Jumat, 16 Desember 2011

PROSES KONSELING

Bagian I

Klien : Sebut saja Mawar (Nama disamarkan untuk keamanan)

Ringkasan Masalah yang Dihadapi

Pada bagian ini, klien bercerita tentang masalah yang dihadapinya. Yaitu suatu perasaan tertekan yang diakibatkan dari kondisi lingkungan keluarga yang menuntut dan terkadang menghujat klien berkenaan dengan pendidikan klien.

Saat ini klien berkuliah di institusi negeri dengan jurusan yang belum lama terbentuk. Banyak yang belum mengetahui kredibilitas dan kualitas jurusan tersebut. Oleh sebab itu, klien yang saat ini berusia 21 tahun merasa tertekan oleh pertanyaan-pertanyaan yang kadang dilontarkan oleh saudara-saudaranya.

Klien mengungkapkan bahwa seringkali saudara-saudaranya bertanya pertanyaan yang merendahkan dan menyudutkan, seperti, “Kenapa kamu dulu memilih jurusan itu? Mau jadi apa kamu nanti? Prospek kerjanya kan belum jelas.” Dengan ekspresi wajah yang sangat merendahkan. Klien mengaku sejauh ini ia telah memberikan penjelasan semampunya, menjelaskan kembali pada saudara-saudaranya yang pada umumnya memiliki pekerjaan yang mapan. Namun, klien mengaku, meskipun ia telah menjelaskan bahwa jurusannya ialah jurusan yang bagus dan tak kalah dengan jurusan lainnya, ia pun menjelaskan pelajaran-pelajaran apa saja yang ia pelajari di bangku kuliah, namun tetap saja klien merasa tertekan, karena meskipun di luar ia bisa terlihat biasa-biasa saja dan menerima, namun di dalam hati, ia tak bisa menyembunyikan perasaan sedih, kecewa, dan tertekannya. Dan saat konselor bertanya, “Menurut anda, apa sumber rasa kecewa yang anda rasakan?” Klien menjawab bahwa ia pun sebenarnya tidak tahu siapa yang membuat ia kecewa, klien merasa memang tidak ada yang patut disalahi dari perasaan tertekan itu. Ia merasa dirinya sendirilah yang bersalah.

Ringkasan Dialog

Konselor : “Ketika anda menjelaskan tentang jurusan dan rencana masa depan anda pada mereka, apakah mereka mengerti dan anda merasa sedikit lebih tenang?”

Klien : “Iya, mereka memang mengerti, tepatnya mungkin berusaha mengerti, karena masih tampak raut kebingungan dan kesan menyepelekan dari roman wajah mereka. Dan memang, saya merasa sedikit tenang setelah memberikan penjelasan semampu saya, meskipun tidak mengurangi rasa tertekan.”

Konselor : “Apakah anda berfikir bahwa mereka bertanya seperti itu hanya untuk menyepelekan anda, atau ada alasan lain?”

Klien : “Saya tidak begitu mengerti apa maksud mereka, tapi memang seperti itu wajah mereka saat bertanya, seolah menyepelekan dan merendahkan. Seketika saat itu saya merasa dibanding-bandingkan dengan saudara-saudara saya yang lain yang memang telah mencapai cita-citanya. Dan pertanyaan-pertanyaan menyudutkan itu membuat saya semakin merasa bodoh.”

Konselor : “Apakah orangtua anda juga sering membanding-bandingkan anda dengan saudara-saudara anda?”

Klien : “Orangtua saya tidak terlalu membanding-bandingkan, tetapi saya sangat tidak suka ketika diadakan kumpul keluarga besar, dan saya paling membenci pertanyaan-pertanyaan menyepelekan seperti itu. Oleh karena itu saya lebih memilih untuk pergi ke suatu tempat yang lain ketika ada banyak saudara datang.”

Konselor : “Kedua orangtua anda tidak terlalu membanding-bandingkan, itu artinya beliau tidak masalah dengan apa adanya diri anda?”

Klien : “Iya, tapi berkat pertanyaan-pertanyaan saudara-saudara jauh yang selalu dilontarkan ketika kita berkumpul, saya jadi merasa sangat sensitif ketika ibu saya menyinggung masalah pencapaian cita-cita.”

Konselor : “Mungkin iya, wajar, semua orang pasti pernah merasa perasaan tertekan, dan masalah yang dihadapi anda ialah berkaitan dengan krisis kepercayadirian. Mulai sekarang, cobalah berfikir positif mengenai diri anda sendiri, jangan pedulikan apa tanggapan orang tentang diri anda. Yang harus anda percayai ialah anda adalah bibit unggul yang memilih suatu jalan yang tepat untuk meraih cita-cita. Kita harus mempercayai bahwa setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Hidup ini adalah pilihan. Dan saat ini, hidup yang anda jalani saat ini ialah pilihan anda. Berdamailah dengan pilihan anda, nikmati setiap prosesnya, dan temukan potensi yang dapat dikembangkan dari diri anda.”

Klien : “Iya, saya selalu berusaha untuk tidak mendengarkan anggapan-anggapan negatif orang tentang pilihan yang saya jalani, tapi kenapa ya, kok saya masih merasa sedikit tidak ikhlas, perasaan tertekan itu masih selalu ada. Dan perasaan tertekan itu kadang membuat saya merasa stress dan malas menjalani aktivitas sebagai mahasiswa.”

Konselor : “Begini, mulai sekarang coba anda petakan, apa tujuan hidup anda. Setiap orang pasti memiliki tujuan hidupnya masing-masing. Dan saat ini, dengan kehidupan anda yang saat ini sedang berlangsung, di tempat ini, di kampus, di rumah, di lingkungan manapun anda berada. Coba tetapkan tujuan apa yang ingin anda capai. Anda pun harus percaya bahwa kesuksesan tidak hanya datang untuk orang-orang dengan pangkat-pangkat atau gelar yang tinggi. Di manapun kita menuntut ilmu, kita harus meyakini bahwa Tuhan selalu melihat prosesnya, dan ada tujuan yang ingin kita capai dalam perjalanan menuntut ilmu tersebut. Itulah kunci utama kepercayadirian, percaya dan tetapkan tujuan.”

Pembahasan

Dari kasus bimbingan konseling di atas, dapat disimpulkan bahwa bidang konseling yang dilakukan ialah bidang klinik yaitu untuk membantu individu mengenalkan masalah yang dihadapi dan menyelesaikannya sesuai potensi yang ada pada dirinya, misalnya masalah pribadi dan depresi. Fungsi konseling yang terlihat pada kasus di atas ialah fungsi kuaratif, yaitu konseling membantu masalah yang dihadapi klien. Klien dimotivasi untuk mengetahui potensi yang dimilikinya. Fungsi preventif pun terlihat dalam kasus ini, yakni konselor tidak hanya berusaha mengatasi masalah yang terjadi, tetapi juga menjaga jangan sampai masalah bertambah.

Tipe konseling yang dapat dilihat dari proses bimbingan konseling di atas ialah Tipe Konseling Krisis. Krisis ialah suatu keadaan gangguan dalam upaya mencapai tujuan penting hidupnya dan hal itu ditanggapi dengan stress, hal tersebut dapat menghambat atau melumpuhkan dalam mengontrol diri secara sadar. Fungsi konselor dalam hal ini ialah menciptakan keseimbangan pribadi dan penguasaan diri dengan cara intervensi langsung atau campur tangan serta dukungan yang tinggi. Sedangkan menurut teorinya, tekik konseling jenis tersebut termasuk ke dalam Konseling ‘Trait and factor’. Konsep utama yang menjadi landasan teori ini ialah kepribadian merupakan suatu sistem sifat atau faktor yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya, seperti kecakapan, minat, sikap, dan tempramen. Konseling sifat dan faktor berasumsi bahwa individu berusaha untuk menggunakan pemahaman diri dan pengetahuan kecakapan dirinya sebagai dasar bagi pengembangan potensinya. Maksud konseling ini ialah untuk membantu perkembangan kesempurnaan berbagai aspek kehidupan manusia. Tugas konseling sifat dan faktor adalah membantu individu dalam memperoleh kemajuan dan memahami dan mengelola diri dengan cara membantunya menilai kekuatan dan kelemahan diri.

Proses Konseling :

a. Analisis : Tahapan kegiatan yang terdiri dari pengumpulan informasi dan data mengenai klien. Pada kasus di atas, sebelum dilakukan konseling, konselor mengumpulkan informasi dan data mengenai klien (identitas diri, potensi, bakat, minat klien, karakteristik keluarga, besar keluarga).

b. Sintesis : Langkah untuk merangkum dan mengatur data dari hasil analisis yang sedemikian rupa sehingga menunjukan bakat klien, kelemahan, kekuatan, dan kemampuan penyesuaian diri.

c. Diagnosis : Menemukan ketetapan dan pola yang dapat mengarahkan kepada permasalahan, sebab-sebabnya, serta sifat-sifat klien yang relevan dan berpengaruh pada penyesuaian diri.

d. Konseling : Membantu klien untuk menemukan sumber diri sendiri maupun sumber di luar dirinya, baik di lembaga atau di sekolah dan masyarakat dalam upaya mencapai perkembangan dan penyesuaian optimal, sesuai dengan kemampuannya.

e. Tindak lanjut : Mencakup bantuan kepada klien dalam menghadapi masalah baru.

Tahapan Psikologi Konseling :

Merupakan suatu cara dalam proses konseling untuk membagi langkah-langkah konseling dengan beberapa tahapan. Dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:

1. Tahapan awal :

Menciptakan hubungan baik dengan klien agar klien dapat terlibat langsung dalam proses konseling. Pada tahapan ini konselor memberikan arah konseling secara tepat, persamaan persepsi tentang hakikat konseling, peran konselor, dan peran klien. Dua langkah yang perlu diperhatikan pada tahapan ini ialah pembinaan hubungan baik dan penetapan batasan konseling.

2. Tahapan inti :

Pada tahapan ini konselor membantu klien memahami gambaran dirinya, hakikat masalah yang dihadapinya, penyebab, dan penemuan alternatif pemecahan masalah, serta cara-cara melaksanakan alternatif tersebut. Pada kasus konseling di atas, konselor menyarankan kepada klien untuk menetapkan tujuan hidup dan percaya akan potensi yang dimilikinya.

3. Tahapan akhir :

Mengadakan penilaian keefektifan proses bantuan konseling dan penentuan kegiatan tindak lanjutnya. Namun, proses konseling yang dilakukan saat praktikum minggu lalu belum sampai pada tahapan ini, karena proses konseling masih berada pada tahapan inti, yakni penetapan alternatif pemecahan masalah.


Bagian 2

Klien : Sebut saja Melati (Nama disamarkan demi keamanan)

Ringkasan Masalah yang Dihadapi

Pada bagian ini, klien ingin mengetahui informasi-informasi mengenai prospek kerja jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia. Kepada konselor, klien meminta pendapat yang berlandaskan informasi mengenai lapangan pekerjaan dan kegiatan apa saja yang bisa dilakukan setelah lulus menjadi sarjana. Pada awalnya klien tidak mengetahui dengan jelas mengenai prospek kerja departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Kebimbangan dan keraguan kerapkali terjadi dari ekspresi wajah klien. Namun, pada akhirnya, setelah mendapatkan penerangan informasi dari konselor, klien merasa yakin untuk melangkah dan memilih suatu pekerjaan yang baik untuknya.

Ringkasan Dialog :

Klien : Saya adalah salah satu mahasiswi Ilmu Keluarga dan Konsumen, saya ingin bertanya mengenai prospek kerja jurusan IKK itu bagaiamana ya?

Konselor : Sesuai dengan namanya, Ilmu Keluarga dan Konsumen, ilmu yang mempelajari keluarga dari manajemen sumberdayanya, manajemen keuangannya, sistem pertahanannya, tahap-tahap perkembangannya, dan masih banyak lagi. Sedangkan ilmu konsumen ialah ilmu yang mempelajari tentang perilaku konsumen, perlindungan konsumen, dan masih banyak lagi. Di IKK pun diperdalam mengenai ilmu tentang psikologi anak, tumbuh kembang manusia, dan pendidikan holistik. Begitu luas cakupan ilmu yang dipelajari, maka besar pula prospek kerja lulusan IKK. Dan jika anda nanti setelah lulus ingin bekerja, pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang anda minati, misalnya jika anda menyukai ilmu tentang konsumen, anda bisa bergabung dengan YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia). Jika anda menaruh perhatian pada ilmu keluarga dan anak dan pengembangan sumberdayanya, anda bisa bergabung dengan BKKBN, atau jika anda berminat untuk membangun sekolah berbasis karakter dan pendidikan anak usia dini atau bina keluarga balita, anda bisa bergabung dengan lembaga-lembaga yang sesuai.

Klien : Jika minat saya tidak diantara yang disebutkan di atas, bagaimana?

Konselor : Sebelum memilih, pertama-tama, kenalilah siapa diri kita, apa motivasi kita, cita-cita kita, dan yang terpenting ialah minat dan bakat kita, karena pekerjaan yang nanti akan kita lakoni jika ingin nyaman menjalaninya, harus sesuai keinginan kita, bakat dan minat kita, oleh sebab itu, langkah anda sudah bagus untuk menanyakan banyak informasi tentang prospek kerja setelah lulus menjadi sarjana. Saat ini saya ingin bertanya, apa minat anda?

Klien : Saya menyukai ilmu ekonomi, saya berminat menekuni bidang-bidang ekonomi.

Konselor : Jika anda berminat di bidang ekonomi, anda bisa menjadi Financial Analyst di perusahaan-perusahaan dalam negeri ataupun swasta. Di IKK diajarkan pula tentang manajemen sumberdaya keluarga, ekonomi keluarga, dan manajemen keuangan keluarga. Ilmu-ilmu tersebut bisa diaplikasikan untuk pekerjaan anda jika ingin bergelut dengan bidang-bidang ekonomi ataupun keuangan.

Pembahasan

Dari kasus bimbingan konseling di atas, dapat disimpulkan bahwa bidang konseling yang dilakukan ialah bidang pendidikan dan pekerjaan. Fungsi konseling yang terlihat pada kasus di atas ialah fungsi kuaratif, yaitu konseling membantu masalah yang dihadapi klien. Klien dimotivasi untuk mengetahui potensi yang dimilikinya. Tipe konseling yang dapat dilihat dari proses bimbingan konseling di atas ialah Tipe Konseling Fasilitatif, yaitu proses membantu klien hingga jelas permasalahannya, selanjutnya bantuan dalam pemahaman dan penerimaan diri, penemuan rencana tindakan dalam mengatasi masalah, semua tindakan dilakukan atas tanggungjawab sendiri, sedangkan tindakan konselor ialah konseling individu dengan cara menyampaikan informasi, mengarahkan, dan menginterpretasikan.

Tahapan Psikologi Konseling :

Merupakan suatu cara dalam proses konseling untuk membagi langkah-langkah konseling dengan beberapa tahapan. Dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:

1. Tahapan awal :

Menciptakan hubungan baik dengan klien agar klien dapat terlibat langsung dalam proses konseling. Pada tahapan ini konselor memberikan arah konseling secara tepat, persamaan persepsi tentang hakikat konseling, peran konselor, dan peran klien. Dua langkah yang perlu diperhatikan pada tahapan ini ialah pembinaan hubungan baik dan penetapan batasan konseling.

2. Tahapan inti :

Pada tahapan ini konselor membantu klien memahami gambaran dirinya, hakikat masalah yang dihadapinya, penyebab, dan penemuan alternatif pemecahan masalah, serta cara-cara melaksanakan alternatif tersebut. Pada kasus konseling di atas, konselor menyarankan kepada klien untuk memilih pekerjaan yang sesuai dengan minat, bakat, dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

3. Tahapan akhir :

Mengadakan penilaian keefektifan proses bantuan konseling dan penentuan kegiatan tindak lanjutnya. Namun, proses konseling yang dilakukan saat praktikum minggu lalu belum sampai pada tahapan ini, karena proses konseling masih berada pada tahapan inti, yakni penetapan alternatif pemecahan masalah, dengan memberikan informasi tentang prospek kerja.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada tanggapan???