Jumat, 15 Mei 2009

Manusia dan Agama

Manusia dan AgamaTausiyah dari Hilda R. S. à Ada seorang kakak beradik yang saling menyayangi, suatu hari sang kakak sakit, adiknya pun mendoakan kakaknya agar cepat sembuh, namun ternyata, ajal datang pada sang kakak. Pada saat pemakamannya, banyak yang menghadirinya, pemakaman berjalan dengan lancar hingga selesai, namun ketika jasad sang kakak telah dikuburkan, adiknya menyadari bahwa kunci mobilnya hilang entah di mana, sudah dicari ke beberapa tempat, namun tak juga ditemukan, pada akhirnya sang adik pun memutuskan untuk menggali kubur kakaknya kembali karena dia berpikir dan sangat yakin bahwa mungkin kunci tersebut jatuh ketika ia memakamkan jasad kakaknya. Akhirnya, kubur kakaknya pun digali kembali, namun, alangkah terkejut sang adik melihat fakta bahwa jasad kakaknya terduduk, kaku, dan disekujur tubuhnya terlilit rantai yang membelenggu. Sang adik sangat sedih melihat kondisi kakaknya yang seperti itu. Ternyata, sang kakak semasa hidupnya sering menunda-nunda shalat. Bayangkan, orang yang menunda-nunda shalat saja mendapatkan azab yang seperti itu, apalagi yang meninggalkannya. Naudzubilahimindzalik, mudah-mudahan kita tidak termasuk ke dalam golongan tersebut. Amin.Materi Diskusi KelompokPada pertemuan minggu ini, kedua kelompok membahas tentang hubungan manusia dan agama, di mana satu kelompok membahas tentang manusia yang dengan mengaplikasikan sendi-sendi agama dalam kehidupan menjadi manusia yang seutuhya karena mereka selalu menjalankan sendi-sendi pokok dan aturan agama (tentunya agama Islam) dengan baik dan benar. Islam adalah agama yang benar. Bukan ‘yang paling benar’ karena, jika dikatakan yang paling benar itu artinya yang lain pun benar.Sedangkan kelompok kedua membahas tentang manusia yang jauh dari aturan agama dan menjadi manusia yang sekuler (manusia yang memisahkan urusan duniawi dengan agama).Banyak orang-orang beriman yang setelah mempelajari Islam lebih dalam menjadi manusia yang seutuhnya, maksud dari ‘manusia seutuhnya’ ialah manusia yang sangat berkualitas secara lahiriah dan batiniah, ia pun memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan sangat mempercayai kemahaagungan Allah. Ia akan berkembang menjadi pribadi yang mencintai dan dicintai sesama, dan juga tentunya dicintai Allah SWT.Allah membuat Norma dan aturan-aturan dalam Islam untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri, sebenarnya agama itu tahu apa yang kita butuhkan. Maka dari itu, Allah mungkin tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi Allah memberikan apa yang kita butuhkan.Dalam hidup ini perlu adanya keteraturan yang berpedoman pada agama. Jika kita telah meyakini Allah, kita akan selalu berpedoman pada Al-Quran dan Sunnah, yang di dalamanya terdapat macam-macam hal lengkap mengenai apapun yang kita butuhkan, seperti misalnya, dari hal yang kecil terlebih dahulu, dari cara makan, harus duduk, cara tidur yang dianjurkan menghadap ke kanan (mengikuti anjuran Nabi Muhammad SAW), itu sudah terbukti oleh para medis bahwa hal itu menyehatkan, bahkan dalam keajaiban gerakan shalat, ternyata gerakan shalat pada umumnya sangat baik untuk kesehatan tubuh kita, dan pada khususnya saat kita sedang sujud. Saat sujud, darah yang membawa oksigen segar mengalir ke otak sehingga otak kita mudah mencerna berbagai pelajaran, mudah menangkap serta memahami ilmu pengetahuan. Itu semua sudah terbukti secara medis.Manusia dengan fitrahnya yang tak luput dari dosa dapat kembali lagi ke jalan yang benar dengan tuntunan Al-Quran dan Sunnah, itulah yang kita butuhkan, jalan menuju pintu taubat menuju kehidupan yang lebih baik. Dari hal-hal kecil seperti itu, kita sedang menjalankan proses menjadi manusia seutuhnnya dengan mengamalkan sendi-sendi agama Islam. Karena perubahan-perubahan untuk menjadi manusia yang mulia itu harus didasarkan pada 3 M terlebih dahulu, seperti kata Aa Gym. Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal-hal kecil dan Mulai dari Sekarang.Firman Allah dalam surat Ar-Rum : 30“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah, itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”Sedangkan orang yang yang selalu memisahkan urusan duniawinya dengan urusan agama itulah yang disebut manusia sekuler. Biasanya kesekulerisasian ini banyak terdapat di luar negeri, mereka jika bekerja dan melakukan kegiatan apapun yang menyangkut duniawi mereka tidak menghubungkannya dengan aturan agama, bahkan, banyak orang nasrani di luar bangsa ini yang memisahkan urusan duniawi dengan aturan agamanya, terbukti dengan banyaknya gereja yang sepi. Bahkan ada artikel yang mengatakan bahwa ada sebuah gereja yang dijual untuk urusan bisnis. Bisa dibandingkan dengan mesjid? Sesekuler-sekulernya orang Islam, tidak pernah terdengar ada orang Muslim yang menjual mushola atau sebuah mesjid untuk kepentingan bisnis.Namun, tidak hanya di luar negeri saja, di negara kita tercinta ini pun banyak terdapat sekularisasi. Banyak yang tidak menyadarinya, bahwa mungkin mereka memiliki agama, namun hanya sebatas untuk pelengkap profil KTP saja. Hanya untuk identitas saja, namun dalam penerapannya sangat tidak religius. Sering kita dengar istilah ‘Islam KTP’ istilah itu menggambarkan orang-orang yang tidak mempedulikan sendi-sendi Islam secara kaffah atau sempurna, mereka hanya setengah-setengah dalam menjalankan syariat Islam, oleh karena itu munculah istilah STMJ (Shalat Terus Maksiat Jalan). Hal tersebut dikarenakan orang yang mengaku beriman kepada Allah, takut akan api neraka, dan ingin masuk surga, namun masih melakukan hal-hal yang bisa menjauhkan dari surga dan mendekatkan ke api neraka. Kurangnya pengkhayatan terhadap kitab Allah ialah penyebab utama adanya sekularisme, munculnya aliran-aliran yang menyimpang dari ajaran Islam sesungguhnya, dan juga adanya JIL atau Jaringan Islam Liberal yang menentang Al-Quran.Solusi yang tepat untuk masalah ini ialah yang utama, selalu mengamalkan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangannya, dalam melakukan sesuatu harus ikhlas hanya karena Allah, selalu merasa Allah sedang menatap kita jika ingin berbuat maksiat dan menyimpang dari ajaran yang benar, jika kita selalu ikhlas berjuang di jalan Allah, maka Allah akan mengirim malaikat untuk menjaga kita, dosa-dosa pun akan berguguran.Dalam memutuskan sesuatu kita harus mengetahui ilmunya, baik dan buruknya, telah Allah sediakan Al-Quran dan Hadis jika kita bimbang bertanya mana yang benar. Allah permudah segalanya jika kita mau mencari tahu dengan keikhlasan dan tawakal. Selain itu menjaga lisan dari ucapan-ucapan yang tidak berguna, bahkan ucapan-ucapan yang bisa mengukir dosa dan meruntuhkan istana yang dibangun untuk kita di surga. Karena lisan kita ibarat pedang yang dapat membunuh ketulusan dan kebaikan-kebaikan.Cara lainnya ialah belajar tidak terlalu mencintai harta, sehingga jika harta tersebut diambil dari kita, kita tidak terlalu bersedih dan menyalahkan Allah. Karena sesungguhnya semua harta yang kita miliki ialah titipan Allah, jadi, jika Allah mengambilnya suatu saat kita akan ikhlas, asalkan rahmat dan hidayah Allah tidak lepas dari hati sanubari kita.Perilaku mulia lainnya yang bisa menjauhkan diri dari hal yang menyimpang dari agama ialah selalu memelihara keutamaan shalat, seperti tausiyah dari Mbak Hilda pada awal asistensi, kita tidak boleh menunda-nunda waktu shalat, apalagi sampai meninggalkannya. Karena Shalat ialah kunci kesuksesan kita untuk menjadi manusia yang seutuhnya, selain itu, memelihara amanah dan janji-janji serta menutup aurat pun dapat menjadikan diri kita sempurna di mata Allah. Kita tidak boleh hanya ingin terlihat sempurna di mata manusia, karena yang terpenting ialah terlihat sempurna dalam pandangan Allah.Sifat-sifat mulia Allah (Asmaul Husna) membuktikan bahwa Allah sangat sayang kepada makhluk-makhluk ciptaannya, Ia jauh lebih mengenal diri kita dari pada diri kita sendiri, sehingga Ia tahu apa yang terbaik untuk kita dengan membuat aturan-aturan dan norma yang sesuai dengan fitrah manusia.“Ada sebuah taman Firdaus Allah, di mana tak ada istana-istana, tidak pula kebun-kebun, tidak juga sungai madu dan susu, yang ada hanyalah sebuah taman Firdaus, di mana orang memandang semata-mata wajah Ilahi.”(Al-Hadist)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada tanggapan???