Minggu, 13 Februari 2011

Diary

Kali ini, aq mau menganggap kamu adalah diary-ku. Seperti yang dulu kita lakukan bersama. Aq menulis di tubuhmu, dan kamu diam dan menyediakan tempat. Jujur, selama ini, aq merasa ada yang hilang, semenjak tidak lagi menulis di tubuhmu. Entah kenapa, rasanya menulis di sarana lain begitu berbeda. Aq rindu tulisan tanganku sendiri. Aq rindu pelampiasan isi hati yang tanpa kecuali.

Ketika menulis di diary, mungkin, aq tidak usah mempertimbangkan, apakah tulisanku enak dibaca? Apakah pantas untuk dipublikasikan di mana semua orang bisa mengakses? Apakah bisa dimengerti manusia?

Buku diaryku isinya sangat tidak indah, bahkan banyak hal yang terlalu to the point, jika salah tulis pun, aq tak pernah menggunakan tip-x. Hanya mencoretnya dengan sangat asal.

Dear Diary...

Aq pernah membaca sebuah buku non-fiksi tentang diary gadis pecandu narkoba. (waktu kelas 1 SMA) waktu aq masih sering menulis di tubuhmu. Nama anak itu Alice... di buku diarynya, di lembar terakhir dia menulis, ‘ini adalah lembar terakhir, setelah hari ini, aq tak akan menulis diary lagi’. Kira2 seperti itu. Dan Alice ditemukan bunuh diri 1 tahun setelah ia memutuskan untuk berhenti menulis Diary.

Jika mereka bilang, aq adalah orang yang suka menyambung-nyambungkan hal-hal yang aneh dan mustahil, mungkin iya, aq tau, curhat pada Allah’lah yang lebih efektif, dan bagiku, menulis Diary adalah salah satu sarana curhat pada Allah yang efektif. Aq bilang ‘salah satu’ bukan ‘satu-satunya’. Karena masih banyak cara efektif lain, yang tentunya dicontohkan Rasul, suri tauladan kita.

Ketika aq menulis Diary, menuliskan doa-doa dan harapan d sana, aq selalu merasakan ketenangan, seperti menerbangkan masalah ke awan. Dan semua itu menjalar ke semua aspek kehidupan. Mungkin, dalam kasus Alice, ia sering melampiaskan emosi, mencurahkan segalanya di buku Diary. Tapi saat ia tak lagi menulis Diary, ia tak tahu lagi harus mencurahkan pada siapa. Tentu, aq bukanlah Alice. Meskipun aq berhenti menulis diary, aq tak akan melakukan hal bodoh itu.

Hmm... Diary, tapi.... berhubung kuanggap ini adalah dirimu, jadi, aq tak akan menutup-nutupi perasaan apapun yang melintas dalam hati. Karena jujur, sebenarnya. Aq pun tak jauh beda dari Alice. Perasaanku seringkali hancur dan sulit untuk kususun kembali kepingan-kepingan yang hancur itu. Jika berhasil pun, tak sesempurna yang dahulu.

Entah kenapa, aq merasa, aq lebih labil dari diriku yang dulu, lebih bejad, lebih tidak memiliki harapan...

Kadang, aq ingin mengakhiri hidup ini, karena banyak hal yang tak kuharapkan terjadi, dan itu penyebabnya adalah diriku sendiri. Tentang banyak penyesalan, pelarian, dan ketidakoptimisan memandang hidup. Aq tak tahu siapa yang mengajarkan hal ini. Aq diajarkan untuk sangat optimis, aq diajarkan untuk selalu taat, semua mengajarkanku kebaikan. Tapi kenapa aq masih terkurung dalam banyak penyesalan yang tak beralasan!

Diary, kadang, aq menganggap, dengan mengakhiri hidup ini, semua masalah akan selesai, aq bisa melarikan diri dan meninggalkan semua hal di dunia. Mungkin, aq pun tidak akan melakukan dosa-dosa lagi.

Tapi kembali aq sadar, itu adalah fikiran ternista yang terlalu sering menjamahi otakku. Aq tak memperhitungkan tentang alam barzah, alam setelah kematian. Aq pun melupakan apakah aq sudah siap dan membawa bekal yang cukup?

Diary, kini aq tahu kenapa aq selalu merasa nyaman saat setelah menulis di buku Diary. Padahal tak akan ada yang membaca. Aq merasa nyaman karena aq yakin Allah PASTI membacanya...

Maka dari itu, secara tak langsung, kukatakan, menulis Diary adalah salah satu sarana muhasabah diri dan pencurahan isi hati, pada Sang Pencipta...

Diary, kembali lagi pada perasaan yang sering muncul itu. Perasaan yang begitu gila. Aq tak mau perasaan ini selalu menghantui duniaku. Semenjak kecil hingga kini...

Ya Allah, tolong ingatkan hamba jika hal itu terlintas di fikiran hamba... Aq akan selalu berusaha memerangi fikiran itu... Jika hal itu menghantui lagi, aq akan mulai menulis Diary lagi, yang mungkin, tak kan pernah dibaca oleh orang lain, tapi aq yakin, Kau pasti membacanya...

So, Please... give me strength....


*nb : maaf jika ada salah2 kata, karena jika pun ada yang salah, aq tak berusaha untuk menghapusnya, sama seperti apa yang biasa kulakukan pada Diary.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada tanggapan???