Tampilkan postingan dengan label friendship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label friendship. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Februari 2013

PERPISAHAN

Jangan pernah takut ku tinggalkan, 
Saat bintang tak mampu lagi berdendang,
Saat malam menjadi terlalu dingin,
Hingga pagi tak seindah biasanya,

Ku tak bisa merubah yang telah terjadi,
Tapi aku kan menjanjikan yang terbaik,
Agar kita tak pernah menjadi jauh,
Meski be
da darmaga untuk kita berlabuh...

Takkan mungkin kita bertahan,
Hidup dalam
kesendirian,
Panas teri
k, hujan badai,
Kita lalui bersama,

Saat hilang arah tujuan, 
Kau tahu ke mana berjalan, 
Meski terang meski gelap, 
Kita lalui bersama...

Pernah kita jatuh,
Menc
oba berdiri,
Menahan sakit dan menangis,
Tapi
arti hidup lebih dari itu,
Dan kita menc
oba melawan...

-Siti Nurhaliza, Seindah Biasa-

Lagu di atas adalah lagu favorit gw saat SMP. Di mana gw merasa itu adalah gambaran cerita kehidupan siapapun yang pernah menjalin ikatan, termasuk ikatan persahabatan. Dulu, gw  suka sedikit  lebay dengan apa yang namanya perpisahan. Perpisahan SD nangis sampai gogoakan saat menyanyikan lagu wajib perpisahan, yang kira-kira liriknya begini…

“Mengapa… waktu itu kita harus berjumpa…
ohh, mengapa, kini kita harus berpisah lagi
Berpisah berpisah lagiii…. Berpisah berpisah lagiiiiii…”

Gw bingung dengan lagu itu sebenarnya, kalau di ingat-ingat sekarang. Sepertinya liriknya agak menyalahkan takdir. Pertemuan dan perpisahan itu kan memang pasti selalu ada dalam tahapan proses hidup, tak usah dipertanyakan lagi kenapa kita dipertemukan jika pada akhirnya kita harus berpisah.

But, saat itu, gak muna, gw terhanyut dengan lagu itu, apalagi diiringi permainan gitarnya Pak Guru Favorit kami. Bukan hanya gw yang nangis gogoakan. Tapi temen-temen gw juga sama aja. Tangisan itu menular, kita sama-sama seperti ‘lonely fool’ di tengah keramaian.

Ada lagi lagu ‘Pileleuyan’ ini lagu berbahasa Sunda. Karena kami berada di dataran Sunda, kami menggunakan lagu wajib perpisahan itu, liriknya begini.

Hayu batur hayu batur,
Urang kumpul sarerea,
Hayu batur hayu batur,
Urang sosonoan heula.

Pileuleuyan pileuleuyan, 
Sapu nyere pegat simpay,
Pileuleuyan pileuleuyan,
Paturay patepang deui.

Amit mundur amit mundur,
Amit ka jalma nu rea,
Amit mundur amit mundur,
Da kuring arek ngumbara.

Nah, ini lagu lebih semangat dibandingkan lagu sebelumnya. Pileuleuyan, artinya seperti “Sayonara” mungkin ya… namun lagu ini jelas lebih optimis Karena ada kalimat “paturay patepang deui” yang artinya “nanti kita bisa bertemu lagi” Lagu yang meminta pamit untuk mengembara--dalam hal ini menuju kehidupan yang lebih menantang lagi. “Welcome to the Real Life”. Lagu ini sengaja dinyanyikan terakhir untuk menghibur para penonton dan tentunya untuk para subjek yang berpisah. Kita memutar sambil melambaikan tangan ke penonton dan masing-masing saling berpelukan. Berpelukannya awalnya satu-satu, lama kelamaan jadi berlima, bertujuh, bersebelas….

Terima kasih SD Negeri Cipaku Perumda yang telah memperkenalkan gw pada dasar persahabatan yang membekass hingga kini.

***
Masuk SMP, gw bertemu dengan teman-teman baru, juga tantangan-tantangan baru. Ada kalanya kita menganggap ini semua adalah akhir, padahal ini adalah awal mula.

Persahabatan berawal dari pertemuan gw dengan sesosok makhluk bernama Fika Aras Ardita Aditia Yudhabrata. Nama yang sungguh panjang, bukan?

Tapi, tenang, dua kata terakhir hanyalah ulah gw yang menyambung-nyambungkan nama sahabat gw ini dengan nama salah satu teman sekelas kita, dan dia pria. Gw sering menjahili mereka berdua dengan menyebut mereka pasangan serasi. Jadilah nama itu terbentuk.

Persahabatan kami ditandai dengan adanya ritual khas yang disebut ‘Kukurilingan’. Definisi Operasional ‘Kukurilingan’ menurut kami adalah kegiatan mengelilingi setiap koridor kelas setelah ujian usai. Berhubung sekolah kami itu panjaang dan cukup luas, jadi kita leluasa untuk menjalankan aksi keliling-keliling sambil ketawa-ketawa (kadang sampai seperti orang kerasukan).

#Astagfirulloh!

Tapi sayangnya, Fika hanya bertahan 1 semester di SMP Negeri 4 Bogor. Kelas 1 Semester 2, dia pindah ke Medan karena bapaknya bekerja di sana. Itu adalah tragedi perpisahaan awal yang cukup membuat anak labil macam gw kehilangan sahabat baik.

Kadang, saat itu gw ngerasa lebih baik ninggal daripada ditinggal.
Saat itu, kita sepakat bakal saling surat menyurat. (Waktu itu belum punya HP, apalagi internet) Jadi satu-satunya alat berhubungan adalah merpati pos.

Berhubung saat itu gw lebay dan lebih melankolis dibanding fika yang lebih phlegmatis. Gw suka bilang, “Fika, ucapin kata-kata terakhir dong…” Tapi Fika malah bilang, “Ihh… Apaan sih, Gak ada kata-kata terakhir, kita itu bakal ketemu lagi, Windaaa…”

Setelah hari itu berlalu, gw sering mencoba mencet nomor telepon rumah Fika yang di Ciomas. Seperti hari-hari biasa gw melakukan hal itu, nyaris setiap hari kita berbincang di telepon, tapi kali itu, saat gw memencet nomor telepon rumahnya, hanya ada nada sambung dan tak ada yang mengangkat. Gw tutup gagang telepon, pencet redial, tutup lagi, pencet redial… Tutup lagi… Redial Lagi… #entah kenapa dulu gw lebay. -____- dan Fika harus tau ini, bahwa gw sering melakukan adegan konyol setelah kepergiannya.

Seperti, menyimpan pas foto hitam putihnya yang berukuran 2x3 dan gw taro di binder (sampai sekarang masih ada). Mengoleksi setiap perangko yang datang bersama surat-suratnya dari Medan. Memelihara ikan bernama Uka hasil kerajinan tangan Fika (sampai sekarang pun masih gw simpan) dan tentunya surat-surat beserta amploppnya (klo yang ini sebagian udah di makanin tikus,,,) :D ngehehe… piss ahh pik…

Ini hasil kerajinan tangan Fika yang dikirim lewat surat. Gw gak tau, kenapa si Fika dulu ngasih gw ikan, dinamain pula, namanya Uka. Dan gw pun aneh. Nempelin ini ikan di belakang binder. *Tapi meski itu semua adalah hal konyol yang dulu kami anggap serius. Dunia anak-anak memang selalu penuh keunikan, keajaiban, dan kenangan yang manis jika dikenang saat kita beranjak dewasa*


Dalam surat, Fika sering menceritakan teman-teman sekelasnya di sekolah barunya, tentang teman sekelasnya yang dia sukai, tentang temannya yang menyebalkan, dan apapun yang dia lakukan di sekolah barunya, SMP 7 Medan. Gw pun menceritakan kehebohan dan keseruan temen-temen gw yang juga temen-temennya Fika di SMP 4.

Kita jadi seperti sahabat pena, sekalinya kirim surat, tebel banget… bisa berlembar-lembar dalam satu amplop, belum lagi ada yang bentuknya majalah kecil yang kita buat sendiri. Dengan surat setebal itu, biasanya kita menggunakan perangko yang amat sangat minim, yaitu dengan nominal 500, 1000. 2000 itu udah paling mending. Bayangin, Bogor-Medan, Jawa Barat-Sumatera Utara, surat tebel2 dalam satu amplop, sampe menggembung kalo disentuh dari luar dan harus ditimbang, dengan perangko seminim itu…. kirim ke kantor pos Januari, nyampe-nyampe bisa Bulan Juni. *dan kadang, berita-berita yang diceritakan dalam surat itu udah basi. Cerita zaman kapan, dibaca zaman kapan.

Ini adalah beberapa perangko yang dikirim oleh Fika, yang gw abadikan di binder, masih ada sampai sekarang. Itu ada sedikit tulisan-tulisan ababil. Harap maklum. Anak kecil, hehe... terlalu penuh pengkhayatan, masih lucu, lugu, dan agak sedikit cupu. *hohoho*


Semuaaa gak serba instan kayak sekarang. Sekalinya kita lagi sebel sama si A, kalau sekarang, bisa curhat langsung lewat sms, WA, atau sosmed… Lah dulu… Misalnya si Fika lagi sebel sama si B, curhat di surat bulan Januari, dibaca oleh gw bulan Juni… Dan itu ternyata curhatan yang sudah basi, karena bisa saja bulan Juni itu Fika sudah tidak sebel lagi sama si B. Lebih parah… waktu itu Fika nyeritain salah satu anggota AFI (Akademi Fantasi Indosiar) yang waktu itu lagi marak-maraknya, namanya Veri (Juara AFI 1) tapi sayangnya, pas gw baca surat Fika, Zaman telah berganti, Waktu telah berlalu… Karena AFI sudah tidak zaman lagi dan Indonesian Idol yang lagi happening.

Tapi, meskipun demikian, kami saling menikmati ‘cerita basi’ kami masing-masing. Gw masih tetep suka ngakakk baca surat-suratnya Fika. Dan Fika pun sepertinya sering gubraggg dan ngakak membaca tulisan2 gw dalam surat yang setebel apaan tau itu. *Atau mungkin ngakak karena saking basinya* :DD

Dan dari surat menyurat itulah… gw berlatih menulis, gw rasa Fika juga sama. Fika itu pandai menulis. Gw suka gaya menulisnya yang mengalir dan penuh kejutan.

Sampai SMA kami masih terus surat-suratan, meskipun waktu itu intensitasnya berkurang, karena Alhamdulillah, kami sudah tidak terlalu purba lagi. Sudah memiliki Hp masing-masing. Hp yang masih ada antenenya kayak yang suka dipake pak polisi di jalan raya. Hp jadul, tapi lebih mendingan dalam menyerap informasi secara cepat, dibandingkan dengan surat menyurat.

Dan, pas kuliah… 
Ternyata kita dipertemukan lagi oleh yang Maha Kuasa.
Fika masuk melalui jalur USMI, sama seperti gw. Dan saat bertemu lagi setelah bertahun-tahun tidak berjumpa… kita langsung melakukan ritual yang sering kita lakukan dulu. Yaitu ‘Kukurilingan’. Bedanya, kali ini, di IPB.

Berarti benar kata Fika dulu, kita bener-bener bisa bertemu lagi. Di Gedung Graha Widya Wisuda yang beratap biru itu *kalau sekarang sudah berubah warna menjadi abu-abu*. Di bangku penonton dengang tulisan huruf F besar (Fakultas Teknik Pertanian), ada seseorang yang dadah-dadah di ujung sana. Saat itu, gw yang juga lagi duduk di bangku penonton bertulisan I besar (Fakultas Ekologi Manusia), dadah juga ke orang yang lagi dadah-dadah ke arah gw, yang memang benar itulah Fika. Udah sekian lama gak ketemu, ternyata dia masih seperti yang dulu. Menyenangkan.

Kini, kami sama-sama telah lulus. Dan telah menemukan jalannya masing-masing. Dulu berpisah, kemarin bertemu, sekarang berpisah lagi. Itu memang hal yang biasa dalam kehidupan. Sekarang kita sudah lebih dewasa dalam memandang hidup.

Sekarang Fika pindah ke Jambi, dia bekerja di sana, *dan bisa saja selamanya di Jambi jika menemukan jodohnya* :D bertelur, berkembang biak, dan beranak pinak di sana. 

Dan gw.... Masih tetap di sini,
Di Pulau Jawa tercinta. 
Menjalankan amanah, menjaga janji, meniti mimpi. 


Minggu, 26 Februari 2012

KIBLAT VS LACRYMOSA

Punya Idola?

Punya artis Favorit?

Punya penyanyi favorit?

Punya grup band favorit?

Punya penulis favorit?

Punya warna favorit?

Punya style favorit?

Punya makanan dan minuman Favorit?

Pasti semua orang punya jawaban masing-masing dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sesuai selera. Sesuai juga dengan identitas mereka, sebagai umat muslim, jelas, tak usah ditanya lagi, bahwa kita pasti mengidolakan Nabi Muhammad sebagai panutan, style kita tetap dengan hijab, sebagai muslimah yang seutuhnya.

Kita pun punya idealisme sendiri-sendiri mengenai siapa penulis favorit kita. Ada yang mengidolakan tulisan seorang Atheis, padahal dia bukan seorang Atheis. Ada yang mengaku berkiblat pada salah satu grup band tertentu. Saya punya teman, ia singer sebuah band, dan dia mengaku terinspirasi dari grup band Paramore, grup band asal Amerika. Saya juga punya teman seorang Otaku. Otaku adalah orang-orang yang gemar banget sama hal-hal berbau jepang, doramanya, style’nya, band-band’nya, gamesnya, dll. Ada juga yang Korean lover… Sampai mereka berusaha belajar bahasa-bahasa Negara idola mereka. Sampai mereka memajang foto-foto artis kesayangan mereka sebagai wallpaper hp, PC, dll. Bahkan, ikal pun sampai memajang poster H. Rhoma Irama di kamarnya.

Sebenarnya saya tidak berhak berpendapat mengenai ini. Tapi kadang saya juga sebel lihat orang yang menangis gara-gara gak kebagian tiket konser, misalnya pas Justin Bieber ke Indonesia. Ada yang nangis lebay banget.

Pernah ada seseorang yang tanya, “Win, lu berkiblat pada apa sih?” saya kaget banget denger pertanyaan teman saya itu. Ya saya jawab spontan tanpa mikir, “Ka’bah lahh…” Wong setiap sholat saya menghadap kiblat yang patokannya adalah Ka’bah.

Ternyata maksud beliau di situ ialah perluasan makna dari kata ‘kiblat’. Maksud dia disini ialah style, khususnya gaya menulis. Maksud beliau adalah ‘terinspirasi dari siapa?’. Jika dijawab, saya juga bingung, coz saya tidak merasa ber’kiblat’ pada siapa2 dalam menulis. Saya merasa kadang malah gaya menulis saya tidak konsisten. Kadang romatis mellow, kadang sembrono, kadang tertata, kadang ngotot, kadang sinis. Dalam menulis, saya hanya berkiblat pada suara hati aja.

“Penulis harus punya idealisme” kata salah satu teman seperguruan saya. Jujur, kadang saya—kalau dikatakan penulis, saya bukan penulis yang punya idealisme. Saya mau nulis apa aja sebenernya klo diminta. Tapi dipikir-pikir, menulis yang tidak bermanfaat hanya membuang-buang waktu. Jadi, mulai saat ini saya ingin belajar menulis mengikuti jalur yang benar saja. Meski gak terlalu bener-bener amat, tapi setidaknya, ‘Mencoba untuk tetap berada di jalan yang benar’.

Teman saya itu akhirnya mengerti dan bertanya lagi, “Kamu tuh kenapa suka nulis yang horror-horror sih?”

Saya jadi inget penulis idola saya dulu… hehe, saya jadi sadar, memang tulisan-tulisan saya dipengaruhi gaya tulisannya RL. Stine. Gak usah lah ya, saya jelasin lagi siapakah dia. Yang jelas, dia gak kalah ngetop sama Einstein… hehe…

Begitu besar pengaruh karya seseorang pada karya-karya generasi berikutnya.

Seperti perlunya tinjauan pustaka dalam mengerjakan laporan ilmiah. Kita pun perlu referensi dalam menulis ‘apapun’. Untuk belajar banyak mengenai pengalaman. Untuk belajar lebih banyak mengenai kesempatan.

Semenjak saya mengikuti buku-buku RL. Stine, dari SD saya sudah sangat suka hal-hal berbau horror. Hingga SMP saya melihat suatu video klip yang membuat saya terkagum-kagum, karena saya membayangkan cerita-cerita Horror RL. Stine memiliki soundtrack dan view seperti di video klip itu. Video klip itu bernuansa Horror, dengan scenery yang sangat dark, make up penyanyinya udah kayak hantu apaan tau, main piano, rambut panjang, pake baju perpaduan merah-hitam, trus nurunin tangga perlahan sambil nyanyi dengan tatapan penuh kehorroran, terus abis itu nginjek-nginjek meja makan. Maksudnya, berjalan di atas meja makan dengan anggunnya—tetap dengan wajah pengen makan orang.

Judul lagu itu adalah Call Me When You’re Sober, yang dinyanyikan vokalis wanita bersuara sangat powerfull, mezzo soprano type, dengan lead vocal : Amy Lee. Dari situ saya mendadak suka dengan lagu-lagu dari grup band asal Arkansas, Amerika Serikat itu. Apalagi saat keluar lagu-lagu lainnya kayak Bring Me to Life dan Going Under. Selain Poppy Mercury, saya pun jadi sangat suka Evanescence berkat lagu-lagunya yang cocok dengan khayalan saya tentang kisah-kisahnya RL. Stine.

Tidak hanya tulisan, yang tadinya saya suka warna-warna unyu seperti orange, kuning, pink, dan warna-warna lain yang ‘cewe banget’, mulai dari situ saya jadi menyukai warna-warna soft and dark, tapi berani, kayak hitam, putih, deep purple, dan merah. Dan saya pun merasa berubah menjadi orang yang lebih bijaksana dari sebelumnya. Yang waktu SD nakal, suka banget sama yang namanya ngejailin temen, sampai merosotin celana-celana anak tak bersalah, hingga jadi lebih rada kaleman dikit.

Saya bertaubat setelah saya mengetahui siapa diri saya sebenaarnya, saya bertaubat atas kenakalan-kenakalan yang dilakukan di masa lampau, atas keegoisan, atas kedengkian, atas kemarahan pada orang lain. Dan mulai saat itu saya lebih sering berbicara di dalam hati saja. Menekan segala keinginan, dan mulai mengasihani diri sendiri. Pelampiasan masa kanak-kanak yang nakal, transisi menuju remaja awal. Dan saya mulai mendengarkan lagi musik-musik gloomy yang universal.

Dibandingkan musik-musik dalam negeri. Lirik-lirik lagu dari band yang saya sukai lebih universal. Bagi anak SMP macam saya lebih baik mendengarkan lagu-lagu yang liriknya tidak saya mengerti sepenuhnya daripada mendengarkan lagu-lagu Indonesia tentang cinta-cintaan yang tidak universal. Maksudnya, kenapa mayoritas lagu-lagu di Negara ini berbicara tentang cinta tentang ‘lawan jenis’ melulu. Gak semua orang pernah pacaran kan? Gak semua orang pernah ngalamin seperti apa yang dijabarkan dalam lirik!

Lagu-lagu Indonesia yang bagus itu menurut saya seperti lagunya Chrisye :: damai bersamaMu, ketika tangan dan Kaki bicara, lagu2 religi yang berkisah tentang persahabatan, cinta pada Tuhan, dan kepedulian, saya selalu suka.

Saya baru mengetahui arti lirik-lirik lagu evanescence saat masuk bangku kuliah. Saya baru lumayan mengerti dengan bahasa Inggris. Ketika dulu saya hanya mempedulikan view gothic’nya yang sesuai dengan khayalan saya. Kini saya mulai mencari arti di balik lirik-lirik yang mereka sertakan dalam lagu. Dan itu sangat membuat saya lebih kritis lagi, karena ternyata, lirik-liriknya pun susah diartikan. Seperti halnya puisi, (kata orang) semakin sulit diartikan puisi itu, maka semakin bagus. Ada makna tersembunyi di balik semua itu. Maka setelah kita mengetahui maknanya, kita akan terkagum-kagum. Dan saat ini saya telah mengerti apa maksud dari beberapa lagu hits mereka.

Mereka identik dengan kehorroran. Bahkan teman KKP saya sering protes jika saya menyetel lagu-lagu itu, karena dia ketakutan. Padahal, saya juga sebenarnya penakut. Yahh, namanya juga usaha, untuk mengatasi rasa takut, jadilah menakutkan… hihi…

Tapi, setelah mencari tahu kehidupan para personilnya, saya penasaran, kenapa mereka selalu mengkonsep musik-musik seperti itu? Dan ternyata setelah cari-cari tau, mereka itu tidaklah seperti apa yang kita anggap. Mereka itu tidaklah seperti suketi yang punggungnya bolong. Mereka itu justru sangaaat-sangat sanguinis dan ramah. Kehidupan mereka sama sekali tidak mengerikan apalagi psikopat.

Di balik lirik dan gambar Lacrymosa (horror n tearful) mereka, mereka adalah tipe-tipe manusia yang ceria dan friendly. Bagaimana saya bisa tau? Saya cari tau, dan saya mengamati, karena saya akui bahwa saya adalah salah satu fans mereka. Dan saya pun bercermin pada diri saya sendiri. Meski tulisan-tulisan saya horror-horror, meskipun banyak status-status atau postingan-postingan saya yang mengerikan dan terkesan Gloomy.

Saya tidaklah seperti apa yang saya tuliskan…

Saya tidaklah seperti itu…

Itu hanyalah 'Konsep' yang saya sukai. Menyukai bukan berarti ingin mengikuti segala-galanya. Saya bukanlah seorang fanatik. Saya hanya menyukai ketulusan yang bersahaja. Saya hanya...terinspirasi… ^^

Namun tetap,

Tuhan saya Tetap Allah SWT.

Saya bersaksi Bahwa Muhammad adalah utusan Allah,

Dan, Kiblat saya… Tetap Ka’bah.


Sumber Gambar : evanescence fanpage (asian tour)

Selasa, 21 Februari 2012

LIFE DEADLINE

I envy you so much,

You have extinguish light window,

Today I hesitated,

My body hesitated,

I felt uncomfortable and without a word turned and come back…

-Shin Ji Hyun-


Terlepas dari keberadaan Surga dan Neraka. Terlepas dari pengetahuan manusia tentang batas takdir antara hidup dan mati. Jika kita mengetahui kapan kita akan mati, dan menemukan sebuah pesan hidup yang perlu dilakukan sebelum kita mati. Apa yang akan kita lakukan? Akankah kita masih sanggup bersikap munafik terhadap diri sendiri dan orang lain? Apa justru kita akan berusaha jujur meskipun menyakitkan dan melakukan berbagaimacam kebaikan dengan penuh ketulusan yang bisa kita persembahkan untuk yang terakhir kalinya, karena kita tahu, kapan kita akan mati.

Ada sebuah kisah yang membuat hati dan pikiran saya terpukul-pukul berkali-kali. Seperti jika sedang membangunkan orang dari tidur panjang dan ketidaksadaran. Jika kita melihat seseorang masih saja tidur di pagi hari, meski langit telah terang benderang. Akankah kita membiarkan seseorang melewatkan rezekinya? Bagi orang yang bijaksana, mungkin ia akan menyadarkan yang tertidur, dengan pukulan-pukulan kecil yang membuat orang itu sadar dan terbangun. Agar tak melewatkan ibadah yang berharga di subuh hari. Agar tidak menelantarkan rezeki di pagi hari.

Itu yang saya rasakan saat menyaksikan suatu kisah yang saya saksikan beberapa hari yang lalu. Dan saya merasa jadi orang tidur yang dipukul-pukul supaya sadar dan bangun. Banyak hikmah yang bisa didapatkan dari kisah tersebut. Terlepas dari masalah kepercayaan yang tak masuk akal, terlepas dari hal-hal gaib yang mustahil terjadi. Seperti halnya dongeng-dongeng fabel yang mengajak anak berkhayal bahwa gajah dan jerapah bisa berbicara, meski mustahil, namun sarat akan makna.

Selama menyaksikan kisah itu, seolah saya diajak mengkhayal bersama, dan masuk ke dalam sebuah kisah fantasi. Saya merasa menjadi seorang pengamat dan pengkhayat yang bisa mengetahui isi hati siapapun dalam kisah itu.

Bayangkan, ketika ada seseorang yang dengan mudahnya ingin mengakhiri hidup. Ketika seseorang begitu ingin meninggalkan dunia tempat ia berpijak karena sudah sangat putus asa. Di sisi lain, ada seseorang yang berjuang demi hidupnya. Demi memperoleh menit-menit berharga yang bisa ia bayar dengan air mata ketulusan, untuk kembali menghirup gas oksigen bebas di udara yang bisa didapatkan secara gratis.

Ketika kita dilanda depresi dan tak semangat menjalani hidup. Ketika kita kehilangan sesuatu yang berharga dan tak mendapati gairah hidup yang nyata, lantas kita menganiaya diri sendiri, mengasihani diri sendiri. Hingga hidup dalam kegelapan. Ketidakberartian. Sungguh meskipun secara fisik kita masih Hidup. Namun Jiwa kita telah lama Mati.

Dan di sisi lain, ada sesosok jiwa yang berkelana, dulu ia bahagia menjalani hidupnya, kini di tengah ketidakberdayaan ia mencari celah-celah kehidupan dari doa-doa dan air mata yang seratus persen tulus dari orang-orang tercinta. Ada sesosok jiwa yang raganya telah dinyatakan mati. Namun, ruhnya masih terus bergentayangan, mengembara, menunggu keajaiban, mukjizat yang diberikan Tuhan melalui doa-doa para hamba yang tak hanya Meratap Iba. Tetapi hamba-hamba yang berdoa dengan ketulusan jiwa, Sepenuh Hati dan tak ada sedikitpun niat yang bertolakbelakang dari jalan kebaikan.

Ketika kita dilanda perasaan sedih yang berkelanjutan, hingga air mata pun tak dapat menetes lagi, hingga hanya pandangan mata kekosongan yang kita lihat saat menonton acara komedi sekalipun. Saat yang kita ingin makan saat itu adalah racun pembunuh serangga. Ingatlah, bahwa, di luar sana, banyak orang-orang telah mati secara fisik, namun jiwanya masih ingin menjalani hidupnya dengan semangat.

Apa yang akan dikatakan ruh yang berkelana itu jika berhadapan dengan kita? Mungkin ia akan memaki-maki kita, “Kamu harusnya bersyukur! Aku iri padamu… Suaramu masih bisa terdengar oleh orang-orang, kamu masih bisa terlihat! Kamu masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Lalu kenapa kamu seolah tak bersyukur? Kenapa kamu menjalani hidup seperti ini? Hidup dalam kegelapan dan kekosongan?! Tidakkah kamu ingin hidupmu berharga? Selagi masih ada kesempatan! Janganlah menjadi orang yang merugi!”

Jujur, saya sangat tersindir dengan makna-makna yang terjabar dalam kisah itu. Meskipun bersifat fantasi, namun banyak hal yang menyadarkan saya.

Juga ketika ruh tersebut menjalani 49 days travel menjelajahi hidupnya dalam tubuh orang lain.

Bayangkan, seandainya ragamu terbaring kaku di ranjang rumah sakit dan dokter telah menyatakanmu mati secara medis. Sedangkan ruhmu berada di samping jasadmu. Kau temukan orang-orang tersayang menangis di samping ranjangmu.

Ayah, ibu, saudara, sahabat, dan semua orang yang mengenalmu dengan baik…

Namun, apakah tangisan mereka adalah benar-benar Tangisan Ketulusan?

Ketika ruh kita diberi kesempatan hidup kembali, dengan syarat mencari 3 tetes air mata orang-orang yang tidak berhubungan darah dengan kita. Kita harus mencari tetesan air mata yang seratus persen tulus. Akankah kita mengetahui bahwa tidak semua orang seperti apa yang terlihat di luar.

Ketika ruh kita senang dan sangat percaya kita mampu mendapatkan 3 tetes air mata itu. Kita pun menebak-nebak siapa saja yang mungkin akan menangis tulus.

Namun ternyata, tak semua yang terlihat dari luar adalah seperti apa yang kita duga. Mereka bisa saja menangis di samping jasad kita karena mungkin kita masih memiliki hutang yang belum dibayar, sehingga orang itu menangis di samping jasad kita akibat menanggung kerugian. Atau karena ingin mendapat simpati, warisan, atau ada yang menangis di samping kita atas perasaan bersalah karena telah berkhianat.

Ternyata, hal itu menyadarkan saya akan adanya berbagaimacam arti air mata. Dan di luar semua itu, ada air mata dalam doa yang di dalamnya mengandung seratus persen murni ketulusan.

Saya tidak ingin menjadi orang yang mudah su’udzon karena itu, dengan menduga-duga air mata jenis apa yang orang-orang keluarkan. Toh, memang itu hanya Fantasy Fiction. Hanya Allah yang mengetahui segala. Juga tentang kapan deadline hidup kita. Saya hanya ingin menuliskan kembali beberapa hal yang menarik dan sempat memukul-mukul hati dan pikiran saya beberapa hari ini pasca menonton film drama Korea 20 Episode berjudul 49 days itu.

Bahwa selagi Hayat masih di kandung badan. Seberapapun berat ujian hidup, seberapa banyak hal berharga dari dirimu yang menghilang. La tahzan…

Jalani terus hidupmu dengan Semangat dan Keceriaan.

Sebelum Scheduler ‘Yang Sesungguhnya’ memanggilmu menuju ‘Elevator Kematian yang sesungguhnya’ untuk melintasi Deadline hidupmu…

***

sumber gambar : purplewallpaper.com

Jumat, 17 Februari 2012

ANTOGILAAAA!!!

Di buku ini ada story konyol-ku jugaa... :D

About this book :

“Kalau aku, aku sih terserah Yanti. Dia mau bilang antologi ini gila atau aku yang gila, aku gak masalah. Yang penting Aurel nilai rapornya bagus.” (Amang Premansyah, Penyanyi yang Doyan Getuk)

“Buat temen-temen STM gue, temen-temen ngaji gue, temen-temen yang belum jadi temen gue, MAKAN NIH!” (Marsjanda, Mantan Artis Cilik dan Mantan Istri Duda)

“Untuk anak-anak Indonesia, saya sarankan untuk membaca kisah dalam antogila ini. Cerita yang dikisahkan oleh para kontibutor sangat menghibur, mencerminkan kecacatan psikologis penulisnya.” (Kak Seko Mulyedi, Pemerhati Mamanya Anak)

“Alhamdulillah banget. Sesuatu yah. Aku memilih buku ini untuk dijadikan ganjelan jambulku.” (Syahrimin, Penyanyi Berbulu Mata Anti Badai Kerispatih)

“Menurut analisa saya, buku ini tidak asli. Bila dilihat dari metadatanya, kita akan tahu bahwa buku ini sebenarnya hanya tipuan optik yang terjadi karena suatu objek terkena pancaran sinar yang ditimbulkan oleh matahari sehingga terlihat seolah-olah buku ini asli. Padahal hanya koran bekas bungkus nasi uduk Kang Bani. Tuh lihat masih ada bekas sambelnya!” (Ryo Sukro, Pakar Towelemaktika yang Belum Pernah Tamat Game Zuma)

Selasa, 06 September 2011

Today

Di sela-sela ngerjain tugas-tugas yang belum selesai, gw malah memberanikan diri untuk berpetualang dan mengabaikan tugas-tugas kuliah untuk sementara waktu. Coz hidup ini gak harus selalu mengenai ‘ngerjain tugas-tugas kuliah’. XD

Hari ini mengingatkan gw akan banyak hal… Hari yang bener-bener hari, hari peringatan buat gw. Buat semua orang yang mengaku sebagai insan Tuhan.

‘Andaikan kita bisa tertawa selamanya, andaikan d dunia ini tak pernah ada duka... Mungkin kita sudah terpental jauh ke jurang bahagia yg semu... Duka saat ini mbuat qta memahami bahwa akan ada Kebahagian Sejati yg kekal d akhirat nanti...’

Mengutip status dari fb seseorang yang sangat amat nggak tau diri, nggak tau diuntung, gak tau terima kasih… Yang gak lain adalah gw sendiri.

Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah, habis melayat ayah seorang teman yang meninggal, gw jadi berfikir hal-hal yang sangat sulit untuk dijelaskan. Yaitu, tentang kematian. Entah kenapa, belakangan ini banyak mendengar kabar duka yang mengejutkan. Dari istri artis sampai ayahnya temen. Mendengar kisah-kisah duka mereka, gw jadi inget kejadian waktu gw umur 13 tahun. Ditinggal papa.

Gw suka mikir tentang perasaan mereka yang ditinggalkan, gw juga jadi mikir, gimana perasaan orang yang akan meninggaL, apakah mereka menyadari suatu tanda-tanda, atau ajal datang tiba-tiba tanpa tanda.

Atau ketika kita kebingungan karena mengapa dulu orang itu ada di sisi kita, namun kini sudah tidak bisa ada di sisi kita lagi. Kenapa hal itu bisa terjadi? Hilang begitu saja. Dan kenapa gw baru mengkhayati dan mempertanyakan itu semua sekarang2 ini?

Waktu praktikum Dasar-dasar Komunikasi beberapa semester yang lalu, sempat ada pertanyaan, “Pernahkah kamu berpikiran untuk bunuh diri?’ dan itu harus kita jawab dengan jujur. Dan gw jawab ‘pernah’.

Dulu, gw masih berpikiran bahwa ‘suicide mungkin menjadi salah satu cara untuk menghindari dan meninggalkan masaalah dunia.’ Dan setelah KKP, gw tau kenapa dulu gw pernah terlintas berfikir tentang suicide.

Saat KKP, gw mempelajari bahwa hidup kita terlalu berharga untuk disia-siakan, hidup kita terlalu berharga jika dijadikan seribu alasan untuk menyerah. Di tempat KKP, gw diperlihatkan sesuatu, bahwa hidup kita itu benar-benar berharga.

Saat pulang KKP, banyak perubahan yang gw rasakan. Terutama pikiran tentang suicide itu. Udah nggak sama sekali terfikirkan untuk melakukan hal aneh-aneh. Gw Cuma pengen hidup gw bermanfaat untuk orang lain. Ada beberapa orang memberi komentar kalau keburukan gw itu adalah ‘terlalu baik’.

Bahkan pada akhirnya gw sering menawarkan diri menjadi ‘sacrifice, demi kebahagiaan orang lain. Tapi menurut gw gak ada salahnya dengan itu, karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Tp itu masih hanya sebatas penilaian orang, coba evaluasi diri kita sendiri, kita yang tau dalem2nya, buruk2nya, baik2nya kita. Setiap hari evaluasi tentang apa yang telah kita lakukan hari ini. Untuk bekal kita nanti… J

Dan untuk teman-temanku, saudara-saudaraku, dann akuu sendiri…

La Tahzan, yah… ^^

Rencana Allah selalu indah…

Kamis, 19 Mei 2011

Mengenali Diri

Detik-detik liburan singkat minggu ini akan berakhir dalam hitungan jam. Tapi entah kenapa, hari libur minggu ini aneh binti ajaib. Bukan kayak hari libur. Tapi hari pembuktian. Pembuktian bahwa saat ini gw lebih mengenal diri sendiri, terutama kelemahan. Bukannya mau membicarakan aib sendiri dan orang lain, tapi inilah memang fakta yang harus gw yakini keberadaannya. Gw juga gak mau bilang dengan mudahnya bahwa kayaknya gw mengidap schizophrenia. Coz semua orang pasti gak sama dalam menghadapi situasi yang bervariasi. Ada kalanya seseorang yang sangat sanguinis, suka bersosialisasi, tiba-tiba menjadi pendiam ketika dihadapkan dalam kondisi-kondisi tertentu di lingkungan dan di tengah-tengah kelompok tertentu. Dan nyaris semua orang menyangka dirinya mempunyai kepribadian ganda. Padahal, gak selalu begitu.

Gitu juga dengan gw, dari hasil tes kepribadian. Emang agak berubah-ubah sih hasilnya, mungkin membuktikan bahwa gw agak-agak labil, khabi kushi khabi gam lahh pokoknya, kadang suka kadang duka. Tapi intinya, gw sering dapet point gede pada dua kategori, yaitu melankolis dan sanguinis, yang kadarnya emang bisa berubah-ubah, bahkan setara. Dan menurut buku tentang kepribadian, seseorang yang melankolis sanguinis, ataupun sebaliknya, adalah tipe sahabat yang baik. J hhe... jadi ge errr...’ Nah, klo koleris sanguinis atau sebaliknya itu tipe pemimpin yang baik. Dan klo Melankolis phlegmatis, dan sebaliknya, itu orang yang ’jenius’. Tp, semuanya kembali lagi pada orangnya masing-masing, itu kan hanya rata-rata, yang kadang menghiraukan data-data pencilan...

Kenapa gw jadi membahas tentang masalah kepribadian? Karena gw jadi semakin mengerti tentang arti lingkungan, dan pengaruh yang tertanam sejak kecil. Contohnya, Sebut aja, ada dua kelompok besar, kelompok A dan kelompok B. Entah kenapa, di kelompok A gw bisa leluasa ngobrol, bergaul dengan santai, asyik, seruuu, rameee, enak lahhh pokoknya, klo udah kumpul sama kelompok A, gw menjadi orang yang super sanguinis, dan gw sangat senang berada di sana. Tapi, saat gw berkumpul dengan komunitas B, sifat gw bisa berubah seratus delapan puluh derajat. Gw menjadi AMAT SANGAT PENDIAM, bahkan bisa gak berbicara sama sekali. Dan sebenernya gw gak nyaman dengan suasana itu. Entah kenapa. (hmm... sebenarnya tau c kenapa).

Bukannya ingin menyalahkan seseorang atau suatu kelompok tertentu, tapi, satu pesan dari gw yang seorang melankolis-sanguinis-yang-diduga-schizoprenia-ini, jika anda punya anak. Jangan pernah menyebutkan hal-hal yang jelek-jelek tentang diri anak anda ke saudara atau orang lain *perlu diingat, semua anak pasti punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing, dan JANGAN PAMERKAN KELEMAHAN anak anda. Kasian anak anda, orang-orang yang anda curhatin itu akan beranggapan anak anda buruk selamanya, bahkan ketika anda sudah sadar pun, orang lain akan tetap mengingat ucapan anda yang mengeksposs keburukan anak anda. (jika anda ingin mempunyai anak yang sempurna, janganlah melahirkan!) *coz no body’s perfect!

OK... tadinya, paragraf ini berisi tentang hal-hal yang mungkin ambigu. Daripada ambigu, lebih baik gw menceritakan hal-hal yang indah dalam hidup gw. Salah satu hal yang indah dalam hidup gw adalah, mempunyai saudara dan sahabat seperti kalian. Alhamdulillahirabil’alamin, di sekolah, gw g pernah gak punya temen. Waktu TK, SD, SMP, SMA, bahkan hingga kini, Alhamdulillah, meskipun gw bukan termasuk orang2 atau genk yang ’populer’ di sekolah or kampus, tapi gw punya banyak teman dan sahabat sejati, gw suka bergaul dan bercanda, bersahabat tanpa syarat, dan saling support menyupport. Di SD, bahkan persahabatan qta kentel bgt, apalagi SMP, hhe... qta bersahabat 10 orang sampe buat genk, dan sering main2 bareng, ke rumah si ini lah, nginep di rumah si itu lah... ke mall lah... pokoknya, SMP itu masa paling hedon, yaa masa, besoknya UAN qta malah rame2 ke mall. Dan saat SMA, gw agak insyafan dikit... pergaulan gw lebih ke arah pergaulan islami, dengan orang2 yang taat beragama, dan klo qta kumpul pun lebih sering bermanfaat (intinya g terlalu hedon lah). Dan, pas kuliah... hhe... belum bisa berkomentar, tapi gw sangat senang berada di sini, di suatu fakultas dan departemen yang anak2nya sangat kompak, gw juga menemukan sahabat-sahabat sejati di sini. Namanya Grup Gyaboo... J hihi... *lain kali akan gw ceritakan tentang ini.

Bukan hanya sahabat sekolah atau kampus. Gw juga punya banyaaak saudara-saudara yang baik, ketika berkumpul dengan mereka, gw merasa nyaman dan bisa menjadi diri sendiri. Entahlah karena apa, meskipun jauh, qta sangat kompak, gw seneng banget klo kumpul2 bareng mereka. Meskipun intensitasnya sedikit, tapi mereka selalu membuat gw bisa menjadi diri gw sendiri. Menjadi orang yang sanguinis. Gw tau, apa penyebabnya... Papa secara bijaksana berbicara tentang kebaikan pada saudara dan kerabatnya tentang anak2nya, papa selalu memotivasi anak-anaknya dengan sebuah acungan jempol dan pujian penyemangat, meski gw tau, gw belum bisa membuktikan dan membanggakan beliau. Tapi mungkin menurutnya, kehadiran kami adalah kebanggaan baginya.

Tampak sekali...

Bahwa perkataan orangtua tentang anaknya berpengaruh pada anggapan orang. Gw seneng, saat berkumpul dengan sahabat dan saudara-saudara di mana gw bisa merasakan diri ini hadir seratus persen. Gak kayak hantu yang ada doang, tanpa dipedulikan.

Papa...

Saat berkumpul bersama keluarga besar, saat tertawa bercanda lepas bersama mereka, aku jadi ingin berterima kasih pada papa. Karena telah memperkenalkanku pada perkumpulan orang-orang di mana aku nyaman berada dengan mereka.

Intinya,

I love my friends, I love my families, I Love My Life...

Thanks God… J

Sabtu, 07 Mei 2011

BELAJAR

Hari ini, sebenarnya aku gak mau menyalahkan siapa-siapa, atas segala hal yang seharusnya terjadi, tapi tak terjadi, begitu juga sebaliknya. Maaf, diary elektronikku yang selalu setia menampung tulisanku, tak peduli seberapa indah tuannya merangkai kata. Meski kadang aku tak tahu harus menulis dengan cara seperti apa. Meski kadang tulisanku sangatlah tak enak dibaca, karena mungkin terlalu sarkatis, terlalu munafik, terlalu tak beraturan. Namun aku puas bisa menulis sebebas-bebasnya, seluas-luasnya, tanpa jeda penghalang yang membuatku berhenti berpikir sejenak, untuk menyambung kata yang harus sempurna.

Tidak, hal itu tidak kulakukan untuk menulis di tubuhmu... mungkin, aku terlalu takut menulis saat ini, karena terbelenggu aturan yang membuatku berfikir, kata apa yang tepat untuk melanjutkan kalimatku yang terputus. Aku tak mau menyebut aturan itu secara gamblang, hanya saja, tuntutan itu membuatku harus berhenti, atau setidaknya untuk sementara waktu mengurangi intensias menulis karangan bebas, sebebas-bebasnya.

Sekali lagi, aku tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Bukan hanya aku, tapi kita semua mempunyai jiwa seorang ilmuan yang harus terbiasa dengan pola sekuensial maupun random. Harus terstruktur dan sesuai dengan aturan. Aturan sempurna yang dapat membuat seorang manusia layak diberi kehormatan sebagai seorang scientist yang berpikir dengan fakta empiris, dan penyajian tulisan yang sangat amat tertata. Tak ada toleransi kecacatan ataupun melenceng dari standar aturan baku.

Aku baru saja memikirkan tentang suatu mata kuliah yang menurutku sangat menarik, karena, ajarannya bukan hanya berbeda, tapi sangat bertolak belakang dengan apa yang selama ini kuyakini, kupelajari. Aku bukan ingin mengeluh dan menyalahkan siapapun. Aturan itu benar adanya. Hanya saja, tak jarang aku kesulitan untuk menerapkan aturan itu ketika menulis. Sering kutulis sebuah kalimat, lalu kuhapus kembali, menulis lagi, hapus lagi, begitu seterusnya hingga menghasilkan satu paragraf sesuai aturan, setelah perjuangan yang cukup memeras pikiran.

Intinya, saat ini, aku harus berhenti menulis dengan caraku sendiri (untuk sementara waktu). Karena ada panduan yang harus kutaati. Ada janji yang harus kupenuhi. Ada kontrak yang harus kusepakati.

Pembuatan Proposal, skripsi, adalah dunia baru yang akan kugeluti, dan sangat bertolak belakang dengan kegiatan menulis kreatif yang sering kulakukan. Ketika menulis kreatif, otak kananmu yang harus bekerja, dengan sama sekali mengabaikan otak kiri, karena otak kiri bekerja di akhir kegiatan. Sedangkan pada pembuatan Proposal, penggunaan otak kiri lebih diutamakan, dan otak kanan mendampingi dengan kadar kehati-hatian yang sangat tinggi.

Tak ada yang baik dan yang buruk di antara keduanya. Dua-duanya baik ketika ditempatkan pada situasi yang tepat. Apapun jika pada tempat yang tepat, akan berlangsung dengan baik. Tak ada yang salah dengan kedua itu. Aku hanya ingin meyakinkan diri, bahwa aku mau belajar, aku mau menaati segala aturan dan pedoman penulisan itu. Meski sulit, aku mau belajar.


Kamis, 10 Februari 2011

Materi Program Pendidikan Karakter "We Are Great!"


Dalam bukunya tentang Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences), Daniel Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan diperlukan 80%, sementara kecerdasan intelektual hanyalah 20% saja. Dalam hal inilah maka pendidikan karakter diperlukan untuk membangun kehidupan yang lebih beradab. Maka terpikirlah oleh para pendidik tentang apa yang dikenal dengan pendidikan karakter (character education).

Sembilan pilar yang saling kait-mengait :
  1. responsibility (tanggung jawab);
  2. respect (rasa hormat);
  3. fairness (keadilan);
  4. courage (keberanian);
  5. honesty (kejujuran);
  6. citizenship (kewarganegaraan);
  7. self-discipline (disiplin diri);
  8. caring (peduli), dan
  9. perseverance (ketekunan).

Nilai-nilai dasar kemanusian yang harus dikembangkan melalui pendidikan bervariasi antara lima sampai sepuluh aspek. Di samping itu, pendidikan karakter memang harus mulai dibangun di rumah (home), dan dikembangkan di lembaga pendidikan sekolah (school), bahkan diterapkan secara nyata di dalam masyarakat (community) dan bahkan termasuk di dalamnya adalah dunia usaha dan dunia industri (bussiness).

Berkenaan dengan pengertian karakter, dalam tulisan di laman Mandikdasmen, Direktur tur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Suyanto, PhD menjelaskan sebagai berikut. Karakter adalah “cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara”.

Lebih lanjut, Prof. Suyanto, PhD juga menyebutkan sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal manusia, yang kelihatan sedikit berbeda dengan sembilan pilar yang telah disebutkan di atas. Sembilan pilar karakter itu adalah:

  1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya;
  2. Kemandirian dan tanggungjawab;
  3. Kejujuran/amanah,
  4. Hormat dan santun;
  5. Dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama;
  6. Percaya diri dan pekerja keras;
  7. Kepemimpinan dan keadilan;
  8. Baik dan rendah hati, dan;
  9. Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Jumlah dan jenis pilar yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain, tergantung kepentingan dan kondisinya masing-masing. Sebagai contoh, pilar toleransi, kedamaian, dan kesatuan menjadi sangat penting untuk lebih ditonjolkan karena kemajemukan bangsa dan negara. Tawuran antarwarga, tawuran antaretnis, dan bahkan tawuran antarmahsiswa, masih menjadi fenomena yang terjadi dalam kehidupan kita. Perbedaan jumlah dan jenis pilar karakter tersebut juga dapat terjadi karena pandangan dan pemahaman yang berbeda terhadap pilar-pilar tersebut. Sebagai contoh, pilar cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya tidak ditonjolkan, karena ada pandangan dan pemahaman bahwa pilar tersebut telah tercermin ke dalam pilar-pilar yang lainnya.

Itulah sebabnya, ada sekolah yang memilih enam pilar yang akan menjadi penekanan dalam pelaksanaan pendidikannya, misalnya digambarkan sebagai berikut:

Dalam bukunya tentang Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences), Daniel Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosional dan sosial dalam kehidupan diperlukan 80%, sementara kecerdasan intelektual hanyalah 20% saja. Dalam hal inilah maka pendidikan karakter diperlukan untuk membangun kehidupan yang lebih beradab. Maka terpikirlah oleh para pendidik tentang apa yang dikenal dengan pendidikan karakter (character education).

Sembilan pilar yang saling kait-mengait, yaitu:

  1. responsibility (tanggung jawab);
  2. respect (rasa hormat);
  3. fairness (keadilan);
  4. courage (keberanian);
  5. honesty (kejujuran);
  6. citizenship (kewarganegaraan);
  7. self-discipline (disiplin diri);
  8. caring (peduli), dan
  9. perseverance (ketekunan).

Nilai-nilai dasar kemanusian yang harus dikembangkan melalui pendidikan bervariasi antara lima sampai sepuluh aspek. Di samping itu, pendidikan karakter memang harus mulai dibangun di rumah (home), dan dikembangkan di lembaga pendidikan sekolah (school), bahkan diterapkan secara nyata di dalam masyarakat (community) dan bahkan termasuk di dalamnya adalah dunia usaha dan dunia industri (bussiness).

Berkenaan dengan pengertian karakter, dalam tulisan di laman Mandikdasmen, Direktur tur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Suyanto, PhD menjelaskan sebagai berikut. Karakter adalah “cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara”.

Lebih lanjut, Prof. Suyanto, PhD juga menyebutkan sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal manusia, yang kelihatan sedikit berbeda dengan sembilan pilar yang telah disebutkan di atas. Sembilan pilar karakter itu adalah:

  1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya;
  2. Kemandirian dan tanggungjawab;
  3. Kejujuran/amanah,
  4. Hormat dan santun;
  5. Dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama;
  6. Percaya diri dan pekerja keras;
  7. Kepemimpinan dan keadilan;
  8. Baik dan rendah hati, dan;
  9. Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Jumlah dan jenis pilar yang dipilih tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang lain, tergantung kepentingan dan kondisinya masing-masing. Sebagai contoh, pilar toleransi, kedamaian, dan kesatuan menjadi sangat penting untuk lebih ditonjolkan karena kemajemukan bangsa dan negara. Tawuran antarwarga, tawuran antaretnis, dan bahkan tawuran antarmahsiswa, masih menjadi fenomena yang terjadi dalam kehidupan kita. Perbedaan jumlah dan jenis pilar karakter tersebut juga dapat terjadi karena pandangan dan pemahaman yang berbeda terhadap pilar-pilar tersebut. Sebagai contoh, pilar cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya tidak ditonjolkan, karena ada pandangan dan pemahaman bahwa pilar tersebut telah tercermin ke dalam pilar-pilar yang lainnya.

Itulah sebabnya, ada sekolah yang memilih enam pilar yang akan menjadi penekanan dalam pelaksanaan pendidikannya, misalnya digambarkan seperti gambar di atas.

Dalam gambar tersebut, SD Westwood menekankan pentingnya enam pilar karakter yang akan dikembangkan, yaitu:

  1. Trustworthiness (rasa percaya diri)
  2. Respect (rasa hormat)
  3. Responsibility (rasa tanggung jawab)
  4. Caring (rasa kepedulian)
  5. Citizenship (rasa kebangsaan)
  6. Fairness (rasa keadilan)

Itulah sebabnya, definisi pendidikan karakter pun akan berbeda dengan jumlah dan jenis pilar karakter mana yang akan lebing menjadi penekanan. Sebagai contoh, disebutkan bahwa “character education involves teaching children about basic human values including honesty, kindness, generosity, courage, freedom, equality, and respect” (http://www.ascd.org). Definisi pendidikan karakter inilebih menekankan pentingnya tujuh pilar karakter sebagai berikut:

  1. honesty (ketulusan, kejujuran)
  2. kindness (rasa sayang)
  3. generosity (kedermawanan)
  4. courage (keberanian)
  5. freedom (kebebasan)
  6. equality (persamaan), dan
  7. respect (hormat)

Pengertian karakter ini banyak dikaitkan dengan pengertian budi pekerti, akhlak mulia, moral, dan bahkan dengan kecerdasan ganda (multiple intelligence). Berdasarkan pilar yang disebutkan oleh Prof. Suyanto, PhD, pengertian budi pekerti dan akhlak mulia lebih terkait dengan pilar-pilar sebagai berikut, yaitu cinta Tugan dan segenap ciptaannya, hormat dan santun, dermawan, suka tolong menolong/kerjasama, baik dan rendah hati. Itulah sebabnya, ada yang menyebutkan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti atau akhlak mulia.

Terkait dengan kecerdasan ganda, dikenal bahwa kecerdasan meliputi empat pilar kecerdasan yang saling kait mengait, yaitu: (1) kecerdasan intelektual, (2) kecerdasan spiritual, (3) kecerdasan emosional, dan (4) kecerdasan sosial. Kecerdasan intelektual sering disebut sebagai kecerdasan yang berdiri sendiri yang lebih disebut dalam pengertian cerdas pada umumnya, dengan ukuran baku internasional yang dikenal dengan IQ (intellegence quotion). Sementara kecerdasan yang lainnya belum atau tidak memiliki ukuran matematis sebagaimana kecerdasan intelektual. Kecerdasan di luar kecerdasan intelektual inilah yang lebih dekat dengan pengertian karakter pada umumnya. Dalam hal inilah maka, sebagaimana dijelaskan Prof. Suyanto, PhD, kita memahami pernyataan Dr.Martin Luther King, tokoh spiritual kulit hitam di Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa pendidikan bertujuan untuk melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat, atau intellegence plus character. ”That is the goal of true education”, demikianlah tambahnya. Itulah tujuan pendidikan yang sebenarnya, yakni menciptakan manusia yang cerdas secara komprehensip, keseluruhan aspek kecerdasan ganda tersebut.

Dengan demikian, pengertian karakter sebenarnya merupakan bagian dari kecerdasan ganda yang dijelaskan Howard Gardner dengan teorinya kecerdasan ganda, yang meliputi tujuh macam kecerdasan yang sering disingkat SLIM n BIL, yaitu:

  1. Spatial (keruangan)
  2. Language (bahasa)
  3. Intrapersonal (intrapersonal)
  4. Music (musik)
  5. Naturalist (naturalis – sayang kehidupan alam)
  6. Bodily Kinesthetics (olahraga – gerak badan)
  7. Logical Mathematics (logikal –matematis)

Ketujuh tipe kecerdasan ganda menurut Howard Gardner tersebut terkait dengan potensi universal manusia yang perlu dikembangkan melalui pendidikan. Itulah sebabnya, amatlah tepat amanat Pembukaan UUD 1945 yang menyebutkan tentang empat tujuan negara ini didirikan. Salah satu tujuan itu adalah ”mencerdaskan kehidupan bangsa”, dalam arti menemukan dan mengembangkan potensi kecerdasan semua anak bangsa. Anak bangsa yang memiliki potensi kecerdasan spatial, didiklah menjadi arsitek yang handal. Anak bangsa yang memiliki potensi kecerdasan language, didiklah menjadi ahli bahasa yang hebat. Demikian seterusnya dengan potensi kecerdasan yang lainnya, sampai dengan potensi kecerdasan logical mathematics, didiklah menjadi intelektual yang handal.

Pengembangan ketujuh potensi kecerdasan tersebut, sudah barang tentu harus dibarengi dengan pembinaan karakternya. Arsitek yang handal sudah barang tentu harus memiliki enam atau sembilan pilar karakter yang telah disebutkan. Demikian seterusnya dengan potensi kecerdasan yang lainnya.

Anak-anak bangsa Indonesia harus dikembangkan semua potensi kecerdasan gandanya. Upaya inilah yang menjadi kebijakan utama pembangunan pendidikan nasional di negeri tercinta ini. Amanat mencerdaskan kehidupan bangsa harus selalu menjiwai setiap daya upaya pembangunan pendidikan. Tidak ada pendidikan, tidak ada pembangunan sosial-ekonomi. Demikian pesan Ho Chi Mien, bapak pendidikan bangsa Vietnam kepada aparat pendidikan di negaranya. Hanya dengan pendidikan, negeri ini akan dapat kita bangun menjadi negara dan bangsa yang memiliki daya saing yang setaraf dengan negara dan bangsa lain di dunia.

Pendidikan Karakter dan Peningkatan Daya Saing Bangsa

Semua pilar karakter tersebut memang harus dikembangkan secara holistik melalui sistem pendidikan nasional di negeri ini. Namun, secara spesifik memang juga ada pilar-pilar yang perlu memperoleh penekanan. Sebagai contoh, pilar karakter kejujuran (honesty) sudah pasti haruslah lebih mendapatkan penekanan, karena negeri ini masih banyak tindak KKN dan korupsi. Demikian juga dengan pilar keadilan (fairness) juga harus lebih memperoleh penekanan, karena kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak pendukung pemilukada yang kalah ternyata tidak mau secara legowo mengakui kekalahannya. Selain itu, fenomena tawuran antarwarga, antarmahasiswa, dan antaretnis, juga sangat memerlukan pilar karakter toleransi (tolerance), rasa hormat (respect), dan persamaan (equality).

Untuk tujuan khusus, misalnya membangkitkan semangat bagi para olahragawan yang akan bertanding di tingkat internasional, maka pilar rasa percaya diri (trustworthiness) dan keberanian (courage) juga harus mendapatkan penekanan tersendiri.

Akhirnya, dengan pendidikan yang dapat meningkatkan semua potensi kecerdasan anak-anak bangsa, dan dilandasi dengan pendidikan karakternya, diharapkan anak-anak bangsa di masa depan akan memiliki daya saing yang tinggi untuk hidup damai dan sejahtera sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia yang semakin maju dan beradab.

Sumber : Suparlan. Jakarta. 2010. http://www.suparlan.com/pages/posts/pendidikan-karakter-dan-kecerdasan-288.php. (2 Januari 2011)