Tampilkan postingan dengan label Cinta Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Mei 2013

THE PHILOSOPHER GIFT



Hadiah terindah adalah ketika kita bisa bertemu dengan sahabat-sahabat yang dengannya, kita bisa merasa menjadi diri sendiri, apa adanya. Yang bersamanya, kita dapat merasa lebih baik. Dan peribahasa Teman adalah cerminan diri kita tidaklah sempurna salah, juga tidak sempurna benar. Karena jika kita bercermin di sebuah kaca utuh sempurna, mungkin memang tak akan terjadi kemiripan yang berarti, sekalipun kau berteman dengan seorang artis, lantas wajahmu akan ikut berubah seperti artis tersebut. Tidak begitu....

Tapi, ketika kau melihat dirimu ke arah batin. Ada jiwa sahabatmu di situ, bercampur bersama rasa sedih, kecewa, dan bahagia…

Penelitian ilmiah membuktikan bahwa ada kaitan siklus menstruasi yang mirip antara dua atau beberapa orang wanita yang menjalin persahabatan dekat. Memiliki emosi yang sama. Berbagi suka, duka, dan empatilah yang konon menjadi penyebabnya. Sehingga tak heran jika seringkali beberapa grup wanita berkumpul dan mereka kompak sedang berhalangan.

Bahkan, tubuh pun bereaksi. Serupa. Jika kita memiliki ikatan batin dengan seseorang, mungkin reaksi-reaksi kimiawi dalam diri kita mengikuti jalannya suasana. Karena meskipun terpisah-pisah… antara perasaan, organ-organ, ruh, dan jiwa… Namun semua itu merupakan suatu kesatuan yang kompak melaju beriringan mengikuti jalannya kendali hati dan pikiran. Hingga menjadi magnet dan pengaruh yang kuat pada lingkungan yang lebih makro. Yaitu : Lingkungan hidup. *Ekologi banget*

Sama halnya seperti ketiga benda yang saya sertakan ini… Tiga benda yang mungkin tak pernah terpikirkan apa… ketika orang-orang melihatnya. Tiga benda yang mungkin bukan merupakan suatu kesatuan. Berdiri sendiri, terpisah-pisah tanpa tali makna yang mengikat ketiganya.

Suatu hari, saya berkunjung ke kediaman seorang sahabat. Sebut saja dia B. *Saya memilih huruf secara Random. Bukan berarti nama dia berawalan ataupun berakhiran huruf B. Intinya, B adalah salah satu partner in crime saya yang sepertinya telah menguasai ilmu kebal. Karena telah berhasil berjuang melewati ‘lorong misteri’ dalam waktu yang cukup lama tanpa melambaikan tangan kepada kamera. 

Ketika saya melakukan aksi kerusuhan di ruangannya, saat itu pula B memperlihatkan sesuatu pada saya. Suatu kardus sepatu. Lalu ia pun berkata-kata diiringi angin sepoi-sepoi yang entah datang dari daerah mana. “Aku punya sesuatu untukmu.” (*ket : bahasa diperhalus biar terkesan romantis) #karena sebenarnya tidak begitu.

Saya : “Apa?” (jelas saya curiga… karena itu kardus yang dipegang B adalah pasti kardus yang dia pakai untuk mewadahi ‘sesuatu’ yang entahlah apaan itu)

B : “Tapi belum gw bungkus… hahaha…” (*ket : lebih nyaman menggunakan bahasa kami sesungguhnya ternyata) #lebih... Apa adanya, lebih Realita. :D

Saya : “Apaan sih itu?”

B : “Ini buat elu… ntar yak gw bungkus dulu.”

Baru kali ini, sekali seumur hidup…menemukan orang yang membungkus kado di hadapan si target penerima.

Saya : “ebuseeet… haha…  udah gitu aja cuy… gak apa2 gak dibungkus jg, orang gw’nya di sini ini.”

Tapi B tetap membungkusnya dengan kertas kado gambar bunga-bunga, selihai ia melipat baju-bajunya di lemari yang amat sangat rapi tertata.

Sungguh ini sepertinya belum pernah dialami oleh orang manapun di bumi. Diberi hadiah yang proses pembungkusannya terlihat olehnya sendiri. Dan itu ternyata sungguh dramatis. Karena pas sampai rumah pun saya jadi tidak tega membuka sampul kadonya. Karena saya tau tahap demi tahap prosess pembungkusan kardus itu.

Tapi berhubung bagaimanapun juga, dia harus dibuka. Akhirnya saya buka secara perlahan-lahan penuh perasaan. Ternyata, terlihat tiga benda nangkring indah di dalam bekas kotak sepatu Cinderella itu. Tiga benda dengan jenis dan warna yang berbeda-beda satu sama lainnya.

Dan yang paling menarik perhatian pertama kali adalah mouse berwarna biru… B tau kalau saya kurang suka menggunakan touchpad laptop. Saya lebih suka menggunakan mouse. *sebenarnya ini aib, hoho... Japra banget*

Keunikan lain pada mouse itu adalah pada warna… Mengapa B memilih warna biru--di antara sekian banyak warna yang dia bisa pilih untuk warna mouse! Apa karena sekarang pagar gigi behel saya berwarna biru? Atau karena dia suka menonton film biru? *ups* 

Ya, tapi tak masalah, toh memang sebenarnya dari dulu saya suka warna apapun yang soft but strong… Included Blue. 

Tapi semenjak…. Semenjakk… Semenjaaakk….Hmmm… Yahh… *entahlah… saya harus menulis apa pada bagian itu. Tapi intinya, semenjak ‘itu’ saya jadi semakin suka. ^.^v

Lanjut benda ke-2....

Benda ke-2 adalah sebuah tas unik dengan warna yang menyegarkan mata. Warna yang sering diperdebatkan oleh banyak kalangan masyarakat. “Itu Pink!” “Itu Ungu!” “Ahh… Pokoknya Pink!” “Gakkk! Sekali ungu ya tetep Ungu!” “Pecahkan saja tas itu, Biar ramai!”, “Prankkk!!!” dan akhirnya si Ungu dan si Pink pun bercerai.

Pokoknya… Warna yang sebenarnya adalah gradasi antara beberapa padanan warna ini sering memicu perdebatan di kalangan masyarakat, warna ini... tak dapat diungkapkan dengan sebuah nama atau beberapa warna utama. Namun hanya bisa dijelaskan dengan satu kata. 

Magenta.

It means Gentle and Faithful

Saya selalu suka warna ini. Entah kenapa B sangat tau… Seleraku. ^_^ *iklan mie instan*

Benda ke-3 ialah bross berbentuk ‘Love’ berwarna putih. Warna putih melambangkan kesucian… tanpa noda… Tentu saja, setiap manusia mendambakan Cinta yang Suci. Cinta yang tulus dan cinta yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

...dan itu, saya artikan sebagai doa dari seorang sahabat...

Mungkin hanya itu yang bisa saya jelaskan, sederhana dan tak mendalam, karena inilah makna filosofi… terkadang, begitu sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Hanya bisa didiskusikan dalam hati sanubari. 

*dan Akhir kata… Saya ingin mengucapkan terima kasihhh pada Miss B yang sudah sangat mengejutkan saya dengan kehadiran benda-benda ini. U’re the best philosopher girl ever, Sist! Meski diam, meski tanpa kata-kata, benda-benda beranekaragam warna itu memiliki ikatan satu sama lain. Cukup jelas menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi pada hati saya saat ini. 



Senin, 18 Maret 2013

DENTAL FREAKS



Sebelumya saya pernah menulis tentang tema yang serupa, yaitu tentang hal-hal yang berkaitan dengan dunia pergigian. Dan, saat ini, (lagi-lagi) saya ingin sharing tentang follow up pasca pencabutan gigi pertama “yang tak kan pernah terlupakan itu” -___-

Entah kenapa, jika disinggung masalah pergigian, agak sedikit konyol bila mengingat-ingat peristiwa demi peristiwa yang berkaitan dengannya. Saya tau, bahwa gigi adalah alat untuk mengunyah makanan, saya juga tau gigi itu keberadaannya adalah fitrah manusia, dan meskipun demikian, ada orang yang tidak memiliki gigi lengkap seumur hidupnya. Gigi juga menjadi pembawa berkah bagi para pelawak-pelawak yang memiliki ‘kelebihan’ ataupun ‘keistimewaan’ pada giginya—yang orang lain tidak punya. Pokoknya, peran gigi itu sudah sangat multifungsi, dari hal-hal yang bersifat biologis, kronologis, sampai yang sifatnya entertaining. Hingga ada film yang judulnya Tooth Fairy, peri gigi. 

Gigi memang benar-benar anugerah Yang Maha Kuasa. 

Namun, dokter menyarankan gigi saya dicabut empat biji. Coba bayangkan, empat gigi itu bukan satu atau dua, bahkan lebih dari tiga. Betapa syiioknya saya saat itu, seperti disuruh membunuh anak sendiri rasanya. Karena semula, dokter memberitahu bahwa hanya dua gigi graham sebelah taringlah wajib dicabut untuk meratakan para gigi depan yang pada egois rebutan tempat. 

Saya rasa kalau gigi saya punya tangan, mereka akan saling cekik mencekik satu sama lain.

Tapi pada akhirnya, saya harus terima itu dengan lapang dada, legowo. Toh, pada akhirnya, kita semua akan berpisah juga. 

Saya ingat salah satu perkataan dokter saat pertama kali melihat tampang ketakutan saya. 
“Tenang aja, awal-awal takut-takut, nanti lama-lama ketagihan loh, hehehehe…” *ketawa.agak.jahat* 

Sungguh rasanya saat itu saya ingin ikut tertawa juga sebenarnya. Tapi rasanya terlalu sedih untuk mengeluarkan bunyi tawa. Saya takut bunyi tawa yang keluar dari mulut saya jadi tidak normal dan dokternya malah kabur. 

Meski sebenarnya itu yang saya harapkan. 

Setelah sesi pencabutan pertama, tiga minggu pemulihan, *lama banget* Sebenarnya saya memang lebay, hanya sugesti membayangkan masih menganganya lubang darah di bekas tempat gigi saya. Hingga membutuhkan waktu tiga minggu untuk sadar kembali bahwa masih banyak tugas saya di dunia sebagai hamba Tuhan. Bahwa hidup bukanlah melulu masalah gigi, gigi, dan gigi. Hingga saat itu saya berani cabut gigi untuk yang ke-2 kalinya, meski sisa-sisa trauma masa lampau masih menggerogoti jiwa. #tang-tang itu, paku palu itu, alat pengorek-ngorek gigi itu… ahhh… saya ingin kawin lari saja rasanya saat itu. 

Namun lagi-lagi, saya menyemangati diri sendiri, ini masalah kecil untuk dijadikan hal yang besar. Masih banyak masalah lain yang butuh energi untuk ditakuti. *ditegur Allah subhanahu wa ta'ala karena melakukan dosa, dimarahi atasan, diteriakin emak jika bangun kesiangan, dan hal-hal menyeramkan lainnya. 

Seperti biasa, saya duduk di “kursi dingin”. Saat itu AC ruangan dokter giginya dingin ajaib.. Dinginnya AC membuat saya merasa berada di dalam kulkas penyimpanan batu bara, ditambah lagi deg-degan panas dingin membayangkan sejarah trauma masa lalu berulang. Berusaha rilex. Sang dokter seperti biasa, mencoba menenangkan. Dan saya menempati kursi dingin itu. Sang dokter mendekat, sambil ngecek2 smartphone’nya… saya jadi berpikir hal yang tidak-tidak, jangan-jangan beliau meng-update status dulu sebelum nyabut gigi saya. -___-

Kali ini, masih gigi graham atas sebelah kiri yang dicabut. Suntik anestesi lokal, seperti biasa, sakit. Tapi saya menahan diri untuk tidak menjerit-jerit norak seperti saat pertama kali hal itu terjadi. Ternyata, jeritan bisa ditahan dengan menggenggam batu. Saya kira, hanya saat kebelet buang air besar saja yang bisa ditahan dengan menggenggam batu. Ternyata, sakitnya disuntik pun bisa ditahan dengan menggenggam batu sekuat tenaga. 

Kali ini, letak gigi saya miring, jadi lebih sulit dari yang pertama. Beliau terus mengajak ngobrol saya, di saat posisi mulut saya sedang calangap seperti itu, susah rasanya menjawab pertanyaan-pertanyaan beliau. Untungnya beliau bukan menginterview saya tentang pengalaman bekerja dan motivasi saya masuk perusahaan. 

Beliau hanya bertanya, “Sakit ga?”, “terlalu kenceng ya?”, “Giginya bagus gak ada lubang, suka sikat gigi ya?” (dalem hati saya menjawab dengan penuh rasa haru, “enggak pernah, Dok, gigi saya gak pernah disikat, Cuma suka diampelas).  

Akhirnya, beliau berhasil setelah sekitar 30 menit mengguncang-guncang gigi saya. Tercabut sempurna. Alhamdulillah. Namun, Setelah itu saya mengalami tremor sesaat. Dokternya agak sedikit panik. Mungkin membayangkan takut dituduh mala praktek dan dilempar koin. 

Ternyata memang letak giginya kurang strategis, sehingga diperlukan tenaga otot tanpa perasaan untuk mencabut gigi mulia tersebut. Sayang sekali, dua gigi awal tidak saya simpan sebagai kenang-kenangan, mereka hilang begitu saja setelah terlepas dari tempatnya…. Sudah selama ini bersama… Namun, mereka pergi entah ke mana. Saya yakin, mereka berdua bahagia di alamnya. Di manapun mereka berada, Tidak akan hancur, karena gigi adalah tulang terkuat yang ada pada tubuh manusia. #Baik-baik di sana ya, Nak... 

Beres sesi pencabutan gigi ke-2. ENOUGH!!! Saya merasa trauma saya memuncak, dan sudah cukup dua kali saja itu terjadi dalam hidup saya yang hanya sekali ini. Persaiton dengan planning dokter yang menyarankan saya mencabut serta dua gigi lagi di bagian bawah. 

Hingga pada akhirnya tibalah jadwal pemasangan behel rahang atas. Dan ternyata, rasanya dipakein bracket itu luar biasa pegal bibir. Calangap selama setengah jam. Belum lagi bibir ditarik-tarik ke kanan dan ke kiri, ke atas, ke depan, Arrrghhh…. Dowerr rasanya. 

Ada orang yang pernah bilang, “don’t worry girl, someday you will find someone who ruin ur lipstick, not ur mascara.” 

Finally, I found Someone who ruin my Lipstick. Huhhh… AND IT’S A DENTIS!!

#Hoho, enggak deng… untung saya tidak memakai lipstick saat itu. Saya tidak suka memakai lipstick, lebih enak makan gorengan, sama saja, terkesan memakai lipstick, namun lebih natural. 

Hmm… belum lagi ada cairan kecut-kecut asem yang ditempelin ke gigi, katanya sih itu buat melekatkan bracketnya. Trus ada sinar-sinar berwarna biru yang menyoroti gigi saya. Kayaknya semua jurus kamekameha sang dokter dikerahkan untuk menyerang gigi saya. 

Setelah itu, pemasangan karet… Beliau memperlihatkan beraneka jenis warna. Dan dengan pertimbangan saya tidak ingin terlalu terlihat menggunakan behel, dan agar warnanya tidak terlalu strong, sehingga tidak terlalu terlihat seperti tompel. Saya memilih warna yang paling pucat. Dan itu warna pink. *tenaaang, bukan pink norce… ini soft pinky. 

Dan, taraaaa…. Jadilahh… terpampang nyata sempurnaa behel ini di gigi-gigi saya…. :D

Lalu setelah itu dokter memberikan pesan-pesan. Inilah pesan-pesan dokter setelah berhasil menanamkan ‘susuk’ tersebut :: 
“Setelah ini, gak boleh makan dulu ya 2 jam, makan yang halus-halus aja, gak boleh makan yang keras-keras, kayak keripik, gorengan, bla bla blaa….” Saya tidak fokus lagi beliau berkata apa… saya tidak bisa lagi memakan gorengan…??? Itu malapetakaa… Lipstik alamikuuu…. T___T

Saya sebenarnya tidak bersedih karena itu, tapi sungguh makanan yang keras-keras itu adalah makanan favorit saya, saya kurang suka makanan-makanan yang lembek. Kurang menantang. XDD

Setelah keluar dari ruangan dokter. Ibu saya mencolek-colek saya. “eh, anterin mama ke ondangan yaa…” 

Oh tidak mama… mama yukerooo… jangan lakukan itu.” (dalem hati saya berontak). Tapi di luar saya tersenyum manis tersipu-sipu “Oke, Ma…” hikss… T___T

Bagaimana tidak, di resepsi pernikahan itu tokoh utamanya adalah makanan. #parah.banget.ini.niatnya.
Maksudnya… pasti banyak makanan yang menggiurkan menggoda iman. Yahh… tapi mau bagaimana lagi. Hidup harus terus berlanjut, sekalipun gigimu baru saja direka ulang.

Dan, sesampainya di resepsi pernikahan… 30 menit dari pemasangan behel… belum dua jam dari waktu yang ditentukan ‘tidak boleh makan’. Saya makan dengan lahapnya, apa saja yang ada di sana, sampai ke rendang-rendang, syomay, ayam, udang, cendol…. 

Dan hasilnya… Linuuuuu Luar biasa nyampe rumah. Saya mulai searching2 di gugel. Berharap menemukan manusia dengan nasib yang serupa dengan saya. Satu hari setelah pemakaian bracket itu saya hanya bisa mengunyah sebelah. Yang sebelah lagi linu gak ketulungan. Belum lagi adaptasi yang luar biasa menyiksa. Rongga mulut kegores2 akibat gesekan-gesekan si bracket manis itu. Pegel rahang pula. Sepertinya, jika gigi-gigi saya bisa berbicara, mereka akan berkata, “Lepaskan aku…. Lepaskan aku~~” Sambil menggoyang2kan diri. 

Dan hasil searching di gugel serta konsultasi berjam-jam dengan kakak dan teman saya yang sedang co ass gigi. Ternyata kelinuan yang terjadi ialah hal yang lumrah adanya. Memang seperti itu, sabar saja, masih adaptasi. Dan benar ternyata… Beberapa hari kemudian saya sudah kembali bersinar dan berpijak seperti dulu kalaa… ^^

Bahkan belum sampai seminggu, saya memutuskan untuk cabut gigi lagi. Yang bawah. #Cabut gigi itu candu juga ternyata. -___- gak mau gak mau lagi, tapi akhirnya mah mau lagi. Bener kata si Pak Dokter, awalnya takut-takut, lama-lama ketagihan. *___*

Seperti biasa, ritual-ritual ‘kursi dingin terjadi lagi’, seperti de Javu. Dan saat dokter mengguncang2 gigi saya. Saya kira akan lama seperti pengalaman yang sudah-sudah, bahkan saya berniat untuk tidur selagi dokter mencabut nyawa gigi saya. Tapi ternyata, tak sampai 1 menit, gigi itu terlepas sempurna hingga ke akar-akarnya. Cepat sekali, tak terasa…

Kali ini, saya meminta gigi saya kembali. Saat gigi itu diberikan pada saya, saya terkejut… ternyata gigi saya akarnya panjang sekali, dan bersih… :D wahh… Gigi yang sehat, putih, dan cerdas. 

Saya menatapnya dengan penuh rasa haru, saya berjanji akan merawat dan menyapihnya dengan sepenuh hati segenap jiwa raga. 
*Lohhh??! #abaikan.

Dan anehnya, setelah sampai rumah, yang biasanya setelah baal habis, linu menyerang. Ini sama sekali gak linu. Dua gigi sebelumnya membutuhkan 2 minggu pemulihan baru bisa mengunyah dua sisi. Tapi saat ini, saya sudah bisa mengunyah dua sisi dengan kondisi memakai behel, benar-benar cepatt pemulihannya, bahkan antibiotik dan obat penahan rasa sakit yang harus diminum pun tidak saya minum. Ini aneh saya rasa, 2 gigi sebelumnya pasca dicabut itu sampe stress karena sakitnya luar biasa, tapi kali ini benar-benar tidak sakit sama sekali. 

Aneh, tapi apa memang bisa seperti itu?! 

Naluri mistik saya pun mencuat ke permukaan, ditambah persetujuan ibu saya, mungkin karena saya kini membawa serta gigi saya. Kalau yang waktu itu kan gak dibawa, dibuang langsung di tempat dokternya. Jadi giginya pundung… #sakit hati. -___-  Jika dia adalah sutradara, mungkin dia akan membuat sinetron yang berjudul “Gigi yang Terbuang”. 

Mitosnya sih seperti itu, setelah dicabut, supaya nggak sakit, giginya harus dibawa. Jangan dibuang. Trus ada lagi mitos jika gigi atas yang dicabut, harus dibuang ke bawah, kalau yang bawah harus dibuang ke genteng. *makin aneh*

Tapi, saya segera menyingkirkan pikiran2 mistis itu, lalu bertaubat dan berbaik sangka pada alam. Mungkin karena ini gigi rahang bawah, jadi tidak terlalu sakit jika dicabut, lagipula proses pencabutannya pun mudah, tak perlu digoyang-goyang dan ditusuk-tusuk terlalu lama seperti sebelum-sebelumnya. 

Sejauh ini, proses terapi ortho berjalan lancar… Alhamdulillah….

Yahh… begitulah kiranya kisah follow up yang berawal dari Dental Fear dan kini menjadi Dental Freaks.

Mungkin serupa dengan Proses hidup yang kita jalani. Semua proses hidup itu bertahap, mungkin di awal, kita tidak menyukai suatu hal sama sekali. Kita ingin segera kabur dari sebuah situasi yang tak membuat kita nyaman. Tapi coba hadapi dulu pelan-pelan, dengan tenang, sabar, dan ikhlas. 

Insya Allah, semua akan berjalan lebih baik, lebih terarah, lebih terbiasa, karena kita telah terlatih untuk menangani rasa takut kita. Hingga suatu saat, kita bisa mulai mencintai apa yang sedang kita jalani dan bersiap untuk menghadapi apa yang akan kita jalani di kemudian hari. 



Minggu, 26 Februari 2012

KIBLAT VS LACRYMOSA

Punya Idola?

Punya artis Favorit?

Punya penyanyi favorit?

Punya grup band favorit?

Punya penulis favorit?

Punya warna favorit?

Punya style favorit?

Punya makanan dan minuman Favorit?

Pasti semua orang punya jawaban masing-masing dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sesuai selera. Sesuai juga dengan identitas mereka, sebagai umat muslim, jelas, tak usah ditanya lagi, bahwa kita pasti mengidolakan Nabi Muhammad sebagai panutan, style kita tetap dengan hijab, sebagai muslimah yang seutuhnya.

Kita pun punya idealisme sendiri-sendiri mengenai siapa penulis favorit kita. Ada yang mengidolakan tulisan seorang Atheis, padahal dia bukan seorang Atheis. Ada yang mengaku berkiblat pada salah satu grup band tertentu. Saya punya teman, ia singer sebuah band, dan dia mengaku terinspirasi dari grup band Paramore, grup band asal Amerika. Saya juga punya teman seorang Otaku. Otaku adalah orang-orang yang gemar banget sama hal-hal berbau jepang, doramanya, style’nya, band-band’nya, gamesnya, dll. Ada juga yang Korean lover… Sampai mereka berusaha belajar bahasa-bahasa Negara idola mereka. Sampai mereka memajang foto-foto artis kesayangan mereka sebagai wallpaper hp, PC, dll. Bahkan, ikal pun sampai memajang poster H. Rhoma Irama di kamarnya.

Sebenarnya saya tidak berhak berpendapat mengenai ini. Tapi kadang saya juga sebel lihat orang yang menangis gara-gara gak kebagian tiket konser, misalnya pas Justin Bieber ke Indonesia. Ada yang nangis lebay banget.

Pernah ada seseorang yang tanya, “Win, lu berkiblat pada apa sih?” saya kaget banget denger pertanyaan teman saya itu. Ya saya jawab spontan tanpa mikir, “Ka’bah lahh…” Wong setiap sholat saya menghadap kiblat yang patokannya adalah Ka’bah.

Ternyata maksud beliau di situ ialah perluasan makna dari kata ‘kiblat’. Maksud dia disini ialah style, khususnya gaya menulis. Maksud beliau adalah ‘terinspirasi dari siapa?’. Jika dijawab, saya juga bingung, coz saya tidak merasa ber’kiblat’ pada siapa2 dalam menulis. Saya merasa kadang malah gaya menulis saya tidak konsisten. Kadang romatis mellow, kadang sembrono, kadang tertata, kadang ngotot, kadang sinis. Dalam menulis, saya hanya berkiblat pada suara hati aja.

“Penulis harus punya idealisme” kata salah satu teman seperguruan saya. Jujur, kadang saya—kalau dikatakan penulis, saya bukan penulis yang punya idealisme. Saya mau nulis apa aja sebenernya klo diminta. Tapi dipikir-pikir, menulis yang tidak bermanfaat hanya membuang-buang waktu. Jadi, mulai saat ini saya ingin belajar menulis mengikuti jalur yang benar saja. Meski gak terlalu bener-bener amat, tapi setidaknya, ‘Mencoba untuk tetap berada di jalan yang benar’.

Teman saya itu akhirnya mengerti dan bertanya lagi, “Kamu tuh kenapa suka nulis yang horror-horror sih?”

Saya jadi inget penulis idola saya dulu… hehe, saya jadi sadar, memang tulisan-tulisan saya dipengaruhi gaya tulisannya RL. Stine. Gak usah lah ya, saya jelasin lagi siapakah dia. Yang jelas, dia gak kalah ngetop sama Einstein… hehe…

Begitu besar pengaruh karya seseorang pada karya-karya generasi berikutnya.

Seperti perlunya tinjauan pustaka dalam mengerjakan laporan ilmiah. Kita pun perlu referensi dalam menulis ‘apapun’. Untuk belajar banyak mengenai pengalaman. Untuk belajar lebih banyak mengenai kesempatan.

Semenjak saya mengikuti buku-buku RL. Stine, dari SD saya sudah sangat suka hal-hal berbau horror. Hingga SMP saya melihat suatu video klip yang membuat saya terkagum-kagum, karena saya membayangkan cerita-cerita Horror RL. Stine memiliki soundtrack dan view seperti di video klip itu. Video klip itu bernuansa Horror, dengan scenery yang sangat dark, make up penyanyinya udah kayak hantu apaan tau, main piano, rambut panjang, pake baju perpaduan merah-hitam, trus nurunin tangga perlahan sambil nyanyi dengan tatapan penuh kehorroran, terus abis itu nginjek-nginjek meja makan. Maksudnya, berjalan di atas meja makan dengan anggunnya—tetap dengan wajah pengen makan orang.

Judul lagu itu adalah Call Me When You’re Sober, yang dinyanyikan vokalis wanita bersuara sangat powerfull, mezzo soprano type, dengan lead vocal : Amy Lee. Dari situ saya mendadak suka dengan lagu-lagu dari grup band asal Arkansas, Amerika Serikat itu. Apalagi saat keluar lagu-lagu lainnya kayak Bring Me to Life dan Going Under. Selain Poppy Mercury, saya pun jadi sangat suka Evanescence berkat lagu-lagunya yang cocok dengan khayalan saya tentang kisah-kisahnya RL. Stine.

Tidak hanya tulisan, yang tadinya saya suka warna-warna unyu seperti orange, kuning, pink, dan warna-warna lain yang ‘cewe banget’, mulai dari situ saya jadi menyukai warna-warna soft and dark, tapi berani, kayak hitam, putih, deep purple, dan merah. Dan saya pun merasa berubah menjadi orang yang lebih bijaksana dari sebelumnya. Yang waktu SD nakal, suka banget sama yang namanya ngejailin temen, sampai merosotin celana-celana anak tak bersalah, hingga jadi lebih rada kaleman dikit.

Saya bertaubat setelah saya mengetahui siapa diri saya sebenaarnya, saya bertaubat atas kenakalan-kenakalan yang dilakukan di masa lampau, atas keegoisan, atas kedengkian, atas kemarahan pada orang lain. Dan mulai saat itu saya lebih sering berbicara di dalam hati saja. Menekan segala keinginan, dan mulai mengasihani diri sendiri. Pelampiasan masa kanak-kanak yang nakal, transisi menuju remaja awal. Dan saya mulai mendengarkan lagi musik-musik gloomy yang universal.

Dibandingkan musik-musik dalam negeri. Lirik-lirik lagu dari band yang saya sukai lebih universal. Bagi anak SMP macam saya lebih baik mendengarkan lagu-lagu yang liriknya tidak saya mengerti sepenuhnya daripada mendengarkan lagu-lagu Indonesia tentang cinta-cintaan yang tidak universal. Maksudnya, kenapa mayoritas lagu-lagu di Negara ini berbicara tentang cinta tentang ‘lawan jenis’ melulu. Gak semua orang pernah pacaran kan? Gak semua orang pernah ngalamin seperti apa yang dijabarkan dalam lirik!

Lagu-lagu Indonesia yang bagus itu menurut saya seperti lagunya Chrisye :: damai bersamaMu, ketika tangan dan Kaki bicara, lagu2 religi yang berkisah tentang persahabatan, cinta pada Tuhan, dan kepedulian, saya selalu suka.

Saya baru mengetahui arti lirik-lirik lagu evanescence saat masuk bangku kuliah. Saya baru lumayan mengerti dengan bahasa Inggris. Ketika dulu saya hanya mempedulikan view gothic’nya yang sesuai dengan khayalan saya. Kini saya mulai mencari arti di balik lirik-lirik yang mereka sertakan dalam lagu. Dan itu sangat membuat saya lebih kritis lagi, karena ternyata, lirik-liriknya pun susah diartikan. Seperti halnya puisi, (kata orang) semakin sulit diartikan puisi itu, maka semakin bagus. Ada makna tersembunyi di balik semua itu. Maka setelah kita mengetahui maknanya, kita akan terkagum-kagum. Dan saat ini saya telah mengerti apa maksud dari beberapa lagu hits mereka.

Mereka identik dengan kehorroran. Bahkan teman KKP saya sering protes jika saya menyetel lagu-lagu itu, karena dia ketakutan. Padahal, saya juga sebenarnya penakut. Yahh, namanya juga usaha, untuk mengatasi rasa takut, jadilah menakutkan… hihi…

Tapi, setelah mencari tahu kehidupan para personilnya, saya penasaran, kenapa mereka selalu mengkonsep musik-musik seperti itu? Dan ternyata setelah cari-cari tau, mereka itu tidaklah seperti apa yang kita anggap. Mereka itu tidaklah seperti suketi yang punggungnya bolong. Mereka itu justru sangaaat-sangat sanguinis dan ramah. Kehidupan mereka sama sekali tidak mengerikan apalagi psikopat.

Di balik lirik dan gambar Lacrymosa (horror n tearful) mereka, mereka adalah tipe-tipe manusia yang ceria dan friendly. Bagaimana saya bisa tau? Saya cari tau, dan saya mengamati, karena saya akui bahwa saya adalah salah satu fans mereka. Dan saya pun bercermin pada diri saya sendiri. Meski tulisan-tulisan saya horror-horror, meskipun banyak status-status atau postingan-postingan saya yang mengerikan dan terkesan Gloomy.

Saya tidaklah seperti apa yang saya tuliskan…

Saya tidaklah seperti itu…

Itu hanyalah 'Konsep' yang saya sukai. Menyukai bukan berarti ingin mengikuti segala-galanya. Saya bukanlah seorang fanatik. Saya hanya menyukai ketulusan yang bersahaja. Saya hanya...terinspirasi… ^^

Namun tetap,

Tuhan saya Tetap Allah SWT.

Saya bersaksi Bahwa Muhammad adalah utusan Allah,

Dan, Kiblat saya… Tetap Ka’bah.


Sumber Gambar : evanescence fanpage (asian tour)

Selasa, 21 Februari 2012

LIFE DEADLINE

I envy you so much,

You have extinguish light window,

Today I hesitated,

My body hesitated,

I felt uncomfortable and without a word turned and come back…

-Shin Ji Hyun-


Terlepas dari keberadaan Surga dan Neraka. Terlepas dari pengetahuan manusia tentang batas takdir antara hidup dan mati. Jika kita mengetahui kapan kita akan mati, dan menemukan sebuah pesan hidup yang perlu dilakukan sebelum kita mati. Apa yang akan kita lakukan? Akankah kita masih sanggup bersikap munafik terhadap diri sendiri dan orang lain? Apa justru kita akan berusaha jujur meskipun menyakitkan dan melakukan berbagaimacam kebaikan dengan penuh ketulusan yang bisa kita persembahkan untuk yang terakhir kalinya, karena kita tahu, kapan kita akan mati.

Ada sebuah kisah yang membuat hati dan pikiran saya terpukul-pukul berkali-kali. Seperti jika sedang membangunkan orang dari tidur panjang dan ketidaksadaran. Jika kita melihat seseorang masih saja tidur di pagi hari, meski langit telah terang benderang. Akankah kita membiarkan seseorang melewatkan rezekinya? Bagi orang yang bijaksana, mungkin ia akan menyadarkan yang tertidur, dengan pukulan-pukulan kecil yang membuat orang itu sadar dan terbangun. Agar tak melewatkan ibadah yang berharga di subuh hari. Agar tidak menelantarkan rezeki di pagi hari.

Itu yang saya rasakan saat menyaksikan suatu kisah yang saya saksikan beberapa hari yang lalu. Dan saya merasa jadi orang tidur yang dipukul-pukul supaya sadar dan bangun. Banyak hikmah yang bisa didapatkan dari kisah tersebut. Terlepas dari masalah kepercayaan yang tak masuk akal, terlepas dari hal-hal gaib yang mustahil terjadi. Seperti halnya dongeng-dongeng fabel yang mengajak anak berkhayal bahwa gajah dan jerapah bisa berbicara, meski mustahil, namun sarat akan makna.

Selama menyaksikan kisah itu, seolah saya diajak mengkhayal bersama, dan masuk ke dalam sebuah kisah fantasi. Saya merasa menjadi seorang pengamat dan pengkhayat yang bisa mengetahui isi hati siapapun dalam kisah itu.

Bayangkan, ketika ada seseorang yang dengan mudahnya ingin mengakhiri hidup. Ketika seseorang begitu ingin meninggalkan dunia tempat ia berpijak karena sudah sangat putus asa. Di sisi lain, ada seseorang yang berjuang demi hidupnya. Demi memperoleh menit-menit berharga yang bisa ia bayar dengan air mata ketulusan, untuk kembali menghirup gas oksigen bebas di udara yang bisa didapatkan secara gratis.

Ketika kita dilanda depresi dan tak semangat menjalani hidup. Ketika kita kehilangan sesuatu yang berharga dan tak mendapati gairah hidup yang nyata, lantas kita menganiaya diri sendiri, mengasihani diri sendiri. Hingga hidup dalam kegelapan. Ketidakberartian. Sungguh meskipun secara fisik kita masih Hidup. Namun Jiwa kita telah lama Mati.

Dan di sisi lain, ada sesosok jiwa yang berkelana, dulu ia bahagia menjalani hidupnya, kini di tengah ketidakberdayaan ia mencari celah-celah kehidupan dari doa-doa dan air mata yang seratus persen tulus dari orang-orang tercinta. Ada sesosok jiwa yang raganya telah dinyatakan mati. Namun, ruhnya masih terus bergentayangan, mengembara, menunggu keajaiban, mukjizat yang diberikan Tuhan melalui doa-doa para hamba yang tak hanya Meratap Iba. Tetapi hamba-hamba yang berdoa dengan ketulusan jiwa, Sepenuh Hati dan tak ada sedikitpun niat yang bertolakbelakang dari jalan kebaikan.

Ketika kita dilanda perasaan sedih yang berkelanjutan, hingga air mata pun tak dapat menetes lagi, hingga hanya pandangan mata kekosongan yang kita lihat saat menonton acara komedi sekalipun. Saat yang kita ingin makan saat itu adalah racun pembunuh serangga. Ingatlah, bahwa, di luar sana, banyak orang-orang telah mati secara fisik, namun jiwanya masih ingin menjalani hidupnya dengan semangat.

Apa yang akan dikatakan ruh yang berkelana itu jika berhadapan dengan kita? Mungkin ia akan memaki-maki kita, “Kamu harusnya bersyukur! Aku iri padamu… Suaramu masih bisa terdengar oleh orang-orang, kamu masih bisa terlihat! Kamu masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Lalu kenapa kamu seolah tak bersyukur? Kenapa kamu menjalani hidup seperti ini? Hidup dalam kegelapan dan kekosongan?! Tidakkah kamu ingin hidupmu berharga? Selagi masih ada kesempatan! Janganlah menjadi orang yang merugi!”

Jujur, saya sangat tersindir dengan makna-makna yang terjabar dalam kisah itu. Meskipun bersifat fantasi, namun banyak hal yang menyadarkan saya.

Juga ketika ruh tersebut menjalani 49 days travel menjelajahi hidupnya dalam tubuh orang lain.

Bayangkan, seandainya ragamu terbaring kaku di ranjang rumah sakit dan dokter telah menyatakanmu mati secara medis. Sedangkan ruhmu berada di samping jasadmu. Kau temukan orang-orang tersayang menangis di samping ranjangmu.

Ayah, ibu, saudara, sahabat, dan semua orang yang mengenalmu dengan baik…

Namun, apakah tangisan mereka adalah benar-benar Tangisan Ketulusan?

Ketika ruh kita diberi kesempatan hidup kembali, dengan syarat mencari 3 tetes air mata orang-orang yang tidak berhubungan darah dengan kita. Kita harus mencari tetesan air mata yang seratus persen tulus. Akankah kita mengetahui bahwa tidak semua orang seperti apa yang terlihat di luar.

Ketika ruh kita senang dan sangat percaya kita mampu mendapatkan 3 tetes air mata itu. Kita pun menebak-nebak siapa saja yang mungkin akan menangis tulus.

Namun ternyata, tak semua yang terlihat dari luar adalah seperti apa yang kita duga. Mereka bisa saja menangis di samping jasad kita karena mungkin kita masih memiliki hutang yang belum dibayar, sehingga orang itu menangis di samping jasad kita akibat menanggung kerugian. Atau karena ingin mendapat simpati, warisan, atau ada yang menangis di samping kita atas perasaan bersalah karena telah berkhianat.

Ternyata, hal itu menyadarkan saya akan adanya berbagaimacam arti air mata. Dan di luar semua itu, ada air mata dalam doa yang di dalamnya mengandung seratus persen murni ketulusan.

Saya tidak ingin menjadi orang yang mudah su’udzon karena itu, dengan menduga-duga air mata jenis apa yang orang-orang keluarkan. Toh, memang itu hanya Fantasy Fiction. Hanya Allah yang mengetahui segala. Juga tentang kapan deadline hidup kita. Saya hanya ingin menuliskan kembali beberapa hal yang menarik dan sempat memukul-mukul hati dan pikiran saya beberapa hari ini pasca menonton film drama Korea 20 Episode berjudul 49 days itu.

Bahwa selagi Hayat masih di kandung badan. Seberapapun berat ujian hidup, seberapa banyak hal berharga dari dirimu yang menghilang. La tahzan…

Jalani terus hidupmu dengan Semangat dan Keceriaan.

Sebelum Scheduler ‘Yang Sesungguhnya’ memanggilmu menuju ‘Elevator Kematian yang sesungguhnya’ untuk melintasi Deadline hidupmu…

***

sumber gambar : purplewallpaper.com

Senin, 23 Januari 2012

WARNING : MODUS PENIPUAN (!!!)

Bismillah,

Sebelum menuliskan pengalaman yang ‘nggak banget’ ini. Saya ingin berpesan kepada seluruh manusia yang membaca postingan ini. Bahwa, kepekakan adalah salah satu hal yang penting dalam menanggapi suatu informasi.

Saya emang bukan orang yang super cerdas. Tapi, satu hal yang saya inget, papa dulu pernah bilang, kalau saya itu orang yang pekak. Instingnya tajem. Bagus kalau jadi detektif. Dan hari ini, saya mengalami sesuatu yang luar biasa sekali. Dan semoga bisa menjadi bahan kewaspadaan untuk anda-anda sekalian yang membaca.

Tadi pagi, lagi-lagi enak mimpi, saya dibangunkan oleh suara mama yang setengah berteriak kegirangan, “Minchuu, mama dapet kijang innova...” Suara itu lambat laut semakin menghilang kayak gema. Soalnya jiwa masih setengah sadar setengah lagi di alam mimpi. Tapi, setelah kemudian terdengar lagi seruan—antara girang dan panik mama bilang lagi, ‘Mama dapet undian kijang innova’. Sontak saya bangkit dari keadaan tidur dan menghampiri beliau yang luar biasa paniknya.

Saya pun bertanya pada mama, “Undian dari mana? Trus sekarang mama mau ke mana?” saya liat mama sedang heboh mencari-cari pakaian, ekspresi dan gerak gerik mama saat itu bener-bener tergesa-gesa. “Mama dapet undian, sekarang harus ke BNI, tadi malem ada katanya ditayangin di transTV. Katanya mama pemenang ke-2, yang pertama di Kalimantan Selatan, sekarang mama harus ke BNI.” Saya yang masih setengah mimpi dalem hati langsung Alhamdulillah—coz saya pikir hadiah mobilnya sudah ada di BNI pusat, dan mama mau ambil hadiahnya di BNI.

“Tunggu dulu, ini penipuan bukan?” gak ragu, saya langsung tanya mama. “Bukan lah… itu udah jelas ditelepon dari pusat Telkom, tadi mama ngobrol sama direkturnya. Udah yah… jaga rumah, ini disuruh buru-buru banget soalnya, Cuma dikasih waktu 1 jam. Kalau enggak katanya bakal dikasih ke pemenang cadangan.”

Ngeliat mama buru-buru gitu, saya juga jadi khawatir, takut mama kenapa-napa di jalan. Rencananya saya mau menginterogasi mama lebih jauh tentang undian itu. Coz saya memang gak percaya sepenuhnya dari awal. Tapi, mama seolah gak kasih kesempatan untuk saya bertanya lebih jauh. Dan memang saat itu posisi mama udah dipintu, dan saat itu saya sedang kebelet luar biasa. Suasananya tidak memungkinkan untuk mencegah mama.

Akhirnya sampai di kamar mandi, saya teriak-teriak. “Mamaaa… hati-hati di jalan, jangan keburu-buru, pikirin lagi, takut penipuan.” Tapi apalah daya saya yang saat itu sedang memenuhi hak tubuh untuk mengeluarkan zat sisa. Mama udah di depan pintu, sambil bilang. “Itu telepon rumah jangan ditutup ya, katanya bebas pulsa sampai jam 5 sore. Biarin aja jangan ditutup. Disuruh direktur telkomnya jangan ditutup. Mama mau nebus hadiah dulu ke BNI.”

Dari situ saya mulai curiga banget. Mama datang 2 jam kemudian. Mama cerita katanya di perjalanan mama cepet-cepet banget. Sampai tadi tuh ada tamu aja disuruh pulang. Coz mau transfer ke bank. “Nanti, kamu siap-siap ya, pihak mereka bakal datang sebelum sholat jumat, katanya bakal ada 3 mobil, dan dikawal polisi. Bakal ada TransTV juga mau wawancara kita.”

Mama bilang kayak gitu, ya saya jadi lumayan percaya, coz sebelumnya, kami memang pernah bersiap-siap seperti itu. Ada stasiun TV yang datang ke rumah untuk wawancara. Dan saat itu memang wawancara lah yang terjadi, bahkan kami memang diberi insentif. Tapi yang saya heran, kok mama gak pulang sama mobilnya.

Mendengar semangat mama, saya juga jadi agak tertular. Akhirnya, saya siap-siap untuk diwawancara. Mama juga. Saya sempat bilang ke mama, “Ma, tadi malem aku emang mimpi dapet rezeki loh.” Sebenernya saya agak ragu juga ngomong kayak gitu. Coz tadi malem itu sebenernya mimpi saya ada 2 sesi. Mimpi pertama, saya dan keluarga dapet rezeki, mimpi yang ke-2 saya dan keluarga tertipu oleh penipu. Malah pas bangun saya sempat beristighfar karena mimpi itu, dan langsung mendengar mama teriak-teriak dapet undian.

Tapi, saya gak bilang tentang mimpi saya yang ke-2 itu. Saya gak mau merusak kebahagian mama, lagian, apalah artinya mimpi sih. Saya anggap itu Cuma kebetulan. Sebelumnya juga saya memang gak punya kemampuan apa-apa, kayak indera ke-6 dll. Mimpi-mimpi tidur malam saya seringnya Cuma sekedar bunga tidur dan gak pantes dihubungin sama kebetulan-kebetulan.

Akhirnya, telepon itu mama tutup. SETELAH DIBIARKAN TIDAK TERTUTUP SELAMA 2 JAM.

Mama akhirnya konfirmasi ke Drs. Edi Jumedi, SH (itu nama yang si penipu itu akui). Mama bilang bahwa mama udah transfer ke rekening samsat yang dimaksud.

Saat saya nguping mama nelepon. Saya kaget. Samsat apaan? Saya kira itu undian dari BNI. Coz mama—sebelum berangkat tadi—bilangnya itu undian dari BNI. Yaaa, jadi saya agak tenang, coz itu undian dari BNI, dan mama transfernya buat BNI.

Ternyata, pas mama ngobrol lagi sama si Drs. Edi Jumedi, SH itu, dan saya nguping perbincangan mereka. Itu janggal banget. Lebih lagi si Drs. Edi Jumedi, SH itu meminta dana transfer lagi sebesar 7 juta untuk tukar plat dan mengantar mobil ke rumah. Padahal tadi mama udah transfer 3 juta.

Pas mama nelepon tadi, yang saya lakukan ialah elus-elus dada sama geleng-geleng kepala. ITU POSITIVE PENIPUAN!!! Tapi mama belum bereaksi menolak perintah si Edi itu, malah mama nanya-nanya tentang no rekening tujuan transfer selanjutnya, tergesa-gesa. Padahal itu mama baru pulang dari BNI. Dan harus disuruh transfer lagi 7 juta.

Akhirnya, tanpa tanda saya rebut gagang telepon rumah saya dari tangan mama. “Pak, saya anaknya Ibu Nina. Mau Bapak apa?” saya agak membentak orang itu. Si Bapak-bapak itu jawab, “Begini mbak… Hmm… dengan Mbak siapa?” logatnya sok batak banget. Saya langsung jawab. “Saya Tina.” (dia nipu, ya saya balik tipu) saya tidak berani kasih tau nama asli. Sebenernya berani sih, Cuma males aja kasih tau nama asli ke orang palsu kayak gitu.

“Gini Mbak Tina, untuk mendapatkan hadiahnya, harus transfer lagi 7 juta, untuk biaya bla bla blaa…..” dia ngejelasin pake logat batak yang ‘enggak banget’, dia ngejelasin tentang surat-surat kelengkapan mobil n plat’nya, sehingga kami disuruh bayar 7 juta lagi.

“Gini pak, kami kan tadi udah transfer 3 juta, sekarang kalau harus transfer 7 juta lagi, kita nggak ada dananya, Pak. Yaudah silakan kalau hadiahnya mau dialihkan ke pemenang cadangan, kami ikhlas.”

Eeehhh, si Bapak itu malah membentak saya dengan logat bataknya yang ketauan banget dibuat-buat.

“Ohh, JADI MBAK MEMPERMAINKAN SAYA??? JANGAN MAIN-MAIN LOH MBAK, KITA SEKARANG SUDAH DI SAMSAT, DI PERJALANAN MENUJU BANDUNG UNTUK GANTI PLAT!!! GAK BISA GITU LAH MBAK, MBAK GAK SAYANG DENGAN HADIAH YANG DIBERIKAN ALLAH… INI REJEKI LOH MBAK.”

Saya jadi sadar, ternyata peran-peran antagonis di sinetron-sinetron Indonesia terinspirasi dari kehidupan nyata. Bentakan-bentakan dia sebelas dua belas lahh sama peran-peran antagonis di pilem2 mellow lebay.

“Ya gak gitu, Pak, mempermainkan gimana? Yaaa gimana lagi, Pak! Kita bener2 gak ada kalau segitu!” saya mencoba untuk lebih sabar.

“Berusaha lahh mbak, pinjem-pinjem dulu. Sayang ini mobil kalau gak diambil.” Dia membujuk2 lagi.

“Hahh? Gak bisa semudah itu lah pak, kita mau pinjem dari siapa??? Gini aja pak, gimana kalau hadiahnya dibawa ke sini dulu, setelah sampai di sini, kami akan bayar sesuai dengan nominal yang Bapak sebutkan tadi. Atau kalau lebih pun boleh, Pak, asal ada bukti, Bapak bukan penipu. Sekarang saya bisa jamin dari mana kalau Bapak bukan penipu?”

Dan dia membentak saya lagi.

“WAHH MBAK SEPERTINYA MENJEBAK SAYA! MBAK JANGAN MEMPERMALUKAN SAYA!!! ITU KALAU SEPERTI ITU MBAK TIDAK PERCAYA SAMA SAYA!” (dalem hati, ‘emang gue gak percaya’)

“Yaudah gini deh, sekarang Bapak lagi ada di mana? Tadi katanya diumumin di TransTV jam 10. Tadi malem saya nonton transTV sampai jam 12, dan gak ada tuh Pak, Bapak jangan ngebohongin saya juga. Soalnya saya bisa langsung cross check ke sodara saya, dia crew transTV!!!” saya pun akhirnya mengeluarkan nada sinis.

“MBAK MENGHINA SAYA KALAU BEGITU!!! TIDAK MAU TAHU, MBAK TINA HARUS GANTI RUGI!!! SEKARANG, CEPAT TRANSFER!!! SOALNYA SAYA SUDAH DI PERJALANAN MENUJU BANDUNG, KAMI BERSAMA POLISI, KALAU TIDAK PERCAYA, NIIIH… DENGAR!!!” (lalu terdengar suara sirine mobil polisi)

Ampuuun deh, dalem hati saya malah tambah yakin itu penipuan. Efek suara itu bisa aja alarm hp atau bunyi2an yg bisa dibuat2.

“MBAK DENGAR ITU!!! KITA SEDANG DALAM PERJALANAN KE BANDUNG MBAK. MBAK HARUS BAYAR!!! KARENA MBAK TELAH MEMBUANG-BUANG WAKTU SAYA! SAYA JUGA BANYAK ACARA LAIN!!!”

“Lohh??? Bapak kok jadi meres saya? Yahh kalau kita gak ada uang segitu mau gimana coba??? Minjem juga ke siapa??? Zaman sekarang Pak, mana ada sih yang mau pinjemin? Atau gini aja deh Pak, minjem uang bapak aja dulu, bapak kan kaya, direktur gitu kan? Nahh, nanti pas hadiahnya datang, kita kembaliin uang bapak. Gitu gmana?”

“YA GAK BISA GITU MBAK! Itu Mbak ARTINYA telah mempermalukan saya!!! MERUGIKAN WAKTU SAYA!!! LIHAT SAJA NANTI, SAYA BISA MENUNTUT MBAK! WAHH, MBAK TINA INI KURANG AJAR YA… COBA MANA IBU ANDA???” (dia udah mulai kesal menghadapi saya).

Akhirnya saya tutup teleponnya. Dan ngomong ke mama, “MAMA, INI TUH UDAH JELAS PENIPUAN BANGET, BANYAK MODUS KAYAK GITUU… YA AMPUUUN MAMA, KENAPA PERCAYA AJAA,,, AKU UDAH CURIGA DARI AWAL, TAPI MAMA KEBURU-BURU BANGET, JADINYA GAK KEBURU… LAGIAN TADI PAS KE BNI, COBA AKU IKUT… AKU MAH UDAH SADAR DARI AWAL KALAU ITU PENIPUAN. CUMA MAMA TADI BILANGNYA ITU UNDIAN DARI BNI, DAN TADI MAMA MAU NYETOR UANG KE BNI… DIKIRA EMANG BENER HADIAHNYA UDAH ADA DI BNI… PADAHAL TERNYATA PIHAK BNI SAMA SEKALI GAK TAU. COBA MAMA CEK KE PLAZA TELKOM? AATAGFIRULLOHALADZIM MAMA, UNTUNG AKU GAK JADI KE KAMPUS… KALAU AKU GAK ADA, MAMA PASTI UDAH NGIKUTIN PERINTAH ITU ORANG BUAT TRANSFER LAGI…”

Aku agak kesel juga sama mama. Astagfirulloh…

“Iya ini nomernya direktur Telkom…” mama ngeluarin nomer dirut Telkom.

“Itu nomer dari siapaaa??? Jangan percayaaa lahh kalo orang yg tadi yang ngasih… coba sekarang cek ke bagian penerangan, cari tau nomor telepon plaza Telkom berapa? Trus tanya.”

Akhirnya, mama telepon ke bagian penerangan, dan dapet no. plaza Telkom, dan benar. Jawabannya ialah, TIDAK ADA UNDIAN MOBIL KIJANG INNOVA TAHUN INI.

Mama juga akhirnya nelepon ke temen mama yang pernah dapet undian mobil dari bank BCA. Kata temen mama itu, kalau hadiah kayak gitu langsung dianterin, gak pake transfer uang lebih dulu. Dan gak ada dana charge apapun. Temen mama pun akhirnya memastikan bahwa kasus yang dialami kami ialah PENIPUAN.

“Astagfirullohaladzim…” Mama cuma bisa nyesel, dan nyesel. Saya saat itu mikir, ‘ohh, pantesan, tadi orang itu nyuruh mama nggak nutup teleponnya selama transfer ke BNI. Saya tau, itu motif dia supaya kita gak nerima dan nyari informasi dari orang-orang lain dan Telkom yang asli. Subhanallah, itu 2 jam telepon rumah dibiarkan gak ditutup, dan itu interlokal, kawan!!!

Saya mencoba lebih tenang dari mama yang keliatan udah gak karu-karuan banget. Ehh, si Edi itu nelepon lagi. Saya yang angkat lagi.

“Hallo…”

“HEI MBAK TINA, ANDA TELAH MEMPERMAINKAN SAMSAT!!! KAMI AKAN MENGGUGAT ANDA!”

“Ya ampun Pak, mempermainkan apa? Alasan kami itu kami tidak punya dana segitu, mau dipaksakan bagaimana, pinjam uang ke siapa? Pinjam uang bapak aja gimana?”

Akhirnya si Edi itu berpikir sejenak.

“Pak, 7 juta itu gak sedikit. Saya itu anak yatim. Adik saya masih ada biaya banyak. Itu uang yang ditransfer ibu saya tadi buat biaya spp ade saya… Bapak tega? Bapak kan direktur, saya masih pelajar, pak… seenggaknya kurangin lah jumlahnya. Jangan 7 juta!”

“Yasudah, kita tanggung bersama saja, saya setengan, Mbak Tina setengah. “

“hmm… yaudah, jadinya saya bayar 2 juta aja ya Pak?” (si Edi itu menanggapi ‘iya iya aja’ kagak bisa ngitung ape ye??? Tujuh dibagi 2 kan padahal 3.5!

“Ok kalau begitu, Mbak Tina, Setuju! Anda transfer 2 juta sekarang! Saya tunggu, maaf saya tadi sempat membentak-bentak. Saya Cuma ingin meyakinkan bahwa saya bukan penipu, justru saya ingin mengantarkan hadiah pemberian Allah untuk anda. DEMI ALLAH SAYA BUKAN PENIPU… apalagi ini hari jumat, hari yang suci untuk beramal, tidak mungkin lah saya menipu.”

“Hmm… iya ya Pak, hidup ini kan sementara, buat apa sih kita nipu, nipu itu kan dosa. Pokoknya, Allah pasti tau segalanya lah, kalau keburukan pasti ada ganjarannya. Begitu juga sebaliknya. Allah maha Adil. Saya percayakan pada Allah aja segalanya. Semoga bapak juga mendapatkan hidayah. Betul seperti bapak bilang tadi. Hari jumat waktu yang baik untuk beramal. Sekali lagi, saya percaya pada Allah, dan hidup ini sementara. Kita pasti mempertanggungjawabkan amalan kita di akhirat nanti.” (sempet gw ceramahin juga nih si Edi itu).

“Betul Mbak… betul sekali… Ok, ya? Dua jutanya saya tunggu?” (‘betul-betul’ tapi UUD—Ujung-ujungnya tetep Duit).

Setelah itu saya tutup telepon. Dan berniat tidak membayar 2 juta sisanya. Langsung saya ganti nomor mama dengan simcard baru. Dan saya cabut kabel telepon rumah.

Masalah belum selesai, sekarang giliran mama yang ketakutan, sebenernya saya juga takut, tapi saya berusaha untuk lebih tenang dari beliau. Beliau sempat memberi alamat lengkap rumah kami. Beserta nomor ktp beliau.

Mama takut ancaman itu benar. Si Edi sempat mengancam, katanya jangan bilang-bilang dulu ke pihak manapun, pokoknya mengancam dengan sangat GARANG! Benar2 bukan mencerminkan seorang yang intelek. Gimana dia bisa pura2 jadi direktur. Logat preman gitu…

kasian aja sama mama, mama tuh katanya di angkot menuju BNI udah ngebayangin mobil innova itu, mau adain syukuran, dll… tapi ternyata…

Hmm… Tapi ada yang lebih kasihan lagi. Yaitu, gerombolan Si Edi! Kok kayak gitu banget yah, cari uang… kasihan sekali… ckckck… Kita doakan saja semoga mereka mendapatkan hidayah.

Dan setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Hikmahnya, kita harus rajin-rajin sedekah. Kita sering lupa bahwa 2,5% dari pendapatan kita sebenarnya itu bukan milik kita. Kita harus menyisihkannya. Karena di dunia atau di akhirat, itu tetap bukan milik kita. Saya meyakinkan mama untuk mengikhlaskan apa yang telah hilang. Karena mungkin saja itu memang bukan hak kita. Untuk ke depannya, sekecil apapun pendapatan kita, 2,5% harus kita sisihkan.

Dan, saya meyakinkan mama yang sangat tampak kehilangan. Bahwa mama sebelumnya pernah mengalami kehilangan yang lebih parah dari ini. Kehilangan papa. Dan seiring berjalannya waktu, perasaan kehilangan itu menjadi hikmah dan bukan sebuah kesedihan. Begitu juga dengan kejadian ini. Perasaan kehilangan ini pasti akan hilang dan berubah menjadi pesan yang mengandung hikmah.

Ingat, Ma, doa orang yang teraniaya itu mujarab lhoo…, Sekarang mending kita berdoa aja yukk… ^^

Minggu, 02 Oktober 2011

SURVIVAL DAYS

Saat menulis ini, udah nyaris malam hari, sebenernya waktunya tidur, tapi gw baru selesai mandi, selalu di saat-saat jam segini, agendanya ialah ‘baru selesai mandi’ dan memulai membuka lapi. Kegiatan rutin yang gak bisa dihindari, meski kadang gw benci, tapi mulai saat ini, gw ingin memasrahkan segalanya pada Tuhan YME hingga gw bisa pegang kendali atas beranekaragam emosi.

Seharusnya (lagi-lagi), seharusnya, saat ini gw membuka lapi dan mengerjakan sebuntel tugas yang listnya udah nangkring indah di catetan gw. Tapi, saat ini, gw sedang ingin mengungkapkan beberapa patah paragraf, setidaknya untuk terus memotivasi diri.

T'kadang klo sdh sampai pd kadar kepasrahan yg paling tinggi. Yg kita fikirkan adalah 'bagaimana cara kita bertahan melalui hari2 yg akan kita lalui, mengikuti semua aturan, mengikuti apa yg dunia mau'. Dan qta tidak lagi peduli pada kelelahan fisik dan mental.

Kalimat tersebut gw jadikan status hari ini. Mungkin banyak yang mengerti, namun, banyak juga yang tidak mengerti.

Entah kenapa, akhir-akhir ini gw sering diserang boring tingkat tinggi, kejenuhan akan rutinitas yang semakin aneh. Maksudnya, gw sering ngerasa lelah luar biasa lahir batin jiwa dan raga. Gimana enggak, setiap hari gw mengalami kemacetan lalu lintas yang bener2 nguji kesabaran. Letak rumah gw dan kampus itu jauh… Setiap hari kurang lebih 4 jam gw nangkring di jalan. Setiap hari gw melalui 3 trayek titik macet Sukasari-Gn.Batu-Dramaga, kadang dalam waktu-waktu senggaaang itu gw ketiduran di angkot, diliatin sama penumpang lain dan mereka menatap dengan tatapan curiga, kesannya gw abis nemenin Rhoma Irama Begadang.

Kalau nggak ketiduran, gw lebih suka baca buku, dan dengerin musik, atau kalau angkotnya kayak lagi balapan, gw suka dzikir sepanjang jalan kenangan. Itu dia yang bikin gw cape hati. Angkot di Bogroo itu ugal2an luar biasa. Dan sebelum ugal2an, mereka mengadakan ritual rutin, yang disebut ngetem. Kalau penumpang udah penuh, mereka ngebutt banget, supaya penumpang cepet sampe, angkot kosong lagi, dan mereka pun beritual ngetem lagi… Kadang, kalau ditanya “Langsung ya?” dan sang driver bilang “Iya” gw mau aja naik, eeehhh… taunya ngetemnya lamaa juga. Seolah janji manis itu tak pernah ada, seolah dia hanya membujuk dan merayuu agar gw naek. Setelah dapet, gw disekap…

Tapi berhubung gw itu kadang klo udah kesel suka agak keras, pernah suatu ketika gw turun dari angkot yang ngetemnya kayak lg nunggu antrian sembako. Lama luar binasa, dan pada akhirnya gw turun dengan tatapan sinisss melototin supirnya. Gw berjalan cukup jauh untuk mendapatkan angkot yang pastinya dalam posisi ‘siap jalan’ istilahnya ‘nyodok’. Tanpa gw tau apanya yang disodok. *manusia memang suka menciptakan keanekaragaman bahasa yang aneh2.

Lanjut lagi kepada gw yang saat itu udah kesel banget dan turun angkot yang ngetem lama, nahh, pas udah berjalan cukup jauh, gw nunggu angkot lewat… beberapa menit kemudian, Alhamdulillah… ada juga angkot siap jalan. Dan gw naik angkot itu dengan hati riang. Dann Jrenggg… “Neng, ngapain tadi jalan kalau naik lagi?” Si supir cengengesan pengen gw takol. Dan gw hanya mampu tertawa tanpa nyawa, karena gw naek lagi angkot yang gw tinggalkan. Intinya, yahh… memang kalo jodoh itu ngak lari ke mana, (tapi bukan artinya gw berjodoh dengan angkot juga). Intinya, menguji kesabaran bgt lah ituu peristiwa!

Dengan peristiwa2 penguji kesabaran itu gw jadi sadar bahwa yang bisa gw lakukan saat ini adalah pasrah berserah… dan kalau udah pasrah gini, rasanya yang pengen gw lakuin itu adalah melaksanakan segala aturan, mengikuti apa yang dunia mau, dan benar2 tdk peduli lagi dengan kelelahan fisik dan mental.

Survival days…

Mungkin bukan berlebihan jika gw katakan seperti itu. Tapi saat ini, memang itu yang gw rasakan. Setiap hari. Setiap perjalanan, setiap asap rokok, debu-debu, dan gas beracun kendaraan yang berkeliaran, suara bising, macett, bentak-bentakan antar pengemudi, menyaksikan tabrakan, hujan, badai, cuaca ekstrim, kepanasan kehujanan, dan lain sebagainya. Tapi percayaa, jika segalanya dijalani dengan tawakal, berserah diri pada Allah, semua itu bisa kita lalui dengan senyuman. J saat ini, mungkin gw sudah sampai pada titik kepasrahan yang memuncak, sehingga kelelahan fisik dan mental sudah tidak gw pedulikan lagi, karena secapee apaapun jiwa dan ragamuu, hidup harus terus berjalan, dan tugas-tugas harus tetap dikumpulkan….

J

Buang pemakluman, sembunyikan rintihan, lempar keluhan, dan ganti dengan senyuman ketegaran.

Okee Brooo!

Semangkaa Yoo… (Semangat Karena Allah) :)

Selasa, 06 September 2011

Antara Dua Dunia

Setelah menikmati paket liburan selama 40 hari di Desa Binakarya, Kecamatan Banyuresmi, Garut. Gw bisa sedikit menyimpulkan beberapa perbedaan dasar…. XDD

Hidup di Garut itu aman, damai, dan tentram… Sebenernya sama, di Bogor juga begono… Kota damai, amiiin. Yang bikin beda itu orang-orangnya… di Garut itu orang-orangnya ramah-ramah, sama orang yang baru liat di angkot aja bisa disenyumin, eitts, maksudnya senyum ramah, bukan senyum-kedip-jilat ala manusia genitt. Kalo nyasar gak segen-segen nanya, karena orang-orangnya juga terlihat welcome. Biasanya kalo di Bogor, ada orang yang nanya jalan pun gw curigaa, sehingga berbicara tanpa menatap mata…

Masih soal angkutan umum. Ternyata, sama-sama ngetem, angkot di garut menuju kabupaten ternyata lebih mahal. Kalau di Bogor jarak segitu hanya 2500 saja, di Garut bisa 4000.

Cuaca di Garut lebih dingin daripada di Bogor. Jauh lebih dingin di beberapa tempat tertentu. Oleh sebab itu, Alhamdulillah, selama di Garut gak pernah ngerasain yang namanya sembelit. Lancar selalu setiap hari. ^^ Padahal segituu jarang makan seratt coz susah cari jus di pedalaman. Kalau di Bogor, cuaca kadang dingin, tapi seringnya panas. Apalagi Darmaga… hehe, anginnya pun panas terik membakar. Garut tak pernah terlalu panas. Tempat ngademin hati daan pikiran. AC alami...

Garut kota cukup rame, tapi nggak serame dan semacet Bogota (Bogor Kota). Kalau kita ke Kota Garut, niscaya susah nyasar. Soalnya jalan itu kayak lingkaran saiton. Kalau kita berangkat dari arah sana, ehhh… ternyata nembus-nembusnya ke sini. Jaraknya deket-deket. Garut kota kayak kota yang dikelilingi beberapa kecamatan. Kalau Bogor kota jalannya memanjang… lebih luas, jarak dari sono ke sini kadang2 sangat jauh dan nggak nyambung. Gak kayak Garut yang ternyata jalannya nembus2… di Bogor juga meski luas tapi susah nyasar, coz jalannya gak terlalu bercabang.

Air di Garut dinginnya bikin merinding disco. Di Bogor kadang kalau siang air jadi anget.

Di Garut, banyak pengendara motor yang pake jaket kulit, tukang ojeg pun seperti itu… haha… kalau di Bogor jarang.

Di Garut kalau ngedengerin lagu-lagu galau nggak ngefek di hati. Karena nggak sesuai. Hehe… Mungkin karena gw terlalu betah, jadi sepertinya nggak pernah berniat untuk kabur dari keadaan. Tapi kalau di Bogor, dengerin lagu2 galau bener2 nyampe ke hati dan jadi sedih ujug2. Mungkin efek ‘perasaan bersyukur’ karena ternyata banyak orang-orang yang bisa membuat kita merasa harus bersyukur dan tak pantas bersedih.

Wanita-wanita Garut itu mungil-mungil, cantik-cantik, putih-putih. Wanita-wanita Bogor itu modis-modis tapi tetep menjunjung kesederhanaan.

Pria-pria di Garut kadang-kadang diam-diam menghanyutkan. Hehe… ‘dosen pernah bilang, kalau ke desa harus pake cincin yaa…’ hehe… daan ternyata benaar, kawan! (u know lah maksudnya supaya apa). Kalau pria-pria Bogor itu nggak diam-diam lagi.

Tas-tas, baju-baju, sepatuu di Garut mahal-mahal, mungkin kualitasnya bagus, tapi kurang memenuhi selera. Sedangkan di Bogor modelnya bagus2 dan murah2, tapi kualitasnya kurang.

Rendahnya minat mencopet di Garut… hehe, bayangin, kamar kita itu jendelanya rusak, bisa dibuka dari luar kapanpun anda mau. Di sana terletak HP, Laptop dll… kadang laptop diletakan begitu saja di kamar, sementara kita pergi ngaji, rumah nggak dikunci, Alhamdulillah gak ilang. Tp kita harus tetep waspada, jangan diikutin itu sih, gw Cuma salut aja sama masyarakat desa ‘tersebut’. Kalau di Bogor… wahh, nggak tau deh, hehe,,, insya Allah aman damai juga… Amiiin.

Dua-duanya kota yang gw cintai... ^^

Kalau boleh gw poligami, poligamii deh gw...

Kalau lagi di sono, kangen yang ini, kalo lagi di sini, kangen yang sono...

Garut-Bogor???

Hmmm... Milih mana yaa?

*Ke Zimbabwe aja dah ahh...

Today

Di sela-sela ngerjain tugas-tugas yang belum selesai, gw malah memberanikan diri untuk berpetualang dan mengabaikan tugas-tugas kuliah untuk sementara waktu. Coz hidup ini gak harus selalu mengenai ‘ngerjain tugas-tugas kuliah’. XD

Hari ini mengingatkan gw akan banyak hal… Hari yang bener-bener hari, hari peringatan buat gw. Buat semua orang yang mengaku sebagai insan Tuhan.

Andaikan kita bisa tertawa selamanya, andaikan d dunia ini tak pernah ada duka... Mungkin kita sudah terpental jauh ke jurang bahagia yg semu... Duka saat ini mbuat qta memahami bahwa akan ada Kebahagian Sejati yg kekal d akhirat nanti...

Mengutip status dari fb seseorang yang sangat amat nggak tau diri, nggak tau diuntung, gak tau terima kasih… Yang gak lain adalah gw sendiri.

Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, habis melayat ayah seorang teman yang meninggal, gw jadi berfikir hal-hal yang sangat sulit untuk dijelaskan. Yaitu, tentang kematian. Entah kenapa, belakangan ini banyak mendengar kabar duka yang mengejutkan. Dari istri artis sampai ayahnya temen. Mendengar kisah-kisah duka mereka, gw jadi inget kejadian waktu gw umur 13 tahun. Ditinggal papa.

Gw suka mikir tentang perasaan mereka yang ditinggalkan, gw juga jadi mikir, gimana perasaan orang yang akan meninggaL, apakah mereka menyadari suatu tanda-tanda, atau ajal datang tiba-tiba tanpa tanda.

Atau ketika kita kebingungan karena mengapa dulu orang itu ada di sisi kita, namun kini sudah tidak bisa ada di sisi kita lagi. Kenapa hal itu bisa terjadi? Hilang begitu saja. Dan kenapa gw baru mengkhayati dan mempertanyakan itu semua sekarang2 ini?

Waktu praktikum Dasar-dasar Komunikasi beberapa semester yang lalu, sempat ada pertanyaan, “Pernahkah kamu berpikiran untuk bunuh diri?’ dan itu harus kita jawab dengan jujur. Dan gw jawab ‘pernah’.

Dulu, gw masih berpikiran bahwa ‘suicide mungkin menjadi salah satu cara untuk menghindari dan meninggalkan masaalah dunia.’ Dan setelah KKP, gw tau kenapa dulu gw pernah terlintas berfikir tentang suicide.

Saat KKP, gw mempelajari bahwa hidup kita terlalu berharga untuk disia-siakan, hidup kita terlalu berharga jika dijadikan seribu alasan untuk menyerah. Di tempat KKP, gw diperlihatkan sesuatu, bahwa hidup kita itu benar-benar berharga.

Saat pulang KKP, banyak perubahan yang gw rasakan. Terutama pikiran tentang suicide itu. Udah nggak sama sekali terfikirkan untuk melakukan hal aneh-aneh. Gw Cuma pengen hidup gw bermanfaat untuk orang lain. Ada beberapa orang memberi komentar kalau keburukan gw itu adalah ‘terlalu baik’.

Bahkan pada akhirnya gw sering menawarkan diri menjadi ‘sacrifice, demi kebahagiaan orang lain. Tapi menurut gw gak ada salahnya dengan itu, karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Tp itu masih hanya sebatas penilaian orang, coba evaluasi diri kita sendiri, kita yang tau dalem2nya, buruk2nya, baik2nya kita. Setiap hari evaluasi tentang apa yang telah kita lakukan hari ini. Untuk bekal kita nanti… J

Dan untuk teman-temanku, saudara-saudaraku, dann akuu sendiri…

La Tahzan, yah… ^^

Rencana Allah selalu indah…