Tampilkan postingan dengan label Teknologi Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi Informasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Maret 2013

DENTAL FREAKS



Sebelumya saya pernah menulis tentang tema yang serupa, yaitu tentang hal-hal yang berkaitan dengan dunia pergigian. Dan, saat ini, (lagi-lagi) saya ingin sharing tentang follow up pasca pencabutan gigi pertama “yang tak kan pernah terlupakan itu” -___-

Entah kenapa, jika disinggung masalah pergigian, agak sedikit konyol bila mengingat-ingat peristiwa demi peristiwa yang berkaitan dengannya. Saya tau, bahwa gigi adalah alat untuk mengunyah makanan, saya juga tau gigi itu keberadaannya adalah fitrah manusia, dan meskipun demikian, ada orang yang tidak memiliki gigi lengkap seumur hidupnya. Gigi juga menjadi pembawa berkah bagi para pelawak-pelawak yang memiliki ‘kelebihan’ ataupun ‘keistimewaan’ pada giginya—yang orang lain tidak punya. Pokoknya, peran gigi itu sudah sangat multifungsi, dari hal-hal yang bersifat biologis, kronologis, sampai yang sifatnya entertaining. Hingga ada film yang judulnya Tooth Fairy, peri gigi. 

Gigi memang benar-benar anugerah Yang Maha Kuasa. 

Namun, dokter menyarankan gigi saya dicabut empat biji. Coba bayangkan, empat gigi itu bukan satu atau dua, bahkan lebih dari tiga. Betapa syiioknya saya saat itu, seperti disuruh membunuh anak sendiri rasanya. Karena semula, dokter memberitahu bahwa hanya dua gigi graham sebelah taringlah wajib dicabut untuk meratakan para gigi depan yang pada egois rebutan tempat. 

Saya rasa kalau gigi saya punya tangan, mereka akan saling cekik mencekik satu sama lain.

Tapi pada akhirnya, saya harus terima itu dengan lapang dada, legowo. Toh, pada akhirnya, kita semua akan berpisah juga. 

Saya ingat salah satu perkataan dokter saat pertama kali melihat tampang ketakutan saya. 
“Tenang aja, awal-awal takut-takut, nanti lama-lama ketagihan loh, hehehehe…” *ketawa.agak.jahat* 

Sungguh rasanya saat itu saya ingin ikut tertawa juga sebenarnya. Tapi rasanya terlalu sedih untuk mengeluarkan bunyi tawa. Saya takut bunyi tawa yang keluar dari mulut saya jadi tidak normal dan dokternya malah kabur. 

Meski sebenarnya itu yang saya harapkan. 

Setelah sesi pencabutan pertama, tiga minggu pemulihan, *lama banget* Sebenarnya saya memang lebay, hanya sugesti membayangkan masih menganganya lubang darah di bekas tempat gigi saya. Hingga membutuhkan waktu tiga minggu untuk sadar kembali bahwa masih banyak tugas saya di dunia sebagai hamba Tuhan. Bahwa hidup bukanlah melulu masalah gigi, gigi, dan gigi. Hingga saat itu saya berani cabut gigi untuk yang ke-2 kalinya, meski sisa-sisa trauma masa lampau masih menggerogoti jiwa. #tang-tang itu, paku palu itu, alat pengorek-ngorek gigi itu… ahhh… saya ingin kawin lari saja rasanya saat itu. 

Namun lagi-lagi, saya menyemangati diri sendiri, ini masalah kecil untuk dijadikan hal yang besar. Masih banyak masalah lain yang butuh energi untuk ditakuti. *ditegur Allah subhanahu wa ta'ala karena melakukan dosa, dimarahi atasan, diteriakin emak jika bangun kesiangan, dan hal-hal menyeramkan lainnya. 

Seperti biasa, saya duduk di “kursi dingin”. Saat itu AC ruangan dokter giginya dingin ajaib.. Dinginnya AC membuat saya merasa berada di dalam kulkas penyimpanan batu bara, ditambah lagi deg-degan panas dingin membayangkan sejarah trauma masa lalu berulang. Berusaha rilex. Sang dokter seperti biasa, mencoba menenangkan. Dan saya menempati kursi dingin itu. Sang dokter mendekat, sambil ngecek2 smartphone’nya… saya jadi berpikir hal yang tidak-tidak, jangan-jangan beliau meng-update status dulu sebelum nyabut gigi saya. -___-

Kali ini, masih gigi graham atas sebelah kiri yang dicabut. Suntik anestesi lokal, seperti biasa, sakit. Tapi saya menahan diri untuk tidak menjerit-jerit norak seperti saat pertama kali hal itu terjadi. Ternyata, jeritan bisa ditahan dengan menggenggam batu. Saya kira, hanya saat kebelet buang air besar saja yang bisa ditahan dengan menggenggam batu. Ternyata, sakitnya disuntik pun bisa ditahan dengan menggenggam batu sekuat tenaga. 

Kali ini, letak gigi saya miring, jadi lebih sulit dari yang pertama. Beliau terus mengajak ngobrol saya, di saat posisi mulut saya sedang calangap seperti itu, susah rasanya menjawab pertanyaan-pertanyaan beliau. Untungnya beliau bukan menginterview saya tentang pengalaman bekerja dan motivasi saya masuk perusahaan. 

Beliau hanya bertanya, “Sakit ga?”, “terlalu kenceng ya?”, “Giginya bagus gak ada lubang, suka sikat gigi ya?” (dalem hati saya menjawab dengan penuh rasa haru, “enggak pernah, Dok, gigi saya gak pernah disikat, Cuma suka diampelas).  

Akhirnya, beliau berhasil setelah sekitar 30 menit mengguncang-guncang gigi saya. Tercabut sempurna. Alhamdulillah. Namun, Setelah itu saya mengalami tremor sesaat. Dokternya agak sedikit panik. Mungkin membayangkan takut dituduh mala praktek dan dilempar koin. 

Ternyata memang letak giginya kurang strategis, sehingga diperlukan tenaga otot tanpa perasaan untuk mencabut gigi mulia tersebut. Sayang sekali, dua gigi awal tidak saya simpan sebagai kenang-kenangan, mereka hilang begitu saja setelah terlepas dari tempatnya…. Sudah selama ini bersama… Namun, mereka pergi entah ke mana. Saya yakin, mereka berdua bahagia di alamnya. Di manapun mereka berada, Tidak akan hancur, karena gigi adalah tulang terkuat yang ada pada tubuh manusia. #Baik-baik di sana ya, Nak... 

Beres sesi pencabutan gigi ke-2. ENOUGH!!! Saya merasa trauma saya memuncak, dan sudah cukup dua kali saja itu terjadi dalam hidup saya yang hanya sekali ini. Persaiton dengan planning dokter yang menyarankan saya mencabut serta dua gigi lagi di bagian bawah. 

Hingga pada akhirnya tibalah jadwal pemasangan behel rahang atas. Dan ternyata, rasanya dipakein bracket itu luar biasa pegal bibir. Calangap selama setengah jam. Belum lagi bibir ditarik-tarik ke kanan dan ke kiri, ke atas, ke depan, Arrrghhh…. Dowerr rasanya. 

Ada orang yang pernah bilang, “don’t worry girl, someday you will find someone who ruin ur lipstick, not ur mascara.” 

Finally, I found Someone who ruin my Lipstick. Huhhh… AND IT’S A DENTIS!!

#Hoho, enggak deng… untung saya tidak memakai lipstick saat itu. Saya tidak suka memakai lipstick, lebih enak makan gorengan, sama saja, terkesan memakai lipstick, namun lebih natural. 

Hmm… belum lagi ada cairan kecut-kecut asem yang ditempelin ke gigi, katanya sih itu buat melekatkan bracketnya. Trus ada sinar-sinar berwarna biru yang menyoroti gigi saya. Kayaknya semua jurus kamekameha sang dokter dikerahkan untuk menyerang gigi saya. 

Setelah itu, pemasangan karet… Beliau memperlihatkan beraneka jenis warna. Dan dengan pertimbangan saya tidak ingin terlalu terlihat menggunakan behel, dan agar warnanya tidak terlalu strong, sehingga tidak terlalu terlihat seperti tompel. Saya memilih warna yang paling pucat. Dan itu warna pink. *tenaaang, bukan pink norce… ini soft pinky. 

Dan, taraaaa…. Jadilahh… terpampang nyata sempurnaa behel ini di gigi-gigi saya…. :D

Lalu setelah itu dokter memberikan pesan-pesan. Inilah pesan-pesan dokter setelah berhasil menanamkan ‘susuk’ tersebut :: 
“Setelah ini, gak boleh makan dulu ya 2 jam, makan yang halus-halus aja, gak boleh makan yang keras-keras, kayak keripik, gorengan, bla bla blaa….” Saya tidak fokus lagi beliau berkata apa… saya tidak bisa lagi memakan gorengan…??? Itu malapetakaa… Lipstik alamikuuu…. T___T

Saya sebenarnya tidak bersedih karena itu, tapi sungguh makanan yang keras-keras itu adalah makanan favorit saya, saya kurang suka makanan-makanan yang lembek. Kurang menantang. XDD

Setelah keluar dari ruangan dokter. Ibu saya mencolek-colek saya. “eh, anterin mama ke ondangan yaa…” 

Oh tidak mama… mama yukerooo… jangan lakukan itu.” (dalem hati saya berontak). Tapi di luar saya tersenyum manis tersipu-sipu “Oke, Ma…” hikss… T___T

Bagaimana tidak, di resepsi pernikahan itu tokoh utamanya adalah makanan. #parah.banget.ini.niatnya.
Maksudnya… pasti banyak makanan yang menggiurkan menggoda iman. Yahh… tapi mau bagaimana lagi. Hidup harus terus berlanjut, sekalipun gigimu baru saja direka ulang.

Dan, sesampainya di resepsi pernikahan… 30 menit dari pemasangan behel… belum dua jam dari waktu yang ditentukan ‘tidak boleh makan’. Saya makan dengan lahapnya, apa saja yang ada di sana, sampai ke rendang-rendang, syomay, ayam, udang, cendol…. 

Dan hasilnya… Linuuuuu Luar biasa nyampe rumah. Saya mulai searching2 di gugel. Berharap menemukan manusia dengan nasib yang serupa dengan saya. Satu hari setelah pemakaian bracket itu saya hanya bisa mengunyah sebelah. Yang sebelah lagi linu gak ketulungan. Belum lagi adaptasi yang luar biasa menyiksa. Rongga mulut kegores2 akibat gesekan-gesekan si bracket manis itu. Pegel rahang pula. Sepertinya, jika gigi-gigi saya bisa berbicara, mereka akan berkata, “Lepaskan aku…. Lepaskan aku~~” Sambil menggoyang2kan diri. 

Dan hasil searching di gugel serta konsultasi berjam-jam dengan kakak dan teman saya yang sedang co ass gigi. Ternyata kelinuan yang terjadi ialah hal yang lumrah adanya. Memang seperti itu, sabar saja, masih adaptasi. Dan benar ternyata… Beberapa hari kemudian saya sudah kembali bersinar dan berpijak seperti dulu kalaa… ^^

Bahkan belum sampai seminggu, saya memutuskan untuk cabut gigi lagi. Yang bawah. #Cabut gigi itu candu juga ternyata. -___- gak mau gak mau lagi, tapi akhirnya mah mau lagi. Bener kata si Pak Dokter, awalnya takut-takut, lama-lama ketagihan. *___*

Seperti biasa, ritual-ritual ‘kursi dingin terjadi lagi’, seperti de Javu. Dan saat dokter mengguncang2 gigi saya. Saya kira akan lama seperti pengalaman yang sudah-sudah, bahkan saya berniat untuk tidur selagi dokter mencabut nyawa gigi saya. Tapi ternyata, tak sampai 1 menit, gigi itu terlepas sempurna hingga ke akar-akarnya. Cepat sekali, tak terasa…

Kali ini, saya meminta gigi saya kembali. Saat gigi itu diberikan pada saya, saya terkejut… ternyata gigi saya akarnya panjang sekali, dan bersih… :D wahh… Gigi yang sehat, putih, dan cerdas. 

Saya menatapnya dengan penuh rasa haru, saya berjanji akan merawat dan menyapihnya dengan sepenuh hati segenap jiwa raga. 
*Lohhh??! #abaikan.

Dan anehnya, setelah sampai rumah, yang biasanya setelah baal habis, linu menyerang. Ini sama sekali gak linu. Dua gigi sebelumnya membutuhkan 2 minggu pemulihan baru bisa mengunyah dua sisi. Tapi saat ini, saya sudah bisa mengunyah dua sisi dengan kondisi memakai behel, benar-benar cepatt pemulihannya, bahkan antibiotik dan obat penahan rasa sakit yang harus diminum pun tidak saya minum. Ini aneh saya rasa, 2 gigi sebelumnya pasca dicabut itu sampe stress karena sakitnya luar biasa, tapi kali ini benar-benar tidak sakit sama sekali. 

Aneh, tapi apa memang bisa seperti itu?! 

Naluri mistik saya pun mencuat ke permukaan, ditambah persetujuan ibu saya, mungkin karena saya kini membawa serta gigi saya. Kalau yang waktu itu kan gak dibawa, dibuang langsung di tempat dokternya. Jadi giginya pundung… #sakit hati. -___-  Jika dia adalah sutradara, mungkin dia akan membuat sinetron yang berjudul “Gigi yang Terbuang”. 

Mitosnya sih seperti itu, setelah dicabut, supaya nggak sakit, giginya harus dibawa. Jangan dibuang. Trus ada lagi mitos jika gigi atas yang dicabut, harus dibuang ke bawah, kalau yang bawah harus dibuang ke genteng. *makin aneh*

Tapi, saya segera menyingkirkan pikiran2 mistis itu, lalu bertaubat dan berbaik sangka pada alam. Mungkin karena ini gigi rahang bawah, jadi tidak terlalu sakit jika dicabut, lagipula proses pencabutannya pun mudah, tak perlu digoyang-goyang dan ditusuk-tusuk terlalu lama seperti sebelum-sebelumnya. 

Sejauh ini, proses terapi ortho berjalan lancar… Alhamdulillah….

Yahh… begitulah kiranya kisah follow up yang berawal dari Dental Fear dan kini menjadi Dental Freaks.

Mungkin serupa dengan Proses hidup yang kita jalani. Semua proses hidup itu bertahap, mungkin di awal, kita tidak menyukai suatu hal sama sekali. Kita ingin segera kabur dari sebuah situasi yang tak membuat kita nyaman. Tapi coba hadapi dulu pelan-pelan, dengan tenang, sabar, dan ikhlas. 

Insya Allah, semua akan berjalan lebih baik, lebih terarah, lebih terbiasa, karena kita telah terlatih untuk menangani rasa takut kita. Hingga suatu saat, kita bisa mulai mencintai apa yang sedang kita jalani dan bersiap untuk menghadapi apa yang akan kita jalani di kemudian hari. 



Jumat, 17 Februari 2012

ANTOGILAAAA!!!

Di buku ini ada story konyol-ku jugaa... :D

About this book :

“Kalau aku, aku sih terserah Yanti. Dia mau bilang antologi ini gila atau aku yang gila, aku gak masalah. Yang penting Aurel nilai rapornya bagus.” (Amang Premansyah, Penyanyi yang Doyan Getuk)

“Buat temen-temen STM gue, temen-temen ngaji gue, temen-temen yang belum jadi temen gue, MAKAN NIH!” (Marsjanda, Mantan Artis Cilik dan Mantan Istri Duda)

“Untuk anak-anak Indonesia, saya sarankan untuk membaca kisah dalam antogila ini. Cerita yang dikisahkan oleh para kontibutor sangat menghibur, mencerminkan kecacatan psikologis penulisnya.” (Kak Seko Mulyedi, Pemerhati Mamanya Anak)

“Alhamdulillah banget. Sesuatu yah. Aku memilih buku ini untuk dijadikan ganjelan jambulku.” (Syahrimin, Penyanyi Berbulu Mata Anti Badai Kerispatih)

“Menurut analisa saya, buku ini tidak asli. Bila dilihat dari metadatanya, kita akan tahu bahwa buku ini sebenarnya hanya tipuan optik yang terjadi karena suatu objek terkena pancaran sinar yang ditimbulkan oleh matahari sehingga terlihat seolah-olah buku ini asli. Padahal hanya koran bekas bungkus nasi uduk Kang Bani. Tuh lihat masih ada bekas sambelnya!” (Ryo Sukro, Pakar Towelemaktika yang Belum Pernah Tamat Game Zuma)

AUDIT SDM

Audit SDM adalah proses meninjau (review) secara komprehensif suatu sistem dan/atau proses suatu organisasi apakah sudah memenuhi kebutuhan atau proyeksi masa depan kebutuhan fungsi SDM organisasi, baik apakah itu untuk memenuhi standar lokal (pemda, pemprov), standar internal (SOP, Company Policy) atau regulasi (International Standard atau Standar pemerintah).

Adapun definisi lain dari audit SDM ialah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan (Arens, 1997).

Sedang, audit SDM adalah pemeriksaan kualitas kegiatan Sumber Daya Manusia secara menyeluruh dalam suatu departemen, divisi atau perusahaan, dalam arti mengevaluasi kegiatan-kegiatan SDM dalam suatu perusahaan dengan menitikberatkan pada peningkatan atau perbaikan (Rivai, 2004, p. 548).
Menurut Gomez-Mejia (200 1 :28), audit sumber daya manusia merupakan tinjauan berkala yang dilakukan oleh departemen sumber daya manusia untuk mengukur efektifitas penggunaan sumber daya manusia yang terdapat di dalam suatu perusahaan.

Manfaat utama dalam audit SDM diantaranya bisa mengetahui proses mana yang belum memenuhi persyaratan hukum berlaku sehingga meminimalisir proses internal organisasi yang berpotensi melanggar hukum, dan yang terpenting adalah membantu organisasi secara sistematis untuk mengidentifikasi kondisi saat ini serta langkah aksi apa yang perlu dijalankan untuk meningkatkan kinerja proses fungsi SDM.

Kegagalan dalam mengidentifkasi penyebab potensial yang bisa membahayakan atau berpotensi melanggar hukum dapat menimbulkan efek yang merugikan perusahaan atau organisasi. Karena itu, audit SDM merupakan salah satu cara untuk mengenal sejauh mana proses internal, sistem prosedur organisasi sudah memenuhi aspek keamanan baik secara hukum maupun juga membantu mengidentifikasi bagian SDM yang belum berjalan secara efektif dan efisien. Peninjauan secara berkala terhadap sistem dan prosedur organisasi yang berhubungan dengan SDM, tidak hanya membantu agar sistem dan prosedur tetap memenuhi persyaratan, namun juga membantu aspek finansial perusahaan agar tetap stabil dan mantap.

Obyek SDM yang diaudit

Aspek SDM yang dapat diaudit cukup luas, karena SDM itu sendiri mencakup fungsi perencanaan, fungsi pengembangan, fungsi pemeliharaan, fungsi informasi, fungsi penghargaan dan penghukuman, serta fungsi peningkatan kinerja. Dengan demikian jika dirinci, obyek yang dapat diaudit adalah sebagai berikut :

  • Fungsi Perencanaan : Manpower Planning, Manpower Recruitment, Manpower Fulfillment, Sourcing Candidate.
  • Fungsi Pengembangan : Training, Development, Coaching, Mentoring.
  • Fungsi Informasi & Teknologi : Personnel Data base, Sistem Informasi Manajemen SDM (HRIS).
  • Fungsi Pemerliharaan : Industrial Relation, Corporate Social Responsibility.
  • Fungsi Penghargaan dan Penghukuman : Compensation & Benefit, Reward, Termination, Punishment.
  • Fungsi Peningkatan kinerja : Performance Management System, Pay for Performance. Audit memberikan suatu perspektif yang komprehensif terhadap praktik yang berlaku sekarang, sumber daya, dan kebijakan manajemen mengenai pengelolaan SDM serta menemukan peluang dan strategi untuk mengarahkan ulang peluang dan strategi tersebut. Intinya, melalui audit dapat menemukan permasalahan dan memastikan kepatuhan terhadap berbagai peraturan perundangan-undangan dan rencana-rencana strategis perusahaan. Audit SDM merupakan suatu metode evaluasi untuk menjamin bahwa potensi SDM dikembangkan secara optimal (Rosari, 12 Mei 2008).

Manfaat Audit SDM

Audit SDM mengevaluasi aktifitas SDM yang digunakan dalam suatu perusahaan dan merupakan pengendalian kualitas keseluruhan yang mengevaluasi aktifitas SDM dalam suatu perusahaan.

Ruang Lingkup Audit SDM

Dalam pelaksanaan audit SDM untuk mendukung jalannya kegiatan-kegiatan SDM perlu dilakukan pembatasan terhadap aspek yang akan di audit. Secara garis besar, prospek audit SDM dilakukan terhadap fungsi SDM yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan SDM yang dimulai dari perencanaan SDM, perekrutan, penyeleksian, pelatihan, dan evaluasi kinerja SDM (Handoko, 1997).

Sumber :

HR Audit. 2008. http://ilmusdm.wordpress.com/2008/03/06/mengenal-audit-sdm-hr-audit/. (28 Desember 2011)


Minggu, 13 Februari 2011

Selamat Menempuh Semester Baru

Gak kerasa nih, liburan semester yang panjang sudah berakhir. Kini waktunya kembali menjalani aktivitas-aktivitas di kampus yang menyenangkan. Tentunya kita semua sudah siap dengan serangkaian kegiatan yang akan kita lakukan di semester baru, yang pastinya lebih penuh tantangan dan banyak pelajaran baru yang akan kita dapat di semester ini.

Jika kita flash back mengenang semester lalu, setiap memasuki awal semester, teman-teman semua pasti mempunyai target-target yang ingin dicapai. Dan tentang pencapaian target di semester lalu, baik yang tercapai ataupun yang belum. Yang terpenting adalah kita sudah berusaha melaluinya dengan doa dan usaha yang maksimal. Tenang aja, Allah lihat prosesnya kok. So, apapun hasilnya, mari kita sama-sama syukuri dan berusaha lebih baik lagi di semester berikutnya…

Jika kita merasa belum puas dengan hasil di semester lalu, jangan bersedih yaa temaan...
La tahzan... :)

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang beriman.” (QS. Ali‘Imran : 13)

Tetap percaya, bahwa apa yang telah kita lalui ialah hasil dari perjalanan pejuangan kita yang tentunya diridhoi Allah, jika belum memuaskan, ayoo, kita bangkit, sama-sama belajar dan berusaha lebih baik lagi. Yakin, bahwa Allah pasti menuntun langkah kita dalam melakukan sesuatu yang baik di jalan-Nya.

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS. Al-Insyiraah : 6-8).

Berikut ini, tips-tips untuk menyambut semester baru :
1. Segala sesuatu harus dimulakan dengan membaca Basmalah, sehingga dapat diawali dengan baik, juga diakhiri dengan baik pula nantinya. Amiiin.
2. Niatkan segala sesuatunya hanya untuk Allah. Menuntut ilmu demi mencari Ridho Allah.
3. Meminta doa restu orangtua bukan diharuskan hanya saat menikah saja. Setiap langkah baru yang akan kita jalani, alangkah lebih baiknya jika kita memohon doa dari orangtua, untuk kelancaran serangkaian kegiatan belajar dan aktivitas kita di kampus. Karena doa orangtua ialah salah satu kunci sukses bagi anak.
4. Jika kita merasa sulit menerima pelajaran, minta ajarkan pada teman kita yang pandai. Belajar bersama, sharing tentang cara belajar yang efektif, dan cobalah contoh cara belajar mereka. Meski setiap orang memiliki cara belajar masing-masing, namun, setidaknya sharing mengenai cara belajar memberikan masukan untuk kita bagaimana cara belajar yang ideal. Karena siapa tau ada yang salah dengan cara belajar kita sebelumnya.
5. Jika bukan karena sakit dan izin keperluan yang sangat mendesak, jangan menggunakan jatah absen karena alasan malas. Usahakan jangan sering terlambat masuk kelas. Alangkah lebih baik jika kita mencari bangku di jajaran depan agar lebih mudah menangkap apa yang dosen sampaikan dan agar konsentrasimu tak pecah karena kegaduhan dan ajakan menggiurkan dari teman untuk menggosip. Dengan demikian suasana belajar akan lebih kondusif.
6. Simak dan pahami setiap dosen menjelaskan, catat hal-hal yang dirasa penting untuk dicatat. Jangan malas mencatat. Terutama jika penjelasannya tidak ada di slide. Karena bisa saja apa yang beliau utarakan (meski tidak ada di slide) ialah soal yang akan keluar saat ujian nanti. Jika tidak pun, ilmu kita bertambah dan tidak mudah lupa.
7. Jika diberi tugas, baik berupa makalah, laporan praktikum, ataupun yang lainnya, usahakan jangan hanya copy-paste. Karena tujuan adanya tugas-tugas itu agar kita mengerti aplikasi materi yang diberikan dosen. So, kerjakanlah dengan penuh keikhlasan dan kejujuran. Insya Allah, waktu kita untuk mengerjakan tugas-tugas itu tak akan sia-sia.
8. Terapkan manajemen waktu yang baik. Buat prioritas-prioritas kegiatan yang harus diutamakan. Agar dapat membagi waktu dengan baik antara kegiatan kuliah dan kegiatan organisasi, karena waktu yang kita miliki adalah amanah.
9. Jangan lupa juga untuk tetap jaga kondisi tubuh. Jangan sampai kita gagal mencapai target gara-gara sakit. So, jaga kesehatan dengan rajin berolahraga, makan makanan yang sehat, seimbang, dan bergizi, serta tidur yang cukup untuk menjaga stamina.
10. Dan yang paling penting adalah, mendekatkan diri pada Allah. Karena jika kita sudah berusaha, namun Allah berkehendak lain, kita harus tetap menerima kehendakNya. Meyakini bahwa semua itu adalah keputusan terbaik dari Allah, dan tak ada hal yang tanpa hikmah, Ia pasti memberikan yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Maka dari itu, rajin-rajinlah berdoa agar Allah memberikan kelancaran dan kemudahan kita dalam menyerap ilmu.

Nah, jika kita sudah berdoa dan ikhtiar secara maksimal, tugas kita adalah menyerahkan sepenuhnya semua urusan kepada Allah SWT, dengan bersabar dan tawakal. :)

So, Selamat menempuh semester baru yaa...

Ganbatte...!!!

Sumber Gambar : sonicband.com

Kamis, 10 Februari 2011

Materi Program Pendidikan Karakter "We Are Great!"


Dalam bukunya tentang Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences), Daniel Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan diperlukan 80%, sementara kecerdasan intelektual hanyalah 20% saja. Dalam hal inilah maka pendidikan karakter diperlukan untuk membangun kehidupan yang lebih beradab. Maka terpikirlah oleh para pendidik tentang apa yang dikenal dengan pendidikan karakter (character education).

Sembilan pilar yang saling kait-mengait :
  1. responsibility (tanggung jawab);
  2. respect (rasa hormat);
  3. fairness (keadilan);
  4. courage (keberanian);
  5. honesty (kejujuran);
  6. citizenship (kewarganegaraan);
  7. self-discipline (disiplin diri);
  8. caring (peduli), dan
  9. perseverance (ketekunan).

Nilai-nilai dasar kemanusian yang harus dikembangkan melalui pendidikan bervariasi antara lima sampai sepuluh aspek. Di samping itu, pendidikan karakter memang harus mulai dibangun di rumah (home), dan dikembangkan di lembaga pendidikan sekolah (school), bahkan diterapkan secara nyata di dalam masyarakat (community) dan bahkan termasuk di dalamnya adalah dunia usaha dan dunia industri (bussiness).

Berkenaan dengan pengertian karakter, dalam tulisan di laman Mandikdasmen, Direktur tur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Suyanto, PhD menjelaskan sebagai berikut. Karakter adalah “cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara”.

Lebih lanjut, Prof. Suyanto, PhD juga menyebutkan sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal manusia, yang kelihatan sedikit berbeda dengan sembilan pilar yang telah disebutkan di atas. Sembilan pilar karakter itu adalah:

  1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya;
  2. Kemandirian dan tanggungjawab;
  3. Kejujuran/amanah,
  4. Hormat dan santun;
  5. Dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama;
  6. Percaya diri dan pekerja keras;
  7. Kepemimpinan dan keadilan;
  8. Baik dan rendah hati, dan;
  9. Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Jumlah dan jenis pilar yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain, tergantung kepentingan dan kondisinya masing-masing. Sebagai contoh, pilar toleransi, kedamaian, dan kesatuan menjadi sangat penting untuk lebih ditonjolkan karena kemajemukan bangsa dan negara. Tawuran antarwarga, tawuran antaretnis, dan bahkan tawuran antarmahsiswa, masih menjadi fenomena yang terjadi dalam kehidupan kita. Perbedaan jumlah dan jenis pilar karakter tersebut juga dapat terjadi karena pandangan dan pemahaman yang berbeda terhadap pilar-pilar tersebut. Sebagai contoh, pilar cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya tidak ditonjolkan, karena ada pandangan dan pemahaman bahwa pilar tersebut telah tercermin ke dalam pilar-pilar yang lainnya.

Itulah sebabnya, ada sekolah yang memilih enam pilar yang akan menjadi penekanan dalam pelaksanaan pendidikannya, misalnya digambarkan sebagai berikut:

Dalam bukunya tentang Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences), Daniel Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan diperlukan 80%, sementara kecerdasan intelektual hanyalah 20% saja. Dalam hal inilah maka pendidikan karakter diperlukan untuk membangun kehidupan yang lebih beradab. Maka terpikirlah oleh para pendidik tentang apa yang dikenal dengan pendidikan karakter (character education).

Sembilan pilar yang saling kait-mengait, yaitu:

  1. responsibility (tanggung jawab);
  2. respect (rasa hormat);
  3. fairness (keadilan);
  4. courage (keberanian);
  5. honesty (kejujuran);
  6. citizenship (kewarganegaraan);
  7. self-discipline (disiplin diri);
  8. caring (peduli), dan
  9. perseverance (ketekunan).

Nilai-nilai dasar kemanusian yang harus dikembangkan melalui pendidikan bervariasi antara lima sampai sepuluh aspek. Di samping itu, pendidikan karakter memang harus mulai dibangun di rumah (home), dan dikembangkan di lembaga pendidikan sekolah (school), bahkan diterapkan secara nyata di dalam masyarakat (community) dan bahkan termasuk di dalamnya adalah dunia usaha dan dunia industri (bussiness).

Berkenaan dengan pengertian karakter, dalam tulisan di laman Mandikdasmen, Direktur tur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Suyanto, PhD menjelaskan sebagai berikut. Karakter adalah “cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara”.

Lebih lanjut, Prof. Suyanto, PhD juga menyebutkan sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal manusia, yang kelihatan sedikit berbeda dengan sembilan pilar yang telah disebutkan di atas. Sembilan pilar karakter itu adalah:

  1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya;
  2. Kemandirian dan tanggungjawab;
  3. Kejujuran/amanah,
  4. Hormat dan santun;
  5. Dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama;
  6. Percaya diri dan pekerja keras;
  7. Kepemimpinan dan keadilan;
  8. Baik dan rendah hati, dan;
  9. Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Jumlah dan jenis pilar yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain, tergantung kepentingan dan kondisinya masing-masing. Sebagai contoh, pilar toleransi, kedamaian, dan kesatuan menjadi sangat penting untuk lebih ditonjolkan karena kemajemukan bangsa dan negara. Tawuran antarwarga, tawuran antaretnis, dan bahkan tawuran antarmahsiswa, masih menjadi fenomena yang terjadi dalam kehidupan kita. Perbedaan jumlah dan jenis pilar karakter tersebut juga dapat terjadi karena pandangan dan pemahaman yang berbeda terhadap pilar-pilar tersebut. Sebagai contoh, pilar cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya tidak ditonjolkan, karena ada pandangan dan pemahaman bahwa pilar tersebut telah tercermin ke dalam pilar-pilar yang lainnya.

Itulah sebabnya, ada sekolah yang memilih enam pilar yang akan menjadi penekanan dalam pelaksanaan pendidikannya, misalnya digambarkan seperti gambar di atas.

Dalam gambar tersebut, SD Westwood menekankan pentingnya enam pilar karakter yang akan dikembangkan, yaitu:

  1. Trustworthiness (rasa percaya diri)
  2. Respect (rasa hormat)
  3. Responsibility (rasa tanggung jawab)
  4. Caring (rasa kepedulian)
  5. Citizenship (rasa kebangsaan)
  6. Fairness (rasa keadilan)

Itulah sebabnya, definisi pendidikan karakter pun akan berbeda dengan jumlah dan jenis pilar karakter mana yang akan lebing menjadi penekanan. Sebagai contoh, disebutkan bahwa “character education involves teaching children about basic human values including honesty, kindness, generosity, courage, freedom, equality, and respect” (http://www.ascd.org). Definisi pendidikan karakter inilebih menekankan pentingnya tujuh pilar karakter sebagai berikut:

  1. honesty (ketulusan, kejujuran)
  2. kindness (rasa sayang)
  3. generosity (kedermawanan)
  4. courage (keberanian)
  5. freedom (kebebasan)
  6. equality (persamaan), dan
  7. respect (hormat)

Pengertian karakter ini banyak dikaitkan dengan pengertian budi pekerti, akhlak mulia, moral, dan bahkan dengan kecerdasan ganda (multiple intelligence). Berdasarkan pilar yang disebutkan oleh Prof. Suyanto, PhD, pengertian budi pekerti dan akhlak mulia lebih terkait dengan pilar-pilar sebagai berikut, yaitu cinta Tugan dan segenap ciptaannya, hormat dan santun, dermawan, suka tolong menolong/kerjasama, baik dan rendah hati. Itulah sebabnya, ada yang menyebutkan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti atau akhlak mulia.

Terkait dengan kecerdasan ganda, dikenal bahwa kecerdasan meliputi empat pilar kecerdasan yang saling kait mengait, yaitu: (1) kecerdasan intelektual, (2) kecerdasan spiritual, (3) kecerdasan emosional, dan (4) kecerdasan sosial. Kecerdasan intelektual sering disebut sebagai kecerdasan yang berdiri sendiri yang lebih disebut dalam pengertian cerdas pada umumnya, dengan ukuran baku internasional yang dikenal dengan IQ (intellegence quotion). Sementara kecerdasan yang lainnya belum atau tidak memiliki ukuran matematis sebagaimana kecerdasan intelektual. Kecerdasan di luar kecerdasan intelektual inilah yang lebih dekat dengan pengertian karakter pada umumnya. Dalam hal inilah maka, sebagaimana dijelaskan Prof. Suyanto, PhD, kita memahami pernyataan Dr.Martin Luther King, tokoh spiritual kulit hitam di Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa pendidikan bertujuan untuk melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat, atau intellegence plus character. ”That is the goal of true education”, demikianlah tambahnya. Itulah tujuan pendidikan yang sebenarnya, yakni menciptakan manusia yang cerdas secara komprehensip, keseluruhan aspek kecerdasan ganda tersebut.

Dengan demikian, pengertian karakter sebenarnya merupakan bagian dari kecerdasan ganda yang dijelaskan Howard Gardner dengan teorinya kecerdasan ganda, yang meliputi tujuh macam kecerdasan yang sering disingkat SLIM n BIL, yaitu:

  1. Spatial (keruangan)
  2. Language (bahasa)
  3. Intrapersonal (intrapersonal)
  4. Music (musik)
  5. Naturalist (naturalis – sayang kehidupan alam)
  6. Bodily Kinesthetics (olahraga – gerak badan)
  7. Logical Mathematics (logikal –matematis)

Ketujuh tipe kecerdasan ganda menurut Howard Gardner tersebut terkait dengan potensi universal manusia yang perlu dikembangkan melalui pendidikan. Itulah sebabnya, amatlah tepat amanat Pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan tentang empat tujuan negara ini didirikan. Salah satu tujuan itu adalah ”mencerdaskan kehidupan bangsa”, dalam arti menemukan dan mengembangkan potensi kecerdasan semua anak bangsa. Anak bangsa yang memiliki potensi kecerdasan spatial, didiklah menjadi arsitek yang handal. Anak bangsa yang memiliki potensi kecerdasan language, didiklah menjadi ahli bahasa yang hebat. Demikian seterusnya dengan potensi kecerdasan yang lainnya, sampai dengan potensi kecerdasan logical mathematics, didiklah menjadi intelektual yang handal.

Pengembangan ketujuh potensi kecerdasan tersebut, sudah barang tentu harus dibarengi dengan pembinaan karakternya. Arsitek yang handal sudah barang tentu harus memiliki enam atau sembilan pilar karakter yang telah disebutkan. Demikian seterusnya dengan potensi kecerdasan yang lainnya.

Anak-anak bangsa Indonesia harus dikembangkan semua potensi kecerdasan gandanya. Upaya inilah yang menjadi kebijakan utama pembangunan pendidikan nasional di negeri tercinta ini. Amanat mencerdaskan kehidupan bangsa harus selalu menjiwai setiap daya upaya pembangunan pendidikan. Tidak ada pendidikan, tidak ada pembangunan sosial-ekonomi. Demikian pesan Ho Chi Mien, bapak pendidikan bangsa Vietnam kepada aparat pendidikan di negaranya. Hanya dengan pendidikan, negeri ini akan dapat kita bangun menjadi negara dan bangsa yang memiliki daya saing yang setaraf dengan negara dan bangsa lain di dunia.

Pendidikan Karakter dan Peningkatan Daya Saing Bangsa

Semua pilar karakter tersebut memang harus dikembangkan secara holistik melalui sistem pendidikan nasional di negeri ini. Namun, secara spesifik memang juga ada pilar-pilar yang perlu memperoleh penekanan. Sebagai contoh, pilar karakter kejujuran (honesty) sudah pasti haruslah lebih mendapatkan penekanan, karena negeri ini masih banyak tindak KKN dan korupsi. Demikian juga dengan pilar keadilan (fairness) juga harus lebih memperoleh penekanan, karena kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak pendukung pemilukada yang kalah ternyata tidak mau secara legowo mengakui kekalahannya. Selain itu, fenomena tawuran antarwarga, antarmahasiswa, dan antaretnis, juga sangat memerlukan pilar karakter toleransi (tolerance), rasa hormat (respect), dan persamaan (equality).

Untuk tujuan khusus, misalnya membangkitkan semangat bagi para olahragawan yang akan bertanding di tingkat internasional, maka pilar rasa percaya diri (trustworthiness) dan keberanian (courage) juga harus mendapatkan penekanan tersendiri.

Akhirnya, dengan pendidikan yang dapat meningkatkan semua potensi kecerdasan anak-anak bangsa, dan dilandasi dengan pendidikan karakternya, diharapkan anak-anak bangsa di masa depan akan memiliki daya saing yang tinggi untuk hidup damai dan sejahtera sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia yang semakin maju dan beradab.

Sumber : Suparlan. Jakarta. 2010. http://www.suparlan.com/pages/posts/pendidikan-karakter-dan-kecerdasan-288.php. (2 Januari 2011)

Evaluasi Tempat Wisata : Curug Nangka

Menikmati sejuknya alam pegunungan dengan udaranya yang bersih, tentunya sangat menyenangkan. Berbagai keunikan yang tersimpan di alam pegunungan, memberikan sensasi wisata yang murah dan menyenangkan bagi siapa saja yang mengunjunginya. Air tejun adalah salah satu keunikan yang sangat menarik yang dimiliki alam pegunungan.

Air terjun terbentuk dari arus air yang mengair melalui suatu formasi bebatuan dan jatuh ke bawah dari ketinggian, fondasinya yang menarik dapat menjadikan air terjun sebagai salah satu fenomena alam yang memikat bagi siapapun yang melihatnya. Sehingga, banyak masyarakat yang memanfaatkannya sebagai salah satu objek wisata alam yang perlu dikembangkan untuk mendapatkan berbagai keuntungan, baik berupa materi maupun non-materi, serta baik bagi kelestarian alam itu sendiri, karena dikelola dengan baik pula oleh pengelola dan masyarakat.

Air terjun nangka atau dalam bahasa Sunda disebut Curug Nangka adalah salah satu curug yang terletak di kaki Gunung Salak. Curug ini merupakan kawasan ekowisata yang memiliki keindahan alam yang potensial. Kawasan Ekowisata Curug Nangka merupakan kawasan wisata air terjun yang termasuk ke dalam Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Kawasan wisata di Ciampea, Bogor ini menyimpan banyak pesona. Air jernih, udara segar, dan suasananya yang tenang membuat pengunjung betah berlama-lama untuk menikmati keindahannya. Kesejukan udara dan keindahan lingkungan membuat banyak pengunjung senang bersantai di tempat duduk yang tersedia di bawah pepohonan bersama keluarga, kerabat, dan sanak saudara.

Kelestarian Flora dan Fauna di Curug Nangka pun menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata ini. Banyak pengunjung lokal maupun dari luar daerah yang berkunjung ke Curug Nangka untuk melihat fenomena alam yang indah berupa air terjun serta menikmati udara sejuk serta pemandangan indah di kawasan wisata ini.

Akan tetapi kawasan ekowisata Curug Nangka ini belum terlalu banyak dikunjungi. Aktivitas yang dilakukan warga sekitar Curug Nangka terkadang tidak memperhatikan kebersihan lingkungan dan kelestarian alam. Permasalahan masyarakat sekitar Curug Nangka yang masih memiliki kebiasaan menggunakan sungai di sekitar wilayah desa Sukajadi sebagai MCK. Hal tersebut bisa merusak pemandangan dan juga kualitas air. Oleh karena itu, penelitian ini ingin melihat pengelolaan untuk mengatasi hal ini agar keindahan dan keasrian ekologi wilayah Curug Nangka dan wilayah sekitar curug nangka dapat terjaga.

Curug Nangka adalah salah satu tempat wisata yang sangat berpotensi di Kabupaten Bogor, namun, dalam hal fasilitas dan kebersihan masih dalam tahap yang harus lebih diperhatikan oleh pengelola maupun masyarakat sekitar. Rasa tanggungjawab terhadap lingkungan sekitar tempat tinggal dan kenyamanan pengunjung menjadi faktor pendukung agar pengelola dan masyarakat dapat bekerjasama meningkatkan kualitas tempat wisata tersebut, baik dari segi fasilitas, maupun kebersihan dari fasilitas itu sendiri.

Peran masyarakat sekitar Curug Nangka yang saat ini dirasakan kurang, menjadikan sumberdaya masyarakat di sekitar Curug Nangka kurang optimal digunakan. Banyak masyarakat desa yang tinggal di sekitar Curug Nangka kurang peduli terhadap kebersihan lingkungan Curug Nangka, karena anggapan bahwa saat ini Curug Nangka telah dikelola oleh Taman Nasional, setelah sebelumnya dikelola oleh masyarakat. Sehingga, masyarakat sekitar yang sebelumnya mengelola, seolah lepas tangan terhadap tanggungjawab kelestarian lingkungan sekitar Curug. Kurangnya pengetahuan warga desa tentang keadaan sekitar curug dan tentang kondisi tempat wisata tersebut menjadikan warga bersikap acuh terhadap kebersihan lingkungan tempat tinggalnya, yang secara tidak langsung mempengaruhi kualitas kebersihan tempat wisata Curug Nangka yang berada dekat dengan lingkungan tempat tinggal warga.

Oleh karena itu diharapkan peningkatan partisipasi masyarakat dan perannya bersama pengelola untuk menciptakan kelestarian lingkungan dan menjaga habitat-habitat Flora dan Fauna yang berada di Curug Nangka. Agar kondisi lingkungan Curug Nangka dan sekitarnya dapat lebih baik dari sebelumnya.

Sumber Gambar : http://www.flickr.com

Minggu, 28 Februari 2010

The Relationship-Technology and Family

Perkembangan Teknologi dengan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari saat ini sangat mempermudah manusia dalam mengembangkan berbagaimacam usaha dan kreativitas serta menjadikan manusia lebih produktif. Pada era globalisasi ini, perkembangan teknologi sangat pesat seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan di setiap disiplin ilmu.
Definisi teknologi sebenarnya bukan hanya sekedar alat-alat canggih yang berkaitan dengan pemrograman dan dunia virtual yang berhubungan dengan komputerisasi.

Teknologi juga berarti cara-cara yang bisa digunakan untuk mempermudah manusia untuk mengolah sesuatu yang tidak berguna menjadi sesuatu yang memiliki value yang tinggi. Misalnya pada teknologi tradisional, tahap-tahap yang diterapkan oleh sebuah home industry yang mengembangkan teknik pendaur ulang barang-barang bekas yang sudah tak bernilai menggunakan teknologi sederhana yang sangat kreatif. Namun, alangkah baiknya, jika, industri-industri tersebut pun dikelola dengan teknologi modern, misalnya, sistem komputerisasi.

Dalam kehidupan keluarga saat ini, sistem komputerisasi sudah banyak diterapkan. Misalnya, teknik pengukuran perkembangan otak anak, dilakukan melalui rekap data yang diolah menggunakan komputer yang tentunya lebih memungkinkan para pengelola dan petugas menghemat waktu tanpa mengurangi tingkat kecermatan hasil yang diperoleh.
Para ahli perkembangan keluarga pun menggunakan sistem komputer untuk melihat grafik perkembangan perkawinan maupun perceraian yang terjadi di sebuah negara. Dari situ mereka bisa mengetahui kenaikan atau penurunan yang signifikan berdasarkan grafik yang mucul sebagai gambaran fakta yang ada dalam lingkungan sosial mengenai pernikahan dan perceraian. Hal Ini tentu sangat memudahkan para peneliti di bidang keluarga untuk memperoleh gambaran kondisi keluarga-keluarga di suatu negara. Dengan program-program komputer pun, mereka bisa menganalisis data dengan teknik-teknik yang telah ditentukan, misalnya, program SAS (Statistical Analysis System). SAS adalah sebuah software untuk analisis data. Pada sistem SAS terdapat fasilitas untuk menyimpan dan memunculkan kembali informasi, pembuatan program, modifikasi data, penulisan laporan, serta analisis statistika. Adapula Statistical Product and service Solution Base (SPSS Base). SPSS BASE mencakup semua perhitungan statistik deskriptif dan inferensia, dilengkapi dengan penyajian grafik. Kedua program tersebut merupakan contoh program yang bisa digunakan untuk melihat perkembangan kesejahteraan keluarga di berbagai daerah. Itulah contoh relationship antara teknologi, khususnya pada sistem komputeriasi dan informasi dengan aplikasi penelitian dalam lingkup keluarga.

Sedangkan hubungan di dalam keluarga itu sendiri, komputerisasi sangatlah penting. Jika dilihat saat ini, hampir semua Sekolah Dasar terkemuka di kota-kota besar diterapkan kurikulum penerapan komputer dasar. Fakta tersebut membuktikan bahwa saat ini anak-anak sudah mulai dididik dan dilatih menggunakan komputer. Tak sedikit pula, di dalam rumah suatu keluarga terdapat komputer yang juga dilengkapi dengan koneksi internet. Budaya tersebut sudah jauh berkembang, jika diaplikasikan dalam pertumbuhan ekonomi keluarga. Banyak anggota masyarakat dalam keluarga membangun bisnisnya melalui dunia virtual, dengan mengakses internet para orang tua bisa menghasilkan materi, Keuntungan pebisnis online ialah sambil bekerja tetap bisa berdekatan dengan anggota keluarga, mendidik anak (bagi orang tua) biasanya bisnis tersebut sejenis toko online, sekolah online, dan masih banyak lagi macam bisnis yang serupa dengan bisnis-bisnis berbasis sosial non-virtual, layaknya produsen dan konsumen pasar. Para pebisnis online membuat situs dan blog untuk promosi, ataupun bisa memanfaatkan situs-situs jejaring sosial yang diakses banyak orang. Fungsi lain situs-situs jejaring sosial ialah bisa dijadikan sarana komunikasi antar anggota keluarga yang tempat tinggalnya berjauhan, dengan demikian keharmonisan dan komunikasi antar anggota keluarga tetap terjaga.

Di era globalisasi ini, anak-anak pun sudah mulai dididik cara mengoperasikan komputer. Tak hanya microsoft word ataupun program-program office dasar. Namun, anak-anak sudah mulai diajarkan cara meng-create sebuah program sederhana dan mendesain gabar-gambar unik menggunakan program-program komputer ber-basic desain. Hingga tak jarang anak-anak masa kini lebih mengerti dan menguasai teknologi ketimbang orangtuanya.

Meskipun demikian, family control tetap harus diterapkan dalam mendidik anak dengan memperkenalkan teknologi, khususnya internet yang kini sangat mudah diakses. Karena, segala sesuatu di dunia ini, jika terlalu berlebihan, tetap tidak baik. Di samping sisi positif, terdapat pula dampak negatif akibat penyalahgunaan teknologi, kususnya internet, yang saat ini marak dibicarakan di berbagai media. Terkadang, anak menjadi kurang adaptif terhadap lingkungan alam sekitar. Banyak anak-anak atau remaja usia sekolah duduk berjam-jam di depan komputer, banyak hal yang mungkin mereka lakukan. Baik hal negatif maupun positif, itulah yang menjadi PR bagi orangtua, untuk tetap selalu mengawasi anak-anaknya. Agar tetap mempergunakan sarana IT dengan baik, sesuai dengan apa tujuan penciptaan semua teknologi ini, yaitu menjadikan manusia yang lebih produktif dan berkualitas, dengan tetap peka terhadap alam tempat semua teknologi-teknologi itu dibentuk.