Tampilkan postingan dengan label Resensi Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Novel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2012

ANTOGILAAAA!!!

Di buku ini ada story konyol-ku jugaa... :D

About this book :

“Kalau aku, aku sih terserah Yanti. Dia mau bilang antologi ini gila atau aku yang gila, aku gak masalah. Yang penting Aurel nilai rapornya bagus.” (Amang Premansyah, Penyanyi yang Doyan Getuk)

“Buat temen-temen STM gue, temen-temen ngaji gue, temen-temen yang belum jadi temen gue, MAKAN NIH!” (Marsjanda, Mantan Artis Cilik dan Mantan Istri Duda)

“Untuk anak-anak Indonesia, saya sarankan untuk membaca kisah dalam antogila ini. Cerita yang dikisahkan oleh para kontibutor sangat menghibur, mencerminkan kecacatan psikologis penulisnya.” (Kak Seko Mulyedi, Pemerhati Mamanya Anak)

“Alhamdulillah banget. Sesuatu yah. Aku memilih buku ini untuk dijadikan ganjelan jambulku.” (Syahrimin, Penyanyi Berbulu Mata Anti Badai Kerispatih)

“Menurut analisa saya, buku ini tidak asli. Bila dilihat dari metadatanya, kita akan tahu bahwa buku ini sebenarnya hanya tipuan optik yang terjadi karena suatu objek terkena pancaran sinar yang ditimbulkan oleh matahari sehingga terlihat seolah-olah buku ini asli. Padahal hanya koran bekas bungkus nasi uduk Kang Bani. Tuh lihat masih ada bekas sambelnya!” (Ryo Sukro, Pakar Towelemaktika yang Belum Pernah Tamat Game Zuma)

Sabtu, 26 Maret 2011

MY ANTHOLOGY BOOK

Gemercik gerimis menyenandungkan resonansi memori yang lambat dengan arahan sang waktu, bagaikan sebuah difraksi yang menyebar dari suatu titik cahaya, suara hujan memanggil kembali kenangan yang telah kukubur dalam-dalam di dasar hati sanubari. Sebuah pintu rahasia yang telah kututup rapat. Kukunci dengan sekuat hati, lalu kemudian kulemparkan kunci itu ke dasar samudera, agar tak ada yang menemukannya, termasuk keinginanku sendiri.

Namun, kini, irama deras hujan, yang lambat laun mengarah pada gerimis syahdu tanpa cela, memanggil sekawanan impian, harapan, serta mendatangkan rasa kesepian yang mengawalinya. Untuk selanjutnya, aku hanya bisa memandang ke luar jendela, mendengarkan melodi kerinduan yang ditimbulkan dari suara hujan, yang tak bisa dijelaskan secara ilmiah. Hanya bisa dirasakan dengan hati yang sedang dilanda rindu.

Aku teringat tentang seseorang yang sempat singgah di hatiku, namun kini, tak bisa lagi kutemukan kehadirannya dalam duniaku. Awalnya, aku tak tahu, perasaan apa yang sedang kurasakan itu, kenapa perasaan itu ada? Perasaan itu begitu aneh dan tak wajar. Aku dapat merasakannya, tapi aku tak tahu perasaan itu dinamakan apa. Mungkin aku tahu, tapi, tak tega menyebutkannya, karena terlalu nista untuk disebutkan.

Perasaan itu terlalu mengerikan, sangaaat mengerikan! Lebih mengerikan daripada hal apapun. Perhatiannya, rasa pedulinya serta tawa dan canda yang ia tawarkan, mewarnai hidupku. Entah sejak kapan aku selalu mengharapkan kehadirannya, di berbagai acara, di setiap hariku. Jika dia tidak ada, aku merasa dunia ini penuh dengan kehampaan tanpa jeda.

COMING SOON : SHADOW OF DEATH

Diana Chaterin mencari ilmu hingga ke negara Lord Camblle, negeri di mana ia selalu dihantui bayang-bayang kematian. Dalam mimpinya, ia melihat dirinya dalam sebuah peti mati, didandani, dan disembah banyak orang. Ia tinggal bersama Clarissa, gadis periang yang memiliki tingkah laku unik dengan kisah cintanya yang penuh dengan teka-teki.

Hingga akhirnya, perjalanan hidup penuh cinta, canda, kebahagiaan, impian, tangisan, dan harapan, menyadarkan mereka bahwa di dunia ini ‘kita tidak pernah berjalan sendiri’, selalu ada perlindungan Tuhan yang meliputi langkah kita.

Bagaimana Diana dan Clarry mengukir persahabatan indah mereka di Negeri Lord Camblle?

Bagaimana pula hari-hari bersama yang menyenangkan direnggut dari kehidupan Clarry yang ceria?

Negeri kecil itu, walau hanya sebentar, memberikan beribu-ribu kenangan manis dan tragis untuk mereka....

Minggu, 13 Maret 2011

Behind The Process

Di posting kali ini, aku akan membahas sedikit tentang sebuah kisah yang pernah menemani hari-hariku, di sela-sela semester tiga lalu. Sebuah kisah fiksi yang lumayan menyita waktu liburan semester. Di sini aku pengen berbagi pengalaman dan menceritakan suka duka di balik proses penggarapan kisah tersebut. Berhubung, Alhamdulillah, cukup banyak yang merespon positif, bahkan ada beberapa orang pembaca yang memintaku membuat kelanjutan ceritanya, so, aku tertarik untuk menceritakan misteri yang ada di balik itu semua, baik itu proses pembuatannya, ataupun tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya. Hehe… abiss, banyak yang tanya, ‘itu kisah nyata, ya?’ kalau ditanya seperti itu, aku langsung refleks jawab ‘menurut loe?’

Dan inilah proses di balik pembuatan novel ‘HearT ReflectionS’.

Diawali dari masa awal liburan semester tiga sekitar satu setengah bulan. Meski gak terlalu ambil jatah waktu banyak, tapi diusahakan aku konsisten dan secara teratur menulis setiap harinya, selama liburan itu. Itu juga untuk menjaga mood. Berhubung dulu itu aku lagi sedeng2nya facebook addict, jadi itulah kendala utama yang kadang bikin target-target gak tercapai. Atau pas lagi waktunya nulis, mata udah cape duluan karena abis dipake facebookan. Yah, tapi, itulah proses, pasti ada hambatan dan godaan.

Acara tulis menulis ter’cutt’ sementara, karena harus menjalani Masa Pengenalan Fakultas dan Departemen, yang pastinya membutuhkan perhatian, waktu, dan tenaga yang super. Jadi, paling kalaupun sempet melanjutkan, di malam hari. Tapi, kadang malam hari juga dipake kerjain tugas2. Jadi, hehe... gak keburu. (Padahal targetnya selesai liburan naskah jadi).

Dan, akhirnya, saat masuk semester tiga, dan selama berjalannya semester tiga, aku sama sekali gak melanjutkan proses pembuatan naskah, karena lebih fokus ke kuliah, lebih lagi, kampusku jauh dan sering keluar kelas sore, jadi pas sampe rumah udah gelap dan tepar duluan, kalau ada waktu pun, pasti diluangkan untuk tugas-tugas wajib negara.

Baru, pas akhir semester. UAS terakhir, menjelang libur panjang, aku bertekad melanjutkannya lagi. Kali ini, alhamdulillah targetku berhasil. Minggu pertama libur semester 3 akhir, rampung juga itu naskah. Tapi, masih ada tahap pengeditan dari awal sampai akhir. Untuk koreksi tanda baca dan kepaduan antar kalimat, (udah kaya Metode Penelitian dan Penyajian Ilmiah aje) J

Proses penggarapan novel itu agak-agak percis kayak proses kehamilan....

Proses Pembuatan Naskah = Merawat kandungan (gak tega bilang 'proses pembuatan kandungan')

Naskah / Hasil Karya = Janin,

Terbit = Melahirkan.

Kadang malah waktu itu, aku sempet bilang, ‘Tenang Ya Nak, ibu akan melahirkanmu ke dunia...” (ke naskah novel yang baru aja diprint) hoho... ‘agak2 kayak anak autis psikopat!’

Yah, jadi intinya, kalau mau buat naskah novel fiksi, harus niat dan sabar. Aku pernah, dulu waktu SMP, gak niat dan gak sabar. Ehh... jadinya beneran Gak jadi! (dan semua hal memang harus diawali dengan niat dan didampingi oleh kesabaran)

Kembali lagi ke novel ‘Heart Reflections’ setelah baca ulang, aku agak-agak serem jg sih sama diri sendiri. Aku kira, novel ‘Shadow of Death’ (novel pertamaku) adalah novel pertama dan terakhir yang aku buat. Karena pernah sempat bertekad untuk berhenti menulis, karena sesuatu hal yang tak bisa dijelaskan oleh nalar... “hhe... tp, pokoknya alhamdulillah lah, semua ini juga atas pertolongan Allah. J There’s can be Miracle… When u Believe!

Kalau kita bahas ‘kisahnya’, sebenernya agak-agak terinspirasi dari kehidupan nyata juga sih. Inspirasi itu kan banyak, jadi, jujur, aku terinspirasi dengan kehidupanku sendiri dan orang lain tentunya. Of course, itu yang harus diakui para penulis atas tulisannya. Yah, kalau enggak ada sama sekali diambil dari kehidupan nyata, dijamin, emosi ceritanya jadi kurang dapet. Perhatikan Laskar Pelangi Andrea Hirata, Lima Menara Fuad. Contoh novel2 dahsyat yang terilhami dari kisah nyata.

Hanya aja, mungkin, memang ada kolaborasi antara fakta dan khayalan. Terinspirasi kisah nyata bukan artinya harus benar-benar percis dengan kejadian nyata yang telah berlangsung.

Di dalam novel Heart Reflections, bagi yang udah baca, pasti gak asing lagi dengan nama ’Dirghantara Esa Putra’ dan ’Danisha Farizy’. Dua karakter yang sangat berlainan. Untuk menuliskan dalam dua sudut pandang kita butuh ’bisa membedakan watak keras dan tegas, pria dan wanita, konsisten dan labil. Sebelum membuat novel ini, aku coba baca buku-buku psikologi kepribadian yang membedakan antara otak pria dan wanita. Hehe.. Gak mau dong, pas sudut pandang yang seharusnya pria banget, kita buatnya malah jadi feminim. Hehe... nanti berasa kemayu dong jadinya... ^^

Novel ini menggunakan lebih dari dua sudut pandang. Nano-nano, campur-campur. Bergilir. Dan jujur, aku lebih nyaman menulis saat sedang sudut pandang ’Danisha’. (karena mungkin, kadang, suara hati Danisha, yang suka protes, kadang, itu adalah pelampiasan pikiran2ku sendiri dan juga memang karena dia itu perempuan, jadi pas nulis, ya lepas aja, sentimental, sarkatisnya luas. Jadi berasa bebas).

Aku baru pertama kali nulis novel dengan sudut pandang pria. Dan itu yang aku takutin banget, takut gak berasa ’pria’. Hhe... Tapi, akhirnya, ’kata orang’, bahkan nyaris semua orang yang telah membaca novel ini berkata bahwa, mereka menyukai tokoh ’Dirgha’. Dan, bahkan beberapa orang dari mereka menginginkan judul novelnya itu ’Dirgha’ bukan ’Heart Reflections’. Hhehe... *bjimane ceritanye?!

Judul Heart Reflections, terinspirasi dari kata ’Hati’ yang artinya ambigu. Bisa konkrit bisa abstrak. Aku ingin pembaca terlibat dalam cerita, mengira-ngira apa yang terjadi, gak jarang aku menyisipkan keambiguan di dalam kisah itu. Tapi justru itu, aku ingin pembaca gak hanya membaca, tapi juga membayangkan, merasakan, dan berfikir. Ikut aktif menduga.

Heart = Jantung, Heart = Hati

Reflections = Pencerminan.

Yang udah baca, pasti tau semua makna yang tersembunyi dalam judul itu.

Mengenai hal Respon pembaca, beraneka ragam. Ada yang datang-datang langsung ngatain aq tega, ada juga yang langsung nyekek, seolah aku ini Momo (nama tokoh antagonis di novel itu). Ada yang berbinar-binar, dan sebaliknya, ada juga yang nelepon, lewat HP (beda operator) dan menangis. (*nangis beneran) 0,0v hehe, piss ahh! Dan aku hanya berusaha menghibur, apalagi saat ditanya oleh beliau, apakah itu kisah nyata? Aku refleks jawab, ‘enggak lah, bukan banget kok, gak ada satu pun hal nyata di novel itu’. Dan memang iya, jikapun ada, itu hanya ‘terinspirasi’. Terinspirasi bukan artinya harus ‘percis sama’.

So, semua itu kolaborasi banyak hal. J

Pembentukan tokoh, setting tempat, waktu, kejadian, semuaaa kolaborasi.

Orang yang mengenalku dan membaca novel itu, rata-rata mengaku terbayang-bayang wajahku saat membaca setiap babnya. Tapi ada juga yang tak menyangka, aku, seorang anak manusia yang sering kesulitan berkonsentrasi, sering tak serius dan sering ketawa-ketawa melebihi batas kewajaran, dan sangat tidak romantis, bisa menuliskan kata-kata itu. Mereka berkata bahwa aku mampu ‘menghidupkan’ jiwa tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Dan, pernyataan itu kurasa salah besar, justru akulah yang merasa, Allah ‘menghidupkan’ jiwaku lewat tokoh-tokoh itu.

Aku belajar banyak dari tokoh-tokoh fiksi itu. Kadang, aku merasa tidak bisa seperti mereka, atau jika aku mulai mengeluh, mulai ingin menyerah pada keadaan, mulai ingin menyalahkan, jika kuingat kisah itu, aku merasa tak pantas mengeluh, tak pantas menyalahkan, tak pantas menyerah. Karena, jika kulakukan semua proses menuju kekalahan itu. Berarti aku adalah orang yang munafik.

Aku memang tak sebaik tokoh yang kuciptakan, terkadang, sandiwara selalu memperlihatkan sisi baik dan jahat dunia saja. Padahal, rata-rata manusia mengalami pasang-surut iman. Tak selamanya manusia baik, tak selamanya manusia jahat.

Jangan lihat siapa yang menyampaikan pesannya, tapi lihatlah apa isi pesannya. Meskipun aku bukan orang yang sempurna baik, bahkan kadang aku melalaikan banyak hal. Namun, aku akan selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik. ^^

Dan terakhir, Ending...

Ambigu!

Itu yang membuat banyak temen yang udah baca minta aku melanjutkan ceritanya. Jujur, aku ini jahat lho... hhe... coz gak terlalu suka sama ending yang bahagia, kalaupun harus bahagia, aku akan buat ending itu ambigu.

Dari semua permintaan lanjutan sekuel. Dalam hal ini, aku gak ‘keep my mind wide open’. Untuk saat ini, aku pengen pembacalah yang mempersepsikan sendiri jalan ceritanya setelah itu, sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Setiap orang pasti mempunyai harapan masing-masing, yang tak jarang berbeda satu sama lainnya… So, dalam hal ini, aku gak mempunyai rencana untuk membuat sekuel ke-2. Aku ingin kisah ini menjadi kisah interaktif yang inspiratif...

Karena aku sangat berharap, kisah ini dapat menginspirasi para pembaca, termasuk penulis sendiri… J

Sabtu, 07 Agustus 2010

Heart Reflections


Rembulan malam menyelusup malu memberikan kehangatan cinta yang tak tertandingkan, karena sang bulan memberikan separuh sinarnya untuk menerangi bumi dikala sang matahari tak lagi bersamanya. Walaupun mereka tak pernah setia untuk terus menemani sepanjang hari, tugas mereka bergilir untuk membagi sinarnya, redupnya hati di malam yang dingin ini tak lagi terasa ketika kunyalakan cahaya lilin tepat saat kegelapan menyerang.

Lilin penantian tanpa akhir, berkelip nyaris padam namun ia tetap mempertahankan nyalanya untuk mencoba menjadi seperti rembulan di luar sana, yang memberikan cahaya indah tanpa syarat. Melingkar bulat penuh tergambar harapan yang tinggi dari cerita seorang nenek-nenek menjahit ditemani kucingnya yang malang, terkurung bersama kesepian di bulan, itu bukanlah kisah nyata yang perlu ditafsirkan oleh teori apapun, itu hanyalah gambaran kebersamaan yang terukir lewat kasih sayang tanpa syarat. Di mana kisah persahabatan nenek dan kucingnya bisa terlihat jelas saat kita memandang bulan purnama penuh yang benderang.


Wajah cerah penuh senyum itu masih teringat, rasa syukur dan haru yang mendalam ketika seorang anak laki-laki delapan tahun merenung sendiri di taman sambil menggenggam medali, menggambarkan prestasi yang sempurna, tak ada yang ia tahu kecuali perasaan cinta pada ayahnya yang selalu ada di dalam hatinya. Kemudian ia menemukan piano usang dan memainkanya, irama musik klasik yang sering ayahnya ajarkan dulu ia praktikan tepat di tengah suasana malam penuh kedamaian itu.


Entah mengapa, malam bulan purnama itu begitu sunyi. Bagi anak seusianya, tidak layak bermain sendiri. Harmoni keteraturan lagu yang menyiratkan kerapuhan, seorang anak yang berprestasi namun terabaikan... Tanpa perasaan apapun ia terus memainkan pianonya, gelap yang semakin pekat tak membuatnya takut bermain di tengah sunyi. Hanya ditemani cahaya lilin dan sebatang korek api yang habis terpakai, ia tak tahu, cahaya mana lagi yang akan menemaninya bermain piano saat lilin itu habis, akankah rembulan itu akan terus memantulkan cahaya, menemaninya, atau akan menghilang seiring dengan habisnya lilin itu? Seorang pria berjas hitam datang mendekati anak kecil mungil itu. Pria tegap, gagah dan berwibawa tersenyum manis memandangi anak tersebut.

Anak itu mulai bernyanyi...

I love you, Daddy, you are my hero, I love you Daddy oh Daddy, you are my super star….

Bintang jauh beratus-ratus kilometer dari bumi terlihat benderang, taburannya membentuk rasi bintang yang sangat indah berkilauan. Anak pemain piano itu terus bernyanyi, memainkan musiknya dengan penuh penghayatan, tanpa air mata, tanpa tangisan manja, kenangan-kenangan pun berseliweran di antara mereka. Namun tiba-tiba nyala lilin tersebut padam, gelap! Sangat Gelap! Terasa menyesakan, tak ada sinar sedikit pun, walaupun bulan di atas sana masih tampak sinarnya, bintang-bintang menghilang satu persatu… Anak kecil itu kecewa dan hanya bisa mendengar suaranya sendiri dalam kegelapan malam yang suaranya tak terdengar oleh siapapun…

I love you, Daddy…

Anak itu tertidur di tengah mimpinya yang terputus. Yang mungkin hanya menjadi harapan untuk selamanya…

sumber gambar : rania83.blogspot.com

Jumat, 06 Agustus 2010

The Shadow of Death


Persahabatan tak akan pernah mati, sampai kapan pun, hingga bintang berhenti bersinar. Tetaplah menjadi bintang yang kulihat, sahabatku, tetaplah kau di sana, menerangi malam-malamku yang gelap, teruskan hidupmu yang belum berakhir, hingga pagi datang kau tak akan melihatku seperti sekarang, tapi kau masih bisa melihatku, lihatlah bintang di langit, percayalah saat kau melihat bintang di langit, aku pun sedang melihat bintang itu. Yakinlah, kita melihat cahaya bintang yang sama.

Hari-hari yang kujalani, bagaikan kau melihat burung-burung terbang dalam mimpimu. Pernahkah kautulis dalam buku harian hati, tentang masa yang paling indah, dan berharap masa itu bisa terulang lagi, hari-hari bagaikan bayangan dalam mimpi, kenanganku bersama masa yang terindah, bagaikan mimpi tersempurna yang tak ingin kutinggalkan, di sana ada suatu harapan, bahwa jika itu semua hanyalah mimpi, aku tak mau bangun lagi dan meninggalkannya, tapi jika aku mengingat hari kelam, senandung duka dan kekecewaan, semua itu seperti mimpi terburuk, dan kuharap segera bangun dari tidurku, kembali mandi, membersihkan kamar, dan menggosok gigi, mengukir pagi dan melupakan puing-puing mimpi itu.

Namun, hanya bayang-bayang dari masa lalu yang berbisik, mengajaku bercanda tanpa suara, mengingatkanku pada tawa kecil yang lucu pada masa itu, pada masa yang sebenarnya takkan pernah kudengar lagi kabarnya…

sumber gambar : mynicespace.com

Jumat, 15 Mei 2009

Reflections

Ketika kita bercermin, apa yang kita rasakan saat bagian dari diri kita dalam cermin tersebut tak sesempurna yang kita fikirkan, ia hanyalah bagian dari diri kita yang terlupakan. Cermin yang paling jujur ialah cermin hati. Yang tak dapat berbohong dan tak dapat menghindari suatu kenyataan. Ketika bercermin, pertanyaan tentang ‘siapa kita sebenarnya’ muncul dan terjawab sendiri dengan apa yang kita hasilkan selama ini. Dan hal ini terjadi pada si kembar kontroversial Danisha dan Dirghantara, yang satu sama lain tidak pernah menyadari pencerminan diri mereka masing-masing. Mereka tidak pernah merasa sama dalam hal apapun. Mereka terlahir dan disambut oleh senyuman para manusia mulia yang mereka sebut ayah dan bunda. Namun, saat si kembar berusia 7 tahun, mereka terpisah karena sesuatu hal yang sangat tidak disukai Allah, yaitu perceraian. Perceraian ayah dan bunda memang tidak begitu mereka pahami saat waktu kecil, yang mereka sadari ialah hanya ‘mengapa hari ini tidak seperti hari biasanya, seperti ada yang hilang, tapi apa yang hilang itu’ mereka hanya menyadari ada yang hilang dari diri mereka, tanpa mengetahui apa, siapa dan bagaimana…Danisha dan Dirgha baru menyadari perasaan yang sesungguhnya saat di bangku SMA. Sudah hampir 10 tahun mereka hanya bertemu jika ada hari-hari spesial, seperti hari raya dan libur semester. Danisha berkembang menjadi anak yang mungkin ‘kurang baik’ untuk pergaulan seusianya. Danish bergaul dengan orang-orang yang dalam hidupnya tidak mempunyai impian yang harus dicapai, tujuan hidup pun terbang entah kemana. Jika melihat penampilnnya berangkat ke sekolah, ia memakai jilbab rapi, walau tak sesuai aturan sekolahnya yang harus sesuai syar’i. Namun setelah di luar jam sekolah, ia membuka jilbabnya tanpa ragu. Danissha dibesarkan oleh seorang ayah yang menikah lagi dengan wanita yang menurut ayahnya ‘pilihan terbaik untuk Danissha’ tapi Danish berpikir wanita itu ‘pilihan terbaik untuk ayah’ saja. Apalagi wanita itu membawa 1 anak perempuan yang hanya berbeda 2 tahun dengannya. Hal itu yang menyebabkan Danish berkembang menjadi gadis yang amat pemarah, egois dan acuh terhadap hidupnya sendiri. Berbeda dengan Dirgha yang hidupnya lebih terarah. Hidup dengan seorang ibu yang dengan tegar tetap hidup sendiri tanpa suami, sedangkan ia harus berpisah dengan anak perempuan satu-satunya, sampai dilarang bertemu dengannya walau hanya sebentar. Tapi baginya kehadiran Dirgha sudah membuatnya terobati, karena Dirgha adalah anak yang baik dan penurut, dari kecil ia selalu menurut. Selalu mengalah jika berkelahi dengan saudara kembarnya, selalu taat azaz dan konsisten dalam meraih impiannya. Terbukti ia selalu juara umum di sekolahnya. Belum lagi ia menjuarai lomba-lomba tilawah Al-Quran dan sejumlah Olimpiade di SMA-nya yang memang bernuansa keislaman. Semua siswi wajib memakai jilbab di SMA tersebut. Ia sangat ingin membasmi kemunafikan di sekolahnya. Maksudnya, jika sudah di luar area sekolah, banyak siswi yang melepaskan jilbabnya dengan tragis. Dan itu yang ia perhatikan dari saudara kembarnya, Danish.Perbedaan yang sangat mencolok antara mereka berdua membuat mereka populer di seluruh pelosok sekolah, hingga Adik-adik kelas pun mengetahuinya. Kembar kontroversial yang sanggup membuat para guru menggelengkan kepala. Dirgha yang sering menyumbangkan piala atas loyalitasnya pada keorganisasian, OSIS, Olimpiade matematika, dan lomba Tilawah Al-Quran. Beserta banyak prestasi lainnya yang membuat guru-guru mengangkat jempol mereka ke atas. Berbeda dengan Danissha yang sehari-harinya menurut Dirga mengamalkan semboyan ‘Hidup segan, mati tak mau’ Danish sering dikeluarkan saat jam pelajaran karena selalu mendengarkan musik saat guru menerangkan, sering masuk ruang BK karena ketahuan melepas jilbabnya saat istirahat, sering terlambat dan berdiri di depan tiang bendera saat terlambat upacara, dan pernah menabrak anak orang dari SMA lain hingga SMA yang bersangkutan melapor, meminta ganti rugi atas siswanya yang akan menghadapi ulangan semester mengalami kecelakaan akibat ulah Danish yang mengendarai motornya secara tidak taat azas. Seringkeluar masuk ruang BK membuat Danish kebal dan tidak takut lagi menghadapinya. Hidupnya terlalu santai untuk menjadi sebuah kehidupan. Itu yang membuat Dirgha yang tadinya sangat acuh pada adik yang lahir 2 menit setelahnya menjadi sangat gerah. Namun, Dirgha kadang merasa kesulitan saat ingin memonitori Danish karena pola pergaulan Danish sangat berbeda dengannya. Dirgha sangat menjaga rasa malunya terhadap lawan jenis, sedangkan Danish amat sangat tidak menjaga, terbukti nama teman sebangkunya ialah Shandiago Firdaus. Bukan Rani atu Rina, atau sejenisnya. Kebanyakan teman Danish ialah anggota ‘Genk Senggol’ yang sering ditahan guru karena melakukan tindak Kriminal. Mereka mempunyai basecamp sendiri, dan ruangannya sangat bau rokok. Hingga ada anak kecil yang lewat langsung pingsan karena sesak napas akibat bau rokok dari ruangan yang terletak tak jauh dari sekolahnya.Dirgha sebagai perwakilan rohis di Organiasi Kesiswaan merasa wajib membasmi hal-hal yang tidak berguna dan merugikan seperti itu. Akhirnya tekadnya untuk membawa Danish ke jalan yang lurus semakin kuat ketika ia duduk di kelas 12 SMA. Di mana siswa-siswanya akan menghadapi ujian nasional. Setelah ia melepaskan jabatan-jabatannya di organisasi, tugas baru datang untuknya, ‘yaitu memperbaiki Akhlak Danisha’ dengan cara-caranya yang mungkin akan dibenci Danish, namun ini untuk kebaikannya. Atas keprihatinan Dirgha terhadap Danish yang belum bisa mengintegralkan suatu bilangan sederhana, atas keprihatinannya kepada Danish yang belum menguasai rumus relatifitas Einstein, atas keperihatinanya kepada Danish yang belum bisa mengamalkan sendi-sendi pokok Pancasila, dan yang utama ialah, atas keprihatinanya kepada Danish yang belum bisa menanamkan akidah dan akhlak yang baik dalam mengamalkan Al-Quran dan sunnah.Mari kita lihat perjuangan Dirgha dalam menghadapi Danisha yang ideologinya sudah sangat kacau… Namun, tak ada kata terlambat untuk berubah….

Writing in Scilence

Setiap orang mempunyai impian yang mereka simpan di dalam lubuk hati mereka masing-masing, namun terkadang, impian itu hanyalah sebatas harapan, yang mereka simpan di dalam hati yang tertutup dan akan terus menjadi rahasia hati yang tak diketahui siapapun. Jika saja kita berani, jika saja kita tak pantang menyerah atas segala kegagalan terhadap jawaban dan usaha kita yang kita tumbuhkan dalam sebuah makna yang disebut impian. Seorang gadis berusia 16 bernama Raihana membayar impian untuk menjadi penulis terkenal dengan usahanya. Dari berbagai macam cita-citanya yang sangat banyak dan sangat cepat berubah-ubah, ada cita-cita yang tak pernah padam dalam dirinya, yaitu menjadi penulis best seller. Bagi gadis polos sepertinya, mungkin sulit mencapai itu semua, namun ia tetap gigih. Setiap harinya ia selalu menulis dan menyempurnakannya dengan belajar lebih banyak lagi.Di sekolah, ia termasuk orang yang cenderung kelompok minoritas, yang mungkin pendapatnya hanya dipandang sebelah mata, walaupun pandangan orang yang melihat Raihana pertama kali pasti menyebutnya ‘makhluk phlegmatic sejati’ karena tidak pernah terpengaruh oleh hal apapun, termasuk keramaian kelas, namun di balik semua itu, ia adalah orang yang sangat peka terhadap keadaan sekitarnya. Sehingga dalam menulis, ia bagai sedang mengalami hal-hal yang ia tulis tersebut meski itu fiksi. Karena baginya menulis fiksi adalah salah satu cara untuk merasakan pengalaman orang lain karena mungkin usia kita tidak akan mencukupi untuk mencoba semua pengalaman tersebut. Itulah sebabnya mengapa ia sangat senang membaca buku-buku sejarah dan perjalanan tokoh-tokoh terkenal yang membuatnya merasa ada saat masa itu.Dan mungkin, itulah mengapa sebabnya ia sering terlihat menyendiri. Hanya ada 2 teman yang dekat dengannya. Evira dan Maya. Namun Raihana selalu merasa bersyukur dengan keberadaan para sahabat setianya, karena merekalah yang selalu mendukung dan selalu ada dalam suka maupun duka. Di balik sifatnya yang pendiam tersebut, Raihana adalah gadis yang sangat pintar. Di kelasnya ia peringkat ke-2. Obsesinya ingin mengalahkan sang juara kelas yang menurutnya tidak pantas menjadi juara kelas sangat besar. Ia ingin mencoba mengalahkan Briliant Diaz. Manusia yang sepertinya tidak pernah belajar tapi selalu juara kelas. Dia selalu berkata ‘tidak pernah belajar’. Entahlah bagaimana Raihana memahami perkataan manusia tersebut yang tampaknya memang tidak bohong. Mungkin benar. Anak yang ‘kata teman-teman sekelasnya’ mirip artis bintang film Korea ini memiliki tingkat kejeniusan yang patut diwaspadai sebagai kelebihan hormon otak saat dilahirkan ke dunia alias anak indigo.Raihana ialah gadis yang selalu berusaha maksimal, tidak pantang menyerah, dan itulah seharusnya yang dimiliki anak bangsa di saat seperti ini. Di saat semua orang terduduk malas dan menyerah, ia bangkit. Di saat orang masih tertidur lelap, ia bangun pagi dan menjalankan tugas-tugas dan kebutuhannya sebagai insan dunia yang akan menjadi insan akhirat. Kegigihan itu terlihat saat ia terus mengirimkan naskah cerpen ke berbagai media massa dan majalah-majalah yang tak pernah diterima satu kali pun. Namun ia TIDAK PERNAH putus asa. Dan saat itu ia mencoba untuk menulis sebuah novel yang tak ingin ia publikasikan pada teman-temannya. Novel tersebut ia persembahkan untuk kehidupannya sendiri. Tak berniat untuk mengharap imbalan. Dengan penuh kesabaran dan konsentrasi ia buat novel perdananya dalam waktu 2 bulan. Ia hanya menulis dalam diam. Dalam sepi, tak ada yang tahu ia bisa membuat khayalan yang dituangkan menjadi sebuah novel. Namun, Evira, teman baiknya diam-diam membaca novel tersebut. Evira pun diam-diam menyebarkan naskah tersebut pada teman-teman di kelasnya, termasuk pada Grita. Miss Jutek dan sotoy yang sering menang debat di kelasnya. Popularitas Gritta sebagai public Speaking yang menyebalkan sudah terkenal di angkatannya. Sering ia mengangkat tangan dan berbicara panjang lebar tanpa inti, namun sering juga karena ia lihai dalam berbicara, ia mendapatkan nilai plus dari guru sejarah dan PKN. Dan Raihana lagi-lagi hanya menyembunyikan pendapatnya dalam hati. Hanya dalam hati yang tak terdengar makhluk apapun, bahkan makhluk yang mempunyai pendengaran diatas rata-rata tidak bisa mendengarnya. Karena suara hati hanyalah kita yang tahu. Dan Tuhan tentunya. Tidak berbicara bukanlah penghalang besar baginya. Karena ia mempercayai prinsip ‘sedikitlah berbicara perbanyak bertindak’ bukan NATO ‘Not Action Talk Only’.Setelah membaca naskah Raihana, Gritta menjadi berubah. Ia masih ia yang dahulu. Yang sering berbicara. Namun ia menjadi lebih menghargai orng lain. Dan tentunya Raihana. Baru sekali ini ia memuji. Dan pujian pertama yang ia persembahkan ialah pujian untuk naskah novel Raihana.Tidak semudah itu dalam membuat sebuah novel, banyak yang harus diatur ulang, proses pengeditan yang panjang, 6 bulan, dan juga ia harus mengetik naskahnya di rental komputer sebelah rumahnya yang sangat amat berisik karena Raihana tidak mempunyai Komputer. Tapi untunglah Mbak Maryam, penjaga rental sangat mendukungnya dan memberikan diskon harga pada Raihana. Sehingga meringankan beban Raihana. Tidak sampai di situ perjuangan Raihana. Dalam memunculkan print outnya pun butuh waktu yang lama, karena banyak halaman yang tertukar-tukar, harus diedit ulang dan lain sebagainya yang terkadang membuat Raihana ingin berhenti di tengah jalan.Raihana hidup dengan ayah dan kedua adiknya. Ibunya telah meninggal saat ia kelas 2 SMP. Ayahnya di-PHK karena krisis ekonomi global membuat keadaan ekonomi keluarga Raihana tidak secerah dulu. Tapi dengan keadaannya yang seperti itu. Raihana tidak pantang menyerah. Harapan Raihana pudar ketika ia tahu ia tidak di peringkat 10 besar lagi 1 semester kemudian, mungkin karena terlalu fokus dengan novelnya dan terlalu sibuk bekerja part time sebagai pencuci piring di sebuah rumah makan di dekat rumahnya. Ia takut ayahnya akan kecewa karena hal itu. Namun ternyata, saat Raihana memperlihatkan rapotnya pada ayah. Ayah masih tetap mengacungkan jempolnya di atas. Dan baginya menjadi anak dari Ayah semulia beliau ialah anugerah terindah, keesokan harinya Ayah membelikannya komputer second dari teman lamanya. Raihana tahu sebenarnya ayah tidak mempunyai uang untuk membeli komputer, tapi demi anaknya… beliau rela…Air mata Raihana terjatuh saat ayahnya memberinya komputer tersebut sambil berkata ‘Kejar Impainmu, Nak!’Dan Tiga kata itulah yang membuat perjuangan Raihana semakin kuat. Lalu bagaimana cara Raihana berjuang mencapai impiannya? Ia tetap akan berjuang walaupun sesuatu yang amat sangat buruk menghadang di tengah perjalanannya menggapai cita-citanya. Baginya sebuah penolakan bukanlah hal yang paling terburuk. Tapi hal yang paling terburuk ialah sebuah pengkhianatan dari sebuah persahabatan….Siapa yang mengkhianatinya? Peristiwa apa yang terjadi setelah itu?Hanya Ikhlas dan sabar yang akan menjawab semua impiannya….