Rabu, 02 Maret 2011

HANYA TEREKAM

Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa Kau rindu, karena langkah melepuh tanpa diriMu, karena hati telah letih…

Aku ingin Kau tahu, bahwaku, selalu memujaMu, tanpaMu sepinya waktu merantai hati, bayangMu seakan-akan… Kau seperti nyayian dalam hatiku yang memanggil rinduku padaMu, seperti udara yang kuhela Kau selalu ada…

Hanya diriMu yang bisa membuatku tenang, tanpa diriMu aku merasa hilang…

Dan sepi…

Sepenggal bait-bait yang diambil dari sebuah lagu berjudul… ‘Dealova’.

Tersentuh, itulah perasaanku saat mendengarkan lagu seperti itu, aku suka mendengarkan lagu, mungkin, ilmuku terlalu dangkal untuk memahami hukum mendengarkan lagu dan musik, namun, yang selalu kurasakan seumur hidup ialah, aku menyukai musik. Dan mengubah perasaan itu adalah suatu hal yang sulit.

Ketika mengetahui fakta bahwa otak kirimu yang lebih berkembang dibanding otak kanan, mungkin mudah untuk berhenti menyukai musik. Namun, ketika banyak penelitian membuktikan bahwa orang dengan otak kanan lebih dominan keceradasan musikal. Ia akan sangat menyukai musik, dan dia akan sulit untuk melupakan bahwa musik memang ada di dunia ini.

Orang dengan otak kanan dominan, akan sering terngiang-ngiang di pikirannya, lagu kesukaannya, dan itu bukanlah hal yang disengaja. Secara alami, ketika ia mendengarkan musik yang ia sukai, sekali, ia akan merasakan seperti ada yang menyanyikan lagu itu lagi di otaknya. Terekam, tak disengaja, dan tak bisa dihindari.

Namun, ada cara pandang lain di tengah maraknya musik-musik yang sering ‘terdengar’ di telinga. Tak semua musik itu baik, dan Tak semua jenis musik yang kusukai. Aku pernah belajar piano, gitar, dan bass, hanya sekilas2 saja. Tapi walaupun begitu, aku sangat menikmatinya. Dan mudah bagiku untuk mengikuti instruksi-instruksinya. Meski kini, tak ada sarana yang menghubungkanku dengan kegemaran itu lagi. Dulu, aku sempat bercita-cita ingin menjadi pianist. Namun, karena banyak keadaan yang tak memungkinkan, kini aku hanya menjadi pengagum saja. Dan aku menikmatinya. J

Aku suka musik klasik dan mellow yang biasanya dihasilkan dari gelombang cello, biola, dan piano. Aku kurang suka suara gitar, karena semellow apapun, suara gitar tetap ’khas’ dan agak keras, apalagi untuk seorang yang mempunyai kepribadian ’melankolis dominan’. Dan kadang, aku merasa, itulah aku.

Kembali lagi pada lagu di atas, lagu itu adalah salah satu soundtrack sebuah film berjudul sama dengan judul lagunya, diangkat dari sebuah novel teenlit yang terkenal pada tahun 2005. Sebenarnya, lagu itu bercerita tentang kisah sepasang adam dan hawa yang terikat dalam kisah cinta, seperti layaknya lagu-lagu cinta lain. Tapi, ketika aku mendengarnya, ataupun mendengar lagu-lagu cinta lain, aku selalu berusaha untuk memikirkan liriknya dari sudut pandang yang berbeda.

Seperti, tentu saja, kata ’Mu’ di dalam lagu itu sebenarnya dimaksudkan untuk sang kekasih hati, atau lebih populer disebut ’pacar’. Tapi, ketika mendengar atau terdengar lagu itu, aku sering mengartikan lirik itu dari dimensi yang berbeda. Kutempatkan perasaan itu untuk Tuhan. Bahkan, jika aku telah berada jauh dariNya, dan merasa segala sesuatu tak dapat menyentuh hatiku kembali. Kesadaran muncul ketika aku mendengar lagu-lagu yang dapat mengundang perenungan dan muhasabah.

Intinya, masing-masing orang mencintai, mengungkapkan perasaan cintanya dengan cara yang berbeda-beda. Hanya Allah yang tahu, hanya Allah yang boleh menilai, seberapa benar ungkapan cinta masing-masing hamba. Aku pun tak berani membenarkan caraku dan menyalahkan cara orang lain. Seperti aku sesungguhnya telah mengetahui hukum musik, namun, aku hanyalah manusia yang tak luput dari pikiran holistik dan perasaan kritis. Dan karena itu pula, aku sering bertanya ’musik seperti apa dulu, yang diharamkan?’ mengingat segala hal yang dapat mengingatkan kita pada Tuhan adalah baik.

Tentang ini, memang ada pro dan kontra. Ada yang berpendapat bahwa musik apapun tidak boleh, ada pula yang berpendapat bahwa ada beberapa jenis musik yang diperbolehkan, ada pula yang tak ragu berpendapat bahwa musik itu diperbolehkan.

Dan aku yakin, mereka mempunyai dalil-dalil yang menguatkan tentang pendapat2 itu. Dan kembali lagi pada diri ini di situasi seperti ini, karena aku, tak mungkin tak pernah tidak mendengarkan musik. Meskipun aku tutup telinga pun, musik akan selalu terdengar... baik disengaja ataupun ’tidak disengaja’. Dan saat ini, yang bisa kulakukan adalah menempatkan musik sebagai ’salah satu cara’ untuk mensyukuri nikmat Tuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada tanggapan???