Senin, 11 Oktober 2010

HAPPY ABSTRACT DAY

Syukuri apa yang ada,

Hidup adalah anugerah,

Tetap jalani hidup ini,

Melakukan yang terbaik…

Jangan menyerah... Jangan menyerah, JANGAN MENYERAH....

(itu sekilas lagu d’massive yang liriknya bikin semangat abis!)

Pada zaman dahulu kala (gak sejadul itu c) saya kan pernah posting suatu hal yang mungkin menurut orang yang baca, hal itu menunjukan sebuah ’penyesalan’, kesannya saya udah sejauh itu menyesalinya, dengan penjelasan yang bener-bener penuh emosi, tapi emang ada benernya juga c... gak ada yang salah dengan keluhan konsumen itu. Hanya aja, saya ngerasa harus memotivasi diri lagi, karena seorang konsumen pun sebenernya jangan hanya bisa mengeluh. Tapi juga memikirkan solusi dari kesalahan itu, memberikan saran, dan tetap menikmati barang yang telah dibeli, seoptimal mungkin, coz, yaa kalau udah dibeli, otomatis gak bisa dikembaliin, kecuali ada perjanjian antara penjual-pembeli.

So, intinya c, ya itu derita loo... Nasi udah menjadi bubur…

Berhubung bubur juga masih bisa dimakan, saya bisa menghias bubur-bubur yang sudah terlanjur itu jadi enak dipandang mata dan nikmat di lidah lagi. Toh, gak ada istilah kepalang, 'nasi sudah menjadi minyak jelantah’.

Kata ‘bubur’ itu sebenernya ngungkapin bahwa gak ada hal yang sia-sia dan gak ada kata TERLAMBAT di dunia ini. Meskipun udah kepalang, bubur kan masih bisa dimakan juga…

Dan meskipun kata ‘bubur’ diganti ‘minyak jelantah’ pun, ituu minyak juga masih bisa menyelamatkan nyawa orang banyak. Bisa dipake buat bahan bakar bus transpakuan. So, kayanya kalaupun diganti sama benda lain yang lebih rongsokan juga tetep aja, kalau kita mau mikir, kagak akan deh ada yang sia-sia. Sekalipun sampah, dia jg bisa didaur ulang koq…

Bukan saya menyamakan nasib saya dengan benda-benda yang terbuang,,, yahh, namanya juga istilah, kadang terdengar lebay dan tidak tahu diuntung. Tentu aja kisah kasih saya dengan jalan hidup saya ini gak selebay istilah itu. Hanya aja, yaa kalau udah nyebur ke kolam, mau gak mau kita harus renang… kalau gak bisa, sewa aje pelampung…

Yaudin, langsung aja deh.. blak-blakan supaya hati ini tentram dan plong, gak ada yang ngeganjel. Kemaren, saya cerita ke seorang teman, tentang pilihan hidup. Saya ngerasa ini bukan jalan saya. Seharusnya saya tidak berada di sini, seharusnya gini, seharusnya gitu, dan keluhan-keluhan lain yang tidak sepantasnya diutarakan oleh seorang mahasiswa.

Sekarang, saya tahu apa yang sedang saya alami, apa yang saya alami itu banyak juga dialami oleh mahasiswa/i lain di manapun. Itu yang namanya ‘disorientasi’ menganggap rumput tetangga lebih hijau. Menganggap seolah kita adalah manusia paling sial di permukaan bumi. Merasa gak mampu, gak percaya diri dengan apa adanya diri kita, maunya kaya si anu, pengennya jadi kaya si ono. Gak puas dengan apa yang didapat, dan menyalahkan sistem. (meski terkadang memang ada yang salah dengan sistem).

Salah, wajar... gak ada pilihan hidup yang nyaris tanpa resiko. Semua sistem pasti gak sempurna, apalagi sistem-sistem itu dibuat oleh manusia, yang masing-masing punya kelebihaan dan kekurangan. So, di sini, sistem hanyalah berupa peraturan yang harus diikuti saja.

Mungkin saya sering bilang kalau saya gak tahan sama hal yang abstraknya tuh keterlaluan. Sungguh sebernya saya sangat menyukai hal abstrak, gak bisa di lihat, tapi ada. Secara saya sangat percaya dengan kekuatan perasaan. Coba, sedih, marah, bahagia, kesel, emosi dan perasaan yang pernah kita rasakan? Apa itu konkrit? Ada bendanya? Enggak kan?! Perasaan itu gak keliatan. Atau coba deh, di mana letak hati sanubari? Sekalipun kita memutilasi orang buat nyari tau gimana bentuk ’hati sanubari’ itu. Kita gak bakal nemuin, karena hati yg dimaksud itu bersifat abstrak.

So, saya sangat senang belajar yang abstrak2, dengan hal abstrak kita bisa membayangkan tanpa penjelasan rumit. Cukup dengan perasaan dan imajinasi. Dan hal seperti itu, saya jamin, semua orang sekonkrit apapun pikirannya. Pasti suka sama yang abstrak2... dan memang karena hal-hal yang abstrak itu, sangat mudah dipahami oleh orang yang mengaku memiliki hati dan otak. Karena pengetahuan seperti itu sangatlah naluriah.

Ohya, dan bagaimana dengan keberadaan Tuhan? Apakah Allah bisa dilihat oleh manusia? Apakah kita bisa merasakan kehadiran-Nya?

Pertanyaan itu hanya retoris, hanya untuk membuktikan bahwa betapa kita membutuhkan pengetahuan tentang hal-hal abstrak.

Agar kita memiliki IMAN yang KUAT.

Hanya aja, hal-hal yang abstrak sangat bisa menjadi rumit, sulit dimengerti, apabila sudah dikaitkan dengan teori.

Teori asing yang sebenarnya hanya manipulasi (menurut saya). Bukankah semua aturan dan teori mengenai apapun sudah komplit dijelaskan dalam Al Quran dan Sunnah? Lalu, kenapa harus kita pelajari teori-teori ^maaf^ orang kafir yang sudah meninggal?

Jawabannya adaalaaahh....

”Jangan lihat siapa yang berbicara, tetapi lihat apa isi dari pembicaraannya itu.”

So, gak ada yang sia-sia di dunia ini, lagian, semua teori pasti punya kelemahannya juga. Ambil aja positifnya, yang negatif, jangan dipercaya... (cukup diyakini saat ujian saja) ^_^

Inti dari postingan saya kali ini sebenernya cuma ingin meyakinkan diri sendiri atas segala hal yang saling menyalahkan dalam hati, kadang pro kadang kontra, banyak dialog dalam otak yang bernada pesimis. Dan saya udah gak tahan dengan semua itu. Saat ini, setelah merenung, ternyata, gak ada yang perlu disesali. Semua kepesimisan itu buatan sisi egois diri saya sendiri.

Jadii, apapun yang telah saya pilih... Apapun jalan yang telah Allah pilihkan untuk saya, sejauh ini saya telah melangkah. Gak mungkin berhenti, meski melampirkan banyak surat keluhan pun gak akan bisa mengubah segalanya. Dan belum tentu jika bisa diubah pun saya akan merasa lebih baik.

Balik lagi ke kalimat ’gak ada pilihan yang nyaris tanpa resiko’

Dan ini cara yang ingin kuaplikasikan dalam menghidangkan nasi yang sudah menjadi bubur...

----------------------------------

Ingat, Bubur bukanlah benda hina,

Dia masih bisa kita makan,

Bahkan kadang terasa lebih enak dibanding nasi...

Terbukti dengan bubur ayam deket rumah saya laku keras...

Hidangkanlah bubur tersebut dengan pelengkapnya...

Nikmati Proses pembuatannya...

Dan setelah menikmati bubur itu,

Ucaplah Alhamdulillah...

’Bersyukur atas segala nikmat-Mu ya Allah,

Hamba masih bisa makan...’


Sumber gambar : yulizz.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada tanggapan???