Selasa, 23 Februari 2010

WE ARE GREAT!!!

Apa yang akan kutulis di sini, gak akan berbeda dari topik-topik curahan hati manusia-manusia lain. Sama juga dengan hal-hal yang telah kutulis sebelumnya. Ternyata, mendeklarasikan nama diri yang menggambarkan keceriaan sejati tanpa kecuali tidak mengubah ’destiny’ tiap manusia. Setiap manusia mempunyai tujuan yang sama, meski cara utk mencapainya berbeda-beda. Itu yang kutahu dari hasil salah satu pembelajaran dari kehidupan.

Jika boleh kuutarakan tentang keraguan diri yang faktanya tak mungkin bisa diubah semudah air yang tumpah dalam gelas secara disengaja, karena ’kesengajaan’ itu tak sama dengan ’tak disengaja’. Dan memang karena kita tak pernah luput dari hal yang ’tidak disengaja’ kita semua terlahir karena hal yang ’tidak disengaja’. Sebagian orang berpikir bahwa segala hal yang berada di dunia ini adalah hal yang acak, random, siapapun sebenarnya berpeluang mendapatkan apa yang seharusnya terjadi padanya.

Ketika hukum sebab akibat itu diragukan dan keberadaan Tuhan dipertanyakan.. larena itulah naluri pertentangan muncul. Tentu saja aku bukan salah satu dari pendukung sifat semesta yang mengakui keacakan yang mengatakan bahwa semua hal di dunia ini hanyalah KEBETULAN!

Itu memang bukan teori yang kuyakini seratus persen. Bahkan dua puluh persen pun tidak! Aku hanya meyakininya sekitar lima belas persen. Bahwa ada kejadian di dunia ini yang bersifat KEBETULAN! Kembali lagi, wallahu’alam. Aku hanya menerka... seperti seorang historist memperkirakan umur dunia, seperti para oceonograpist mengukur luas lautan. Sedahsyat apapun ilmu pengetahuan. Tetap yang TAHU KEPASTIAN itu hanyalah ALLAH.

Detik ini, kucoba membuka ruang baru dalam hati, untuk mencerna jernih pikiran yang telah usang dan nyaris berkarat, menandai makna dengan fakta yang tak hanya sekedar kebetulan. Sekali lagi, seribu kali lagi bahkan sebanyak hembusan nafasku. Aku mengakui bahwa aku hanya dapat menerka dan mengira sebuah kepastian. Dengan beragam hikmah yang mengawalnya.

Oleh karenanya, aku harus mempunyai semangat untuk berjuang melangkahi semua ketidakpastian yang disebut TAKDIR yang FLEKSIBEL. Mungkin banyak diajarkan pada kita dari kecil hingga menginjak fase DEWASA dalam alir tumbuh kembang manusia, bahwa TAKDIR TUHAN TAK DAPAT DIUBAH tanpa kecuali. Itulah hukum kepastian mutlak yang tak bisa digugat. Namun, ternyata, ada pula TAKDIR yang berjalan dengan apa yang telah kita lakukan, telah kita BERIKAN untuk diri serta lingkungan makro dan mikro yang meliputinya.

Maka dari itu, aku harus semangat. Teori Nativistik mengemukakan bahwa manusia dilahirkan bersama takdir yang tak dapat tertolak lagi. Keadaannya seperti itu dan memang akan terus seperti itu, TAK BISA DIUBAH LAGI hingga lepas hayat. Teori Nativistik yang dikemukakan membuatku sadar. Meski tak kuyakini BENAR sepenuhnya. Bahwa faktor innate atau bawaan adalah yang paling utama. Yang terkadang membawa manusia ke dalam kubangan rasa pesimis yg pekat dalam jurang tak berdasar! Tak mungkin naik ke permukaan, dan tak pula sampai pada tepi dasar. TETAP, MUTLAK, PESIMIS, dan sangat NATIVISTIK!

GENETIK! Yah.. tentu saja, itu yang paling utama dari salah satu turunan teori Etologi ini. Secara GENETIK, aku dilahirkan dengan kesempurnaan fisik, Alhamdulillah tak terhingga untuk sang pencipta.

Saat bayi, kulitku kuning (kata orang, karena saat itu aku tak merasakan apa-apa, jadi hanya bisa dengar dari cerita orang) kulit kuning itu bukan karena aku memakai body lotion yg membuat kulitku kuning langsat seperti putri keraton, tapi karena ada sedikit gangguan hati hingga aku harus berjemur di pagi hari hingga warna kulitku coklat kemerahan. Dan itu tak masalah!
Alhamdulillah... Teori Nativistik mutlak tak berlaku di sini....

Saat bayi, tentunya kita tak mengetahui apa-apa, tentang apa yang seharusnya DIAJARKAN dan apa yang seharusnya TIDAK DILAKUKAN. Kita akan menerima segala bentuk masukan-masukan dari lingkungan pengasuhan, khususnya orangtua dan dari SELERA BAYI itu sendiri. Jika aku diizinkan menjadi bayi lagi. Aku akan memarahi diri sendiri karena tak mau minum... ASI...!!! Minum atau makan?! Terserah..., yang jelas saat itu, LAGI-LAGI, kata orang2.. saat bayi, aku tidak mau minum ASI! Sumpah... Bayi bodoh macam apa itu?! Mulutku menghindar saat mama memberi ASI. Selalu menghindar... hingga, kurang lebih hanya satu bulan aku bisa menikmati ASI. Menikmati??? Maksudnya, aku gak ngerti kenapa dulu aku gak mau minum ASI?! Kalau dari bayi aku tau manfaat2 makanan alami yang super duper HEBAT dan ALAMI yang tak beresiko sama sekali itu, pasti aku gak mau berhenti dan berbagi ASI dengan adikku yang kebetulan lahir krg lebih satu tahun kemudian.

Bukan menyalahkan sepenuhnya tentang ’Tidak diberikannya ASI eksklusif’. Tapi inilah faktanya. Anak yang semasa kecilnya diberi ASI. Ia akan tumbuh SEHAT dan CERDAS! Pertumbuhan dan perkembangan fisik dan otak mereka sangat PESAT, saat dewasa rata-rata Intelegensi Quotien mereka sangat tinggi, di atas rata-rata, bahkan SUPERIOR...

Lalu, bagaimana dengan anak yang semasa bayi tidak diberikan ASI eksklusif???

Pertanyaan ini sangat RETORIS! Cukup jawab dengan KESADARAN DIRI...

Kesadaran diri ini membuatku tahu, aku bukan siapa-siapa yang bisa memprediksi masa depan (dukun biasanya disebut ORANG PINTAR). Aku bukanlah orang yang dilahirkan dengan OTAK SUPERIOR CERDAS BRILLIANT. Aku orang yang biasa-biasa saja.

Oleh karena itu, aku harus mempunyai SEMANGAT...
Karena itu modalku untuk menjadi sukses. Tanpa semangat, aku tak akan bisa menjadi apa-apa. Dan AKU SADAR ITU...

Manusia dibedakan dalam beberapa kelompok secara umum, yaitu manusia cerdas dan manusia biasa-biasa saja. (manusia bodoh tak kumasukan karena itu relatif. Orang CERDAS bisa menjadi MANUSIA BODOH jika kecerdasannya digunakan untuk hal2 JAHAT dan SANGAT BODOH, begitu pula manusia biasa2 saja pun bisa menjadi manusia BODOH)

Perbedaan manusia CERDAS dan BIASA2 SAJA terlihat jelas pada proses pembelajaran kognitif yang umumnya bersifat akademis.

Lihatlah, perhatikan bagaimana manusia CERDAS DARI LAHIR dapat menghafal beberapa bab mata pelajaran dalam waktu yg singkat, mampu mengaplikasikan rumus2 DEWA dengan satu atau dua kali kotret... Sedangkan MANUSIA BIASA2 SAJA membutuhkan waktu agak lama untuk menyamai kemahiran manusia2 cerdas. Ia harus menghafal BERULANG2 kali, berjam2, menghayati setiap formula dan BERLATIH terus menerus untuk menjadi SEMPURNA...

Itulah aku, aku masuk dalam kelompok manusia biasa2 saja. Tak perlu menyesal dan membenci diri. Semua kesadaran diri ini membuktikan bahwa aku MENGENAL DIRIKU SENDIRI. Daripada, aku merasa sudah CERDAS sehingga merasa tak perlu belajar lagi!

Tapi aku senang menjadi apa adanya diri ini... Sederhana dengan perjuangan yang sempurna *itulah prinsip manusia biasa-biasa saja.
Sekali lagi kukatakan bahwa aku harus mempunyai SEMANGAT, karena tanpa SEMANGAT aku tak akan bisa menjadi ’seseorang’.

Ada satu hal lagi Faktor Bawaan yang kadang mengganggu...
Aku orang yang tak bisa berbicara dengan tenang diantara orang-orang yang menatapku secara FORMAL, maka dari itu, aku benci presentasi..! melihat semua mata memandang ke arahku! Aku BENCI! Denyut nadiku cepat, kencang dan sangat tidak beraturan, tanda-tanda orang tremor (salah satu sifat genetik, turunan, innate atau semacamnya). Mengingat kakak dan papa juga mengalaminya.

Papa pernah menjalani Tes menjadi ABRI. Tes lisan, tes tulis, segala macam tes LULUS! Tes akhir gagal beliau lewati. Hanya karena jari-jari beliau bergetar saat direntangkan. Bisa anda bayangkan, HANYA KARENA ITU...

Tremor...
Itulah yang membuatku tak tega menghitung denyut nadi sendiri per menitnya...

Alhamdulillah aku bukan anak laboratorium yang harus meneteskan cairan-cairan dengan pipet mahal ke sebuah tabung reaksi, atau memegang gelas2 ukur dengan cermat, teliti dan hati2... terbukti, dulu, selalu salah meneteskan cairan dari pipet dan pernah beberapa kali memecahkan gelas ukur hingga harus menggantinya. Karena begitu tegang dan Nervous-nya…

Semua itu hanyalah pemikiran yang terkadang membuatku ragu untuk bisa mencapai cita-cita. Tapi ternyata, kehidupan tidaklah sesempit dan sepesimis apa yang teori Nativistik kemukakan. Tentang segalamacam kepasrahan yang tak bisa diubah. Semua itu hanyalah variasi gurauan beberapa etologist yang sama dengan manusia lainnya. HANYA DAPAT MENDUGA dan MENGIRA...

Oleh karenanya, aku, sebagai manusia yang tak luput dari kekurangan. Akan terus selalu berusaha menjadi diri yang terbaik. Ada takdir fleksibel Allah yang mengalir sesuai dengan kemana kita mendayung arah muara usaha kita...

Karena IMAN akan selalu ada di hati...
Karena sesungguhnya SEMUA TAKDIR yang ditetapkan ALLAH adalah KEBAIKAN bagi diri kita...

Kita bisa mengelola hidup ini, kehidupan bagaikan permadani hijau pesawahan yang asri. Kitalah yang memilih bagaimana mengelola kebun tani kita. Kita adalah petani kehidupan, jika ingin hasil yang memuaskan, kelolalah sawah hamparan kehidupan dengan PERAWATAN yang paling BAIK!!!

Keep Spirit...
WE MUST BELIEVE
WE ARE SO GREAT!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada tanggapan???