Jumat, 17 Februari 2012

ANTOGILAAAA!!!

Di buku ini ada story konyol-ku jugaa... :D

About this book :

“Kalau aku, aku sih terserah Yanti. Dia mau bilang antologi ini gila atau aku yang gila, aku gak masalah. Yang penting Aurel nilai rapornya bagus.” (Amang Premansyah, Penyanyi yang Doyan Getuk)

“Buat temen-temen STM gue, temen-temen ngaji gue, temen-temen yang belum jadi temen gue, MAKAN NIH!” (Marsjanda, Mantan Artis Cilik dan Mantan Istri Duda)

“Untuk anak-anak Indonesia, saya sarankan untuk membaca kisah dalam antogila ini. Cerita yang dikisahkan oleh para kontibutor sangat menghibur, mencerminkan kecacatan psikologis penulisnya.” (Kak Seko Mulyedi, Pemerhati Mamanya Anak)

“Alhamdulillah banget. Sesuatu yah. Aku memilih buku ini untuk dijadikan ganjelan jambulku.” (Syahrimin, Penyanyi Berbulu Mata Anti Badai Kerispatih)

“Menurut analisa saya, buku ini tidak asli. Bila dilihat dari metadatanya, kita akan tahu bahwa buku ini sebenarnya hanya tipuan optik yang terjadi karena suatu objek terkena pancaran sinar yang ditimbulkan oleh matahari sehingga terlihat seolah-olah buku ini asli. Padahal hanya koran bekas bungkus nasi uduk Kang Bani. Tuh lihat masih ada bekas sambelnya!” (Ryo Sukro, Pakar Towelemaktika yang Belum Pernah Tamat Game Zuma)

AUDIT SDM

Audit SDM adalah proses meninjau (review) secara komprehensif suatu sistem dan/atau proses suatu organisasi apakah sudah memenuhi kebutuhan atau proyeksi masa depan kebutuhan fungsi SDM organisasi, baik apakah itu untuk memenuhi standar lokal (pemda, pemprov), standar internal (SOP, Company Policy) atau regulasi (International Standard atau Standar pemerintah).

Adapun definisi lain dari audit SDM ialah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan (Arens, 1997).

Sedang, audit SDM adalah pemeriksaan kualitas kegiatan Sumber Daya Manusia secara menyeluruh dalam suatu departemen, divisi atau perusahaan, dalam arti mengevaluasi kegiatan-kegiatan SDM dalam suatu perusahaan dengan menitikberatkan pada peningkatan atau perbaikan (Rivai, 2004, p. 548).
Menurut Gomez-Mejia (200 1 :28), audit sumber daya manusia merupakan tinjauan berkala yang dilakukan oleh departemen sumber daya manusia untuk mengukur efektifitas penggunaan sumber daya manusia yang terdapat di dalam suatu perusahaan.

Manfaat utama dalam audit SDM diantaranya bisa mengetahui proses mana yang belum memenuhi persyaratan hukum berlaku sehingga meminimalisir proses internal organisasi yang berpotensi melanggar hukum, dan yang terpenting adalah membantu organisasi secara sistematis untuk mengidentifikasi kondisi saat ini serta langkah aksi apa yang perlu dijalankan untuk meningkatkan kinerja proses fungsi SDM.

Kegagalan dalam mengidentifkasi penyebab potensial yang bisa membahayakan atau berpotensi melanggar hukum dapat menimbulkan efek yang merugikan perusahaan atau organisasi. Karena itu, audit SDM merupakan salah satu cara untuk mengenal sejauh mana proses internal, sistem prosedur organisasi sudah memenuhi aspek keamanan baik secara hukum maupun juga membantu mengidentifikasi bagian SDM yang belum berjalan secara efektif dan efisien. Peninjauan secara berkala terhadap sistem dan prosedur organisasi yang berhubungan dengan SDM, tidak hanya membantu agar sistem dan prosedur tetap memenuhi persyaratan, namun juga membantu aspek finansial perusahaan agar tetap stabil dan mantap.

Obyek SDM yang diaudit

Aspek SDM yang dapat diaudit cukup luas, karena SDM itu sendiri mencakup fungsi perencanaan, fungsi pengembangan, fungsi pemeliharaan, fungsi informasi, fungsi penghargaan dan penghukuman, serta fungsi peningkatan kinerja. Dengan demikian jika dirinci, obyek yang dapat diaudit adalah sebagai berikut :

  • Fungsi Perencanaan : Manpower Planning, Manpower Recruitment, Manpower Fulfillment, Sourcing Candidate.
  • Fungsi Pengembangan : Training, Development, Coaching, Mentoring.
  • Fungsi Informasi & Teknologi : Personnel Data base, Sistem Informasi Manajemen SDM (HRIS).
  • Fungsi Pemerliharaan : Industrial Relation, Corporate Social Responsibility.
  • Fungsi Penghargaan dan Penghukuman : Compensation & Benefit, Reward, Termination, Punishment.
  • Fungsi Peningkatan kinerja : Performance Management System, Pay for Performance. Audit memberikan suatu perspektif yang komprehensif terhadap praktik yang berlaku sekarang, sumber daya, dan kebijakan manajemen mengenai pengelolaan SDM serta menemukan peluang dan strategi untuk mengarahkan ulang peluang dan strategi tersebut. Intinya, melalui audit dapat menemukan permasalahan dan memastikan kepatuhan terhadap berbagai peraturan perundangan-undangan dan rencana-rencana strategis perusahaan. Audit SDM merupakan suatu metode evaluasi untuk menjamin bahwa potensi SDM dikembangkan secara optimal (Rosari, 12 Mei 2008).

Manfaat Audit SDM

Audit SDM mengevaluasi aktifitas SDM yang digunakan dalam suatu perusahaan dan merupakan pengendalian kualitas keseluruhan yang mengevaluasi aktifitas SDM dalam suatu perusahaan.

Ruang Lingkup Audit SDM

Dalam pelaksanaan audit SDM untuk mendukung jalannya kegiatan-kegiatan SDM perlu dilakukan pembatasan terhadap aspek yang akan di audit. Secara garis besar, prospek audit SDM dilakukan terhadap fungsi SDM yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan SDM yang dimulai dari perencanaan SDM, perekrutan, penyeleksian, pelatihan, dan evaluasi kinerja SDM (Handoko, 1997).

Sumber :

HR Audit. 2008. http://ilmusdm.wordpress.com/2008/03/06/mengenal-audit-sdm-hr-audit/. (28 Desember 2011)


Senin, 06 Februari 2012

SOMEWHERE

Ketika hatimu terus mencarinya, dan begitu yakin bahwa kau akan menemukannya di suatu tempat. Yakinkah bahwa kau akan menemukannya dalam suasana yang sesuai dengan harapanmu?

***

Menengadah pada langit bersemu kelabu. Memandang nanar cahaya yang mengungkap tanya. Seperti embun pagi yang tak pernah menjadi rimbun. Melayang tawa canda di angkasa jiwa, saling bercerita, saling bertegur sapa, saling mengungkap rasa yang tersembunyi dalam kata, mereka begitu bersenyawa, namun begitu tak bernyawa.

Gersang yang pernah tumbuh subur. Gersang yang pernah merasakan kesejukan. Kini melambat mundur teratur pergi meninggalkan ruh yang luruh menyeluruh. Cinta seolah tiada lagi. Ketika dia pergi menamatkan kisah yang tak pernah mencapai puncak kesejatian.

Teringat kisah pencarian akan jati diri, pencarian akan cinta sejati. Ataupun pencarian tentang pembenaran yang memaksa. Hanya agar hati tetap merasa nyaman berada dalam zona yang diinginkan.

Ketika semua orang tak mengerti tentang derasnya aliran sungai kerinduan yang dapat mengikis kerasnya hati. Jiwa ini terpasung dengan suara-suara bisikan menjerat logika. Ketika kau merindukan segala hal yang terjadi padamu sebelumnya dan sangat menyenangkan. Ketika kau mulai merenung mengikhlaskan sesuatu yang kau harapkan namun tak juga terwujud nyata. Atau muncul di waktu yang tak tepat. Atau bisa saja muncul di saat kau tak dapat lagi menerimanya, atau bahkan lebih parah. Ia muncul tiba-tiba ketika kau mengharapkan kehadirannya, namun, ia datang untuk bercerita bahwa dia tidak akan lagi seperti yang dulu.

Ketika sekejap dunia menjadi seperti bulan mati. Daratan seperti hamparan kesepian yang tanpa batas. Dan jiwamu meraguinnya. Ragamu tak dapat menangkap jalinan takdir- yang berjalan bersamamu. Harapan yang telah terputus, asa yang sempat tertunda, dan nyayian yang tak pernah kau selesaikan, berpacu dengan waktu.

Masihkah kau ingin tetap berkelana? Terus mencari hal-hal yang tak pernah mencarimu? Masihkah kau akan tetap membayangkan saat-saat indah bersamanya yang tak mungkin terlupa? Terus mengenang tanpa kepastian bahwa ia pun selalu mengenangmu dalam lingkar harap yang meratap?

Sudahilah perjalananmu mencari dugaan dunia. Cukuplah dengan segala waktu dan nyanyian yang kau telantarkan hanya untuk mengenang sesuatu yang tak pernah kau tahu wujudnya. Berhentilah merindukan kegersangan. Berhentilah mengkhayati pencarianmu. Karena semua itu telah selesai. Karena kau sudah menemukannya, bahkan dia yang telah menemukanmu lebih dulu dengan mudahnya.

Dan, kini, kau tahu jawabannya.

Berhentilah mencari kegersangan.

Mulailah dengan satu langkah pencarian baru. Langkah yang tak kan pernah menyesatkanmu. Langkah yang dapat membimbingmu menuju hamparan keabadian. Kerinduan yang semestinya kau miliki. Pencarian yang seharusnya kau lakukan.

Karena pada akhirnya, kisah cintamu yang abadi ialah hanya kisah cintamu dengan Tuhanmu…

Never stop hoping,
Need to know where you are,
But one thing is for sure,
You're always in my heart.

I'll find you somewhere.
I'll keep on trying until my dying day.
I just need to know whatever it's happened,
The truth will free my soul...

Senin, 23 Januari 2012

WARNING : MODUS PENIPUAN (!!!)

Bismillah,

Sebelum menuliskan pengalaman yang ‘nggak banget’ ini. Saya ingin berpesan kepada seluruh manusia yang membaca postingan ini. Bahwa, kepekakan adalah salah satu hal yang penting dalam menanggapi suatu informasi.

Saya emang bukan orang yang super cerdas. Tapi, satu hal yang saya inget, papa dulu pernah bilang, kalau saya itu orang yang pekak. Instingnya tajem. Bagus kalau jadi detektif. Dan hari ini, saya mengalami sesuatu yang luar biasa sekali. Dan semoga bisa menjadi bahan kewaspadaan untuk anda-anda sekalian yang membaca.

Tadi pagi, lagi-lagi enak mimpi, saya dibangunkan oleh suara mama yang setengah berteriak kegirangan, “Minchuu, mama dapet kijang innova...” Suara itu lambat laut semakin menghilang kayak gema. Soalnya jiwa masih setengah sadar setengah lagi di alam mimpi. Tapi, setelah kemudian terdengar lagi seruan—antara girang dan panik mama bilang lagi, ‘Mama dapet undian kijang innova’. Sontak saya bangkit dari keadaan tidur dan menghampiri beliau yang luar biasa paniknya.

Saya pun bertanya pada mama, “Undian dari mana? Trus sekarang mama mau ke mana?” saya liat mama sedang heboh mencari-cari pakaian, ekspresi dan gerak gerik mama saat itu bener-bener tergesa-gesa. “Mama dapet undian, sekarang harus ke BNI, tadi malem ada katanya ditayangin di transTV. Katanya mama pemenang ke-2, yang pertama di Kalimantan Selatan, sekarang mama harus ke BNI.” Saya yang masih setengah mimpi dalem hati langsung Alhamdulillah—coz saya pikir hadiah mobilnya sudah ada di BNI pusat, dan mama mau ambil hadiahnya di BNI.

“Tunggu dulu, ini penipuan bukan?” gak ragu, saya langsung tanya mama. “Bukan lah… itu udah jelas ditelepon dari pusat Telkom, tadi mama ngobrol sama direkturnya. Udah yah… jaga rumah, ini disuruh buru-buru banget soalnya, Cuma dikasih waktu 1 jam. Kalau enggak katanya bakal dikasih ke pemenang cadangan.”

Ngeliat mama buru-buru gitu, saya juga jadi khawatir, takut mama kenapa-napa di jalan. Rencananya saya mau menginterogasi mama lebih jauh tentang undian itu. Coz saya memang gak percaya sepenuhnya dari awal. Tapi, mama seolah gak kasih kesempatan untuk saya bertanya lebih jauh. Dan memang saat itu posisi mama udah dipintu, dan saat itu saya sedang kebelet luar biasa. Suasananya tidak memungkinkan untuk mencegah mama.

Akhirnya sampai di kamar mandi, saya teriak-teriak. “Mamaaa… hati-hati di jalan, jangan keburu-buru, pikirin lagi, takut penipuan.” Tapi apalah daya saya yang saat itu sedang memenuhi hak tubuh untuk mengeluarkan zat sisa. Mama udah di depan pintu, sambil bilang. “Itu telepon rumah jangan ditutup ya, katanya bebas pulsa sampai jam 5 sore. Biarin aja jangan ditutup. Disuruh direktur telkomnya jangan ditutup. Mama mau nebus hadiah dulu ke BNI.”

Dari situ saya mulai curiga banget. Mama datang 2 jam kemudian. Mama cerita katanya di perjalanan mama cepet-cepet banget. Sampai tadi tuh ada tamu aja disuruh pulang. Coz mau transfer ke bank. “Nanti, kamu siap-siap ya, pihak mereka bakal datang sebelum sholat jumat, katanya bakal ada 3 mobil, dan dikawal polisi. Bakal ada TransTV juga mau wawancara kita.”

Mama bilang kayak gitu, ya saya jadi lumayan percaya, coz sebelumnya, kami memang pernah bersiap-siap seperti itu. Ada stasiun TV yang datang ke rumah untuk wawancara. Dan saat itu memang wawancara lah yang terjadi, bahkan kami memang diberi insentif. Tapi yang saya heran, kok mama gak pulang sama mobilnya.

Mendengar semangat mama, saya juga jadi agak tertular. Akhirnya, saya siap-siap untuk diwawancara. Mama juga. Saya sempat bilang ke mama, “Ma, tadi malem aku emang mimpi dapet rezeki loh.” Sebenernya saya agak ragu juga ngomong kayak gitu. Coz tadi malem itu sebenernya mimpi saya ada 2 sesi. Mimpi pertama, saya dan keluarga dapet rezeki, mimpi yang ke-2 saya dan keluarga tertipu oleh penipu. Malah pas bangun saya sempat beristighfar karena mimpi itu, dan langsung mendengar mama teriak-teriak dapet undian.

Tapi, saya gak bilang tentang mimpi saya yang ke-2 itu. Saya gak mau merusak kebahagian mama, lagian, apalah artinya mimpi sih. Saya anggap itu Cuma kebetulan. Sebelumnya juga saya memang gak punya kemampuan apa-apa, kayak indera ke-6 dll. Mimpi-mimpi tidur malam saya seringnya Cuma sekedar bunga tidur dan gak pantes dihubungin sama kebetulan-kebetulan.

Akhirnya, telepon itu mama tutup. SETELAH DIBIARKAN TIDAK TERTUTUP SELAMA 2 JAM.

Mama akhirnya konfirmasi ke Drs. Edi Jumedi, SH (itu nama yang si penipu itu akui). Mama bilang bahwa mama udah transfer ke rekening samsat yang dimaksud.

Saat saya nguping mama nelepon. Saya kaget. Samsat apaan? Saya kira itu undian dari BNI. Coz mama—sebelum berangkat tadi—bilangnya itu undian dari BNI. Yaaa, jadi saya agak tenang, coz itu undian dari BNI, dan mama transfernya buat BNI.

Ternyata, pas mama ngobrol lagi sama si Drs. Edi Jumedi, SH itu, dan saya nguping perbincangan mereka. Itu janggal banget. Lebih lagi si Drs. Edi Jumedi, SH itu meminta dana transfer lagi sebesar 7 juta untuk tukar plat dan mengantar mobil ke rumah. Padahal tadi mama udah transfer 3 juta.

Pas mama nelepon tadi, yang saya lakukan ialah elus-elus dada sama geleng-geleng kepala. ITU POSITIVE PENIPUAN!!! Tapi mama belum bereaksi menolak perintah si Edi itu, malah mama nanya-nanya tentang no rekening tujuan transfer selanjutnya, tergesa-gesa. Padahal itu mama baru pulang dari BNI. Dan harus disuruh transfer lagi 7 juta.

Akhirnya, tanpa tanda saya rebut gagang telepon rumah saya dari tangan mama. “Pak, saya anaknya Ibu Nina. Mau Bapak apa?” saya agak membentak orang itu. Si Bapak-bapak itu jawab, “Begini mbak… Hmm… dengan Mbak siapa?” logatnya sok batak banget. Saya langsung jawab. “Saya Tina.” (dia nipu, ya saya balik tipu) saya tidak berani kasih tau nama asli. Sebenernya berani sih, Cuma males aja kasih tau nama asli ke orang palsu kayak gitu.

“Gini Mbak Tina, untuk mendapatkan hadiahnya, harus transfer lagi 7 juta, untuk biaya bla bla blaa…..” dia ngejelasin pake logat batak yang ‘enggak banget’, dia ngejelasin tentang surat-surat kelengkapan mobil n plat’nya, sehingga kami disuruh bayar 7 juta lagi.

“Gini pak, kami kan tadi udah transfer 3 juta, sekarang kalau harus transfer 7 juta lagi, kita nggak ada dananya, Pak. Yaudah silakan kalau hadiahnya mau dialihkan ke pemenang cadangan, kami ikhlas.”

Eeehhh, si Bapak itu malah membentak saya dengan logat bataknya yang ketauan banget dibuat-buat.

“Ohh, JADI MBAK MEMPERMAINKAN SAYA??? JANGAN MAIN-MAIN LOH MBAK, KITA SEKARANG SUDAH DI SAMSAT, DI PERJALANAN MENUJU BANDUNG UNTUK GANTI PLAT!!! GAK BISA GITU LAH MBAK, MBAK GAK SAYANG DENGAN HADIAH YANG DIBERIKAN ALLAH… INI REJEKI LOH MBAK.”

Saya jadi sadar, ternyata peran-peran antagonis di sinetron-sinetron Indonesia terinspirasi dari kehidupan nyata. Bentakan-bentakan dia sebelas dua belas lahh sama peran-peran antagonis di pilem2 mellow lebay.

“Ya gak gitu, Pak, mempermainkan gimana? Yaaa gimana lagi, Pak! Kita bener2 gak ada kalau segitu!” saya mencoba untuk lebih sabar.

“Berusaha lahh mbak, pinjem-pinjem dulu. Sayang ini mobil kalau gak diambil.” Dia membujuk2 lagi.

“Hahh? Gak bisa semudah itu lah pak, kita mau pinjem dari siapa??? Gini aja pak, gimana kalau hadiahnya dibawa ke sini dulu, setelah sampai di sini, kami akan bayar sesuai dengan nominal yang Bapak sebutkan tadi. Atau kalau lebih pun boleh, Pak, asal ada bukti, Bapak bukan penipu. Sekarang saya bisa jamin dari mana kalau Bapak bukan penipu?”

Dan dia membentak saya lagi.

“WAHH MBAK SEPERTINYA MENJEBAK SAYA! MBAK JANGAN MEMPERMALUKAN SAYA!!! ITU KALAU SEPERTI ITU MBAK TIDAK PERCAYA SAMA SAYA!” (dalem hati, ‘emang gue gak percaya’)

“Yaudah gini deh, sekarang Bapak lagi ada di mana? Tadi katanya diumumin di TransTV jam 10. Tadi malem saya nonton transTV sampai jam 12, dan gak ada tuh Pak, Bapak jangan ngebohongin saya juga. Soalnya saya bisa langsung cross check ke sodara saya, dia crew transTV!!!” saya pun akhirnya mengeluarkan nada sinis.

“MBAK MENGHINA SAYA KALAU BEGITU!!! TIDAK MAU TAHU, MBAK TINA HARUS GANTI RUGI!!! SEKARANG, CEPAT TRANSFER!!! SOALNYA SAYA SUDAH DI PERJALANAN MENUJU BANDUNG, KAMI BERSAMA POLISI, KALAU TIDAK PERCAYA, NIIIH… DENGAR!!!” (lalu terdengar suara sirine mobil polisi)

Ampuuun deh, dalem hati saya malah tambah yakin itu penipuan. Efek suara itu bisa aja alarm hp atau bunyi2an yg bisa dibuat2.

“MBAK DENGAR ITU!!! KITA SEDANG DALAM PERJALANAN KE BANDUNG MBAK. MBAK HARUS BAYAR!!! KARENA MBAK TELAH MEMBUANG-BUANG WAKTU SAYA! SAYA JUGA BANYAK ACARA LAIN!!!”

“Lohh??? Bapak kok jadi meres saya? Yahh kalau kita gak ada uang segitu mau gimana coba??? Minjem juga ke siapa??? Zaman sekarang Pak, mana ada sih yang mau pinjemin? Atau gini aja deh Pak, minjem uang bapak aja dulu, bapak kan kaya, direktur gitu kan? Nahh, nanti pas hadiahnya datang, kita kembaliin uang bapak. Gitu gmana?”

“YA GAK BISA GITU MBAK! Itu Mbak ARTINYA telah mempermalukan saya!!! MERUGIKAN WAKTU SAYA!!! LIHAT SAJA NANTI, SAYA BISA MENUNTUT MBAK! WAHH, MBAK TINA INI KURANG AJAR YA… COBA MANA IBU ANDA???” (dia udah mulai kesal menghadapi saya).

Akhirnya saya tutup teleponnya. Dan ngomong ke mama, “MAMA, INI TUH UDAH JELAS PENIPUAN BANGET, BANYAK MODUS KAYAK GITUU… YA AMPUUUN MAMA, KENAPA PERCAYA AJAA,,, AKU UDAH CURIGA DARI AWAL, TAPI MAMA KEBURU-BURU BANGET, JADINYA GAK KEBURU… LAGIAN TADI PAS KE BNI, COBA AKU IKUT… AKU MAH UDAH SADAR DARI AWAL KALAU ITU PENIPUAN. CUMA MAMA TADI BILANGNYA ITU UNDIAN DARI BNI, DAN TADI MAMA MAU NYETOR UANG KE BNI… DIKIRA EMANG BENER HADIAHNYA UDAH ADA DI BNI… PADAHAL TERNYATA PIHAK BNI SAMA SEKALI GAK TAU. COBA MAMA CEK KE PLAZA TELKOM? AATAGFIRULLOHALADZIM MAMA, UNTUNG AKU GAK JADI KE KAMPUS… KALAU AKU GAK ADA, MAMA PASTI UDAH NGIKUTIN PERINTAH ITU ORANG BUAT TRANSFER LAGI…”

Aku agak kesel juga sama mama. Astagfirulloh…

“Iya ini nomernya direktur Telkom…” mama ngeluarin nomer dirut Telkom.

“Itu nomer dari siapaaa??? Jangan percayaaa lahh kalo orang yg tadi yang ngasih… coba sekarang cek ke bagian penerangan, cari tau nomor telepon plaza Telkom berapa? Trus tanya.”

Akhirnya, mama telepon ke bagian penerangan, dan dapet no. plaza Telkom, dan benar. Jawabannya ialah, TIDAK ADA UNDIAN MOBIL KIJANG INNOVA TAHUN INI.

Mama juga akhirnya nelepon ke temen mama yang pernah dapet undian mobil dari bank BCA. Kata temen mama itu, kalau hadiah kayak gitu langsung dianterin, gak pake transfer uang lebih dulu. Dan gak ada dana charge apapun. Temen mama pun akhirnya memastikan bahwa kasus yang dialami kami ialah PENIPUAN.

“Astagfirullohaladzim…” Mama cuma bisa nyesel, dan nyesel. Saya saat itu mikir, ‘ohh, pantesan, tadi orang itu nyuruh mama nggak nutup teleponnya selama transfer ke BNI. Saya tau, itu motif dia supaya kita gak nerima dan nyari informasi dari orang-orang lain dan Telkom yang asli. Subhanallah, itu 2 jam telepon rumah dibiarkan gak ditutup, dan itu interlokal, kawan!!!

Saya mencoba lebih tenang dari mama yang keliatan udah gak karu-karuan banget. Ehh, si Edi itu nelepon lagi. Saya yang angkat lagi.

“Hallo…”

“HEI MBAK TINA, ANDA TELAH MEMPERMAINKAN SAMSAT!!! KAMI AKAN MENGGUGAT ANDA!”

“Ya ampun Pak, mempermainkan apa? Alasan kami itu kami tidak punya dana segitu, mau dipaksakan bagaimana, pinjam uang ke siapa? Pinjam uang bapak aja gimana?”

Akhirnya si Edi itu berpikir sejenak.

“Pak, 7 juta itu gak sedikit. Saya itu anak yatim. Adik saya masih ada biaya banyak. Itu uang yang ditransfer ibu saya tadi buat biaya spp ade saya… Bapak tega? Bapak kan direktur, saya masih pelajar, pak… seenggaknya kurangin lah jumlahnya. Jangan 7 juta!”

“Yasudah, kita tanggung bersama saja, saya setengan, Mbak Tina setengah. “

“hmm… yaudah, jadinya saya bayar 2 juta aja ya Pak?” (si Edi itu menanggapi ‘iya iya aja’ kagak bisa ngitung ape ye??? Tujuh dibagi 2 kan padahal 3.5!

“Ok kalau begitu, Mbak Tina, Setuju! Anda transfer 2 juta sekarang! Saya tunggu, maaf saya tadi sempat membentak-bentak. Saya Cuma ingin meyakinkan bahwa saya bukan penipu, justru saya ingin mengantarkan hadiah pemberian Allah untuk anda. DEMI ALLAH SAYA BUKAN PENIPU… apalagi ini hari jumat, hari yang suci untuk beramal, tidak mungkin lah saya menipu.”

“Hmm… iya ya Pak, hidup ini kan sementara, buat apa sih kita nipu, nipu itu kan dosa. Pokoknya, Allah pasti tau segalanya lah, kalau keburukan pasti ada ganjarannya. Begitu juga sebaliknya. Allah maha Adil. Saya percayakan pada Allah aja segalanya. Semoga bapak juga mendapatkan hidayah. Betul seperti bapak bilang tadi. Hari jumat waktu yang baik untuk beramal. Sekali lagi, saya percaya pada Allah, dan hidup ini sementara. Kita pasti mempertanggungjawabkan amalan kita di akhirat nanti.” (sempet gw ceramahin juga nih si Edi itu).

“Betul Mbak… betul sekali… Ok, ya? Dua jutanya saya tunggu?” (‘betul-betul’ tapi UUD—Ujung-ujungnya tetep Duit).

Setelah itu saya tutup telepon. Dan berniat tidak membayar 2 juta sisanya. Langsung saya ganti nomor mama dengan simcard baru. Dan saya cabut kabel telepon rumah.

Masalah belum selesai, sekarang giliran mama yang ketakutan, sebenernya saya juga takut, tapi saya berusaha untuk lebih tenang dari beliau. Beliau sempat memberi alamat lengkap rumah kami. Beserta nomor ktp beliau.

Mama takut ancaman itu benar. Si Edi sempat mengancam, katanya jangan bilang-bilang dulu ke pihak manapun, pokoknya mengancam dengan sangat GARANG! Benar2 bukan mencerminkan seorang yang intelek. Gimana dia bisa pura2 jadi direktur. Logat preman gitu…

kasian aja sama mama, mama tuh katanya di angkot menuju BNI udah ngebayangin mobil innova itu, mau adain syukuran, dll… tapi ternyata…

Hmm… Tapi ada yang lebih kasihan lagi. Yaitu, gerombolan Si Edi! Kok kayak gitu banget yah, cari uang… kasihan sekali… ckckck… Kita doakan saja semoga mereka mendapatkan hidayah.

Dan setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Hikmahnya, kita harus rajin-rajin sedekah. Kita sering lupa bahwa 2,5% dari pendapatan kita sebenarnya itu bukan milik kita. Kita harus menyisihkannya. Karena di dunia atau di akhirat, itu tetap bukan milik kita. Saya meyakinkan mama untuk mengikhlaskan apa yang telah hilang. Karena mungkin saja itu memang bukan hak kita. Untuk ke depannya, sekecil apapun pendapatan kita, 2,5% harus kita sisihkan.

Dan, saya meyakinkan mama yang sangat tampak kehilangan. Bahwa mama sebelumnya pernah mengalami kehilangan yang lebih parah dari ini. Kehilangan papa. Dan seiring berjalannya waktu, perasaan kehilangan itu menjadi hikmah dan bukan sebuah kesedihan. Begitu juga dengan kejadian ini. Perasaan kehilangan ini pasti akan hilang dan berubah menjadi pesan yang mengandung hikmah.

Ingat, Ma, doa orang yang teraniaya itu mujarab lhoo…, Sekarang mending kita berdoa aja yukk… ^^

Rabu, 28 Desember 2011

HAUNTED

All of my memories
Keep you near,
In silent moments
Imagine you'd be here,
All of my memories
Keep you near,
The silent whispers, silent tears...


***

Musim berganti, kenangan berlalu, pohon-pohon yang dahulu tumbuh subur kini menggugurkaun daunnya. Seolah ada yang menguapkan klorofil-klorofil kesegaran di dalamnya. Mentari mulai terbenam ketika tak ada lagi orang yang bersahut-sauhatan bisning berkeliaran. Daerah itu seperti rumah singgah di tepian belantara. Hampa dan mengungkap tanya.

Angin bertiup kencang menyerang, lalu perlahan melembut menghantar gerimis tak terlihat, terasa basahnya hingga melembab. Tanah dan rerumputan kering menampakan embun sebelum hujan. Kering yang melembab. Basah yang meranah. Kesepian yang berpuluh-puluh tahun tertinggal. Seseorang dalam derap langkah kaki menepi. Seseorang yang mengenal tempat itu berpuluh-puluh tahun lalu. Kini menapaki kembali jejak-jejak kenangan yang tertinggal.

Hanya kelelawar yang melintas menyapa di antara bercak langkah kaki yang tertata. Daun-daun kering terbang melayang tertiup angin, lalu terinjak. Suara burung gagak bermain-main menyerukan teriakan tak beraturan bersahutan kian lama kian menggema.

Siang menjelang sore. Sore menjelang malam. Seolah tak ada perbedaan diantaranya. Kegelapan bersarang mendeskripsikan cinta yang telah usang berkarat. Jiwa-jiwa yang menghantui mencoba datang melawan siapa yang berani menentang. Menghembuskan angin dingin melesat ke tengkuk hingga seluruh tubuh. Pandangan mata tajam memanah suatu sudut. Energi-energi tak wajar bergelombang terasa menjalar di sekujur akar.

Ranting-ranting pohon meringis sepi. Mengeluarkan suara tangisan panjang yang tak bertepi. Tak terdengar hingga ke ujung bumi. Kesemuan menantang jalannya musim yang berganti. Di sini. Di mana letak ujung kenangan membujur kaku bagaikan sesosok raga tak bernyawa dibenamkan dalam duka.

Puing-puing masa lalu menghantui. Kenangan kebahagiaan kembali terbayang meneruskan segala yang pernah terhenti. Terputus masa yang tak sanggup melanjutkan waktu yang kian cepat berganti. Menanti untuk saat-saat terkutuk, hingga takluk pada aroma-aroma busuk yang menusuk.

Hilang arah ketika kembali. Benda-benda usang bertebaran terlihat utuh kembali. Berbicara tentang masa yang telah tiada. Masa muda yang tak akan lagi sempat kembali. Terhitung banyaknya usia yang tersia. Terkubur dalam damai yang menyejukan harapan. Kini dia kembali, mencoba membangun masa itu kembali. Menyenandungkan lagu kenangan yang melengking bergema.

Berburu. Memburu.

Ketika segalanya tak ada lagi di sini. Ketika sekelebat bayangan hilang dan tenggelam. Tangga-tangga yang kusam. Sarang laba laba yang memerangkap cahaya. Atau lilin-lilin yang mati, kini menyala kembali, di matanya.

Rumah yang ditinggalkan.

Rumah yang pernah ramai akan canda dan tawa yang menggema. Anak-anak yang berlarian tanpa beban, remaja yang sedang tersenyum jatuh cinta, masa-masa dewasa yang bijaksana, hingga saat-saat terakhir meninggalkan jejak langkah di tempat ini. Terasa masih sama. Namun hampa tak tersisa.

Suara-suara itu masih menggema menghantui. Bayangan-bayangan masa lalu seolah memburu. Menghadirkannya di tengah-tengah benda mati yang akan tetap mati hingga akhir nanti.

Ia berjalan kembali dengan langkah yang telah renta. Sendiri. Menepi di dalam ruangan berkaca. Ia bercermin dan menatap wajah gadis yang masih segar belia. Tersenyum, menyentuh cermin. Bayangan dalam cermin berubah menjadi sosok wanita tua renta. Tersadar ia sedang berkaca pada cermin retak yang menyentak.

Tak lagi ada air mata. Namun hatinya terus berbicara...

“Kita pernah mengukir sejarah di rumah ini, sebagai satu keluarga. Kini yang tersisa hanyalah bias-bias kenangan yang masih terpatri dalam hati. Meskipun tak dapat lagi berbicara, meski telinga ini tak sanggup lagi mendengar seruan-seruan cinta dari mereka… Namun ruh ini tak akan pernah hilang terselang masa. Karena meskipun kita telah terpisah jauh entah di dimensi mana, meskipun sekat-sekat yang dulu tak terlihat kini sanggup memisahkan kasih sayang. Namun, jiwa ini akan selalu berjalan terus dengan senyuman harapan. Hanya Tuhan yang mengetahui segala. Semoga kita dipertemukan kembali di surga. Sebagai sebuah keluarga. Seperti sedia kala.”

Jumat, 16 Desember 2011

KONSELING (KASUS)

Deskripsi Kasus

Ernawati, seorang wanita berusia 34 tahun yang merupakan anak ke-dua dari sebelas bersaudara bertempat tinggal di daerah Ciampea, Bogor. Klien memiliki masalah dalam hidupnya. Ia menikah tergolong muda, saat usianya 18 tahun, klien menikah dengan seorang pria asal Tasikmalaya yang bekerja sebagai supir angkot. Perbedaan usia antara suami klien dan klien adalah lima tahun. Suami klien lebih tua lima tahun dari klien. Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, klien mengaku seringkali menghadapi masalah-masalah. Suami klien jarang pulang ke rumah dan kurang bertanggungjawab, terutama dalam hal memberi nafkah untuk keluarga. Klien menyatakan bahwa suaminya pernah tidak pulang dalam waktu sebulan, dan saat kembali, suami klien tidak membawa uang sepeserpun untuk keperluan anak dan keluarga. Ketidakpedulian suami klien membuat klien harus berpikir keras bagaimana membiayai keperluan anak-anaknya dan menghidupi keluarga. Dari situ, mulailah klien berjualan rempeyek dan keripik singkong. Saat klien memiliki anak kedua, klien mengalami kecelakaan. Akibat kecelakaan tersebut, klien kehilangan kakinya. Kakinya terpaksa diamputasi, oleh karena itu sehari-hari klien berjalan dengan menggunakan alat bantu, yaitu tongkat.

Ketika memiliki anak ketiga, suami klien menikah lagi. Semenjak saat itu masalah-masalah keluarga lebih sering terjadi. Suami klien sering menyakiti hati klien, selain itu ketidakpedulian suami membuat klien kesulitan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Hingga pada akhirnya klien memutuskan agar anak ketiga klien yang bernama Yudha (kelas 4 SD) diadopsi oleh orang lain. Meskipun pada awalnya klien merasa sedih dan tak rela, namun klien bersyukur karena keluarga yang mengadopsi anak klien sangat baik pada anaknya dan klien pernah mendapat kabar bahwa anaknya sangat pintar dan rajin belajar hingga mendapat peringkat tinggi di kelasnya. Kabar yang klien dengar tersebut membuatnya bahagia meski klien sedih karena harus berpisah dengan anaknya.

Suami klien meninggal karena sakit paru-paru. Klien sempat hidup menjanda selama empat tahun. Setelah empat tahun berstatus janda, pada akhirnya klien memutuskan untuk menikah lagi. Suami kedua klien berprofesi sebagai tukang bakso, berbeda dari suami pertama, suami kedua klien berbeda empat tahun dengan klien, suami klien lebih muda dari klien. Dari hasil pernikahan klien dengan suami keduanya, klien dikaruniai dua orang anak. Saat ini anak pertama klien berumur 2,5 tahun dan anak kedua berumur 1,5 tahun. Pada awalnya, sebelum menikah, saat masih dalam tahap penjajakan, calon suami klien terlihat memiliki pribadi yang sangat baik. Calon suami klien pernah mengatakan pada klien agar klien tidak perlu bekerja lagi jika telah menikah dengannya. Klien merasa sangat tersentuh dengan kebaikan hati calon suami, hingga pada akhirnya klien memutuskan untuk menikah dengan pria tersebut. Namun pada kenyataannya, saat menjalani kehidupan rumah tangga, masalah-masalah tetap berdatangan, tidak jauh berbeda dari pernikahan klien sebelumnya. Masalah-masalah rumah tangga juga seringkali terjadi. Suami klien suka bermain judi dan tidak segan-segan memukul klien. Suami klien pun jarang pulang. Selain itu klien pun mengalami himpitan ekonomi. Namun suami klien tidak peduli akan hal itu.

Suatu saat, anak klien sakit dan membutuhkan biaya lima juta rupiah. Klien mengusahakannya dengan meminjam uang ke bank dan pada tetangga. Namun suaminya tidak mengetahui, suami klien sudah tidak mempedulikan kebutuhan anak-anaknya. Pada suatu saat, klien meminta untuk diceraikan, karena sudah tak tahan lagi menanggung beban. Namun suami klien malah mengatakan perkataan yang membuat klien lebih sakit hati lagi. Suami klien mengatakan bahwa meskipun diceraikan, tak aka nada yang mau lagi dengan klien. Klien merasa sangat sakit hati atas apa yang suaminya perbuat. Masalah-masalah yang berdatangan membuat klien tertekan dan depresi. Namun klien tetap akan melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya, dan untuk menjadikan kehidupannya lebih baik lagi. Ia mengetahui bahwa masih ada yang memberikan dukungan padanya. Klien pun percaya pada kekuatan doa.

Rencana Konseling

Tahapan Psikologi Konseling

Proses Konseling :

a. Analisis : Tahapan kegiatan yang terdiri dari pengumpulan informasi dan data mengenai klien. Pada kasus di atas, sebelum dilakukan konseling, konselor mengumpulkan informasi dan data mengenai klien (identitas diri, potensi, bakat, minat klien, karakteristik keluarga, besar keluarga).

b. Sintesis : Langkah untuk merangkum dan mengatur data dari hasil analisis yang sedemikian rupa sehingga menunjukan bakat klien, kelemahan, kekuatan, dan kemampuan penyesuaian diri.

c. Diagnosis : Menemukan ketetapan dan pola yang dapat mengarahkan kepada permasalahan, sebab-sebabnya, serta sifat-sifat klien yang relevan dan berpengaruh pada penyesuaian diri.

d. Konseling : Membantu klien untuk menemukan sumber diri sendiri maupun sumber di luar dirinya, baik di lembaga atau di sekolah dan masyarakat dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal, sesuai dengan kemampuannya.

e. Tindak lanjut : Mencakup bantuan kepada klien dalam menghadapi masalah baru.

Tahapan Psikologi Konseling :

Merupakan suatu cara dalam proses konseling untuk membagi langkah-langkah konseling dengan beberapa tahapan. Dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:

1. Tahapan awal :

Menciptakan hubungan baik dengan klien agar klien dapat terlibat langsung dalam proses konseling. Pada tahapan ini konselor memberikan arah konseling secara tepat, persamaan persepsi tentang hakikat konseling, peran konselor, dan peran klien. Dua langkah yang perlu diperhatikan pada tahapan ini ialah pembinaan hubungan baik dan penetapan batasan konseling.

2. Tahapan inti :

Pada tahapan ini konselor membantu klien memahami gambaran dirinya, hakikat masalah yang dihadapinya, penyebab, dan penemuan alternatif pemecahan masalah, serta cara-cara melaksanakan alternatif tersebut.

- Eksplorasi Kondisi Klien : bagaimana konselor mengkondisikan keadaan klien dalam konseling atau berusaha mengadakan perubahan pada tingkah laku dan perasaan klien.

- Identifikasi masalah dan penyebabnya : mengadakan pendataan masalah dan mencari tahu latar belakang terjadinya masalah.

- Identifikasi Alternatif pemecahan : Memberikan beberapa pilihan penyelesaian masalah

- Pengujian dan penetapan alternatif pemecahan : meminta klien dari pilihan pemecahan tersebut untuk dapat melakukan atau mengerjakannya.

- Evaluasi alternatif Pemecahan : meninjau kembali pengujian alternatif pemecahan masalah serta hasil dari pemecahan masalahnya.

3. Tahapan akhir :

Dilaksanakan dengan maksud untuk mengadakan penilaian terhadap keefektifan proses bantuan konseling dan penentuan kegiatan tindak lanjutan.

Rencana Konseling

Pt.

Aktivitas Konseling

Tujuan

Materi/Perincian Kegiatan

Output dan

Waktu

Tahapan Awal

1.

Perkenalan

Menciptakan hubungan baik dengan klien agar klien dapat terlibat langsung dalam proses konseling

Memperkenalkan diri, mengumpulkan data atau informasi tentang diri klien dan lingkungannya. (karakteristik individu dan keluarga)

Konselor mengenal lebih dalam tentang diri klien dan lingkungannya. (45 menit)

Tahapan Inti

2.

-Eksplorasi kondisi Klien

-Identifikasi masalah dan penyebabnya

Mengadakan pendataan masalah dan mencari tahu latar belakang terjadinya masalah.

Konselor mengeksplorasi kondisi klien melalui wawancara tentang masalah keluarga, klien. Konselor mendengarkan klien bercerita tentang masalah-masalahnya. Biarkan klien mencurahkan segala isi hati.

Kejelasan masalah dan pemahaman latar belakang terjadinya masalah.

(60 menit)

3.

-Identifikasi Alternatif pemecahan

-Penetapan pemecahan masalah

Meminta klien melakukan penetapan pemecahan masalah yang disarankan konselor

Konselor memberikan beberapa pilihan penyelesaian masalah. Meminta klien bersedia untuk memilih dan melakukan penetapan pemecahan masalah.

Keyakinan klien akan teratasinya masalah dengan melakukan penetapan pemecahan masalah. Timbul harapan dan rasa percaya diri dalam diri klien.

(60 menit)

4

Evaluasi Pemecahan masalah

Meninjau kembali pengujian pemecahan masalah serta hasil dari pemecahan masalahnya.

Konselor bertanya hasil dari pemecahan masalah yang telah klien lakukan. Apakah masalah-masalah itu berkurang, teratasi secara keseluruhan atau tidak berpengaruh sama sekali.

Perubahan dari diri klien ke arah yang lebih baik dalam menghadapi masalah

(45 menit)

Tahapan Akhir

5.

Tindak Lanjut

Dilaksanakan dengan maksud untuk mengadakan penilaian terhadap keefektifan proses bantuan konseling dan penentuan kegiatan tindak lanjutan.

Masih dalam cakupan evaluasi pemecahan masalah yang telah dilakukan. Jika masih belum berpengaruh, maka perlu ditindak lanjuti dan melakukan pemecahan alternatif lainnya. Dengan demikian perlu adanya tindak lanjut. Juga untuk mencegah timbulnya masalah baru.

Kebijaksanaan klien dalam memilih alternatif pemecahan yang paling baik. Klien menjadi lebih percaya diri mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, dan mencegah terjadinya masalah-masalah baru.

*ket : Pt = Pertemuan

Pembahasan

Dari kasus bimbingan konseling di atas, dapat disimpulkan bahwa bidang konseling yang dilakukan ialah bidang klinik yaitu untuk membantu individu mengenalkan masalah yang dihadapi dan menyelesaikannya sesuai potensi yang ada pada dirinya, misalnya masalah pribadi dan depresi. Fungsi konseling yang terlihat pada kasus di atas ialah fungsi kuaratif, yaitu konseling membantu masalah yang dihadapi klien. Klien dimotivasi untuk mengetahui potensi yang dimilikinya. Fungsi preventif pun terlihat dalam kasus ini, yakni konselor tidak hanya berusaha mengatasi masalah yang terjadi, tetapi juga menjaga jangan sampai masalah bertambah.

Tipe konseling yang dapat dilihat dari proses bimbingan konseling di atas ialah Tipe Konseling Krisis. Krisis ialah suatu keadaan gangguan dalam upaya mencapai tujuan penting hidupnya dan hal itu ditanggapi dengan stress, hal tersebut dapat menghambat atau melumpuhkan dalam mengontrol diri secara sadar. Fungsi konselor dalam hal ini ialah menciptakan keseimbangan pribadi dan penguasaan diri dengan cara intervensi langsung atau campur tangan serta dukungan yang tinggi. Sedangkan menurut teorinya, teknik konseling jenis tersebut termasuk ke dalam Konseling ‘Trait and factor’. Konsep utama yang menjadi landasan teori ini ialah kepribadian merupakan suatu sistem sifat atau faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya, seperti kecakapan, minat, sikap, dan tempramen. Konseling sifat dan faktor berasumsi bahwa individu berusaha untuk menggunakan pemahaman diri dan pengetahuan kecakapan dirinya sebagai dasar bagi pengembangan potensinya. Maksud konseling ini ialah untuk membantu perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia. Tugas konseling sifat dan faktor adalah membantu individu dalam memperoleh kemajuan dan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri.

Pada kasus klien yang telah dijabarkan di atas, saat tahapan inti, konselor memberikan alternatif-alternatif pemecahan masalah yang akan dipilih oleh klien. Pada kasus konseling krisis ini, klien butuh diberi motivasi dan dukungan agar klien merasa tidak menghadapi masalahnya seorang diri. Konselor meyakinkan klien bahwa masih banyak yang bisa dilakukan klien agar tidak terfokus pada kesedihan dan depresi dalam menghadapi masalah. Konselor meyakinkan klien untuk terus mengembangkan bakat potensial yang ada pada diri klien. Misalnya, pada kasus di atas, dengan keahlian yang dimiliki klien dalam berdagang dan membuat makanan-makanan untuk dijual, maka klien dapat menambah penghasilannya. Beri dukungan pada klien agar tidak putus asa dalam berjuang membesarkan anak-anaknya dan untuk mengembangkan potensinya. Beri sanjungan dan hibur dengan perkataan-perkataan yang dapat meyakinkan klien bahwa klien ialah orang yang kuat dan tegar, yakinkan bahwa masalah yang dihadapi manusia tidak akan melampaui kemampuan manusia itu sendiri. Karena Tuhan lebih mengetahui kondisi hamba-hamba-Nya.

Masalah keluarga yang dihadapi klien mungkin dikarenakan kurangnya komunikasi yang efektif antara anggota keluarga, terutama dalam kasus ini antara suami-isteri. Komunikasi yang tidak baik dapat menimbulkan kesalahfahaman. Sarankan kepada klien untuk mengajak suami berbicara dari hati ke hati, hingga klien tahu apa keinginan suami, dan suami tahu apa yang diinginkan klien. Saling introspeksi diri, bicarakan pula masa depan anak-anak. Hindari prasangka-prasangka buruk dan perasaan saling curiga. Karena komunikasi dalam keluarga ialah hal yang penting untuk membina keharmonisan dalam rumah tangga. Namun, jika cara itu tidak dapat ditempuh, sarankan untuk melakukan mediasi. Melibatkan pihak ke-3, misalnya ibu dari suami, atau saudara dari klien yang dapat memberikan pengertian kepada masing-masing pihak yang bermasalah agar dapat menciptakan rasa saling pengertian satu sama lain. Bercerai adalah alternatif pilihan yang paling akhir jika sudah tidak bisa lagi diatasi dengan cara-cara sebelumnya.