All people smile in the same language... So, give your smile before exploring my blog...
Jumat, 17 Mei 2013
THE PHILOSOPHER GIFT
Selasa, 31 Juli 2012
CELAH
Jumat, 29 Juni 2012
DETIK-DETIK YANG KEMBALI
Jumat, 23 Maret 2012
EVERYBODY'S FOOL
Perfect by nature
icons of self-indulgence
just what we all need
more lies about a world that…never was and never will be
have you no shame? Don't you see me?
you know you've got everybody fooled
Look here she comes now
bow down and stare in wonder
oh how we love you
no flaws when you're pretending
but now i know she…never was and never will be
you don't know how you've betrayed me
and somehow you've got everybody fooled
without the mask where will you hide?
can't find yourself lost in your lie
i know the truth now
i know who you are
and i don't love you anymore
it never was and never will be
you don't know how you've betrayed me
and somehow you've got everybody fooled
it never was and never will be
you're not real and you can't save me
somehow now you're everybody's fool
-Ev-
Selalu menarik, mengetahui arti di balik kata-kata dalam sebuah lirik lagu yang sulit dipahami. Tergantung persepsi masing-masing orang mengartikannya. Salah satu lagu yang membuat saya bingung dan merasa ‘woww’ setelah mengetahui artinya ialah lagu yang berjudul “Everybody’s Fool” karya Mbak Amy Lynn Harzler dkk.
Saya emang bermasalah sama kemampuan listening. Hehe… Jadi inget guru bahasa Inggris waktu SMA yang nyaranin buat banyak dengerin lagu-lagu berbahasa Inggris ataupun film tanpa teks. Dan itu bener-bener membantu banget untuk mempertajam pemahaman kita saat mendengarkan native speaker ngomong.
Sama seperti saat pertama kali mendengarkan lagu yang menurutku uniq ini. Awalnya, hanya kata ‘Everybody’s Fool” yang jelas terdengar, lalu, kata-kata sarkastis seperti “have you no shame? Don't you see me? You know you've got everybody fooled."
Awalnya, saya kira ini lagu tentang penghianatan seseorang terhadap yahh… biasa lah, kisah cinta yang basiii… antara seseorang dengan pacar atau semacamnya, yang merasa dihianati, coz dalam liriknya tercantum juga kalimat yang menegaskan bahwa lagu itu bercerita tentang Penghianatan, “you don't know how you've betrayed me and somehow you've got everybody fooled”.
Tapi ternyata, lagu ini bukan dimaksudkan untuk para lelaki hidung belang, ataupun untuk para penghianat negeri yang bertebaran di muka bumi. Tapi untuk seseorang yang “Tidak Bersyukur dalam Hidupnya.”
"Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (QS. Luqman : 12).
Bersyukur adalah hal yang kadang kita kesampingkan, atau tidak sadar kita lalaikan. Sifat manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang ia sandang, sikap manusia yang penuh dengan ketamakan dan ketakutan tampak tak sempurna di hadapan makhluk-makhluk lainnya di muka bumi.
Manusia. Ya, termasuk saya juga. Kita semua manusia, yang tak luput dari kelalaian semacam itu. Lupa bersyukur, tidak menyadari bahwa kita sering melakukan tindak menutupi kekurangan yang ada pada diri kita dengan cara-cara yang, naudzubillah menyiksa dunia akhirat.
Jadi inget perbincangan dengan seorang teman, dia penggemar drama-drama korea. Sama seperti saya… hehe… Pas lagi nonton, emang agak-agak aneh sih, kenapa artis-artis korea itu kulitnya aneh. Maksudnya, terlalu ‘inhuman’. Bagus sih, tapi, pas tau, ternyata di sana gak sedikit orang yang melakukan plastic surgery untuk menyempurnakan penampilan. Bahkan menurut info, di sana lebih susah cari orang yang gak operasi plastik, karena oplas-oplasan udah jadi acara yang lumrah di sana, udah kayak immunisasi!
Ada juga para model n’ artis yang sampai melakukan tindakan bunuh diri karena badannya bertambah gemuk ataupun kulit mulai keriput. Mereka dituntut harus serba sempurna secara fisik. Mereka hidup atas permintaan pasar, tak peduli seberapa menderitannya, seberapa sakitnya, seberapa berdosanya proses menyempurnakan fisik itu. Yang terpenting ialah sempurna di mata public, sehingga mereka bisa memuaskan mata masyarakat yang melihatnaya, mereka seolah bekerja seperti alat, “icons of self indulgence”.
Bukannya saya mau ngurusin urusan para artis-artis korea. Bukan hanya artis korea aja. Banyak banget orang yang juga melakukan tindakan yang menganiaya diri sendiri untuk terlihat cantik di mata pemirsa. Karena itu memanglah sifat manusia.
Okelah kalau memperbaiki penampilan dengan cara-cara yang halal dan dapat diterima akal sehat, coz Allah juga suka kebersihan dan keindahan. Tapi kalau udah operasi-operasian dan menggunakan obat-obat berbahaya, itu namanya menganiaya diri sendiri dunia dan akhirat (kecuali untuk kesehatan), misalnya karena kecelakaan harus menjalankan bedah plastik. Wallahu’alam, tapi setidaknya itu masih bisa dimengerti.
“Oh how we love you no flaws when you're pretending.” Ketika kita berpura-pura pada dunia, ketika kita menggunakan kedok kebohongan. Seolah semua mencintai kita, tak ada cacat yang mereka lihat dari diri kita. Kita begitu mempesona, kita begitu memikat, kita begitu dicintai. Tanpa mereka tahu, siapa diri kita di balik semua keindahan palsu yang kita perlihatkan pada dunia.
Di video klip lagu tersebut saya melihat seseorang yang sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Penyesalan dalam diri atas pertanyaan mengapa ia harus mengikuti hawa nafsu, untuk berpura-pura, menjadi seseorang yang sama sekali bukan dirinya. Seseorang dalam lagu itu menyesal mengapa ia harus mengikuti perintah yang ia tahu itu salah dan tak sesuai hati nuraninya, yang berujung pada penelantaran suara hati.
“you're not real and you can't save me.” Ketika ia menyadari bahwa mengizinkan dirinya untuk menjadi ‘sempurna’ di mata manusia dengan cara-cara yang menyiksa tidak akan menyelamatkannya dari keadaan yang sesungguhnya, dalam hal ini saya merelasikan pada dunia setelah kehidupan. Karena teman sejati yang akan menyelamatkan kita nanti hanyalah Amal. Bukan apa yang kita punya di dunia.
“without the mask where will you hide? can't find yourself lost in your lie”
Itulah yang diceritakan lagu ini, Everybody’s Fool. Manusia yang kadang melihat hanya dari penampilan luarnya, manusia yang berusaha terlihat sempurna di mata public dan tidak mempedulikan tatapan Tuhan terhadap dirinya. Manusia yang sering berbohong untuk menutupi kekurangannya. Manusia yang sering mengeluh atas masalahnya. Manusia yang menggunakan topeng untuk menyamarkan kepalsuannya. Manusia yang menghianati dirinya sendiri dengan mengabaikan hati nurani. Manusia yang terlalu cinta dunia dan tersiksa karena tuntutan duniawi.
Yeah, and sometimes u’ve got everybody’s fool.
***
"Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati." (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (Al Mulk : 23).
Mari bersyukur… J
Minggu, 26 Februari 2012
KIBLAT VS LACRYMOSA

Punya Idola?
Punya artis Favorit?
Punya penyanyi favorit?
Punya grup band favorit?
Punya penulis favorit?
Punya warna favorit?
Punya style favorit?
Punya makanan dan minuman Favorit?
Pasti semua orang punya jawaban masing-masing dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sesuai selera. Sesuai juga dengan identitas mereka, sebagai umat muslim, jelas, tak usah ditanya lagi, bahwa kita pasti mengidolakan Nabi Muhammad sebagai panutan, style kita tetap dengan hijab, sebagai muslimah yang seutuhnya.
Kita pun punya idealisme sendiri-sendiri mengenai siapa penulis favorit kita. Ada yang mengidolakan tulisan seorang Atheis, padahal dia bukan seorang Atheis. Ada yang mengaku berkiblat pada salah satu grup band tertentu. Saya punya teman, ia singer sebuah band, dan dia mengaku terinspirasi dari grup band Paramore, grup band asal Amerika. Saya juga punya teman seorang Otaku. Otaku adalah orang-orang yang gemar banget sama hal-hal berbau jepang, doramanya, style’nya, band-band’nya, gamesnya, dll. Ada juga yang Korean lover… Sampai mereka berusaha belajar bahasa-bahasa Negara idola mereka. Sampai mereka memajang foto-foto artis kesayangan mereka sebagai wallpaper hp, PC, dll. Bahkan, ikal pun sampai memajang poster H. Rhoma Irama di kamarnya.
Sebenarnya saya tidak berhak berpendapat mengenai ini. Tapi kadang saya juga sebel lihat orang yang menangis gara-gara gak kebagian tiket konser, misalnya pas Justin Bieber ke Indonesia. Ada yang nangis lebay banget.
Pernah ada seseorang yang tanya, “Win, lu berkiblat pada apa sih?” saya kaget banget denger pertanyaan teman saya itu. Ya saya jawab spontan tanpa mikir, “Ka’bah lahh…” Wong setiap sholat saya menghadap kiblat yang patokannya adalah Ka’bah.
Ternyata maksud beliau di situ ialah perluasan makna dari kata ‘kiblat’. Maksud dia disini ialah style, khususnya gaya menulis. Maksud beliau adalah ‘terinspirasi dari siapa?’. Jika dijawab, saya juga bingung, coz saya tidak merasa ber’kiblat’ pada siapa2 dalam menulis. Saya merasa kadang malah gaya menulis saya tidak konsisten. Kadang romatis mellow, kadang sembrono, kadang tertata, kadang ngotot, kadang sinis. Dalam menulis, saya hanya berkiblat pada suara hati aja.
“Penulis harus punya idealisme” kata salah satu teman seperguruan saya. Jujur, kadang saya—kalau dikatakan penulis, saya bukan penulis yang punya idealisme. Saya mau nulis apa aja sebenernya klo diminta. Tapi dipikir-pikir, menulis yang tidak bermanfaat hanya membuang-buang waktu. Jadi, mulai saat ini saya ingin belajar menulis mengikuti jalur yang benar saja. Meski gak terlalu bener-bener amat, tapi setidaknya, ‘Mencoba untuk tetap berada di jalan yang benar’.
Teman saya itu akhirnya mengerti dan bertanya lagi, “Kamu tuh kenapa suka nulis yang horror-horror sih?”
Saya jadi inget penulis idola saya dulu… hehe, saya jadi sadar, memang tulisan-tulisan saya dipengaruhi gaya tulisannya RL. Stine. Gak usah lah ya, saya jelasin lagi siapakah dia. Yang jelas, dia gak kalah ngetop sama Einstein… hehe…
Begitu besar pengaruh karya seseorang pada karya-karya generasi berikutnya.
Seperti perlunya tinjauan pustaka dalam mengerjakan laporan ilmiah. Kita pun perlu referensi dalam menulis ‘apapun’. Untuk belajar banyak mengenai pengalaman. Untuk belajar lebih banyak mengenai kesempatan.
Semenjak saya mengikuti buku-buku RL. Stine, dari SD saya sudah sangat suka hal-hal berbau horror. Hingga SMP saya melihat suatu video klip yang membuat saya terkagum-kagum, karena saya membayangkan cerita-cerita Horror RL. Stine memiliki soundtrack dan view seperti di video klip itu. Video klip itu bernuansa Horror, dengan scenery yang sangat dark, make up penyanyinya udah kayak hantu apaan tau, main piano, rambut panjang, pake baju perpaduan merah-hitam, trus nurunin tangga perlahan sambil nyanyi dengan tatapan penuh kehorroran, terus abis itu nginjek-nginjek meja makan. Maksudnya, berjalan di atas meja makan dengan anggunnya—tetap dengan wajah pengen makan orang.
Judul lagu itu adalah Call Me When You’re Sober, yang dinyanyikan vokalis wanita bersuara sangat powerfull, mezzo soprano type, dengan lead vocal : Amy Lee. Dari situ saya mendadak suka dengan lagu-lagu dari grup band asal Arkansas, Amerika Serikat itu. Apalagi saat keluar lagu-lagu lainnya kayak Bring Me to Life dan Going Under. Selain Poppy Mercury, saya pun jadi sangat suka Evanescence berkat lagu-lagunya yang cocok dengan khayalan saya tentang kisah-kisahnya RL. Stine.
Tidak hanya tulisan, yang tadinya saya suka warna-warna unyu seperti orange, kuning, pink, dan warna-warna lain yang ‘cewe banget’, mulai dari situ saya jadi menyukai warna-warna soft and dark, tapi berani, kayak hitam, putih, deep purple, dan merah. Dan saya pun merasa berubah menjadi orang yang lebih bijaksana dari sebelumnya. Yang waktu SD nakal, suka banget sama yang namanya ngejailin temen, sampai merosotin celana-celana anak tak bersalah, hingga jadi lebih rada kaleman dikit.
Saya bertaubat setelah saya mengetahui siapa diri saya sebenaarnya, saya bertaubat atas kenakalan-kenakalan yang dilakukan di masa lampau, atas keegoisan, atas kedengkian, atas kemarahan pada orang lain. Dan mulai saat itu saya lebih sering berbicara di dalam hati saja. Menekan segala keinginan, dan mulai mengasihani diri sendiri. Pelampiasan masa kanak-kanak yang nakal, transisi menuju remaja awal. Dan saya mulai mendengarkan lagi musik-musik gloomy yang universal.
Dibandingkan musik-musik dalam negeri. Lirik-lirik lagu dari band yang saya sukai lebih universal. Bagi anak SMP macam saya lebih baik mendengarkan lagu-lagu yang liriknya tidak saya mengerti sepenuhnya daripada mendengarkan lagu-lagu Indonesia tentang cinta-cintaan yang tidak universal. Maksudnya, kenapa mayoritas lagu-lagu di Negara ini berbicara tentang cinta tentang ‘lawan jenis’ melulu. Gak semua orang pernah pacaran kan? Gak semua orang pernah ngalamin seperti apa yang dijabarkan dalam lirik!
Lagu-lagu Indonesia yang bagus itu menurut saya seperti lagunya Chrisye :: damai bersamaMu, ketika tangan dan Kaki bicara, lagu2 religi yang berkisah tentang persahabatan, cinta pada Tuhan, dan kepedulian, saya selalu suka.
Saya baru mengetahui arti lirik-lirik lagu evanescence saat masuk bangku kuliah. Saya baru lumayan mengerti dengan bahasa Inggris. Ketika dulu saya hanya mempedulikan view gothic’nya yang sesuai dengan khayalan saya. Kini saya mulai mencari arti di balik lirik-lirik yang mereka sertakan dalam lagu. Dan itu sangat membuat saya lebih kritis lagi, karena ternyata, lirik-liriknya pun susah diartikan. Seperti halnya puisi, (kata orang) semakin sulit diartikan puisi itu, maka semakin bagus. Ada makna tersembunyi di balik semua itu. Maka setelah kita mengetahui maknanya, kita akan terkagum-kagum. Dan saat ini saya telah mengerti apa maksud dari beberapa lagu hits mereka.
Mereka identik dengan kehorroran. Bahkan teman KKP saya sering protes jika saya menyetel lagu-lagu itu, karena dia ketakutan. Padahal, saya juga sebenarnya penakut. Yahh, namanya juga usaha, untuk mengatasi rasa takut, jadilah menakutkan… hihi…
Tapi, setelah mencari tahu kehidupan para personilnya, saya penasaran, kenapa mereka selalu mengkonsep musik-musik seperti itu? Dan ternyata setelah cari-cari tau, mereka itu tidaklah seperti apa yang kita anggap. Mereka itu tidaklah seperti suketi yang punggungnya bolong. Mereka itu justru sangaaat-sangat sanguinis dan ramah. Kehidupan mereka sama sekali tidak mengerikan apalagi psikopat.
Di balik lirik dan gambar Lacrymosa (horror n tearful) mereka, mereka adalah tipe-tipe manusia yang ceria dan friendly. Bagaimana saya bisa tau? Saya cari tau, dan saya mengamati, karena saya akui bahwa saya adalah salah satu fans mereka. Dan saya pun bercermin pada diri saya sendiri. Meski tulisan-tulisan saya horror-horror, meskipun banyak status-status atau postingan-postingan saya yang mengerikan dan terkesan Gloomy.
Saya tidaklah seperti apa yang saya tuliskan…
Saya tidaklah seperti itu…
Itu hanyalah 'Konsep' yang saya sukai. Menyukai bukan berarti ingin mengikuti segala-galanya. Saya bukanlah seorang fanatik. Saya hanya menyukai ketulusan yang bersahaja. Saya hanya...terinspirasi… ^^
Namun tetap,
Tuhan saya Tetap Allah SWT.
Saya bersaksi Bahwa Muhammad adalah utusan Allah,
Dan, Kiblat saya… Tetap Ka’bah.
Sumber Gambar : evanescence fanpage (asian tour)
Selasa, 21 Februari 2012
LIFE DEADLINE

I envy you so much,
You have extinguish light window,
Today I hesitated,
My body hesitated,
I felt uncomfortable and without a word turned and come back…
-Shin Ji Hyun-
Terlepas dari keberadaan Surga dan Neraka. Terlepas dari pengetahuan manusia tentang batas takdir antara hidup dan mati. Jika kita mengetahui kapan kita akan mati, dan menemukan sebuah pesan hidup yang perlu dilakukan sebelum kita mati. Apa yang akan kita lakukan? Akankah kita masih sanggup bersikap munafik terhadap diri sendiri dan orang lain? Apa justru kita akan berusaha jujur meskipun menyakitkan dan melakukan berbagaimacam kebaikan dengan penuh ketulusan yang bisa kita persembahkan untuk yang terakhir kalinya, karena kita tahu, kapan kita akan mati.
Ada sebuah kisah yang membuat hati dan pikiran saya terpukul-pukul berkali-kali. Seperti jika sedang membangunkan orang dari tidur panjang dan ketidaksadaran. Jika kita melihat seseorang masih saja tidur di pagi hari, meski langit telah terang benderang. Akankah kita membiarkan seseorang melewatkan rezekinya? Bagi orang yang bijaksana, mungkin ia akan menyadarkan yang tertidur, dengan pukulan-pukulan kecil yang membuat orang itu sadar dan terbangun. Agar tak melewatkan ibadah yang berharga di subuh hari. Agar tidak menelantarkan rezeki di pagi hari.
Itu yang saya rasakan saat menyaksikan suatu kisah yang saya saksikan beberapa hari yang lalu. Dan saya merasa jadi orang tidur yang dipukul-pukul supaya sadar dan bangun. Banyak hikmah yang bisa didapatkan dari kisah tersebut. Terlepas dari masalah kepercayaan yang tak masuk akal, terlepas dari hal-hal gaib yang mustahil terjadi. Seperti halnya dongeng-dongeng fabel yang mengajak anak berkhayal bahwa gajah dan jerapah bisa berbicara, meski mustahil, namun sarat akan makna.
Selama menyaksikan kisah itu, seolah saya diajak mengkhayal bersama, dan masuk ke dalam sebuah kisah fantasi. Saya merasa menjadi seorang pengamat dan pengkhayat yang bisa mengetahui isi hati siapapun dalam kisah itu.
Bayangkan, ketika ada seseorang yang dengan mudahnya ingin mengakhiri hidup. Ketika seseorang begitu ingin meninggalkan dunia tempat ia berpijak karena sudah sangat putus asa. Di sisi lain, ada seseorang yang berjuang demi hidupnya. Demi memperoleh menit-menit berharga yang bisa ia bayar dengan air mata ketulusan, untuk kembali menghirup gas oksigen bebas di udara yang bisa didapatkan secara gratis.
Ketika kita dilanda depresi dan tak semangat menjalani hidup. Ketika kita kehilangan sesuatu yang berharga dan tak mendapati gairah hidup yang nyata, lantas kita menganiaya diri sendiri, mengasihani diri sendiri. Hingga hidup dalam kegelapan. Ketidakberartian. Sungguh meskipun secara fisik kita masih Hidup. Namun Jiwa kita telah lama Mati.
Dan di sisi lain, ada sesosok jiwa yang berkelana, dulu ia bahagia menjalani hidupnya, kini di tengah ketidakberdayaan ia mencari celah-celah kehidupan dari doa-doa dan air mata yang seratus persen tulus dari orang-orang tercinta. Ada sesosok jiwa yang raganya telah dinyatakan mati. Namun, ruhnya masih terus bergentayangan, mengembara, menunggu keajaiban, mukjizat yang diberikan Tuhan melalui doa-doa para hamba yang tak hanya Meratap Iba. Tetapi hamba-hamba yang berdoa dengan ketulusan jiwa, Sepenuh Hati dan tak ada sedikitpun niat yang bertolakbelakang dari jalan kebaikan.
Ketika kita dilanda perasaan sedih yang berkelanjutan, hingga air mata pun tak dapat menetes lagi, hingga hanya pandangan mata kekosongan yang kita lihat saat menonton acara komedi sekalipun. Saat yang kita ingin makan saat itu adalah racun pembunuh serangga. Ingatlah, bahwa, di luar sana, banyak orang-orang telah mati secara fisik, namun jiwanya masih ingin menjalani hidupnya dengan semangat.
Apa yang akan dikatakan ruh yang berkelana itu jika berhadapan dengan kita? Mungkin ia akan memaki-maki kita, “Kamu harusnya bersyukur! Aku iri padamu… Suaramu masih bisa terdengar oleh orang-orang, kamu masih bisa terlihat! Kamu masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Lalu kenapa kamu seolah tak bersyukur? Kenapa kamu menjalani hidup seperti ini? Hidup dalam kegelapan dan kekosongan?! Tidakkah kamu ingin hidupmu berharga? Selagi masih ada kesempatan! Janganlah menjadi orang yang merugi!”
Jujur, saya sangat tersindir dengan makna-makna yang terjabar dalam kisah itu. Meskipun bersifat fantasi, namun banyak hal yang menyadarkan saya.
Juga ketika ruh tersebut menjalani 49 days travel menjelajahi hidupnya dalam tubuh orang lain.
Bayangkan, seandainya ragamu terbaring kaku di ranjang rumah sakit dan dokter telah menyatakanmu mati secara medis. Sedangkan ruhmu berada di samping jasadmu. Kau temukan orang-orang tersayang menangis di samping ranjangmu.
Ayah, ibu, saudara, sahabat, dan semua orang yang mengenalmu dengan baik…
Namun, apakah tangisan mereka adalah benar-benar Tangisan Ketulusan?
Ketika ruh kita diberi kesempatan hidup kembali, dengan syarat mencari 3 tetes air mata orang-orang yang tidak berhubungan darah dengan kita. Kita harus mencari tetesan air mata yang seratus persen tulus. Akankah kita mengetahui bahwa tidak semua orang seperti apa yang terlihat di luar.
Ketika ruh kita senang dan sangat percaya kita mampu mendapatkan 3 tetes air mata itu. Kita pun menebak-nebak siapa saja yang mungkin akan menangis tulus.
Namun ternyata, tak semua yang terlihat dari luar adalah seperti apa yang kita duga. Mereka bisa saja menangis di samping jasad kita karena mungkin kita masih memiliki hutang yang belum dibayar, sehingga orang itu menangis di samping jasad kita akibat menanggung kerugian. Atau karena ingin mendapat simpati, warisan, atau ada yang menangis di samping kita atas perasaan bersalah karena telah berkhianat.
Ternyata, hal itu menyadarkan saya akan adanya berbagaimacam arti air mata. Dan di luar semua itu, ada air mata dalam doa yang di dalamnya mengandung seratus persen murni ketulusan.
Saya tidak ingin menjadi orang yang mudah su’udzon karena itu, dengan menduga-duga air mata jenis apa yang orang-orang keluarkan. Toh, memang itu hanya Fantasy Fiction. Hanya Allah yang mengetahui segala. Juga tentang kapan deadline hidup kita. Saya hanya ingin menuliskan kembali beberapa hal yang menarik dan sempat memukul-mukul hati dan pikiran saya beberapa hari ini pasca menonton film drama Korea 20 Episode berjudul 49 days itu.
Bahwa selagi Hayat masih di kandung badan. Seberapapun berat ujian hidup, seberapa banyak hal berharga dari dirimu yang menghilang. La tahzan…
Jalani terus hidupmu dengan Semangat dan Keceriaan.
Sebelum Scheduler ‘Yang Sesungguhnya’ memanggilmu menuju ‘Elevator Kematian yang sesungguhnya’ untuk melintasi Deadline hidupmu…
***
sumber gambar : purplewallpaper.com
Senin, 23 Januari 2012
WARNING : MODUS PENIPUAN (!!!)
Bismillah,
Sebelum menuliskan pengalaman yang ‘nggak banget’ ini. Saya ingin berpesan kepada seluruh manusia yang membaca postingan ini. Bahwa, kepekakan adalah salah satu hal yang penting dalam menanggapi suatu informasi.
Saya emang bukan orang yang super cerdas. Tapi, satu hal yang saya inget, papa dulu pernah bilang, kalau saya itu orang yang pekak. Instingnya tajem. Bagus kalau jadi detektif. Dan hari ini, saya mengalami sesuatu yang luar biasa sekali. Dan semoga bisa menjadi bahan kewaspadaan untuk anda-anda sekalian yang membaca.
Tadi pagi, lagi-lagi enak mimpi, saya dibangunkan oleh suara mama yang setengah berteriak kegirangan, “Minchuu, mama dapet kijang innova...” Suara itu lambat laut semakin menghilang kayak gema. Soalnya jiwa masih setengah sadar setengah lagi di alam mimpi. Tapi, setelah kemudian terdengar lagi seruan—antara girang dan panik mama bilang lagi, ‘Mama dapet undian kijang innova’. Sontak saya bangkit dari keadaan tidur dan menghampiri beliau yang luar biasa paniknya.
Saya pun bertanya pada mama, “Undian dari mana? Trus sekarang mama mau ke mana?” saya liat mama sedang heboh mencari-cari pakaian, ekspresi dan gerak gerik mama saat itu bener-bener tergesa-gesa. “Mama dapet undian, sekarang harus ke BNI, tadi malem ada katanya ditayangin di transTV. Katanya mama pemenang ke-2, yang pertama di Kalimantan Selatan, sekarang mama harus ke BNI.” Saya yang masih setengah mimpi dalem hati langsung Alhamdulillah—coz saya pikir hadiah mobilnya sudah ada di BNI pusat, dan mama mau ambil hadiahnya di BNI.
“Tunggu dulu, ini penipuan bukan?” gak ragu, saya langsung tanya mama. “Bukan lah… itu udah jelas ditelepon dari pusat Telkom, tadi mama ngobrol sama direkturnya. Udah yah… jaga rumah, ini disuruh buru-buru banget soalnya, Cuma dikasih waktu 1 jam. Kalau enggak katanya bakal dikasih ke pemenang cadangan.”
Ngeliat mama buru-buru gitu, saya juga jadi khawatir, takut mama kenapa-napa di jalan. Rencananya saya mau menginterogasi mama lebih jauh tentang undian itu. Coz saya memang gak percaya sepenuhnya dari awal. Tapi, mama seolah gak kasih kesempatan untuk saya bertanya lebih jauh. Dan memang saat itu posisi mama udah dipintu, dan saat itu saya sedang kebelet luar biasa. Suasananya tidak memungkinkan untuk mencegah mama.
Akhirnya sampai di kamar mandi, saya teriak-teriak. “Mamaaa… hati-hati di jalan, jangan keburu-buru, pikirin lagi, takut penipuan.” Tapi apalah daya saya yang saat itu sedang memenuhi hak tubuh untuk mengeluarkan zat sisa. Mama udah di depan pintu, sambil bilang. “Itu telepon rumah jangan ditutup ya, katanya bebas pulsa sampai jam 5 sore. Biarin aja jangan ditutup. Disuruh direktur telkomnya jangan ditutup. Mama mau nebus hadiah dulu ke BNI.”
Dari situ saya mulai curiga banget. Mama datang 2 jam kemudian. Mama cerita katanya di perjalanan mama cepet-cepet banget. Sampai tadi tuh ada tamu aja disuruh pulang. Coz mau transfer ke bank. “Nanti, kamu siap-siap ya, pihak mereka bakal datang sebelum sholat jumat, katanya bakal ada 3 mobil, dan dikawal polisi. Bakal ada TransTV juga mau wawancara kita.”
Mama bilang kayak gitu, ya saya jadi lumayan percaya, coz sebelumnya, kami memang pernah bersiap-siap seperti itu. Ada stasiun TV yang datang ke rumah untuk wawancara. Dan saat itu memang wawancara lah yang terjadi, bahkan kami memang diberi insentif. Tapi yang saya heran, kok mama gak pulang sama mobilnya.
Mendengar semangat mama, saya juga jadi agak tertular. Akhirnya, saya siap-siap untuk diwawancara. Mama juga. Saya sempat bilang ke mama, “Ma, tadi malem aku emang mimpi dapet rezeki loh.” Sebenernya saya agak ragu juga ngomong kayak gitu. Coz tadi malem itu sebenernya mimpi saya ada 2 sesi. Mimpi pertama, saya dan keluarga dapet rezeki, mimpi yang ke-2 saya dan keluarga tertipu oleh penipu. Malah pas bangun saya sempat beristighfar karena mimpi itu, dan langsung mendengar mama teriak-teriak dapet undian.
Tapi, saya gak bilang tentang mimpi saya yang ke-2 itu. Saya gak mau merusak kebahagian mama, lagian, apalah artinya mimpi sih. Saya anggap itu Cuma kebetulan. Sebelumnya juga saya memang gak punya kemampuan apa-apa, kayak indera ke-6 dll. Mimpi-mimpi tidur malam saya seringnya Cuma sekedar bunga tidur dan gak pantes dihubungin sama kebetulan-kebetulan.
Akhirnya, telepon itu mama tutup. SETELAH DIBIARKAN TIDAK TERTUTUP SELAMA 2 JAM.
Mama akhirnya konfirmasi ke Drs. Edi Jumedi, SH (itu nama yang si penipu itu akui). Mama bilang bahwa mama udah transfer ke rekening samsat yang dimaksud.
Saat saya nguping mama nelepon. Saya kaget. Samsat apaan? Saya kira itu undian dari BNI. Coz mama—sebelum berangkat tadi—bilangnya itu undian dari BNI. Yaaa, jadi saya agak tenang, coz itu undian dari BNI, dan mama transfernya buat BNI.
Ternyata, pas mama ngobrol lagi sama si Drs. Edi Jumedi, SH itu, dan saya nguping perbincangan mereka. Itu janggal banget. Lebih lagi si Drs. Edi Jumedi, SH itu meminta dana transfer lagi sebesar 7 juta untuk tukar plat dan mengantar mobil ke rumah. Padahal tadi mama udah transfer 3 juta.
Pas mama nelepon tadi, yang saya lakukan ialah elus-elus dada sama geleng-geleng kepala. ITU POSITIVE PENIPUAN!!! Tapi mama belum bereaksi menolak perintah si Edi itu, malah mama nanya-nanya tentang no rekening tujuan transfer selanjutnya, tergesa-gesa. Padahal itu mama baru pulang dari BNI. Dan harus disuruh transfer lagi 7 juta.
Akhirnya, tanpa tanda saya rebut gagang telepon rumah saya dari tangan mama. “Pak, saya anaknya Ibu Nina. Mau Bapak apa?” saya agak membentak orang itu. Si Bapak-bapak itu jawab, “Begini mbak… Hmm… dengan Mbak siapa?” logatnya sok batak banget. Saya langsung jawab. “Saya Tina.” (dia nipu, ya saya balik tipu) saya tidak berani kasih tau nama asli. Sebenernya berani sih, Cuma males aja kasih tau nama asli ke orang palsu kayak gitu.
“Gini Mbak Tina, untuk mendapatkan hadiahnya, harus transfer lagi 7 juta, untuk biaya bla bla blaa…..” dia ngejelasin pake logat batak yang ‘enggak banget’, dia ngejelasin tentang surat-surat kelengkapan mobil n plat’nya, sehingga kami disuruh bayar 7 juta lagi.
“Gini pak, kami kan tadi udah transfer 3 juta, sekarang kalau harus transfer 7 juta lagi, kita nggak ada dananya, Pak. Yaudah silakan kalau hadiahnya mau dialihkan ke pemenang cadangan, kami ikhlas.”
Eeehhh, si Bapak itu malah membentak saya dengan logat bataknya yang ketauan banget dibuat-buat.
“Ohh, JADI MBAK MEMPERMAINKAN SAYA??? JANGAN MAIN-MAIN LOH MBAK, KITA SEKARANG SUDAH DI SAMSAT, DI PERJALANAN MENUJU BANDUNG UNTUK GANTI PLAT!!! GAK BISA GITU LAH MBAK, MBAK GAK SAYANG DENGAN HADIAH YANG DIBERIKAN ALLAH… INI REJEKI LOH MBAK.”
Saya jadi sadar, ternyata peran-peran antagonis di sinetron-sinetron Indonesia terinspirasi dari kehidupan nyata. Bentakan-bentakan dia sebelas dua belas lahh sama peran-peran antagonis di pilem2 mellow lebay.
“Ya gak gitu, Pak, mempermainkan gimana? Yaaa gimana lagi, Pak! Kita bener2 gak ada kalau segitu!” saya mencoba untuk lebih sabar.
“Berusaha lahh mbak, pinjem-pinjem dulu. Sayang ini mobil kalau gak diambil.” Dia membujuk2 lagi.
“Hahh? Gak bisa semudah itu lah pak, kita mau pinjem dari siapa??? Gini aja pak, gimana kalau hadiahnya dibawa ke sini dulu, setelah sampai di sini, kami akan bayar sesuai dengan nominal yang Bapak sebutkan tadi. Atau kalau lebih pun boleh, Pak, asal ada bukti, Bapak bukan penipu. Sekarang saya bisa jamin dari mana kalau Bapak bukan penipu?”
Dan dia membentak saya lagi.
“WAHH MBAK SEPERTINYA MENJEBAK SAYA! MBAK JANGAN MEMPERMALUKAN SAYA!!! ITU KALAU SEPERTI ITU MBAK TIDAK PERCAYA SAMA SAYA!” (dalem hati, ‘emang gue gak percaya’)
“Yaudah gini deh, sekarang Bapak lagi ada di mana? Tadi katanya diumumin di TransTV jam 10. Tadi malem saya nonton transTV sampai jam 12, dan gak ada tuh Pak, Bapak jangan ngebohongin saya juga. Soalnya saya bisa langsung cross check ke sodara saya, dia crew transTV!!!” saya pun akhirnya mengeluarkan nada sinis.
“MBAK MENGHINA SAYA KALAU BEGITU!!! TIDAK MAU TAHU, MBAK TINA HARUS GANTI RUGI!!! SEKARANG, CEPAT TRANSFER!!! SOALNYA SAYA SUDAH DI PERJALANAN MENUJU BANDUNG, KAMI BERSAMA POLISI, KALAU TIDAK PERCAYA, NIIIH… DENGAR!!!” (lalu terdengar suara sirine mobil polisi)
Ampuuun deh, dalem hati saya malah tambah yakin itu penipuan. Efek suara itu bisa aja alarm hp atau bunyi2an yg bisa dibuat2.
“MBAK DENGAR ITU!!! KITA SEDANG DALAM PERJALANAN KE BANDUNG MBAK. MBAK HARUS BAYAR!!! KARENA MBAK TELAH MEMBUANG-BUANG WAKTU SAYA! SAYA JUGA BANYAK ACARA LAIN!!!”
“Lohh??? Bapak kok jadi meres saya? Yahh kalau kita gak ada uang segitu mau gimana coba??? Minjem juga ke siapa??? Zaman sekarang Pak, mana ada sih yang mau pinjemin? Atau gini aja deh Pak, minjem uang bapak aja dulu, bapak kan kaya, direktur gitu kan? Nahh, nanti pas hadiahnya datang, kita kembaliin uang bapak. Gitu gmana?”
“YA GAK BISA GITU MBAK! Itu Mbak ARTINYA telah mempermalukan saya!!! MERUGIKAN WAKTU SAYA!!! LIHAT SAJA NANTI, SAYA BISA MENUNTUT MBAK! WAHH, MBAK TINA INI KURANG AJAR YA… COBA MANA IBU ANDA???” (dia udah mulai kesal menghadapi saya).
Akhirnya saya tutup teleponnya. Dan ngomong ke mama, “MAMA, INI TUH UDAH JELAS PENIPUAN BANGET, BANYAK MODUS KAYAK GITUU… YA AMPUUUN MAMA, KENAPA PERCAYA AJAA,,, AKU UDAH CURIGA DARI AWAL, TAPI MAMA KEBURU-BURU BANGET, JADINYA GAK KEBURU… LAGIAN TADI PAS KE BNI, COBA AKU IKUT… AKU MAH UDAH SADAR DARI AWAL KALAU ITU PENIPUAN. CUMA MAMA TADI BILANGNYA ITU UNDIAN DARI BNI, DAN TADI MAMA MAU NYETOR UANG KE BNI… DIKIRA EMANG BENER HADIAHNYA UDAH ADA DI BNI… PADAHAL TERNYATA PIHAK BNI SAMA SEKALI GAK TAU. COBA MAMA CEK KE PLAZA TELKOM? AATAGFIRULLOHALADZIM MAMA, UNTUNG AKU GAK JADI KE KAMPUS… KALAU AKU GAK ADA, MAMA PASTI UDAH NGIKUTIN PERINTAH ITU ORANG BUAT TRANSFER LAGI…”
Aku agak kesel juga sama mama. Astagfirulloh…
“Iya ini nomernya direktur Telkom…” mama ngeluarin nomer dirut Telkom.
“Itu nomer dari siapaaa??? Jangan percayaaa lahh kalo orang yg tadi yang ngasih… coba sekarang cek ke bagian penerangan, cari tau nomor telepon plaza Telkom berapa? Trus tanya.”
Akhirnya, mama telepon ke bagian penerangan, dan dapet no. plaza Telkom, dan benar. Jawabannya ialah, TIDAK ADA UNDIAN MOBIL KIJANG INNOVA TAHUN INI.
Mama juga akhirnya nelepon ke temen mama yang pernah dapet undian mobil dari bank BCA. Kata temen mama itu, kalau hadiah kayak gitu langsung dianterin, gak pake transfer uang lebih dulu. Dan gak ada dana charge apapun. Temen mama pun akhirnya memastikan bahwa kasus yang dialami kami ialah PENIPUAN.
“Astagfirullohaladzim…” Mama cuma bisa nyesel, dan nyesel. Saya saat itu mikir, ‘ohh, pantesan, tadi orang itu nyuruh mama nggak nutup teleponnya selama transfer ke BNI. Saya tau, itu motif dia supaya kita gak nerima dan nyari informasi dari orang-orang lain dan Telkom yang asli. Subhanallah, itu 2 jam telepon rumah dibiarkan gak ditutup, dan itu interlokal, kawan!!!
Saya mencoba lebih tenang dari mama yang keliatan udah gak karu-karuan banget. Ehh, si Edi itu nelepon lagi. Saya yang angkat lagi.
“Hallo…”
“HEI MBAK TINA, ANDA TELAH MEMPERMAINKAN SAMSAT!!! KAMI AKAN MENGGUGAT ANDA!”
“Ya ampun Pak, mempermainkan apa? Alasan kami itu kami tidak punya dana segitu, mau dipaksakan bagaimana, pinjam uang ke siapa? Pinjam uang bapak aja gimana?”
Akhirnya si Edi itu berpikir sejenak.
“Pak, 7 juta itu gak sedikit. Saya itu anak yatim. Adik saya masih ada biaya banyak. Itu uang yang ditransfer ibu saya tadi buat biaya spp ade saya… Bapak tega? Bapak kan direktur, saya masih pelajar, pak… seenggaknya kurangin lah jumlahnya. Jangan 7 juta!”
“Yasudah, kita tanggung bersama saja, saya setengan, Mbak Tina setengah. “
“hmm… yaudah, jadinya saya bayar 2 juta aja ya Pak?” (si Edi itu menanggapi ‘iya iya aja’ kagak bisa ngitung ape ye??? Tujuh dibagi 2 kan padahal 3.5!
“Ok kalau begitu, Mbak Tina, Setuju! Anda transfer 2 juta sekarang! Saya tunggu, maaf saya tadi sempat membentak-bentak. Saya Cuma ingin meyakinkan bahwa saya bukan penipu, justru saya ingin mengantarkan hadiah pemberian Allah untuk anda. DEMI ALLAH SAYA BUKAN PENIPU… apalagi ini hari jumat, hari yang suci untuk beramal, tidak mungkin lah saya menipu.”
“Hmm… iya ya Pak, hidup ini kan sementara, buat apa sih kita nipu, nipu itu kan dosa. Pokoknya, Allah pasti tau segalanya lah, kalau keburukan pasti ada ganjarannya. Begitu juga sebaliknya. Allah maha Adil. Saya percayakan pada Allah aja segalanya. Semoga bapak juga mendapatkan hidayah. Betul seperti bapak bilang tadi. Hari jumat waktu yang baik untuk beramal. Sekali lagi, saya percaya pada Allah, dan hidup ini sementara. Kita pasti mempertanggungjawabkan amalan kita di akhirat nanti.” (sempet gw ceramahin juga nih si Edi itu).
“Betul Mbak… betul sekali… Ok, ya? Dua jutanya saya tunggu?” (‘betul-betul’ tapi UUD—Ujung-ujungnya tetep Duit).
Setelah itu saya tutup telepon. Dan berniat tidak membayar 2 juta sisanya. Langsung saya ganti nomor mama dengan simcard baru. Dan saya cabut kabel telepon rumah.
Masalah belum selesai, sekarang giliran mama yang ketakutan, sebenernya saya juga takut, tapi saya berusaha untuk lebih tenang dari beliau. Beliau sempat memberi alamat lengkap rumah kami. Beserta nomor ktp beliau.
Mama takut ancaman itu benar. Si Edi sempat mengancam, katanya jangan bilang-bilang dulu ke pihak manapun, pokoknya mengancam dengan sangat GARANG! Benar2 bukan mencerminkan seorang yang intelek. Gimana dia bisa pura2 jadi direktur. Logat preman gitu…
kasian aja sama mama, mama tuh katanya di angkot menuju BNI udah ngebayangin mobil innova itu, mau adain syukuran, dll… tapi ternyata…
Hmm… Tapi ada yang lebih kasihan lagi. Yaitu, gerombolan Si Edi! Kok kayak gitu banget yah, cari uang… kasihan sekali… ckckck… Kita doakan saja semoga mereka mendapatkan hidayah.
Dan setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Hikmahnya, kita harus rajin-rajin sedekah. Kita sering lupa bahwa 2,5% dari pendapatan kita sebenarnya itu bukan milik kita. Kita harus menyisihkannya. Karena di dunia atau di akhirat, itu tetap bukan milik kita. Saya meyakinkan mama untuk mengikhlaskan apa yang telah hilang. Karena mungkin saja itu memang bukan hak kita. Untuk ke depannya, sekecil apapun pendapatan kita, 2,5% harus kita sisihkan.
Dan, saya meyakinkan mama yang sangat tampak kehilangan. Bahwa mama sebelumnya pernah mengalami kehilangan yang lebih parah dari ini. Kehilangan papa. Dan seiring berjalannya waktu, perasaan kehilangan itu menjadi hikmah dan bukan sebuah kesedihan. Begitu juga dengan kejadian ini. Perasaan kehilangan ini pasti akan hilang dan berubah menjadi pesan yang mengandung hikmah.
Ingat, Ma, doa orang yang teraniaya itu mujarab lhoo…, Sekarang mending kita berdoa aja yukk… ^^