Jumat, 03 Desember 2010

PENAKUT

Anak yang Penakut dan Menakutkan...

Ada sebuah kisah, tentang anak yang merasa dirinya penakut. Dia menyadari, apa yang menyebabkannya menjadi anak penakut. Dari mana ketakutan itu berasal. Sebut saja nama anak penakut itu ’Scary’. Di setiap malam, ia selalu dilanda kegelisahan tentang arahan hidup yang diberikan oleh orangtuanya. Ia mengetahui, ada yang salah dari beberapa hal yang diajarkan oleh kedua orangtuanya. Ia merasa hidup seorang diri dengan beragam jenis rasa takut tak beralasan yang mengelilinginya. Jikapun ia mengetahui alasan itu, alasan mengapa ia menjadi penakut, alasan itu sungguh tidak masuk akal, sehingga ia malas untuk membahasnya. Lebih memilih mencari pelarian dari rasa takut, dengan cara... Benar-benar berlari... Menghindari masalah...

Padahal ia tahu, di persimpangan jalan yang berlawan pun, ia akan menemui masalah yang mungkin bahkan lebih besar. Sehingga, ia merasa harus berada di zona nyaman dunia, meskipun harus merelakan banyak perasaan. Dari situlah keegoisannya muncul.

Rasa takut itu sungguh mengerikan...

Banyak orang mengartikan tentang definisi rasa takut. Rasa takut yang membuat kita tidak berani untuk bermimpi, rasa takut yang membelenggu semua kegiatan yang sebenarnya BISA kita lakukan. Ketakutan membuat segalanya berjalan tidak sesuai harapan. Ketakutan mengajarkan cara hidup yang sangat mudah namun membawa penderitaan yang berkepanjangan. Yaitu dengan melarikan diri, berlindung di zona nyaman dunia yang membuat kita tidak bisa menghadapi tantangan di kemudian hari. Jadi orang penakut itu rasanya sungguh menakutkan. Apa jadinya jika manusia tidak berani mengambil sebuah langkah hidup yang akan menjadikan cita-citanya tercapai. Sesungguhnya, rasa nyaman yang kita dapatkan, khususnya dari orangtua, jika terlalu berlebihan, dapat membutakan lensa keberanian dalam diri kita.

Scary merenung menatapi boneka-boneka yang diam terpaku. Tanpa nyawa. Ia sadar mereka tak mempunyai nyawa, tapi ia tetap bergumam sendiri, seolah boneka-boneka binatang kerdil itu yang bicara. Ibunya tersenyum gemas menatap anak perempuannya memainkan boneka-boneka itu seorang diri, seperti orang stress. Ibu yang sangat baik, mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, terkadang permisif, terkadang otoriter, dan dalam beberapa waktu yang manis, bersikap demokratis, saat ibunya bersikap demokratis, itulah bagian dalam hidupnya yang paling ia suka.

’Sangat menakutkan menjadi orang yang penakut. Aku nyaris takut bertemu orang-orang yang baru kukenal, orang-orang yang telah mengenalku, sahabat-sahabatku, bahkan, saat aku menatap cermin, aku melihat bayangan gadis berdiri menatap lurus ke arahku, matanya sangat ketakutan. Dan kusadari, ketakutan ini telah melampaui batas. Aku takut pada diriku sendiri.’

Kata ’jangan’, ’Tidak Boleh’, ’Berbahaya’, ’Aku Ragu’, ”Kamu Tidak Akan Bisa’, ’Tidak Percaya’ kerap di dengar olehnya. Di masa kecil, bahkan hingga saat ini, saat ia beranjak memasuki tahap operasional formal yang seharusnya sangat brilliant. Namun, kebanyakan orang ketakutan memasuki tahap ini. Termasuk Scary. Ia harus jujur, mengakui, bahwa dia tidak berani lagi untuk bermimpi. Ia terus menyalahkan orangtuanya, orangtua yang OVER PROTECTIVE membuat anak menjadi PENAKUT. Mudah sekali kan? Menjadikan anak yang penakut itu? Jaga mereka dari hal-hal yang berbahaya dan agak berbahaya. Masukan anak anda ke dalam zona nyaman dunia. Bayar berapapun untuk kenyamanan anak anda. Jangan biarkan anak anda memegang pisau dan menjaga rumah seorang diri. Dan anda akan sukses menjadikan anak anda berjalan menatap tanah. Menjadi manusia penakut dan menakutkan!

Kasus Scary dengan orangtuanya membuat ’Rasa Takut’ memiliki subjek dan objek penderita. Hingga pada akhirnya, anak sering menyalahkan orangtua, mengapa ia menjadi penakut, karena memang ia diajarkan cara yang sempurna salah tentang arti keberanian menghadapi tantangan. Namun, orangtua pun menyalahi anak, jika anak menjadi terlalu penakut pada saat dewasa.

Di sini, saya (berusaha) melihat bukan dari sudut pandang Scary ataupun orangtuanya. Anggap saya adalah tumbuhan yang tak mempunyai rasa takut dan tidak bisa mengajarkan rasa takut. (rasa takut itu ternyata DIAJARKAN secara terselubung, tanpa disadari)

Orangtua tak sepenuhnya salah, karena mungkin, saat kita lahir ke dunia, mereka belum diperkenalkan dengan modul-modul bernuansa pengasuhan. Bukan salah mereka sepenuhnya...

Sekarang, aku sadar itu, dan tahu akar permasalahannya. J

sumber gambar : futurity.org

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada tanggapan???