Minggu, 10 Februari 2013

PERPISAHAN

Jangan pernah takut ku tinggalkan, 
Saat bintang tak mampu lagi berdendang,
Saat malam menjadi terlalu dingin,
Hingga pagi tak seindah biasanya,

Ku tak bisa merubah yang telah terjadi,
Tapi aku kan menjanjikan yang terbaik,
Agar kita tak pernah menjadi jauh,
Meski be
da darmaga untuk kita berlabuh...

Takkan mungkin kita bertahan,
Hidup dalam
kesendirian,
Panas teri
k, hujan badai,
Kita lalui bersama,

Saat hilang arah tujuan, 
Kau tahu ke mana berjalan, 
Meski terang meski gelap, 
Kita lalui bersama...

Pernah kita jatuh,
Menc
oba berdiri,
Menahan sakit dan menangis,
Tapi
arti hidup lebih dari itu,
Dan kita menc
oba melawan...

-Siti Nurhaliza, Seindah Biasa-

Lagu di atas adalah lagu favorit gw saat SMP. Di mana gw merasa itu adalah gambaran cerita kehidupan siapapun yang pernah menjalin ikatan, termasuk ikatan persahabatan. Dulu, gw  suka sedikit  lebay dengan apa yang namanya perpisahan. Perpisahan SD nangis sampai gogoakan saat menyanyikan lagu wajib perpisahan, yang kira-kira liriknya begini…

“Mengapa… waktu itu kita harus berjumpa…
ohh, mengapa, kini kita harus berpisah lagi
Berpisah berpisah lagiii…. Berpisah berpisah lagiiiiii…”

Gw bingung dengan lagu itu sebenarnya, kalau di ingat-ingat sekarang. Sepertinya liriknya agak menyalahkan takdir. Pertemuan dan perpisahan itu kan memang pasti selalu ada dalam tahapan proses hidup, tak usah dipertanyakan lagi kenapa kita dipertemukan jika pada akhirnya kita harus berpisah.

But, saat itu, gak muna, gw terhanyut dengan lagu itu, apalagi diiringi permainan gitarnya Pak Guru Favorit kami. Bukan hanya gw yang nangis gogoakan. Tapi temen-temen gw juga sama aja. Tangisan itu menular, kita sama-sama seperti ‘lonely fool’ di tengah keramaian.

Ada lagi lagu ‘Pileleuyan’ ini lagu berbahasa Sunda. Karena kami berada di dataran Sunda, kami menggunakan lagu wajib perpisahan itu, liriknya begini.

Hayu batur hayu batur,
Urang kumpul sarerea,
Hayu batur hayu batur,
Urang sosonoan heula.

Pileuleuyan pileuleuyan, 
Sapu nyere pegat simpay,
Pileuleuyan pileuleuyan,
Paturay patepang deui.

Amit mundur amit mundur,
Amit ka jalma nu rea,
Amit mundur amit mundur,
Da kuring arek ngumbara.

Nah, ini lagu lebih semangat dibandingkan lagu sebelumnya. Pileuleuyan, artinya seperti “Sayonara” mungkin ya… namun lagu ini jelas lebih optimis Karena ada kalimat “paturay patepang deui” yang artinya “nanti kita bisa bertemu lagi” Lagu yang meminta pamit untuk mengembara--dalam hal ini menuju kehidupan yang lebih menantang lagi. “Welcome to the Real Life”. Lagu ini sengaja dinyanyikan terakhir untuk menghibur para penonton dan tentunya untuk para subjek yang berpisah. Kita memutar sambil melambaikan tangan ke penonton dan masing-masing saling berpelukan. Berpelukannya awalnya satu-satu, lama kelamaan jadi berlima, bertujuh, bersebelas….

Terima kasih SD Negeri Cipaku Perumda yang telah memperkenalkan gw pada dasar persahabatan yang membekass hingga kini.

***
Masuk SMP, gw bertemu dengan teman-teman baru, juga tantangan-tantangan baru. Ada kalanya kita menganggap ini semua adalah akhir, padahal ini adalah awal mula.

Persahabatan berawal dari pertemuan gw dengan sesosok makhluk bernama Fika Aras Ardita Aditia Yudhabrata. Nama yang sungguh panjang, bukan?

Tapi, tenang, dua kata terakhir hanyalah ulah gw yang menyambung-nyambungkan nama sahabat gw ini dengan nama salah satu teman sekelas kita, dan dia pria. Gw sering menjahili mereka berdua dengan menyebut mereka pasangan serasi. Jadilah nama itu terbentuk.

Persahabatan kami ditandai dengan adanya ritual khas yang disebut ‘Kukurilingan’. Definisi Operasional ‘Kukurilingan’ menurut kami adalah kegiatan mengelilingi setiap koridor kelas setelah ujian usai. Berhubung sekolah kami itu panjaang dan cukup luas, jadi kita leluasa untuk menjalankan aksi keliling-keliling sambil ketawa-ketawa (kadang sampai seperti orang kerasukan).

#Astagfirulloh!

Tapi sayangnya, Fika hanya bertahan 1 semester di SMP Negeri 4 Bogor. Kelas 1 Semester 2, dia pindah ke Medan karena bapaknya bekerja di sana. Itu adalah tragedi perpisahaan awal yang cukup membuat anak labil macam gw kehilangan sahabat baik.

Kadang, saat itu gw ngerasa lebih baik ninggal daripada ditinggal.
Saat itu, kita sepakat bakal saling surat menyurat. (Waktu itu belum punya HP, apalagi internet) Jadi satu-satunya alat berhubungan adalah merpati pos.

Berhubung saat itu gw lebay dan lebih melankolis dibanding fika yang lebih phlegmatis. Gw suka bilang, “Fika, ucapin kata-kata terakhir dong…” Tapi Fika malah bilang, “Ihh… Apaan sih, Gak ada kata-kata terakhir, kita itu bakal ketemu lagi, Windaaa…”

Setelah hari itu berlalu, gw sering mencoba mencet nomor telepon rumah Fika yang di Ciomas. Seperti hari-hari biasa gw melakukan hal itu, nyaris setiap hari kita berbincang di telepon, tapi kali itu, saat gw memencet nomor telepon rumahnya, hanya ada nada sambung dan tak ada yang mengangkat. Gw tutup gagang telepon, pencet redial, tutup lagi, pencet redial… Tutup lagi… Redial Lagi… #entah kenapa dulu gw lebay. -____- dan Fika harus tau ini, bahwa gw sering melakukan adegan konyol setelah kepergiannya.

Seperti, menyimpan pas foto hitam putihnya yang berukuran 2x3 dan gw taro di binder (sampai sekarang masih ada). Mengoleksi setiap perangko yang datang bersama surat-suratnya dari Medan. Memelihara ikan bernama Uka hasil kerajinan tangan Fika (sampai sekarang pun masih gw simpan) dan tentunya surat-surat beserta amploppnya (klo yang ini sebagian udah di makanin tikus,,,) :D ngehehe… piss ahh pik…

Ini hasil kerajinan tangan Fika yang dikirim lewat surat. Gw gak tau, kenapa si Fika dulu ngasih gw ikan, dinamain pula, namanya Uka. Dan gw pun aneh. Nempelin ini ikan di belakang binder. *Tapi meski itu semua adalah hal konyol yang dulu kami anggap serius. Dunia anak-anak memang selalu penuh keunikan, keajaiban, dan kenangan yang manis jika dikenang saat kita beranjak dewasa*


Dalam surat, Fika sering menceritakan teman-teman sekelasnya di sekolah barunya, tentang teman sekelasnya yang dia sukai, tentang temannya yang menyebalkan, dan apapun yang dia lakukan di sekolah barunya, SMP 7 Medan. Gw pun menceritakan kehebohan dan keseruan temen-temen gw yang juga temen-temennya Fika di SMP 4.

Kita jadi seperti sahabat pena, sekalinya kirim surat, tebel banget… bisa berlembar-lembar dalam satu amplop, belum lagi ada yang bentuknya majalah kecil yang kita buat sendiri. Dengan surat setebal itu, biasanya kita menggunakan perangko yang amat sangat minim, yaitu dengan nominal 500, 1000. 2000 itu udah paling mending. Bayangin, Bogor-Medan, Jawa Barat-Sumatera Utara, surat tebel2 dalam satu amplop, sampe menggembung kalo disentuh dari luar dan harus ditimbang, dengan perangko seminim itu…. kirim ke kantor pos Januari, nyampe-nyampe bisa Bulan Juni. *dan kadang, berita-berita yang diceritakan dalam surat itu udah basi. Cerita zaman kapan, dibaca zaman kapan.

Ini adalah beberapa perangko yang dikirim oleh Fika, yang gw abadikan di binder, masih ada sampai sekarang. Itu ada sedikit tulisan-tulisan ababil. Harap maklum. Anak kecil, hehe... terlalu penuh pengkhayatan, masih lucu, lugu, dan agak sedikit cupu. *hohoho*


Semuaaa gak serba instan kayak sekarang. Sekalinya kita lagi sebel sama si A, kalau sekarang, bisa curhat langsung lewat sms, WA, atau sosmed… Lah dulu… Misalnya si Fika lagi sebel sama si B, curhat di surat bulan Januari, dibaca oleh gw bulan Juni… Dan itu ternyata curhatan yang sudah basi, karena bisa saja bulan Juni itu Fika sudah tidak sebel lagi sama si B. Lebih parah… waktu itu Fika nyeritain salah satu anggota AFI (Akademi Fantasi Indosiar) yang waktu itu lagi marak-maraknya, namanya Veri (Juara AFI 1) tapi sayangnya, pas gw baca surat Fika, Zaman telah berganti, Waktu telah berlalu… Karena AFI sudah tidak zaman lagi dan Indonesian Idol yang lagi happening.

Tapi, meskipun demikian, kami saling menikmati ‘cerita basi’ kami masing-masing. Gw masih tetep suka ngakakk baca surat-suratnya Fika. Dan Fika pun sepertinya sering gubraggg dan ngakak membaca tulisan2 gw dalam surat yang setebel apaan tau itu. *Atau mungkin ngakak karena saking basinya* :DD

Dan dari surat menyurat itulah… gw berlatih menulis, gw rasa Fika juga sama. Fika itu pandai menulis. Gw suka gaya menulisnya yang mengalir dan penuh kejutan.

Sampai SMA kami masih terus surat-suratan, meskipun waktu itu intensitasnya berkurang, karena Alhamdulillah, kami sudah tidak terlalu purba lagi. Sudah memiliki Hp masing-masing. Hp yang masih ada antenenya kayak yang suka dipake pak polisi di jalan raya. Hp jadul, tapi lebih mendingan dalam menyerap informasi secara cepat, dibandingkan dengan surat menyurat.

Dan, pas kuliah… 
Ternyata kita dipertemukan lagi oleh yang Maha Kuasa.
Fika masuk melalui jalur USMI, sama seperti gw. Dan saat bertemu lagi setelah bertahun-tahun tidak berjumpa… kita langsung melakukan ritual yang sering kita lakukan dulu. Yaitu ‘Kukurilingan’. Bedanya, kali ini, di IPB.

Berarti benar kata Fika dulu, kita bener-bener bisa bertemu lagi. Di Gedung Graha Widya Wisuda yang beratap biru itu *kalau sekarang sudah berubah warna menjadi abu-abu*. Di bangku penonton dengang tulisan huruf F besar (Fakultas Teknik Pertanian), ada seseorang yang dadah-dadah di ujung sana. Saat itu, gw yang juga lagi duduk di bangku penonton bertulisan I besar (Fakultas Ekologi Manusia), dadah juga ke orang yang lagi dadah-dadah ke arah gw, yang memang benar itulah Fika. Udah sekian lama gak ketemu, ternyata dia masih seperti yang dulu. Menyenangkan.

Kini, kami sama-sama telah lulus. Dan telah menemukan jalannya masing-masing. Dulu berpisah, kemarin bertemu, sekarang berpisah lagi. Itu memang hal yang biasa dalam kehidupan. Sekarang kita sudah lebih dewasa dalam memandang hidup.

Sekarang Fika pindah ke Jambi, dia bekerja di sana, *dan bisa saja selamanya di Jambi jika menemukan jodohnya* :D bertelur, berkembang biak, dan beranak pinak di sana. 

Dan gw.... Masih tetap di sini,
Di Pulau Jawa tercinta. 
Menjalankan amanah, menjaga janji, meniti mimpi. 


5 komentar:

  1. kalian pernah satu kelas di SMP, trus pisah, trus ketemu lagi di IPN gitu?!
    kayaknya emang jodoh deh.
    [--"]

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyee... kita pernah sekelas, 1 semester doang c... dan ketemu lagi di kuliahan... hoho... *udah kayak film2 romantis korea dah*

      widih, serem amat jodoh, masa jeruk minum jeruk... v.v"
      sesama jenis dilarang saling berjodoh...

      Hapus
    2. dunia ini sempit brooooohhhhh

      Hapus
    3. Dunia itu sempit broooooh,,

      Hapus

Ada tanggapan???