Jumat, 22 Mei 2009

Taubat dan Dosen baru

Taubat adalah cara yang paling indah untuk menghapus dosa. Taubat merupakan sarana yang tepat untuk kita memohon ampunan kepada Allah SWT. Dan itulah yg aku lakukan saat ini. Taubat dari segala dosa-dosa yang telah kuperbuat. Dosa-dosa yang mungkin telah banyak kukumpulkan dan sudah menggunung. Terlalu banyak sampai menembus langit. Bukannya membesar-besarkan, tapi itulah faktanya. Hari ini adalah hari yang berharga! Sangat berharga. Tidak ada hari yang tidak berharga selama hari-hari kita jalani dengan ikhlas.

Kalau membahas tentang taibat, kayanya aku gak bisa mendeskripsikan seperti apa, karena cukup hati yang tahu. Cukup mengimani taubat kita dalam hati. Karena kadang setelah taubat, sejam kemudian saitonirozim muncul lagi dan memberikan kejutan yang menggoda iman. Akhirnya, terperosok lah lagi kita ke jurang nista yang gak tau seberapa dalamnya. Yang jelas, yang aku rasain sekarang ini adalah damaiiii banget rasanya. Jadi kembali seperti orang yang sejati. Bukan orang yang pengen menghilang dari muka bumi ini dengan cara apapun~ yang penting ilang….

Beralih ke topik lain, mungkin awal agak serius, karena, ya iya lah, yang namanya taubat, harus dijalani secara serius. Jangan main-main. Kita gak mau kan mempermainkan Allah! Lagian kalau kita yang mempermainkan Allah yang rugi siapa? Allah gak rugi dengan kita, secuil hamba yang kecil, gak ada artinya ini membangkang. Yang rugi kita sendiri, Gak akan berkurang kemahaagungan Allah. Yah, gt deh pokoknya. Seperti hari ini yang sangat mengejutkan. Pagi hari disambut oleh tawa cerah sang mentari yang gak berhenti menghangatkan bumi. Walau kadang terlalu panas (di darmaga), tapi tetap harus disyukuri. Rekor mungkin, dalam perjalanan hidupku, nyaris aku n temen2 sekelas kuliah di emperan koridor LSI karena waktu menunjukan pukul 7.15 WID (Waktu Indonesia Darmaga) tapi sang pembuka kunci belum datang… Parahnya sang dosen yang sudah tak sabar untuk menjelaskan tentang Perfecly competition market gak sabar menunggu sang pembuka kunci. Akhirnya kita mencari ruang kelas yang kosong di samping rektorat. Tapi saat kita ke sana. Pintu Audit LSI dibuka… Ruang bioskop kita dibuka.

Awal berjumpa begitu menggoda… Mungkin itu reaksi pertama saat beliau berkata pada kami bahwa ‘inilah ciri-ciri Negara berkembang’. Tidak disiplin, Semua mau aman-aman aja, Gak berani bertanya, ragu menjawab, tukang kesiangan lagi… Sepertinya sempurna sudah image kita sebagai rakyat terbelakang (Naudzubillah) Tapi gak lah… Beliau juga berkata seperti itu demi kebaikan kita kok! Supaya kita, masing-masing individu bisa bertanggungjawab mengembangkan Negara kita agar tarafnya lebih di atas Negara berkembang! Aduh kok jadi berat gini sih ceritaku hari ini. Tentang Negara-negaraan. Haha! Harap maklum, soalnya aku sedang mengembalikan pikiran-pikiran positifku yang nyaris tenggelam karena banyak hal-hal yang membuat aku jadi merasa bodoh hari ini. Yaa… setidaknya aku merasa lebih bisa berguna dengan menasehati diri sendiri.

Saat kuliah berlangsung, aku duduk di deretan kedua. Cukup tegang! Karena banyak orang2 yang ditunjuk untuk menjawab. Respon beliau hanya dua dalam menanggapi jawaban mahasiswanya yang ditunjuk. ‘Salah atau kurang tepat’ tidak ada jawaban benar… Eits, aku bukan nyalahin dosennya lohh… emang kitanya yang belum belajar. Jadi jawab seadanya… ditambah lagi beliau perfeksionis banget. Hufffhhh… HARUS TETAP SEMANGAT! Lebih semangat belajar ekonomi….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada tanggapan???