidup kembali, dengan syarat mencari 3 tetes air mata orang-orang yang tidak berhubungan darah dengan kita. Kita harus mencari tetesan air mata yang seratus persen tulus. Akankah kita mengetahui bahwa tidak semua orang seperti apa yang terlihat di luar.

Ketika ruh kita senang dan sangat percaya kita mampu mendapatkan 3 tetes air mata itu. Kita pun menebak-nebak siapa saja yang mungkin akan menangis tulus.

Namun ternyata, tak semua yang terlihat dari luar adalah seperti apa yang kita duga. Mereka bisa saja menangis di samping jasad kita karena mungkin kita masih memiliki hutang yang belum dibayar, sehingga orang itu menangis di samping jasad kita akibat menanggung kerugian. Atau karena ingin mendapat simpati, warisan, atau ada yang menangis di samping kita atas perasaan bersalah karena telah berkhianat.

Ternyata, hal itu menyadarkan saya akan adanya berbagaimacam arti air mata. Dan di luar semua itu, ada air mata dalam doa yang di dalamnya mengandung seratus persen murni ketulusan.

Saya tidak ingin menjadi orang yang mudah su’udzon karena itu, dengan menduga-duga air mata jenis apa yang orang-orang keluarkan. Toh, memang itu hanya Fantasy Fiction. Hanya Allah yang mengetahui segala. Juga tentang kapan deadline hidup kita. Saya hanya ingin menuliskan kembali beberapa hal yang menarik dan sempat memukul-mukul hati dan pikiran saya beberapa hari ini pasca menonton film drama Korea 20 Episode berjudul 49 days itu.

Bahwa selagi Hayat masih di kandung badan. Seberapapun berat ujian hidup, seberapa banyak hal berharga dari dirimu yang menghilang. La tahzan…

Jalani terus hidupmu dengan Semangat dan Keceriaan.

Sebelum Scheduler ‘Yang Sesungguhnya’ memanggilmu menuju ‘Elevator Kematian yang sesungguhnya’ untuk melintasi Deadline hidupmu…

***

sumber gambar : purplewallpaper.com

Jumat, 17 Februari 2012

ANTOGILAAAA!!!

Di buku ini ada story konyol-ku jugaa... :D

About this book :

“Kalau aku, aku sih terserah Yanti. Dia mau bilang antologi ini gila atau aku yang gila, aku gak masalah. Yang penting Aurel nilai rapornya bagus.” (Amang Premansyah, Penyanyi yang Doyan Getuk)

“Buat temen-temen STM gue, temen-temen ngaji gue, temen-temen yang belum jadi temen gue, MAKAN NIH!” (Marsjanda, Mantan Artis Cilik dan Mantan Istri Duda)

“Untuk anak-anak Indonesia, saya sarankan untuk membaca kisah dalam antogila ini. Cerita yang dikisahkan oleh para kontibutor sangat menghibur, mencerminkan kecacatan psikologis penulisnya.” (Kak Seko Mulyedi, Pemerhati Mamanya Anak)

“Alhamdulillah banget. Sesuatu yah. Aku memilih buku ini untuk dijadikan ganjelan jambulku.” (Syahrimin, Penyanyi Berbulu Mata Anti Badai Kerispatih)

“Menurut analisa saya, buku ini tidak asli. Bila dilihat dari metadatanya, kita akan tahu bahwa buku ini sebenarnya hanya tipuan optik yang terjadi karena suatu objek terkena pancaran sinar yang ditimbulkan oleh matahari sehingga terlihat seolah-olah buku ini asli. Padahal hanya koran bekas bungkus nasi uduk Kang Bani. Tuh lihat masih ada bekas sambelnya!” (Ryo Sukro, Pakar Towelemaktika yang Belum Pernah Tamat Game Zuma)

Senin, 23 Januari 2012

WARNING : MODUS PENIPUAN (!!!)

Bismillah,

Sebelum menuliskan pengalaman yang ‘nggak banget’ ini. Saya ingin berpesan kepada seluruh manusia yang membaca postingan ini. Bahwa, kepekakan adalah salah satu hal yang penting dalam menanggapi suatu informasi.

Saya emang bukan orang yang super cerdas. Tapi, satu hal yang saya inget, papa dulu pernah bilang, kalau saya itu orang yang pekak. Instingnya tajem. Bagus kalau jadi detektif. Dan hari ini, saya mengalami sesuatu yang luar biasa sekali. Dan semoga bisa menjadi bahan kewaspadaan untuk anda-anda sekalian yang membaca.

Tadi pagi, lagi-lagi enak mimpi, saya dibangunkan oleh suara mama yang setengah berteriak kegirangan, “Minchuu, mama dapet kijang innova...” Suara itu lambat laut semakin menghilang kayak gema. Soalnya jiwa masih setengah sadar setengah lagi di alam mimpi. Tapi, setelah kemudian terdengar lagi seruan—antara girang dan panik mama bilang lagi, ‘Mama dapet undian kijang innova’. Sontak saya bangkit dari keadaan tidur dan menghampiri beliau yang luar biasa paniknya.

Saya pun bertanya pada mama, “Undian dari mana? Trus sekarang mama mau ke mana?” saya liat mama sedang heboh mencari-cari pakaian, ekspresi dan gerak gerik mama saat itu bener-bener tergesa-gesa. “Mama dapet undian, sekarang harus ke BNI, tadi malem ada katanya ditayangin di transTV. Katanya mama pemenang ke-2, yang pertama di Kalimantan Selatan, sekarang mama harus ke BNI.” Saya yang masih setengah mimpi dalem hati langsung Alhamdulillah—coz saya pikir hadiah mobilnya sudah ada di BNI pusat, dan mama mau ambil hadiahnya di BNI.

“Tunggu dulu, ini penipuan bukan?” gak ragu, saya langsung tanya mama. “Bukan lah… itu udah jelas ditelepon dari pusat Telkom, tadi mama ngobrol sama direkturnya. Udah yah… jaga rumah, ini disuruh buru-buru banget soalnya, Cuma dikasih waktu 1 jam. Kalau enggak katanya bakal dikasih ke pemenang cadangan.”

Ngeliat mama buru-buru gitu, saya juga jadi khawatir, takut mama kenapa-napa di jalan. Rencananya saya mau menginterogasi mama lebih jauh tentang undian itu. Coz saya memang gak percaya sepenuhnya dari awal. Tapi, mama seolah gak kasih kesempatan untuk saya bertanya lebih jauh. Dan memang saat itu posisi mama udah dipintu, dan saat itu saya sedang kebelet luar biasa. Suasananya tidak memungkinkan untuk mencegah mama.

Akhirnya sampai di kamar mandi, saya teriak-teriak. “Mamaaa… hati-hati di jalan, jangan keburu-buru, pikirin lagi, takut penipuan.” Tapi apalah daya saya yang saat itu sedang memenuhi hak tubuh untuk mengeluarkan zat sisa. Mama udah di depan pintu, sambil bilang. “Itu telepon rumah jangan ditutup ya, katanya bebas pulsa sampai jam 5 sore. Biarin aja jangan ditutup. Disuruh direktur telkomnya jangan ditutup. Mama mau nebus hadiah dulu ke BNI.”

Dari situ saya mulai curiga banget. Mama datang 2 jam kemudian. Mama cerita katanya di perjalanan mama cepet-cepet banget. Sampai tadi tuh ada tamu aja disuruh pulang. Coz mau transfer ke bank. “Nanti, kamu siap-siap ya, pihak mereka bakal datang sebelum sholat jumat, katanya bakal ada 3 mobil, dan dikawal polisi. Bakal ada TransTV juga mau wawancara kita.”

Mama bilang kayak gitu, ya saya jadi lumayan percaya, coz sebelumnya, kami memang pernah bersiap-siap seperti itu. Ada stasiun TV yang datang ke rumah untuk wawancara. Dan saat itu memang wawancara lah yang terjadi, bahkan kami memang diberi insentif. Tapi yang saya heran, kok mama gak pulang sama mobilnya.

Mendengar semangat mama, saya juga jadi agak tertular. Akhirnya, saya siap-siap untuk diwawancara. Mama juga. Saya sempat bilang ke mama, “Ma, tadi malem aku emang mimpi dapet rezeki loh.” Sebenernya saya agak ragu juga ngomong kayak gitu. Coz tadi malem itu sebenernya mimpi saya ada 2 sesi. Mimpi pertama, saya dan keluarga dapet rezeki, mimpi yang ke-2 saya dan keluarga tertipu oleh penipu. Malah pas bangun saya sempat beristighfar karena mimpi itu, dan langsung mendengar mama teriak-teriak dapet undian.

Tapi, saya gak bilang tentang mimpi saya yang ke-2 itu. Saya gak mau merusak kebahagian mama, lagian, apalah artinya mimpi sih. Saya anggap itu Cuma kebetulan. Sebelumnya juga saya memang gak punya kemampuan apa-apa, kayak indera ke-6 dll. Mimpi-mimpi tidur malam saya seringnya Cuma sekedar bunga tidur dan gak pantes dihubungin sama kebetulan-kebetulan.

Akhirnya, telepon itu mama tutup. SETELAH DIBIARKAN TIDAK TERTUTUP SELAMA 2 JAM.

Mama akhirnya konfirmasi ke Drs. Edi Jumedi, SH (itu nama yang si penipu itu akui). Mama bilang bahwa mama udah transfer ke rekening samsat yang dimaksud.

Saat saya nguping mama nelepon. Saya kaget. Samsat apaan? Saya kira itu undian dari BNI. Coz mama—sebelum berangkat tadi—bilangnya itu undian dari BNI. Yaaa, jadi saya agak tenang, coz itu undian dari BNI, dan mama transfernya buat BNI.

Ternyata, pas mama ngobrol lagi sama si Drs. Edi Jumedi, SH itu, dan saya nguping perbincangan mereka. Itu janggal banget. Lebih lagi si Drs. Edi Jumedi, SH itu meminta dana transfer lagi sebesar 7 juta untuk tukar plat dan mengantar mobil ke rumah. Padahal tadi mama udah transfer 3 juta.

Pas mama nelepon tadi, yang saya lakukan ialah elus-elus dada sama geleng-geleng kepala. ITU POSITIVE PENIPUAN!!! Tapi mama belum bereaksi menolak perintah si Edi itu, malah mama nanya-nanya tentang no rekening tujuan transfer selanjutnya, tergesa-gesa. Padahal itu mama baru pulang dari BNI. Dan harus disuruh transfer lagi 7 juta.

Akhirnya, tanpa tanda saya rebut gagang telepon rumah saya dari tangan mama. “Pak, saya anaknya Ibu Nina. Mau Bapak apa?” saya agak membentak orang itu. Si Bapak-bapak itu jawab, “Begini mbak… Hmm… dengan Mbak siapa?” logatnya sok batak banget. Saya langsung jawab. “Saya Tina.” (dia nipu, ya saya balik tipu) saya tidak berani kasih tau nama asli. Sebenernya berani sih, Cuma males aja kasih tau nama asli ke orang palsu kayak gitu.

“Gini Mbak Tina, untuk mendapatkan hadiahnya, harus transfer lagi 7 juta, untuk biaya bla bla blaa…..” dia ngejelasin pake logat batak yang ‘enggak banget’, dia ngejelasin tentang surat-surat kelengkapan mobil n plat’nya, sehingga kami disuruh bayar 7 juta lagi.

“Gini pak, kami kan tadi udah transfer 3 juta, sekarang kalau harus transfer 7 juta lagi, kita nggak ada dananya, Pak. Yaudah silakan kalau hadiahnya mau dialihkan ke pemenang cadangan, kami ikhlas.”

Eeehhh, si Bapak itu malah membentak saya dengan logat bataknya yang ketauan banget dibuat-buat.

“Ohh, JADI MBAK MEMPERMAINKAN SAYA??? JANGAN MAIN-MAIN LOH MBAK, KITA SEKARANG SUDAH DI SAMSAT, DI PERJALANAN MENUJU BANDUNG UNTUK GANTI PLAT!!! GAK BISA GITU LAH MBAK, MBAK GAK SAYANG DENGAN HADIAH YANG DIBERIKAN ALLAH… INI REJEKI LOH MBAK.”

Saya jadi sadar, ternyata peran-peran antagonis di sinetron-sinetron Indonesia terinspirasi dari kehidupan nyata. Bentakan-bentakan dia sebelas dua belas lahh sama peran-peran antagonis di pilem2 mellow lebay.

“Ya gak gitu, Pak, mempermainkan gimana? Yaaa gimana lagi, Pak! Kita bener2 gak ada kalau segitu!” saya mencoba untuk lebih sabar.

“Berusaha lahh mbak, pinjem-pinjem dulu. Sayang ini mobil kalau gak diambil.” Dia membujuk2 lagi.

“Hahh? Gak bisa semudah itu lah pak, kita mau pinjem dari siapa??? Gini aja pak, gimana kalau hadiahnya dibawa ke sini dulu, setelah sampai di sini, kami akan bayar sesuai dengan nominal yang Bapak sebutkan tadi. Atau kalau lebih pun boleh, Pak, asal ada bukti, Bapak bukan penipu. Sekarang saya bisa jamin dari mana kalau Bapak bukan penipu?”

Dan dia membentak saya lagi.

“WAHH MBAK SEPERTINYA MENJEBAK SAYA! MBAK JANGAN MEMPERMALUKAN SAYA!!! ITU KALAU SEPERTI ITU MBAK TIDAK PERCAYA SAMA SAYA!” (dalem hati, ‘emang gue gak percaya’)

“Yaudah gini deh, sekarang Bapak lagi ada di mana? Tadi katanya diumumin di TransTV jam 10. Tadi malem saya nonton transTV sampai jam 12, dan gak ada tuh Pak, Bapak jangan ngebohongin saya juga. Soalnya saya bisa langsung cross check ke sodara saya, dia crew transTV!!!” saya pun akhirnya mengeluarkan nada sinis.

“MBAK MENGHINA SAYA KALAU BEGITU!!! TIDAK MAU TAHU, MBAK TINA HARUS GANTI RUGI!!! SEKARANG, CEPAT TRANSFER!!! SOALNYA SAYA SUDAH DI PERJALANAN MENUJU BANDUNG, KAMI BERSAMA POLISI, KALAU TIDAK PERCAYA, NIIIH… DENGAR!!!” (lalu terdengar suara sirine mobil polisi)

Ampuuun deh, dalem hati saya malah tambah yakin itu penipuan. Efek suara itu bisa aja alarm hp atau bunyi2an yg bisa dibuat2.

“MBAK DENGAR ITU!!! KITA SEDANG DALAM PERJALANAN KE BANDUNG MBAK. MBAK HARUS BAYAR!!! KARENA MBAK TELAH MEMBUANG-BUANG WAKTU SAYA! SAYA JUGA BANYAK ACARA LAIN!!!”

“Lohh??? Bapak kok jadi meres saya? Yahh kalau kita gak ada uang segitu mau gimana coba??? Minjem juga ke siapa??? Zaman sekarang Pak, mana ada sih yang mau pinjemin? Atau gini aja deh Pak, minjem uang bapak aja dulu, bapak kan kaya, direktur gitu kan? Nahh, nanti pas hadiahnya datang, kita kembaliin uang bapak. Gitu gmana?”

“YA GAK BISA GITU MBAK! Itu Mbak ARTINYA telah mempermalukan saya!!! MERUGIKAN WAKTU SAYA!!! LIHAT SAJA NANTI, SAYA BISA MENUNTUT MBAK! WAHH, MBAK TINA INI KURANG AJAR YA… COBA MANA IBU ANDA???” (dia udah mulai kesal menghadapi saya).

Akhirnya saya tutup teleponnya. Dan ngomong ke mama, “MAMA, INI TUH UDAH JELAS PENIPUAN BANGET, BANYAK MODUS KAYAK GITUU… YA AMPUUUN MAMA, KENAPA PERCAYA AJAA,,, AKU UDAH CURIGA DARI AWAL, TAPI MAMA KEBURU-BURU BANGET, JADINYA GAK KEBURU… LAGIAN TADI PAS KE BNI, COBA AKU IKUT… AKU MAH UDAH SADAR DARI AWAL KALAU ITU PENIPUAN. CUMA MAMA TADI BILANGNYA ITU UNDIAN DARI BNI, DAN TADI MAMA MAU NYETOR UANG KE BNI… DIKIRA EMANG BENER HADIAHNYA UDAH ADA DI BNI… PADAHAL TERNYATA PIHAK BNI SAMA SEKALI GAK TAU. COBA MAMA CEK KE PLAZA TELKOM? AATAGFIRULLOHALADZIM MAMA, UNTUNG AKU GAK JADI KE KAMPUS… KALAU AKU GAK ADA, MAMA PASTI UDAH NGIKUTIN PERINTAH ITU ORANG BUAT TRANSFER LAGI…”

Aku agak kesel juga sama mama. Astagfirulloh…

“Iya ini nomernya direktur Telkom…” mama ngeluarin nomer dirut Telkom.

“Itu nomer dari siapaaa??? Jangan percayaaa lahh kalo orang yg tadi yang ngasih… coba sekarang cek ke bagian penerangan, cari tau nomor telepon plaza Telkom berapa? Trus tanya.”

Akhirnya, mama telepon ke bagian penerangan, dan dapet no. plaza Telkom, dan benar. Jawabannya ialah, TIDAK ADA UNDIAN MOBIL KIJANG INNOVA TAHUN INI.

Mama juga akhirnya nelepon ke temen mama yang pernah dapet undian mobil dari bank BCA. Kata temen mama itu, kalau hadiah kayak gitu langsung dianterin, gak pake transfer uang lebih dulu. Dan gak ada dana charge apapun. Temen mama pun akhirnya memastikan bahwa kasus yang dialami kami ialah PENIPUAN.

“Astagfirullohaladzim…” Mama cuma bisa nyesel, dan nyesel. Saya saat itu mikir, ‘ohh, pantesan, tadi orang itu nyuruh mama nggak nutup teleponnya selama transfer ke BNI. Saya tau, itu motif dia supaya kita gak nerima dan nyari informasi dari orang-orang lain dan Telkom yang asli. Subhanallah, itu 2 jam telepon rumah dibiarkan gak ditutup, dan itu interlokal, kawan!!!

Saya mencoba lebih tenang dari mama yang keliatan udah gak karu-karuan banget. Ehh, si Edi itu nelepon lagi. Saya yang angkat lagi.

“Hallo…”

“HEI MBAK TINA, ANDA TELAH MEMPERMAINKAN SAMSAT!!! KAMI AKAN MENGGUGAT ANDA!”

“Ya ampun Pak, mempermainkan apa? Alasan kami itu kami tidak punya dana segitu, mau dipaksakan bagaimana, pinjam uang ke siapa? Pinjam uang bapak aja gimana?”

Akhirnya si Edi itu berpikir sejenak.

“Pak, 7 juta itu gak sedikit. Saya itu anak yatim. Adik saya masih ada biaya banyak. Itu uang yang ditransfer ibu saya tadi buat biaya spp ade saya… Bapak tega? Bapak kan direktur, saya masih pelajar, pak… seenggaknya kurangin lah jumlahnya. Jangan 7 juta!”

“Yasudah, kita tanggung bersama saja, saya setengan, Mbak Tina setengah. “

“hmm… yaudah, jadinya saya bayar 2 juta aja ya Pak?” (si Edi itu menanggapi ‘iya iya aja’ kagak bisa ngitung ape ye??? Tujuh dibagi 2 kan padahal 3.5!

“Ok kalau begitu, Mbak Tina, Setuju! Anda transfer 2 juta sekarang! Saya tunggu, maaf saya tadi sempat membentak-bentak. Saya Cuma ingin meyakinkan bahwa saya bukan penipu, justru saya ingin mengantarkan hadiah pemberian Allah untuk anda. DEMI ALLAH SAYA BUKAN PENIPU… apalagi ini hari jumat, hari yang suci untuk beramal, tidak mungkin lah saya menipu.”

“Hmm… iya ya Pak, hidup ini kan sementara, buat apa sih kita nipu, nipu itu kan dosa. Pokoknya, Allah pasti tau segalanya lah, kalau keburukan pasti ada ganjarannya. Begitu juga sebaliknya. Allah maha Adil. Saya percayakan pada Allah aja segalanya. Semoga bapak juga mendapatkan hidayah. Betul seperti bapak bilang tadi. Hari jumat waktu yang baik untuk beramal. Sekali lagi, saya percaya pada Allah, dan hidup ini sementara. Kita pasti mempertanggungjawabkan amalan kita di akhirat nanti.” (sempet gw ceramahin juga nih si Edi itu).

“Betul Mbak… betul sekali… Ok, ya? Dua jutanya saya tunggu?” (‘betul-betul’ tapi UUD—Ujung-ujungnya tetep Duit).

Setelah itu saya tutup telepon. Dan berniat tidak membayar 2 juta sisanya. Langsung saya ganti nomor mama dengan simcard baru. Dan saya cabut kabel telepon rumah.

Masalah belum selesai, sekarang giliran mama yang ketakutan, sebenernya saya juga takut, tapi saya berusaha untuk lebih tenang dari beliau. Beliau sempat memberi alamat lengkap rumah kami. Beserta nomor ktp beliau.

Mama takut ancaman itu benar. Si Edi sempat mengancam, katanya jangan bilang-bilang dulu ke pihak manapun, pokoknya mengancam dengan sangat GARANG! Benar2 bukan mencerminkan seorang yang intelek. Gimana dia bisa pura2 jadi direktur. Logat preman gitu…

kasian aja sama mama, mama tuh katanya di angkot menuju BNI udah ngebayangin mobil innova itu, mau adain syukuran, dll… tapi ternyata…

Hmm… Tapi ada yang lebih kasihan lagi. Yaitu, gerombolan Si Edi! Kok kayak gitu banget yah, cari uang… kasihan sekali… ckckck… Kita doakan saja semoga mereka mendapatkan hidayah.

Dan setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Hikmahnya, kita harus rajin-rajin sedekah. Kita sering lupa bahwa 2,5% dari pendapatan kita sebenarnya itu bukan milik kita. Kita harus menyisihkannya. Karena di dunia atau di akhirat, itu tetap bukan milik kita. Saya meyakinkan mama untuk mengikhlaskan apa yang telah hilang. Karena mungkin saja itu memang bukan hak kita. Untuk ke depannya, sekecil apapun pendapatan kita, 2,5% harus kita sisihkan.

Dan, saya meyakinkan mama yang sangat tampak kehilangan. Bahwa mama sebelumnya pernah mengalami kehilangan yang lebih parah dari ini. Kehilangan papa. Dan seiring berjalannya waktu, perasaan kehilangan itu menjadi hikmah dan bukan sebuah kesedihan. Begitu juga dengan kejadian ini. Perasaan kehilangan ini pasti akan hilang dan berubah menjadi pesan yang mengandung hikmah.

Ingat, Ma, doa orang yang teraniaya itu mujarab lhoo…, Sekarang mending kita berdoa aja yukk… ^^

Selasa, 06 September 2011

Today

Di sela-sela ngerjain tugas-tugas yang belum selesai, gw malah memberanikan diri untuk berpetualang dan mengabaikan tugas-tugas kuliah untuk sementara waktu. Coz hidup ini gak harus selalu mengenai ‘ngerjain tugas-tugas kuliah’. XD

Hari ini mengingatkan gw akan banyak hal… Hari yang bener-bener hari, hari peringatan buat gw. Buat semua orang yang mengaku sebagai insan Tuhan.

Andaikan kita bisa tertawa selamanya, andaikan d dunia ini tak pernah ada duka... Mungkin kita sudah terpental jauh ke jurang bahagia yg semu... Duka saat ini mbuat qta memahami bahwa akan ada Kebahagian Sejati yg kekal d akhirat nanti...

Mengutip status dari fb seseorang yang sangat amat nggak tau diri, nggak tau diuntung, gak tau terima kasih… Yang gak lain adalah gw sendiri.

Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, habis melayat ayah seorang teman yang meninggal, gw jadi berfikir hal-hal yang sangat sulit untuk dijelaskan. Yaitu, tentang kematian. Entah kenapa, belakangan ini banyak mendengar kabar duka yang mengejutkan. Dari istri artis sampai ayahnya temen. Mendengar kisah-kisah duka mereka, gw jadi inget kejadian waktu gw umur 13 tahun. Ditinggal papa.

Gw suka mikir tentang perasaan mereka yang ditinggalkan, gw juga jadi mikir, gimana perasaan orang yang akan meninggaL, apakah mereka menyadari suatu tanda-tanda, atau ajal datang tiba-tiba tanpa tanda.

Atau ketika kita kebingungan karena mengapa dulu orang itu ada di sisi kita, namun kini sudah tidak bisa ada di sisi kita lagi. Kenapa hal itu bisa terjadi? Hilang begitu saja. Dan kenapa gw baru mengkhayati dan mempertanyakan itu semua sekarang2 ini?

Waktu praktikum Dasar-dasar Komunikasi beberapa semester yang lalu, sempat ada pertanyaan, “Pernahkah kamu berpikiran untuk bunuh diri?’ dan itu harus kita jawab dengan jujur. Dan gw jawab ‘pernah’.

Dulu, gw masih berpikiran bahwa ‘suicide mungkin menjadi salah satu cara untuk menghindari dan meninggalkan masaalah dunia.’ Dan setelah KKP, gw tau kenapa dulu gw pernah terlintas berfikir tentang suicide.

Saat KKP, gw mempelajari bahwa hidup kita terlalu berharga untuk disia-siakan, hidup kita terlalu berharga jika dijadikan seribu alasan untuk menyerah. Di tempat KKP, gw diperlihatkan sesuatu, bahwa hidup kita itu benar-benar berharga.

Saat pulang KKP, banyak perubahan yang gw rasakan. Terutama pikiran tentang suicide itu. Udah nggak sama sekali terfikirkan untuk melakukan hal aneh-aneh. Gw Cuma pengen hidup gw bermanfaat untuk orang lain. Ada beberapa orang memberi komentar kalau keburukan gw itu adalah ‘terlalu baik’.

Bahkan pada akhirnya gw sering menawarkan diri menjadi ‘sacrifice, demi kebahagiaan orang lain. Tapi menurut gw gak ada salahnya dengan itu, karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Tp itu masih hanya sebatas penilaian orang, coba evaluasi diri kita sendiri, kita yang tau dalem2nya, buruk2nya, baik2nya kita. Setiap hari evaluasi tentang apa yang telah kita lakukan hari ini. Untuk bekal kita nanti… J

Dan untuk teman-temanku, saudara-saudaraku, dann akuu sendiri…

La Tahzan, yah… ^^

Rencana Allah selalu indah…

Rabu, 24 Agustus 2011

Kita Punya POWER :)

Semoga saat ini, gw bisa menulis dengan tenang… Tanpa harus ragu dan takut beberapa orang yang tidak diharapkan membaca tulisan ini malah tidak sengaja membaca. Sebetulnya, gw gak mau membatasi apa yang harus gw tulis, sekalipun di media yang bisa diakses siapapun. Sejauh gak melenceng dari norma moral dan agama. Gak ada salahnya, jika itu adalah unek-unek dalem hati yang kalau gak dikeluarin bisa menimbulkan gondok tahunan.

Sebenernya banyak posting-posting yang seharusnya dipublish sebelum postingan kali ini. Sebelum posting blog, biasanya gw akan menulis di word dulu. Berhubung saat ini gw udah nggak pake spe*dy, bahkan saat ini gw menggunakan langganan internet yang berquota. Jadi, sayang aja kalau waktu ngenet habis hanya untuk update blog. Jadi, gw sering menulis dulu di word, lalu kemudian mengakses internet, laluu baru deh publish…

Saat ini, entah gw juga harus mulai nulis dari daerah mana dulu. Gw bener-bener bingung dengan apa yang terjadi dalam hidup gw. Saking bingungnya jadi gak merasa kalau gw sedang kebingungan. Biasanya, kalau gw sedang mengalami kebingungan, gw selalu bertanya (Siapa lagi kalau bukan pada Tuhan Yang Maha Satu).

Gw adalah makhluk yang introvert, aneh, dan kurang mahir beradaptasi dengan lingkungan baru. Gw suka kestabilan hidup, dan jika jadwal gw diganggugugat oleh suatu kegiatan atau kewajiban yang tidak biasanya, gw akan merasa kacau dan bisa jadi gw kabur dari kewajiban itu.

Di sisi lain, gw orangnya penakut banget. Meski sebenernya, sifat dasar gw itu pemberani. Tapi ada beberapa kesalahan, mungkin dari sisi pengasuhan, yang membuat gw jadi serba takut dan pesimis. Bukannya gw menyalahkan bunda mengandung. Ini hanya masalah kurangnya ilmu pengasuhan. Mungkin kita bisa menyalahkan orangtua, tapi jika kita sadar, bahwa zaman dahulu mereka tidak mengenali teori-teori tentang pengasuhan.

Dari situ, gw tau, bahwa ilmu pengasuhan anak tidak hanya datang secara alami saja, tapi juga butuh pengalaman, dan penelitian yang bisa menciptakan suatu landasan teori. Tapi berhubung di sini gw gak akan membahas tentang teori pengasuhan lebih dalam, jadi mungkin, gw akan mengalihkan kembali pada arah semula, tentang kebingungan. Entah kebingungan, atau keajaiban. Yang jelas, keajaiban itu kadang membingungkan, tapi sayangnya… nyata.

Tiada yang mustahil di dunia ini, jika kita beriman dan bertakwa… (vocal : raihan)

Mungkin gw udah sering membahas masalah kebingungan, kepesimisan, ketakutan dan lain sebagainya. Tapi sekarang, gw akan mencoba memahami apa yang disebut “POWER”.

Kalau orang-orang yang udah ambil mata kuliah Gender dan Keluarga, pasti udah faham banget apa yang disebut ‘emansipasi wanita’. Tapi gw gak akan membahas terlalu dalam mengenai masalah itu, karena saat ini gw akan membahas tentang seorang anak perempuan… hmm… seharusnya dy bukan ‘anak’ lagi, tapi sudah mencapai tahap dewasa awal.

Anak perempuan, biasanya lebih dimanja sama orangtuanya, anak perempuan biasanya dianggap lebih lemah dan tidak berharga dibanding anak laki-laki… Perempuan berfikir kebanyakan menggunakan emosi, sedangkan laki-laki menggunakan logika.

Entah semua itu pendapat datang dari desas-desus, ataupun penelitian. Gw gak sepenuhnya setuju. Bahkan gw setuju penuh bahwa perempuan itu jg punya ‘Power’ yang gak kalah hebat dari laki-laki. Apakah power yang dimiliki wanita? (hhe… tenang, gw gak akan jawab air mata koq) karena air mata itu terlalu berharga untuk dikeluarkan, apalagi gara-gara hal-hal sepele.

Balik lagi ke topik semula, anggap aja deh ceritanya anak perempuan itu gw… (hoho… pdhal emang iya). Tapi, berhubung emang banyak anak dengan kasus sama seperti gw, maka dari itu, gw akan membahas sedikit keajaiban yang terjadi dalam hidup gw.

Gw adalah orang yang sangat amat penakut, pemalu, gak berani kemana-mana sendiri, gak berani berpendapat, gak berani memulai meski ada ide, gak pedean, sering takut salah dan berlari pada zona nyaman dunia, gak mau repot, nggak mau panas-panasan, gak mau cape, pada sebagian orang dengan kasus seperti ini mereka yang manja seperti itu biasanya mereka study oriented, jadinya gak mau ikut organisasi2 sekolah atau kampus. Bedanya gw, gw nggak terlalu study oriented… hehe, itu bahkan lebih parah.

Sampai semester 4, gw gak pernah nyobain apa yang namanya organisasi di kampus. Pernah sih, tapi super duper gabuts. Pokoknya, gw itu agendanya kalau udah kuliah langsung pulang. Kagak ada deh nongkrong2an di secretariat organisasi2 kampus.

Sampai suatu ketika, gw dihadapkan suatu kewajiban yang ‘menurut gw saat itu’ sangat mengerikan. Kewajiban yang gw keselin bgt, kenapa harus ada 3 sks yang gak jelas itu. Tiga SKS itu bernama Kuliah Kerja Profesi. Beberapa minggu menjelang KKP, gw sempet mikir, ‘apakah gw sanggup? Gw gak biasa seperti itu, gw gak biasa keluar dari garis nyaman, gw orang introvert, apakah gw sanggup berbaur? Apakah gw sanggup menjadi pemberani dan mandiri? Ya Allah, apakah hamba sanggup?

Gw sering banget merenung mikirin hal itu sebelum hari H KKp.

Tapi kawan, inilah keajaiban, kini satu bulan lebih udah gw lewati, dan saat ini gw bisa merasakan senyuman gw sendiri. KKP itu tidaklah seperti yang gw bayangkan, dan gw tidak selemah yang gw bayangkan sebelumnya. Setiap menit dan detik yang gw habiskan di sebuah desa terpencil itu adalah pembelajaran. Setiap hembusan nafas yang gw keluarkan gak pernah ada yang luput dari perasaan syukur. Karena KKP adalah 3 sks yang sangat berkesan dalam hidup gw.

Meski nggak diawasi dosen setiap hari, kita bisa merasakan kita sedang belajar dan bertanggungjawab. Belajar dengan perasaan tulus dan ikhlas tanpa mengharap dilihat dosen pembimbing, tanpa berharap pamrih dari warga… kita bener2 belajar arti hidup yang sesungguhnya.

Dengan itu, gw berani banget bilang, kalau mau pelatihan keberanian, kemandirian, kepercayadirian, jangan harap bisa berubah hanya dengan diam di tempat, membaca buku, ataupun pelatihan-pelatihan training motivasi. (Gw bukannya bilang ‘gak boleh’) Gw hanya bilang ‘jangan harap’. Karena mungkin, pelatihan lisan dan tulisan sprt itu hanya sebuah teori saja, dan yang menentukan perubahan ialah prakteknya.

Alah bisa, karena biasa…

Gw nggak mau menjabarkan apa saja yang gw lakukan di tempat KKP, karena selain banyak bangett yang gw lakukan, yang gak biasanya gw lakukan di rumah (di zona nyaman), juga karena takut jadi ada unsur takabur. Jadi cukup dikhayati saja dalam hati untuk hal-hal yang ternyata bisa gw lakukan dengan baik.

Padahal sebelum KKP, banyak saudara yang beranggapan bahwa dalam pelaksanaan KKP, mama gw bakalan ikut nginep di rumah KKP bersama teman-teman gw yang lainnya. Saat itu, karena mama gw emang meragukan gw bisa apa nggak melakoni kehidupan KKP itu, gw juga jd ikutan ragu. Jadi, setiap kali ada omongan yang menyindir seperti itu… tentang kekhawatiran mama yang berlebihan, gw selalu jawab dan meyakini dalam hati bahwa “GW GAK MANJA! DAN GW PASTI BISA! JANGAN PEDULIIN APA KATA ORANG DAN KERAGUAN SIAPAPUN TERHADAP KEMAMPUAN GW. GW GAK PEDULI. GW PASTI BISA.”

Penanaman keyakinan itu bener2 melekat di hati gw. Gw tau, banyak orang yang mengalami hal yang sama seperti gw, diragukan, dianggap manja, dianggap tidak bisa, dikhawatirkan, dianggap lemah…

Jika kita tidak lawan semua perasaan itu, jika kita menerima saja tawaran perlindungan dari orangtua, Kapan kita bisa mandiri? Bukankan saat ini kita sudah dewasa? Bukankah saat ini justru kitalah yang seharusnya melindungi mereka?

Terlalu banyak memaklumi kelemahan justru akan membuat kita semakin tidak dewasa. Jujur, kadang gw kesel dengan orang yang mengatasnamakan rasa sakit sebagai jalur untuk memasuki zona nyaman, untuk menjadi manusia yang dimaklumi.

Rasa sakit itu harus dilawan… Sakit itu jangan dimaklumi. (Terdengar kejam, tapi inilah yang namanya belajar) penuh dengan perjuangan. ‘Salut sama salah satu temen gw, dia sakit asma, asmanya kambuh di perjalanan dari tempat penyuluhan. Waktu itu yang bertugas penyuluhan itu hanya gw dan dia, dan kita berjalan cukup jauh dari rumah… Gw salut karena di saat-saat seperti itu dia masih bisa berjalan, nggak ngeluh ini itu, dan yang terpenting gak ngeluh pengen pulang, dan akhirnya, dia hanya dibawa berobat ke puskesmas terdekat. Hasil dari doa, dan perlawanan terhadap penyakit itulah justru menjadi obat yang mujarab.

Kadang, besarnya motivasi kita melawan penyakit lebih manjur dibanding perlawanan bahan-bahan kimia yang diberikan dokter.

Itulah kawan, Berjuanglah sampai tetes darahh penghabisan… *hehe…

Dan, terakhir, tentang kemandirian.

Ini juga yang menjadi salah satu poin penting, yang gw dapatkan dari pelatihan fisik dan mental 3 sks KKP. Kalau dulu gw takut banget pergi sendiri, apalagi ke tempat2 yang belum pernah gw singgahi sebelumnya. Saat KKP, justru gw dipaksa untuk berani mandiri. Tentu semua orang mempunyai urusan masing-masing. Tidak selamanya kita menjalani aktivitas bersama. Ada kalanya kita harus menjadi single fighter, dan di sana, jujur… gw bangga banget sama diri gw sendiri, karena ternyata gw bisa melakukan hal-hal yang mustahil gw lakukan sebelumnya. *_^

U raise me up to more than I can be… (vocal : Josh Groban)

Dan di tempat KKP… gw selalu nggak lepas dari rasa syukur, karena Allah memberikan suatu pelajaran dengan menunjukan gw hal-hal yang membuat gw tersentuh, *yang ini, akan gw ceritakan selanjutnya, karena pengalaman berharga yang satu ini perlu ruang tersendiri untuk dibahas lebih mendalam.

Tentang anak yang bermain di dalam dunianya sendiri…

Seorang gadis keterbelakangan mental yang setiap hari gw dengar suara merdunya, membaca ayat-ayat suci Al-quran dengan fasih… dan saat dia ikut tersenyum dalam kesunyian saat melihat kita bahagia…

Kamis, 19 Mei 2011

Mengenali Diri

Detik-detik liburan singkat minggu ini akan berakhir dalam hitungan jam. Tapi entah kenapa, hari libur minggu ini aneh binti ajaib. Bukan kayak hari libur. Tapi hari pembuktian. Pembuktian bahwa saat ini gw lebih mengenal diri sendiri, terutama kelemahan. Bukannya mau membicarakan aib sendiri dan orang lain, tapi inilah memang fakta yang harus gw yakini keberadaannya. Gw juga gak mau bilang dengan mudahnya bahwa kayaknya gw mengidap schizophrenia. Coz semua orang pasti gak sama dalam menghadapi situasi yang bervariasi. Ada kalanya seseorang yang sangat sanguinis, suka bersosialisasi, tiba-tiba menjadi pendiam ketika dihadapkan dalam kondisi-kondisi tertentu di lingkungan dan di tengah-tengah kelompok tertentu. Dan nyaris semua orang menyangka dirinya mempunyai kepribadian ganda. Padahal, gak selalu begitu.

Gitu juga dengan gw, dari hasil tes kepribadian. Emang agak berubah-ubah sih hasilnya, mungkin membuktikan bahwa gw agak-agak labil, khabi kushi khabi gam lahh pokoknya, kadang suka kadang duka. Tapi intinya, gw sering dapet point gede pada dua kategori, yaitu melankolis dan sanguinis, yang kadarnya emang bisa berubah-ubah, bahkan setara. Dan menurut buku tentang kepribadian, seseorang yang melankolis sanguinis, ataupun sebaliknya, adalah tipe sahabat yang baik. J hhe... jadi ge errr...’ Nah, klo koleris sanguinis atau sebaliknya itu tipe pemimpin yang baik. Dan klo Melankolis phlegmatis, dan sebaliknya, itu orang yang ’jenius’. Tp, semuanya kembali lagi pada orangnya masing-masing, itu kan hanya rata-rata, yang kadang menghiraukan data-data pencilan...

Kenapa gw jadi membahas tentang masalah kepribadian? Karena gw jadi semakin mengerti tentang arti lingkungan, dan pengaruh yang tertanam sejak kecil. Contohnya, Sebut aja, ada dua kelompok besar, kelompok A dan kelompok B. Entah kenapa, di kelompok A gw bisa leluasa ngobrol, bergaul dengan santai, asyik, seruuu, rameee, enak lahhh pokoknya, klo udah kumpul sama kelompok A, gw menjadi orang yang super sanguinis, dan gw sangat senang berada di sana. Tapi, saat gw berkumpul dengan komunitas B, sifat gw bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Gw menjadi AMAT SANGAT PENDIAM, bahkan bisa gak berbicara sama sekali. Dan sebenernya gw gak nyaman dengan suasana itu. Entah kenapa. (hmm... sebenarnya tau c kenapa).

Bukannya ingin menyalahkan seseorang atau suatu kelompok tertentu, tapi, satu pesan dari gw yang seorang melankolis-sanguinis-yang-diduga-schizoprenia-ini, jika anda punya anak. Jangan pernah menyebutkan hal-hal yang jelek-jelek tentang diri anak anda ke saudara atau orang lain *perlu diingat, semua anak pasti punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing, dan JANGAN PAMERKAN KELEMAHAN anak anda. Kasian anak anda, orang-orang yang anda curhatin itu akan beranggapan anak anda buruk selamanya, bahkan ketika anda sudah sadar pun, orang lain akan tetap mengingat ucapan anda yang mengeksposs keburukan anak anda. (jika anda ingin mempunyai anak yang sempurna, janganlah melahirkan!) *coz no body’s perfect!

OK... tadinya, paragraf ini berisi tentang hal-hal yang mungkin ambigu. Daripada ambigu, lebih baik gw menceritakan hal-hal yang indah dalam hidup gw. Salah satu hal yang indah dalam hidup gw adalah, mempunyai saudara dan sahabat seperti kalian. Alhamdulillahirabil’alamin, di sekolah, gw g pernah gak punya temen. Waktu TK, SD, SMP, SMA, bahkan hingga kini, Alhamdulillah, meskipun gw bukan termasuk orang2 atau genk yang ’populer’ di sekolah or kampus, tapi gw punya banyak teman dan sahabat sejati, gw suka bergaul dan bercanda, bersahabat tanpa syarat, dan saling support menyupport. Di SD, bahkan persahabatan qta kentel bgt, apalagi SMP, hhe... qta bersahabat 10 orang sampe buat genk, dan sering main2 bareng, ke rumah si ini lah, nginep di rumah si itu lah... ke mall lah... pokoknya, SMP itu masa paling hedon, yaa masa, besoknya UAN qta malah rame2 ke mall. Dan saat SMA, gw agak insyafan dikit... pergaulan gw lebih ke arah pergaulan islami, dengan orang2 yang taat beragama, dan klo qta kumpul pun lebih sering bermanfaat (intinya g terlalu hedon lah). Dan, pas kuliah... hhe... belum bisa berkomentar, tapi gw sangat senang berada di sini, di suatu fakultas dan departemen yang anak2nya sangat kompak, gw juga menemukan sahabat-sahabat sejati di sini. Namanya Grup Gyaboo... J hihi... *lain kali akan gw ceritakan tentang ini.

Bukan hanya sahabat sekolah atau kampus. Gw juga punya banyaaak saudara-saudara yang baik, ketika berkumpul dengan mereka, gw merasa nyaman dan bisa menjadi diri sendiri. Entahlah karena apa, meskipun jauh, qta sangat kompak, gw seneng banget klo kumpul2 bareng mereka. Meskipun intensitasnya sedikit, tapi mereka selalu membuat gw bisa menjadi diri gw sendiri. Menjadi orang yang sanguinis. Gw tau, apa penyebabnya... Papa secara bijaksana berbicara tentang kebaikan pada saudara dan kerabatnya tentang anak2nya, papa selalu memotivasi anak-anaknya dengan sebuah acungan jempol dan pujian penyemangat, meski gw tau, gw belum bisa membuktikan dan membanggakan beliau. Tapi mungkin menurutnya, kehadiran kami adalah kebanggaan baginya.

Tampak sekali...

Bahwa perkataan orangtua tentang anaknya berpengaruh pada anggapan orang. Gw seneng, saat berkumpul dengan sahabat dan saudara-saudara di mana gw bisa merasakan diri ini hadir seratus persen. Gak kayak hantu yang ada doang, tanpa dipedulikan.

Papa...

Saat berkumpul bersama keluarga besar, saat tertawa bercanda lepas bersama mereka, aku jadi ingin berterima kasih pada papa. Karena telah memperkenalkanku pada perkumpulan orang-orang di mana aku nyaman berada dengan mereka.

Intinya,

I love my friends, I love my families, I Love My Life...

Thanks God… J

Kamis, 10 Februari 2011

Materi Program Pendidikan Karakter "We Are Great!"


Dalam bukunya tentang Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences), Daniel Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan diperlukan 80%, sementara kecerdasan intelektual hanyalah 20% saja. Dalam hal inilah maka pendidikan karakter diperlukan untuk membangun kehidupan yang lebih beradab. Maka terpikirlah oleh para pendidik tentang apa yang dikenal dengan pendidikan karakter (character education).

Sembilan pilar yang saling kait-mengait :
  1. responsibility (tanggung jawab);
  2. respect (rasa hormat);
  3. fairness (keadilan);
  4. courage (keberanian);
  5. honesty (kejujuran);
  6. citizenship (kewarganegaraan);
  7. self-discipline (disiplin diri);
  8. caring (peduli), dan
  9. perseverance (ketekunan).

Nilai-nilai dasar kemanusian yang harus dikembangkan melalui pendidikan bervariasi antara lima sampai sepuluh aspek. Di samping itu, pendidikan karakter memang harus mulai dibangun di rumah (home), dan dikembangkan di lembaga pendidikan sekolah (school), bahkan diterapkan secara nyata di dalam masyarakat (community) dan bahkan termasuk di dalamnya adalah dunia usaha dan dunia industri (bussiness).

Berkenaan dengan pengertian karakter, dalam tulisan di laman Mandikdasmen, Direktur tur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Suyanto, PhD menjelaskan sebagai berikut. Karakter adalah “cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara”.

Lebih lanjut, Prof. Suyanto, PhD juga menyebutkan sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal manusia, yang kelihatan sedikit berbeda dengan sembilan pilar yang telah disebutkan di atas. Sembilan pilar karakter itu adalah:

  1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya;
  2. Kemandirian dan tanggungjawab;
  3. Kejujuran/amanah,
  4. Hormat dan santun;
  5. Dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama;
  6. Percaya diri dan pekerja keras;
  7. Kepemimpinan dan keadilan;
  8. Baik dan rendah hati, dan;
  9. Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Jumlah dan jenis pilar yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain, tergantung kepentingan dan kondisinya masing-masing. Sebagai contoh, pilar toleransi, kedamaian, dan kesatuan menjadi sangat penting untuk lebih ditonjolkan karena kemajemukan bangsa dan negara. Tawuran antarwarga, tawuran antaretnis, dan bahkan tawuran antarmahsiswa, masih menjadi fenomena yang terjadi dalam kehidupan kita. Perbedaan jumlah dan jenis pilar karakter tersebut juga dapat terjadi karena pandangan dan pemahaman yang berbeda terhadap pilar-pilar tersebut. Sebagai contoh, pilar cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya tidak ditonjolkan, karena ada pandangan dan pemahaman bahwa pilar tersebut telah tercermin ke dalam pilar-pilar yang lainnya.

Itulah sebabnya, ada sekolah yang memilih enam pilar yang akan menjadi penekanan dalam pelaksanaan pendidikannya, misalnya digambarkan sebagai berikut:

Dalam bukunya tentang Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences), Daniel Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan diperlukan 80%, sementara kecerdasan intelektual hanyalah 20% saja. Dalam hal inilah maka pendidikan karakter diperlukan untuk membangun kehidupan yang lebih beradab. Maka terpikirlah oleh para pendidik tentang apa yang dikenal dengan pendidikan karakter (character education).

Sembilan pilar yang saling kait-mengait, yaitu:

  1. responsibility (tanggung jawab);
  2. respect (rasa hormat);
  3. fairness (keadilan);
  4. courage (keberanian);
  5. honesty (kejujuran);
  6. citizenship (kewarganegaraan);
  7. self-discipline (disiplin diri);
  8. caring (peduli), dan
  9. perseverance (ketekunan).

Nilai-nilai dasar kemanusian yang harus dikembangkan melalui pendidikan bervariasi antara lima sampai sepuluh aspek. Di samping itu, pendidikan karakter memang harus mulai dibangun di rumah (home), dan dikembangkan di lembaga pendidikan sekolah (school), bahkan diterapkan secara nyata di dalam masyarakat (community) dan bahkan termasuk di dalamnya adalah dunia usaha dan dunia industri (bussiness).

Berkenaan dengan pengertian karakter, dalam tulisan di laman Mandikdasmen, Direktur tur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Suyanto, PhD menjelaskan sebagai berikut. Karakter adalah “cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara”.

Lebih lanjut, Prof. Suyanto, PhD juga menyebutkan sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal manusia, yang kelihatan sedikit berbeda dengan sembilan pilar yang telah disebutkan di atas. Sembilan pilar karakter itu adalah:

  1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya;
  2. Kemandirian dan tanggungjawab;
  3. Kejujuran/amanah,
  4. Hormat dan santun;
  5. Dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama;
  6. Percaya diri dan pekerja keras;
  7. Kepemimpinan dan keadilan;
  8. Baik dan rendah hati, dan;
  9. Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Jumlah dan jenis pilar yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain, tergantung kepentingan dan kondisinya masing-masing. Sebagai contoh, pilar toleransi, kedamaian, dan kesatuan menjadi sangat penting untuk lebih ditonjolkan karena kemajemukan bangsa dan negara. Tawuran antarwarga, tawuran antaretnis, dan bahkan tawuran antarmahsiswa, masih menjadi fenomena yang terjadi dalam kehidupan kita. Perbedaan jumlah dan jenis pilar karakter tersebut juga dapat terjadi karena pandangan dan pemahaman yang berbeda terhadap pilar-pilar tersebut. Sebagai contoh, pilar cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya tidak ditonjolkan, karena ada pandangan dan pemahaman bahwa pilar tersebut telah tercermin ke dalam pilar-pilar yang lainnya.

Itulah sebabnya, ada sekolah yang memilih enam pilar yang akan menjadi penekanan dalam pelaksanaan pendidikannya, misalnya digambarkan seperti gambar di atas.

Dalam gambar tersebut, SD Westwood menekankan pentingnya enam pilar karakter yang akan dikembangkan, yaitu:

  1. Trustworthiness (rasa percaya diri)
  2. Respect (rasa hormat)
  3. Responsibility (rasa tanggung jawab)
  4. Caring (rasa kepedulian)
  5. Citizenship (rasa kebangsaan)
  6. Fairness (rasa keadilan)

Itulah sebabnya, definisi pendidikan karakter pun akan berbeda dengan jumlah dan jenis pilar karakter mana yang akan lebing menjadi penekanan. Sebagai contoh, disebutkan bahwa “character education involves teaching children about basic human values including honesty, kindness, generosity, courage, freedom, equality, and respect” (http://www.ascd.org). Definisi pendidikan karakter inilebih menekankan pentingnya tujuh pilar karakter sebagai berikut:

  1. honesty (ketulusan, kejujuran)
  2. kindness (rasa sayang)
  3. generosity (kedermawanan)
  4. courage (keberanian)
  5. freedom (kebebasan)
  6. equality (persamaan), dan
  7. respect (hormat)

Pengertian karakter ini banyak dikaitkan dengan pengertian budi pekerti, akhlak mulia, moral, dan bahkan dengan kecerdasan ganda (multiple intelligence). Berdasarkan pilar yang disebutkan oleh Prof. Suyanto, PhD, pengertian budi pekerti dan akhlak mulia lebih terkait dengan pilar-pilar sebagai berikut, yaitu cinta Tugan dan segenap ciptaannya, hormat dan santun, dermawan, suka tolong menolong/kerjasama, baik dan rendah hati. Itulah sebabnya, ada yang menyebutkan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti atau akhlak mulia.

Terkait dengan kecerdasan ganda, dikenal bahwa kecerdasan meliputi empat pilar kecerdasan yang saling kait mengait, yaitu: (1) kecerdasan intelektual, (2) kecerdasan spiritual, (3) kecerdasan emosional, dan (4) kecerdasan sosial. Kecerdasan intelektual sering disebut sebagai kecerdasan yang berdiri sendiri yang lebih disebut dalam pengertian cerdas pada umumnya, dengan ukuran baku internasional yang dikenal dengan IQ (intellegence quotion). Sementara kecerdasan yang lainnya belum atau tidak memiliki ukuran matematis sebagaimana kecerdasan intelektual. Kecerdasan di luar kecerdasan intelektual inilah yang lebih dekat dengan pengertian karakter pada umumnya. Dalam hal inilah maka, sebagaimana dijelaskan Prof. Suyanto, PhD, kita memahami pernyataan Dr.Martin Luther King, tokoh spiritual kulit hitam di Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa pendidikan bertujuan untuk melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat, atau intellegence plus character. ”That is the goal of true education”, demikianlah tambahnya. Itulah tujuan pendidikan yang sebenarnya, yakni menciptakan manusia yang cerdas secara komprehensip, keseluruhan aspek kecerdasan ganda tersebut.

Dengan demikian, pengertian karakter sebenarnya merupakan bagian dari kecerdasan ganda yang dijelaskan Howard Gardner dengan teorinya kecerdasan ganda, yang meliputi tujuh macam kecerdasan yang sering disingkat SLIM n BIL, yaitu:

  1. Spatial (keruangan)
  2. Language (bahasa)
  3. Intrapersonal (intrapersonal)
  4. Music (musik)
  5. Naturalist (naturalis – sayang kehidupan alam)
  6. Bodily Kinesthetics (olahraga – gerak badan)
  7. Logical Mathematics (logikal –matematis)

Ketujuh tipe kecerdasan ganda menurut Howard Gardner tersebut terkait dengan potensi universal manusia yang perlu dikembangkan melalui pendidikan. Itulah sebabnya, amatlah tepat amanat Pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan tentang empat tujuan negara ini didirikan. Salah satu tujuan itu adalah ”mencerdaskan kehidupan bangsa”, dalam arti menemukan dan mengembangkan potensi kecerdasan semua anak bangsa. Anak bangsa yang memiliki potensi kecerdasan spatial, didiklah menjadi arsitek yang handal. Anak bangsa yang memiliki potensi kecerdasan language, didiklah menjadi ahli bahasa yang hebat. Demikian seterusnya dengan potensi kecerdasan yang lainnya, sampai dengan potensi kecerdasan logical mathematics, didiklah menjadi intelektual yang handal.

Pengembangan ketujuh potensi kecerdasan tersebut, sudah barang tentu harus dibarengi dengan pembinaan karakternya. Arsitek yang handal sudah barang tentu harus memiliki enam atau sembilan pilar karakter yang telah disebutkan. Demikian seterusnya dengan potensi kecerdasan yang lainnya.

Anak-anak bangsa Indonesia harus dikembangkan semua potensi kecerdasan gandanya. Upaya inilah yang menjadi kebijakan utama pembangunan pendidikan nasional di negeri tercinta ini. Amanat mencerdaskan kehidupan bangsa harus selalu menjiwai setiap daya upaya pembangunan pendidikan. Tidak ada pendidikan, tidak ada pembangunan sosial-ekonomi. Demikian pesan Ho Chi Mien, bapak pendidikan bangsa Vietnam kepada aparat pendidikan di negaranya. Hanya dengan pendidikan, negeri ini akan dapat kita bangun menjadi negara dan bangsa yang memiliki daya saing yang setaraf dengan negara dan bangsa lain di dunia.

Pendidikan Karakter dan Peningkatan Daya Saing Bangsa

Semua pilar karakter tersebut memang harus dikembangkan secara holistik melalui sistem pendidikan nasional di negeri ini. Namun, secara spesifik memang juga ada pilar-pilar yang perlu memperoleh penekanan. Sebagai contoh, pilar karakter kejujuran (honesty) sudah pasti haruslah lebih mendapatkan penekanan, karena negeri ini masih banyak tindak KKN dan korupsi. Demikian juga dengan pilar keadilan (fairness) juga harus lebih memperoleh penekanan, karena kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak pendukung pemilukada yang kalah ternyata tidak mau secara legowo mengakui kekalahannya. Selain itu, fenomena tawuran antarwarga, antarmahasiswa, dan antaretnis, juga sangat memerlukan pilar karakter toleransi (tolerance), rasa hormat (respect), dan persamaan (equality).

Untuk tujuan khusus, misalnya membangkitkan semangat bagi para olahragawan yang akan bertanding di tingkat internasional, maka pilar rasa percaya diri (trustworthiness) dan keberanian (courage) juga harus mendapatkan penekanan tersendiri.

Akhirnya, dengan pendidikan yang dapat meningkatkan semua potensi kecerdasan anak-anak bangsa, dan dilandasi dengan pendidikan karakternya, diharapkan anak-anak bangsa di masa depan akan memiliki daya saing yang tinggi untuk hidup damai dan sejahtera sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia yang semakin maju dan beradab.

Sumber : Suparlan. Jakarta. 2010. http://www.suparlan.com/pages/posts/pendidikan-karakter-dan-kecerdasan-288.php. (2 Januari 2011)