Rabu, 23 Juni 2010

Impossible FEELING


Nyaris tengah malam... detik ini, setelah sekian lama berhenti menuliskan pesan-pesan perasaan lewat tulisan yang terangkai, karena terlalu dalam perasaan ini, atau terlalu dangkal? Aku tak begitu yakin dengan perasaan ini, tapi, pada akhirnya, malam ini perasaan itu sudah tak ingin kupendam sendiri, bersama kebodohan yang tersembunyi di balik jendela-jendela hati yang memungkiri, penuh kemunafikan yang tak berarti...

Pernahkah kalian menulis serangkaian kata hingga menjadi sebuah kalimat bermakna, namun, setelah kalian membaca lagi kalimat tersebut dari awal, ada perasaan yang membuat kalian menghapus lagi apa yang telah tertulis... Hingga harus mulai lagi dari awal, apa yang lebih tepat untuk diungkapkan.

Aku sering mengalaminya... Bahkan saat ini, beberapa kali kuhapus kalimat-kalimat yang kurasa 'sangat bodoh'. Seperti perasaan yang menemaniku saat ini, aneh, tapi dia sangat nyata. Ini sangat mustahil, bahkan terlalu mengada-ngada. Tapi ketika kita dilanda perasaan seperti ini, kita seolah berubah menjadi sosok melankolis yang termenung seorang diri di sudut ruangan sepi. Tak ingin terusik apapun. Seceria apapun kepribadianmu...

Aku memang tidak pandai merangkai kata, tetapi, siapapun yang memiliki hati nurani, dia pasti mempunyai kemampuan mengungkapkan perasaan dengan bahasa. Bahasa... Itulah yang membuatku tersenyum ketika mengingat perbincangan dengan seseorang yang mungkin tak akan membaca tulisanku ini. Meskipun membaca, aku yakin dia pasti membutuhkan bantuan alat penerjemah yang biasanya sangat kacau balau jika menerjemahkan... sehingga banyak terjadi kesalahan arti dan persepsi.

Kami bertemu tanpa sengaja, di suatu kesempatan yang membuat kita saling berbagi, saling mengenal satu sama lain, dan menceritakan pengalaman, sungguh hingga saat ini, aku merasa, dia BERBEDA. Ketika semua orang di tempat itu hanya bahagia dengan kemunafikan dan kebohongan. Tapi dia menyambut gembira saat aku mengatakan kejujuran, karena dalam pertemanan sejati... itulah yang dibutuhkan.

Hal yang menarik dari pertemanan kami adalah, long distance friendship, dengan latar belakang budaya yang berbeda, dan tentunya BAHASA. Dan ini yang sangat konyol, membuatku berpikir, 'aku tak bisa membayangkan bagaimana manusia berinteraksi sebelum mengenal bahasa! apakah mereka masih bisa menyayangi satu sama lain?' kita saja yang sudah mengenal bahasa, masih sering mengalami 'distorsi pesan' yang mengakibatkan kesalahfahaman bahkan perselisihan.

Tapi, dari pertemanan itu, aku mengerti, apa yang mereka gunakan sebagai ungkapan ketulusan. Ternyata, mereka menggunakan bahasa cinta yang universal. Senyuman... itulah contoh isyarat yang membuat setiap orang merasa berharga dan dicintai...

Sempat terkejut karena dia selalu ingin tahu apa yang kutulis dalam bahasa Indonesia. Meskipun pengertiannya terkadang melenceng, tapi tetap kusalutkan keingintahuannya. Dia sangat polos, lucu dan lugu... Terkadang aku tersenyum bahkan tertawa membaca kata-katanya. Seperti saat aku mencoba meniru bahasa negaranya, dia tertawa, tapi bukan melecehkan...

Dari tempat pertemuan kita, aku belajar banyak hal, selain bahasa. Yaitu kepribadian. Ternyata, stereotipi berlaku di sini.. ^^ Kebanyakan orang di negaranya memang berkeyakinan sama denganku, tapi mereka menjurus ke arah Liberal Barat. Oleh karena itu, kebanyakan orang sana 'cepat memutuskan' perkara, terkadang tanpa memikirkan perasaan orang lain. Bebas, terserah mau melakukan apa saja.

Tapi aku merasakan hal yg berbeda darinya, kepolosannya membuatku tersenyum, bahkan tertawa, semangat dan kesadaran bela sesamanya membuatku sangat terharu. Aku sempat menangis saat melihat video jeritan hati anak Palestina yang ia share di fb. Sangat menyadarkan keegoisanku selama ini tentang arti hidup...

Dan kini, perasaan konyol itu muncul. Perasaan yang kuharap hanya gurauan, kuyakin ini hanyalah sejenis perasaan salut. Aku tak tahu tentang dirinya sejauh apapun itu. Aku hanya tahu sangat sedikit, entahlah, jika ia tumbuh berkembang menjadi seseorang yang benar2 dewasa, apakah dia akan menjadi seorang Hitler (dia men'share foto Hitler di wallnya) aku tau maksudnya, ia menyesalkan kenapa dulu Hitler tidak membasmi Israel. Ataukah dia akan menjadi seperti penguasa pertama negerinya, Mustafa Kemal...??? Who knows? karena kebanyakan dari mereka adalah muslim liberal.

Tapi kuharap, kelak, ia tetap mencintai Tuhannya... Tuhan kita...

We proud to be a moslem...

I just wanna finish, what i have started...




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada tanggapan???